
"Kamu masih ada yang harus segera dikerjakan lagi, Hans?" tanya Richard setelah rombongan Nawang berlalu meninggalkan mereka.
Hans terdiam sesaat, mengingat jadwalnya hari ini.
"Nggak ada sih, Pak. Ada yang harus Saya lakukan, Pak?" tanya Hans.
Biasanya kalau Richard bertanya seperti itu, dia akan memberi pekerjaan di luar pekerjaan utamanya sebagai orang kepercayaannya.
"Temani aku jalan aja kalau gitu." kata Richard sambil memakai sepatunya.
Di rabanya saku celananya untuk memastikan dompet dan ponselnya tak tercecer di tempat itu.
"Mau nyari apa, Pak?" tanya Hans sambil ikut memakai sepatunya.
"Nyari alamat. Kamu kan lebih hapal daerah sini yang masuk- masuk." jawab Richard sambil beranjak berdiri dan mengamati Hans yang masih harus memakai satu lagi sepatunya.
"Alamatnya nggak ada di G map?" tanya Hans penasaran.
"Nama kampungnya ada, tapi letak persisnya nggak ada. Tapi aku sudah tahu ancer- ancer nya." jawab Richard sambil beranjak melangkah setelah Hans berdiri.
"Alamat teman Bapak?" tanya Hans sambil bergegas menjajari langkah Richard.
"Iya. Teman lama." jawab Richard.
Seulas senyum tipis sesaat menghiasi wajahnya.
"Di daerah mana?" tanya Hans setelah dia masuk ke dalam mobil Richard.
Untung dia tadi berangkat ke resto ini naik ojol karena motornya dia tinggal di tempat servis langganannya.
"Sudah kukirim ke WA mu." jawab Richard tanpa menoleh pada Hans karena dia sedang fokus untuk memasukkan mobilnya ke jalur jalan raya.
Hans bergegas membuka pesan di ponselnya.
Sesaat senyumnya terbit saat dilihatnya ada pesan masuk dari Sasi tiga menit lalu.
Tapi pesan itu akan dia buka setelah membuka pesan dari Richard.
Dilihatnya sebuah alamat yang dia tahu di daerah Jogja tenggara. Daerah perbatasan antara kabupaten Sleman dan kabupaten Bantul.
"Saya tahu daerah ini, Pak." kata Hans.
"Sudah kuduga. Makanya kamu ku ajak." kata Richard sambil tersenyum simpul.
Hans tersenyum sambil membuka pesan dari Sasi yang protes dengan kelakuannya saat makan siang tadi, soal pembicaraan Hans tentang mereka.
"Baca pesan dari cewekmu?" tanya Richard mengagetkan Hans.
"Eh! Nggaaak....dari temen Pak.* jawab Hans malu- malu.
"Temen yang kamu demen?" tanya Richard sambil tertawa.
Hans menggelegas.
Dalam hati dia mengiyakan pertanyaan bossnya itu.
"Dari Sasi?" tanya Richard to the point.
"Iya." jawab Hans jujur. Richard tersenyum.
__ADS_1
Ngaku juga nih bocah.
"Kalian belum official pacaran?" tanya Richard lagi.
Mobil berkurang lajunya dan kemudian berhenti karena Richard mengalah pada serombongan pengendara motor yang hendak menyeberang jalan.
Hans tertawa mendengar pertanyaan Richard.
Ternyata tahu istilah official pacaran juga bossnya ini.
"Belum." jawab Hans singkat.
"Kenapa? Kamu kan nggak sedang punya pacar kan? Atau dia yang sudah punya pacar?" tanya Richard semakin kepo.
"Setahu saya dia juga belum punya pacar, Pak." jawab Hans masih dengan agak malu.
Baru kali ini dia membicarakan masalah percintaannya dengan bossnya itu.
Lagian kenapa juga bossnya itu tiba- tiba kepo masalah hatinya gini? Aneh banget.
"Tahu dari mana kalau dia belum punya pacar?" tanya Richard lagi.
"Dari dia sendiri. Dari mas Banu juga, hehehe...." jawab Hans sambil terkekeh malu.
Richard ikut tertawa.
"Sampai me lobby Banu juga kamu?" tanya Richard geli.
"Nggak juga sih, Pak. Mas Banu sendiri yang suka cerita soal Sasi." sangkal Hans malu.
Richard mengangguk- angguk mengerti dengan senyum geli di wajahnya.
"Of course. Harus itu! Kita harus tetap profesional dalam pekerjaaan kita." sahut Richard.
Hans mengangguk setuju.
Laju mobil sudah memasuki daerah yang sedang dicari Richard.
