PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
29


__ADS_3

Nawang tersenyum menanggapi tatapan kepo Nayla yang melihatnya menenteng sebuah paket.


"Wiiih, kemajuan nih. Udah mau olshop an." ledek Nayla.


"Utang HP." kata Nawang mengerjapkan matanya dengan gaya berbisik.


"Liat ah." kata Nayla kemudian mendekat ke meja Nawang, ingin melihat Nawang unboxing HP barunya.


"Beneran utang mbak?" tanya Nayla.


"Iya." jawab Nawang santai.


"Berapa bulan?" tanya Nayla sambil ikut melihat ponsel yang sedang dikeluarkan Nawang dari kotaknya.


"Tadi temenku ngasih pilihan sepuluh bulan sama lima belas bulan sih. Ntar deh aku liat harganya berapa dulu. Aku bayar nyicilnya yang aku kuat aja." jawab Nawang.


Di dalam box Nawang menemukan nota yang segera dia lihat nominal dibagian paling bawah nota.


Dia hampir tersedak air liurnya sendiri saat melihat angka tiga juta sekian.


Mampuuuuuus!!!!! umpat Nawang dalam hati merutuki kebodohannya mau saja menerima ponsel kiriman Richard.


Seharusnya dia tidak boleh percaya pada barang pilihan Richard.


Sudah bisa dipastikan bakal barang mahal yang dipilih orang itu.


Nawang hanya ingin beli ponsel yang harganya dibawah satu setengah juta.


Gimana ini? resahnya.


Dia kemudian berhitung.


Angka yang tertera di kota dibaginya limabelas, dua ratus ribu sekian hasilnya.


Nawang menarik napas sedih.


Lama sekali kalau harus mencicil lima belas bulan.


Tapi bagaimana lagi?


"Keren nih HPnya, Mbak. Per bulannya berapa, Mbak?" tanya Nayla.


"Dua ratus sekian kalau lima belas kali." jawab Nawang lesu.


"Sekiannya banyak nggak?" tanya Nayla.


"Nggak sampai lima belas ribu." jawab Nawang.


"Murah banget itu, Mbak." sahut Nayla senang.


Nawang mengangguk lesu.


Terbayang gajinya harus terpotong duaratus ribu per bulan.


Nawang sedih sekali.


"Nggak mau langsung dipakai, Mbak?" tanya Nayla.


"Nih. Urusin." kata Nawang sambil menyerahkan ponsel jadulnya dan HP barunya pada Nayla.


"Baiklah komandan." kata Nayla sambil cengengesan lalu kembali ke mejanya dengan dua ponsel Nawang di tangannya.


Tak butuh waktu lama bagi Nayla menyiapkan ponsel baru Nawang lengkap dengan fitur- fitur yang diinginkan Nawang ada di ponsel barunya.


"Monggo komandan, sudah ready buat kerja." kelakar Nayla sambil menyerahkan kembali dua ponsel Nawang.


"Terimakasih ya." kata Nawang sambil tersenyum.


Nawang langsung membuka WA yang tadi ada sekitar tiga ribuan chat.


Tentu saja bisa sebanyak itu.


Secara tiga hari ponselnya off, dan ada belasan group aktif banget di WAnya.


Aje gileeee.....😨 banyak amat chat nya.....😳


Nawang memilih melihat semua WApri dulu.


Ada lumayan banyak tapi mereka sudah menghubungi kemarin lewat telpon kantor atau lewat ponselnya Nayla. Jadi ada beberapa yang dia lewati dulu.


Tanpa sadar Nawang menghentikan telunjuknya men schroll layar ponsel saat matanya menemukan banyak chat dari Richard, juga panggilan tak terjawab.


Iseng dibukanya semua chat Richard.


...Selamat pagi.......


Hilih.....!


..................


..................

__ADS_1


...Lupa ngasih makan HP ya? Sampai mati HPnya....🙁...


Nawang mengulum senyum.


...Hoiiiiiiii..........


Tanpa sadar Nawang terkekeh.


Bisa dia bayangkan bagaimana jengkelnya Richard saat menulis chat nya itu.


Keasikannya menekuri WA Richard terganggu oleh satu panggilan masuk.


Richard?! 😳


Entah mengapa dia tiba- tiba malu.


📞 Hallo.....


📞 Cieeee yang HPnya baru....


📞hmmmm.....


Ada perlu apa, Pak?


📞 Mau ngecek aja.....


📞Ngecek apa?


📞Ngecek yang punya HP baru.....


📞 Ya udah ya...saya lagi agak sibuk.....


📞 Sibuk bacain WA ku ya?


📞 Apaan? GR jangan dipiara ya, plis!


Richard tergelak di tempatnya.


Sedang Nawang sudah kembang kempis menahan emosi.


📞 Suka nggak sama HP nya?


📞 Nggak !


📞 Kenapa?!


📞 Mahal!


Masak iya sih tiga juta mahal?


📞 Saya nyicilnya lima belas kali ya, Pak?


📞 Nggak usah dipikirin nyicil segala deh! Aku ini pengusaha real estate tajir, bukan tukang kredit HP ya.....


📞 Tapi ini kan....Katanya tadi.....


📞 Daaaaah......Aku meeting dulu!


Ceklek!


Sambungan telpon langsung diputus Richard.


Nawang mengeram kesal.


Kesal pada Richard dan kesal pada keadaannya sendiri.


Seandainya di tidak hidup kekurangan pasti tidak perlu menerima belas kasihan dengan tanpa daya seperti ini.


