
Nawang mau tak mau duduk di samping Richard karena di situ hanya ada dua dua sofa double seat dimana yang satu sudah ditempati oleh mama dan papanya Richard.
"Anak- anak udah bobok semua?" tanya mama sambil menatap Nawang dengan tersenyum.
"Sudah." jawab Nawang sopan.
"Udah ngomong sama Asih besok dia harus belanja apa aja?" tanya papa Richard yang ikut menatap Nawang.
"Belum Setelah ini nanti, saya baru akan nulis, Pak." jawab Nawang dengan memberanikan diri menatap papa Richard yang sedang mengangguk kecil.
"OK kalau begitu. Mari kita langsung saja ke inti pembicaraan. Kamu katanya mau ngomong, Ric. Mau bicara soal apa?" tanya papa dengan tatapan tajam pada Richard.
Richard berdehem sebelum dengan sekali tarikan nafas mengucapkan kalimat yang membuat Nawang ingin menangis.
"Aku mau bilang sama mama dan papa kalau aku ingin melamar Nawang secepatnya. Dan maaf,untuk kali ini aku nggak akan mau untuk menerima penolakan, baik dari mama papa maupun dari Nawang."
Nawang menunduk dalam.
Nekad!
Kepedean!
Pengen mati ya dia?
"Cuma pemberitahuan?" tanya papa Richard seperti gumaman.
Semua terdiam.
"Nggak pengen minta restu kami?" tanya papa Richard kemudian.
Nawang melirik Richard yang nampak salah tingkah.
"Kami tentu saja minta doa restu mama dan papa. Aku masih harus berjuang meyakinkan seseorang untuk tetap mau bersamaku. Dan aku yakin kalau mama dan papa merestui kami, dia akan mau tetap bersamaku." kata Richard lagi.
"Kamu masih ragu sama Richard, Nawang?" tanya papa Richard membuat Nawang terlonjak.
Nggak mengira akan mendengar pertanyaan dari mulut papanya Richard.
"Tidak. Saya percaya sama Mas Eric. Saya hanya....."Nawang tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Dia tak ingin memantik percikan api saat keadaan sedang tenang begini.
Tapi dia harus tetap bicara.
"Saya hanya tidak yakin pada diri saya sendiri kalau nantinya tidak akan mengecewakan semuanya. Saya tahu sebesar apa Mas Eric menyayangi saya dan anak saya selama ini. Dan saya sangat berterima kasih untuk itu. Tapi saya juga sadar diri siapa saya ini. Hanya seorang janda mis....."
"STOP!!!" ,Richard tak ingin Nawang meneruskan kalimatnya.
Tapi perempuan itu hanya menyusut airmatanya kemudian mengatur nafasnya agar lebih tenang sebelum meneruskan kalimatnya.
"Saya juga mencintai Mas Eric. Tapi saya juga tahu Anda berdua tentu lebih sayang Mas Eric.
Saya hanya ingin melihat Mas Eric bahagia nantinya, dengan atau tanpa saya."
Papa dan mama Richard mematung.
Nawang sibuk mengusap airmata yang mengaliri pipinya seperti air bah.
Bukan hal mudah mengatakan semuanya tadi.
Melihat Eric bahagia walau bukan dengannya? Bullshit!!!
Dia ingin hidup bahagia dengan Richard. Sangat ingin.
"Not like this should be. I don't want you to talk like that." desah Richard putus asa.
__ADS_1
"Jadi kapan kami bisa melamarmu secara resmi?" suara santai dari Papa Richard membuat yang lainnya menatap ke arahnya dengan tatapan tak mengerti.
"Kenapa? Ada yang salah denganku?" tanya papa Richard salah tingkah sendiri.
"Papa tadi ngomongin lamaran?" tanya Richard dengan suara takjub.
"Siapa?" tanya papanya sengaja meledek.
"Come on, Papa. Don't joke now." desah Richard resah.
"Bingung aku tuh. Aku jahat, kalian takut. Aku baik gini kalian nggak percaya. Mau kalian ini sebenarnya apa? Ya sudah kalau kalian nggak mau nikah. Pacaran aja sampai tua! Nggak mau ngurus lagi aku.". sungut Papa Richard pura- pura ngambek.
Tingkahnya terlihat semakin lucu saat pura- pura nggak mau disentuh istrinya.
"Akan kami beri tahu secepatnya,Pak. Saya harus bicarakan dulu dengan kerabat saya." suara Nawang menguasai suasana ajaib saat itu.
Richard terpaku menatap Nawang yang kemudian mengangguk padanya dengan seulas senyum dan setitik airmata - yang Richard sangat yakin- bahagia.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih." kata Richard sambil meraih tubuh Nawang ke dalam pelukannya.
Tak dipedulikannya pukulan- pukulan kecil Nawang di punggungnya.
"Mas malu....ada papa mamamu...." kata Nawang semakin menguatkan pukulannya.
Richard segera melepaskan pelukannya walau sebenarnya tak ingin.
"Kelakuan anakmu kayak gitu tuh, Ma." seloroh Pak Pambudi sambil terkekeh pada istrinya.
"OK. Clear semua. Kami tunggu kabar darimu, Wang. Sekarang saatnya istirahat. Bubar....bubar...." kata Pak Pambudi sambil beranjak berdiri.
