PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
65


__ADS_3

"Kalian seneng nggak tadi di ajak ke mall sama Opa?" tanya Richard.


"Seneng ya Mas ya? Aku dibeliin mainan banyaaaak. Tapi Mas Bintang cuma ambil dua." kata Darren dengan hebohnya.


"Kenapa cuma ngambil dua, Mas Bintang?" tanya Richard.


"Harganya mahal semua. Tadinya aku nggak mau ambil, tapi trus diambilin Opa. Ya udah deh." kata Bintang dengan lugunya.


Richard mengelus bagian belakang lehernya jengah. Diliriknya Nawang yang nampak tertunduk.


Ngobrolin semua hal yang berhubungan dengan uang kalau sama mereka berdua kenapa selalu nyesakin dada gini ya?


"Memangnya kalau mahal kenapa, Mas?" tanya Darren kepo.


"Sayang uangnya, Bisa buat beli yang lebih penting." jawab Bintang santai.


"Yang lebih penting itu apa?" tanya Darren lagi.


"Buat beli beras, buat beli makanan." jawab Bintang lagi.


Fix, ini ajaran dasar dari Ibunya, batin Richard sambil melirik Nawang yang kini sedang membuang pandangan lurus ke barisan mobil- mobil di depan mereka.


Wajahnya nampak sedang menahan perasaan. Dan Richard tahu perasaan apa itu.


Poor Nawang.


"Tuh, Mas Bintang pinter. Kita beli mainan secukupnya saja. Jangan asal pengen terus ambil aja. Kalau kalian bisa hemat begitu, nanti kalian bisa nabung banyak. Biar uangnya banyak." kata Richard.


"Hemat itu apa, Pa?" tanya Darren, membuat Richard kebingungan.


"Non, bantuin jawab dong!" pinta Richard setengah panik, membuat Nawang meringis.


Apa bisanya cuma ngegombal aja nih orang?


"Hemat itu kita nggak sembarangan membelanjakan uang kita. Jangan asal suka, asal pengen, trus kita langsung beli. Kita pikir dulu manfaat dari barang yang mau kita beli. Kalau sekiranya kita nggak punya barang itu kita tetap baik- baik saja, tetap senang, ya nggak usah beli. Kita boleh boros kalau untuk bersedekah saja." kata Nawang sambil memposisikan duduknya miring agar bisa melihat kedua bocil itu.


"Boros itu apa?" tanya Darren lagi.


Mampus !!! Bisa nggak berhenti nanya nih bocah, hahahaha....


"Boros itu sembarangan ngeluarin uang atau memberikan milik kita lainnya.


Tapi kalau sedekah kita nggak usah mikir kepanjangan. Pengen sedekah ya sedekah aja. Biar kita punya tabungan di akhirat nanti, biar dapat pahala banyak, biar masuk surga deh." jawab Nawang dengan ceria.


"Sedekah itu ngasih- ngasih uang ke mas- mas yang nyeberangin mobil kita ya? Papa kalau ngasih cuma satu lembar. Nggak banyak." tanya Darren.


Richard terkekeh.


"Itu salah satu bentuk sedekah. Bisa juga dengan cara lainnya. Mainan Darren yang udah nggak kepakai tapi masih bagus, bisa jadi sedekah kalau Darren kasih ke anak lain yang pengen mainan tapi nggak bisa beli." jawab Nawang.


"Baju bekas yang masih bagus juga bisa di sedekahin ya,Bu?" tanya Bintang.


"Betul!" jawab Nawang sambil tersenyum.


"Senyum juga sedekah, kata ustad Beni." kata Bintang lagi.


"Emang iya, Bu?" tanya Darren lagi.


"Betul." jawab Nawang lagi.


"Tapi senyumnya nggak usah kebanyakan, nanti dikira orang sinting., hihihi...." kata Bintang sambil terkikik.


"Satu bulan lagi kita ke tempat Opa lagi pada mau nggak nih?" tanya Richard mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Mauuuuuuu!!!!" jawab kedua bocil itu dengan senangnya.


"Mas Bintang punya Opa nggak?" tanya Darren.


Bintang menatap bingung pada Nawang yang juga sedang menatapnya.


"Nggak punya. Udah meninggal semua ya, Bu?" tanya Bintang ragu.


"Iya. Akungnya Bintang udah meninggal semua. Tinggal punya Uti satu di Magelang." kata Nawang.


"Akung itu apa?" tanya Darren bingung.


"Akung itu ya sama kayak Opa. Uti sama kayak Oma." jawab Bintang.


"Ooooooo.....Kita ke rumah uti yuk, Pa?!" ajak Darren mengagetkan papanya.


"Uti siapa?" tanya Richard sambil tersenyum geli.


Spontanitas Darren kadang cukup mengejutkan.


"Utinya Mas Bintang. Di Magelang." jawab Darren dengan semangatnya.


Richard tertawa.


"Memangnya kamu tahu Magelang itu dimana?" tanya Richard.


Darren menatap Bintang dengan mata bertanya.


"Jauuuuh. Kayak kita mau ke rumah Opa. Tapi kalau mau ke rumah Uti lewat jalan yang banyak sawah- sawahnya. Adeeem." terang Bintang sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Kita kesana yuk, Pa. Lewat sawah yang adem." ajak Darren lagi.


Nawang ikut tertawa dengan beo an Darren.