Seandainya dia tidak bertemu Richard lagi, pasti dia tidak akan semalu ini dengan kemiskinannya di depan Richard yang dari dulu selalu ringan tangan mengulurkan hartanya pada siapa saja yang dilihatnya kesulitan.


Hhhhh, bila diingat lagi sudah terlalu banyak Richard menanam kebaikan padanya sejak dulu.


Dan entah kapan dan dengan cara apa nanti dia bisa membalasnya.


Semoga Sang Pemilik Semesta selalu menjagamu, Mas.


🗝️🗝️🗝️🗝️🗝️


Nawang tersenyum bahagia saat dilihatnya Bintang begitu antusias melihat ponsel barunya.


"Hapenya bagus, Bu. Ibu belinya mahal ya?" tanya Bintang sambil membolak- balikkan ponsel itu dengan hati- hati.


"Itu dipinjemin." jawab Nawang.


Nggak mungkin dia akan bilang kalau ponsel itu diutangin kan?


"Dipinjemin siapa?" tanya Bintang penasaran.


"Sama Pak Boss." jawab Nawang datar.


"Pak Boss baik banget ya, Bu. Tahu Ibu nggak punya uang buat beli HP baru, terus dipinjemin sama Pak Boss. Pak Boss HPnya banyak ya,Bu?" tanya Bintang kepo.

__ADS_1


"Nggak tahu." jawab Nawang malas sambil menuang. air galon ke dalam gelasnya.


"Pak Boss sayang ya sama Ibu?", tanya Bintang sambil menatap Nawang yang sedang menikmati perjalanan air putih dari gelas melewati kerongkongannya.


"Uhuk! Uhuk !" Nawang tersedak minumannya.


"Kenapa, Bu?" tanya Bintang khawatir.


"Nggak papa. Cuma keselek aja." jawab Nawang agak bingung.


Kenapa bisa Bintang mikir gitu?


"Iya,Bu?" tanya Bintang lagi.


"Apa?" tanya Nawang bingung.


"Pak Boss sayang sama Ibu?" ulang Bintang.


"Pak Boss sayang sama semua orang. Dia orangnya suka nolong." kata Nawang.


"Untung Ibu ada Pak Boss yang mau minjemin HPnya, jadi Ibu nggak usah beli. HP mahal kan ya, Bu?" tanya Bintang dengan polosnya yang disambut anggukan Nawang.


"Ibu nggak punya uang ya kalau beli HP lagi?" tanya Bintang lagi.


"Punya, tapi belum cukup kalau buat beli HP. Harus nabung dulu." jawab Nawang sambil menahan malu dalam hatinya.


Malu rasanya terlihat tak mampu didepan anak sendiri.


Harga diri rasanya terbanting.


"Ibu nggak lupa bilang makasih kan sama Pak Boss?" tanya Bintang lagi.


"Tadi sudah bilang terima kasih." jawab Nawang sambil tersenyum.


Kesabarannya menanggapi celotehan anaknya ini kadang tersentil oleh pertanyaan- pertanyaan yang kadang bernada dewasa dan mengingatkan dari Bintang.


Nawang sudah tak begitu memperhatikan apa yang dilakukan Bintang dengan ponselnya.


Matanya sudah tertancap di layar TV menonton sinetron yang meresahkan hampir semua perempuan di Indonesia.


Dia baru menoleh pada anaknya saat Bintang tak berhenti memanggilnya.


"Kenapa sih, Bin?!" tanya Nawang agak ngegas sambil menatap Bintang.


Nggak biasanya juga Bintang rese' gitu.


"Ibu lagi nonton mas Al." kata Bintang sambil matanya menatap ke arah layar ponsel yang dipegang tegak oleh anak itu.


Wait!


Nawang mengalihkan tatapannya fokus pada anaknya.


Dia VC sama siapa?


"Kamu lagi telponan sama siapa, Bin?" tanya Nawang keheranan.


"Sama Pak Boss." jawab Bintang sambil menunjukkan layar ponselnya ke depan mukanya.


Nawang terlihat shock saat di layar itu wajah Richard sedang tersenyum jahil.


Nawang merebut ponsel dari Bintang dengan tanpa sadar.


"Anda ngapain VC?" tanya Nawang galak.


Richard terkekeh.


"Aku cuma nerima panggilan VC, Bu. Situ yang ngajakin VC an." jawab Richard dengan senyum meledek.


Wajah Nawang merona tiba- tiba.


Kelakuan Bintang nih...!


"Bukan Saya yang ngelakuin." cicit Nawang berusaha mengklarifikasi.


"Tau..... Bintang barusan kutanyain." jawab Richard sambil tersenyum geli.


Ngapain juga harus njelasin gitu? Sekalipun kamu yang modus juga aku malah seneng.


Nawang menghembuskan nafasnya lega.


Lega rasanya kalau Richard tahu acara VC ini bukan idenya, tapi murni kelakuan Bintang.


Nawang kemudian menyerahkan lagi ponselnya pada Bintang yang menatapnya dengan tatapan bingung dan takut.


"Masih mau ngobrol sama Pak Boss nggak?" tanya Nawang dengan kalem.


Bintang mengangguk senang dan bergegas menerima ponsel dari Ibunya saat dilihatnya wajah ibunya sudah nggak sewot lagi


Dia beringsut menjauh dari ibunya daripada nanti dimarahi karena suaranya mengganggu fokus ibunya menonton sinetron.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2