Tapi yang ikut berdiri hanya istrinya saja.
Sedang Nawang dan Richard tak beranjak dari duduknya.
Richard cengengesan mendapati tatapan menghunjam kedua orangtuanya.
Papanya hanya memainkan jari telunjuk dan tengahnya yang diarahkan ke matanya sendiri kemudian ke muka Richard. sebagai isyarat dalam pantauan.
"Besok boleh cek cctv." kata Richard dengan nada kesal.
Papanya hanya mencibir kemudian menarik tangan mamanya untuk masuk ke dalam rumah.
"Kami istirahat dulu ya, Na." pamit mama Richard.
"Yang dipamitin cukup calon mantu aja ya,Ma? Anaknya nggak usah." omel Richard dengan nada iri.
"Dah bosen sama kamu." balas papanya sambil terkekeh kegirangan.
Cengiran Richard terhenti saat dia menoleh dan mendapati Nawang tengah menatap wajahnya tanpa berkedip bahkan setelah mereka saling beradu pandang kini.
"Ke.....kenapa?" tanya Richard tiba- tiba deg- degan dan tiba- tiba merasa wajahnya menghangat.
Masak sih dia tersipu?
"Nggak papa. Cuma pengen ngeliatin anak bandelnya Pak Pambudi aja." jawab Nawang masih dengan tatapan yang tak berubah arah.
"Siapa yang bandel?" cicit Richard semakin salah tingkah.
Gimana nggak salah tingkah, biasanya dia yang menatap Nawang lama- lama dan perempuan itu akan menunduk dalam- dalam atau membuang muka.
Eh sekarang dia yang ditatap.
"Kenapa? Nggak nyaman kan ditatap seintens ini sama orang? Tahu kan rasanya sekarang jadi aku yang harus buang muka biar nggak salah tingkah diliatin terus?" tanya Nawang masih tak bergeming dari tatapannya.
Richard tertawa malu.
__ADS_1
Buseeet ni bocah balas dendamnya sedep sedep ngeriiiiii.....
"Udaaaah,jangan ngeliatin terus. Jangan senyum- senyum gitu." kata Richard sambil menunduk.
Posisi duduknya sudah menyamping.
"Kenapa?" tanya Nawang penasaran.
"Ntar aku nggak bisa mengendalikan diri. Kamu tuh tambah keliatan cantik banget kalau malam gini. Lampunya remang- remang pula. Auramu kayak manggil- manggil." jawab Richard dengan mimik serius menatap Nawang, membuat Nawang sontak menghentikan senyum jahilnya.
Kampret, Boomerang lagi!
"Maaf. Nggak maksud begitu." kata Nawang kemudian membuang muka.
"Hmmmm." jawab Richard pelan.
Keduanya tiba- tiba merasa canggung. Cukup lama saling tenggelam dalam pikirannya masing- masing sebelum akhirnya Nawang memilih beranjak berdiri.
"Udah ngantuk?" tanya Richard ikut berdiri.
"Mau nyatet belanjaan buat besok.Aku hampir kelupaan." jawab Nawang.
"Aku temenin ke dapur." kata Richard mengikuti langkah Nawang yang tak menyahut.
"Kamu mau aku buatin minum atau apa?" tawar Nawang saat Richard sudah duduk manis di kursi seberangnya duduk.
"Kopi." jawab Richard ringan.
"Nggak ada kopi malam- malam." jawab Nawang galak.
"Kenapa?" tanya Richard bingung.
"Nanti kamu nggak bisa tidur." jawab Nawang dengan wajah macannya.
"Kata siapa? Aku minum kopi segalon juga nanti jam sebelas tetap tewas." sanggah Richard dengan senyum masygul.
Nawang terpaku sesaat sebelum akhirnya meraih tangannya yang terangsur di atas meja.
"Aku buatin teh anget aja ya?" kata Nawang tanpa menunggu jawaban Richard.
Richard hanya menatap punggung Nawang yang hilir mudik membuka semua pintu hanging cabinet yang memenuhi satu sisi dinding dapur.
"Mas, aku nggak nemu tehnya. Gulanya juga." kata Nawang dengan wajah agak kesal.
Richard terkekeh.
"Gula, teh, kopi, susu biasanya di taruh di dekat dispenser." kata Richard sambil menunjuk ke sudut dapur dimana ada dispenser dan toples- toples yang kemungkinan berisi gula dan teman- temannya.
Nawang tersipu malu kemudian bergegas menuju sudut ruangan.
Richard tanpa sadar tersenyum sendiri,membayangkan kelak setiap hari akan bisa menikmati moment seperti ini bersama Nawang dan anak- anak mereka.
Melihat wajah Nawang di awal dan di akhir hari- harinya.
Wajah cantik yang tak akan lepas dari tatapannya sebelum dia terpejam dan terbangun dari tidurnya.
"Tuan, ngelamunnya kelamaan. Tehnya keburu dingin." suara Nawang dan tepukan di lengannya membuatnya terlonjak, dan tawa Nawang membuatnya semakin malu.
Sial!!!
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Selamat bergabung my reader.....🤩
__ADS_1
Semoga betah membersamai Richard dan Nawang ya....😃
Happy reading.....💖