Hans mulai mengarahkan Richard agar mereka tak sampai melewati kampung tujuan mereka.
"Teman Bapak namanya siapa?" tanya Hans.
Richard berusaha mengingat, tapi dia tidak yakin.
Dia memilih menepikan mobilnya dan membuka sebuah pesan yang telah masuk di ponselnya sejak beberapa hari lalu.
"Namanya Pak Wardani." jawab Richard sambil kembali melajukan mobilnya.
Hans keheranan dalam hati.
Katanya temennya, masak namanya saja bossnya itu lupa sampai harus membuka ponselnya.
Atau tadi Pak Richard menepi untuk melihat pesan lain yang baru saja masuk yang mungkin disangkanya pesan penting?
Ya, mungkin begitu, pikir Hans.
"Kamu bisa tanya soal letak persisnya rumahnya Pak Wardani, Hans?" tanya Richard setelah mereka melewati sebuah gapura kampung sesuai dengan alamat yang dicari Richard.
"Tentu saja, Pak. Kita bisa berhenti sebentar di warung untuk Saya nyari minum?" pinta Hans.
__ADS_1
"OK." jawab Richard kemudian menepikan mobilnya di samping sebuah warung kelontong.
Hans bergegas keluar mobil kemudian meminta dua botol air mineral dan tiga plastik lumayan besar ceriping pisang manis yang tak sengaja di lihatnya di salah satu rak di toko itu.
Kebetulan dia tahu bossnya sangat suka dengan ceriping pisang manis.
Sambil membayar belanjaannya dia mencoba bertanya tentang letak rumah Pak Wardani.
Sayangnya Hans bingung saat penjual itu bertanya Wardani yang peternak atau yang kerja di pabrik.
Dia bergegas ke mobil dan mendapat tatapan penuh tanya dari Richard.
"Disini ternyata ada dua yang bernama Wardani, Pak. Temen Bapak peternak atau yang kerja di pabrik?" tanya Hans.
"Dia kerja di pabrik." jawab Richard yakin.
"OK. Saya ke toko lagi buat nanya lagi." kata Hans kemudian bergegas kembali ke toko untuk menanyakan kembali rumah yang dicarinya.
Ternyata rumah yang dicarinya tidak jauh dari toko itu.
Hanya berjarak empat rumah di kanan toko itu.
Setelah menerima uang kembaliannya dan berterima kasih, sambil menenteng tas kresek berisi belanjaannya, Hans bergegas kembali ke mobil berwarna bronze mica metallic yang telah dinyalakan mesinnya oleh Richard saat dia melihat Hans sudah melangkah keluar toko.
"Rumahnya empat rumah dari sini, Pak. Di depan sana, kanan jalan." tutur Hans setelah dia masuk ke dalam mobil.
Richard melajukan mobilnya pelan dan menutup kaca jendelanya.
Debaran di dadanya tiba- tiba berdetak lebih cepat.
Entah mengapa dia merasa tak ingin menerima kenyataan dengan apa yang akan dilihatnya beberapa detik lagi.
"Itu rumahnya, Pak. Di depannya ada pohon mangga dan rambutan, seperti kata pemilik toko tadi." kata Hans setelah Richard menghentikan mobilnya di seberang jalan yang berada di depan rumah yang dicarinya.
Richard menatap rumah paling sederhana di deretan rumah yang dilewatinya tadi.
Sebuah rumah yang tak terlalu besar, terlihat jelas kalau itu bukan bangunan rumah baru.
Sangat sederhana tapi cukup bersih.
Beberapa pot tanaman bunga sederhana nampak tergantung di teras yang beratap seng itu.
Halaman rumah yang tak terlalu lebar terlihat bersih dan cukup teduh dengan keberadaan satu pohon rambutan dan satu pohon mangga yang sedang berbuah cukup lebat.
Seutas senyum tersungging di bibir Richard, getir di hatinya terasa cukup menyesakkan dadanya.
"Kita mau turun nggak, Pak?" tanya Hans pelan setelah cukup lama dilihatnya Richard hanya menatap rumah itu tanpa bergerak.
"Nggak usah. Lagian orang yang punya rumah juga lagi kerja kan?" kata Richard yang malah kemudian menghidupkan mesin mobilnya.
Hans mengangguk mengerti.
"Setidaknya aku sudah tahu letak persis rumahnya kalau kapan- kapan aku mau main." kata Richard untuk menghindari kecurigaan Hans.
"Pak Wardani itu teman lama ya, Pak?" tanya Hans kepo.
"Iya." jawab Richard asal.
Senyum kecut menghiasi wajah Richard, membuat Hans mengerutkan keningnya penuh tanya.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️