"Horeeeeee.....!!!! " teriak kedua bocil itu dengan riangnya.


"Memangnya kalian tahu alamatnya Uti dimana?" tanya Richard sambil terkekeh.


"Ibu pasti tahu." jawab Bintang yakin.


"Tapi Ibu nggak mau ikut." sahut Nawang kalem.


"Yaaaaahhh." desah kecewa ketiganya.


"Kenapa?" tanya Richard pelan.


"Nggak papa." jawab Nawang lirih. Dan Richard menangkap suara itu bergetar.


"Tapi papa nggak bisa janji ya kalau Minggu depan. Takutnya papa ada kerjaan. Nggak papa ya kalau nggak Minggu depan?" kata Richard terpaksa berkelit dari janjinya.


"Tapi kapan- kapan kita kesana ya,Pa?" pinta Darren.


"Pasti. Tapi jangan maksa ya." pinta Richard balik.


"Nunggu Ibu punya uang dulu ya?" tanya Bintang ragu.


"Iya." jawab Nawang cepat.


"Bukan!" jawab Richard bersamaan.


Keduanya saling pandang sebelum akhirnya Nawang menunduk.


"Nunggu Papa ada waktu senggang." kata Richard akhirnya.

__ADS_1


"Ibu sekarang selalu punya uang kok.. .." Richard merapatkan bibirnya saat lirikannya menangkap tatapan tajam Nawang ke arahnya.


"Walau tetap banyakan uangnya Papa." sambung Richard sambil terkekeh.


"Sombong." sungut Nawang keki.


"Fakta. Sombong dari mana?" ledek Richard sambil tersenyum setan.


"Jangan terlalu terlihat tak berdaya di depan anak. Kasihan mereka." kata Richard saat dilihatnya lewat spion tengah Darren dan Bintang sudah kembali asik mainan dan tak lagi memperdulikan mereka berdua.


"Kita juga harus menjaga wibawa kita di depan anak. Agar anak tahu kita orang tua yang mampu. Mampu membuat mereka tenang, mampu membuat mereka berpikir positif bahwa dunia baik pada mereka dan keberadaan mereka tidak menyusahkan kita." sambung Richard lagi.


"Mengandalkan orang tua? No....." sahut Nawang nggak setuju dengan wajah serius.


"Bukan itu maksudku. Maksudku, buat anak percaya kita akan berikan yang terbaik yang kita mampu pada mereka."


"Aku sudah seperti itu selama ini." kata Nawang keukeuh.


"Tapi jatuhnya kamu terlihat tak berdaya di depan Bintang, Sayang. Pengen apa dikit harus nunggu kamu gajian." gumam Richard sedih.


"Emang kenyataannya seperti itu. Masak iya aku harus mengada- ada buat nurutin kemauan anak yang kadang ajaib? Anak pun harus di kasih tahu kenyataan hidupnya, Mas. Biar tahu diri. Biar belajar menahan diri." sergah Nawang sudah mulai bernada agak naik.


Hadeeeeeh.....bisa panjang ceritanya nih.


"Oke, aku minta maaf kalau omonganku nggak enak." akhirnya Richard memilih menyingkir dari perdebatan dengan sebuah permintaan maaf.


Nawang tak menanggapi walau tak berarti tak memasukkan apa yang dikatakan Richard ke otak dan hatinya.


Ya, harus dia akui. Sepertinya selama ini dia ' memaksa' Bintang untuk selalu mengerti keadaan ekonomi mereka.


Bocah sekecil itu dipaksanya ikut berhitung soal keuangan.


Hasilnya adalah Bintang selalu bertanya,"Ini mahal nggak,Bu?' atau "Uang Ibu cukup nggak?" tiap kali Bintang menginginkan sesuatu saat mereka ada di tempat belanja.


Belum lagi kalau Bintang ingin sesuatu yang sebenarnya nggak mahal, tapi selalu dia jawab dengan kalimat " Besok ya kalau Ibu gajian." atau malah lebih sering dia menjawab "Besok kapan- kapan kalau uang Ibu sisa ya."


"Nggak ada yang salah dengan niatmu mendidik anak agar tahu situasi dan kondisi. Sudah terlihat hasilnya kok. Bintang jadi anak yang sangat bisa menahan keinginan dan sabar. Tapi kamu juga nggak mungkin nggak ngeliat kan gimana mupengnya dia kalau ngeliat sesuatu yang dia ingin tapi dia berpikir kalau kita nggak mampu memberi yang dia ingin? Kasihan, Non." kata Richard setelah cukup lama mereka berdiam diri.


Nawang membuang pandangannya ke kiri.


Sepenuhnya hanya untuk menyembunyikan airmata yang sudah menganak sungai di pipinya.


Dia pasti akan selalu ingat mata penuh keinginan dan putus asa Bintang saat dia bilang "Ini mahal, kita nabung dulu ya?" atau saat Bintang bilang "Ibu nggak punya uang ya buat beli ini?"


Betapa lemahnya dia sebagai orang tua.


Betapa tak beruntungnya Bintang memiliki ibu seperti dia.


Maafkan Ibumu ini, Nak.


Tolong maafkan.......


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️



Masih betah kan di sini? 😁


Makasih ya, udah sangat rajin ngasih like sama novel ini 🙏


Komen yuk biar tambah rame.....😊


Happy reading semuanya.....💖💕

__ADS_1


__ADS_2