
Richard tersenyum lembut.
"Iya. Menarik?" tanya Richard sambil berdiri tegak di samping Nawang sambil menyembunyikan kedua telapak tangannya di dalam saku chinos selutut berwarna cream.
Dan Nawang entah mengapa hampir menangis.
Dia sangat ingat, apa yang ada di depan matanya adalah realisasi dari gambar ngasal yang pernah dia buat saat dia masih pacaran dengan Richard dulu.
Saat itu mereka ngobrol tentang rumah impian mereka masing- masing.
Richard menggambar sebuah rumah panggung lengkap dengan kebun teh dan banyak kuda di sekitarnya.
Sedang Nawang menggambar rumah berarsitektur kolonial Belanda lengkap dengan kolam ikan yang mengelilingi rumah serta kebun bunga di halaman yang luas.
Waktu itu Richard tertawa saat Nawang mewarnai pintu rumah dengan warna merah.
"Biar nggak monoton putih semua. Biar ada greget. Kayak hidup, kalau begitu- begitu saja nggak ada dinamikanya, membosankan." kata Nawang berfilosofi.
"Putih kan identik lawannya hitam, kenapa kamu memilih merah?" tanya Richard waktu itu.
"Hitam identik dengan kesedihan, aku nggak mau itu. Kesedihan nggak perlu dipertontonkan kepada semua orang. Lebih bagus merah. Selain eye catching , merah itu menggambarkan semangat dan keberanian. Kita harus semangat dan berani menghadapi hidup, dan melawan kebosanan dalam hidup." terang Nawang dengan wajah penuh semangat.
"Mas......" suara Nawang tercekat, disambung airmata yang telah deras menelusuri pipinya.
"Aku nggak tahu kenapa sangat ingin membuat rumah seperti impianmu dulu. Walau waktu itu aku nggak tahu apa kita akan bertemu lagi. Setidaknya aku bisa berbangga diri, aku bisa mewujudkan salah satu impianmu, sekalipun mungkin kamu nggak akan pernah tahu. Tapi syukurlah, kita bisa bertemu lagi dan kamu bisa melihat rumah impianmu dulu." kata Richard pelan.
Digenggamnya lembut jemari Nawang yang membeku di samping tubuhnya.
"Sesungguhnya aku punya impian dengan rumah ini. Tapi aku nggak yakin bisa mewujudkannya." kata Richard lirih dan terdengar sedih.
"Kenapa?" tanya Nawang lembut namun penuh penasaran.
Richard menggeleng pelan kemudian memilih memaksakan tersenyum.
Nawang tak berusaha memaksa Richard menjelaskan lagi.
Mungkin itu hal yang sangat privacy bagi Richard, dan Nawang nggak punya hak untuk menyentuhnya.
"Papa....!" suara Darren dari dalam mobil membuat Richard dan Nawang menoleh ke arah mobil.
Terlihat Darren dan Bintang sudah tertawa di jendela mobil.
Richard bergegas mendekati keduanya untuk membantu mereka turun.
"Udah pada bangun. Jadi lapar nggak?" tanya Richard sambil menurunkan Bintang.
"Masih." jawab Darren sambil menepuk- nepuk perutnya.
"Kita jajan di depan yuk!" ajak Richard semangat.
"Ayuk!" jawab Darren penuh semangat pula.
Diraihnya tangan Bintang yang masih terlihat bingung.
__ADS_1
Bintang mengikuti langkah Darren yang masih menggandengnya sambil menatap Nawang bingung.
"Ini rumahnya Darren ya, Bu?" tanya Bintang setengah berbisik.
Nawang mengangguk sambil tersenyum.
"Nggak papa, Bu kita mampir kesini? Nggak dimarahin sama mamanya Darren?" tanya Bintang khawatir.
"Mamanya Darren nggak tinggal disini. Darren juga nggak tinggal disini. Kita semua cuma mampir di rumah ini." sahut Richard yang melihat Nawang kebingungan menjawab pertanyaan Bintang.
Richard nggak menyangka Bintang akan bertanya seperti itu.
p
Dia merasa seperti diam- diam mengajak istri muda masuk ke rumahnya, wkwkwk.....
"Kata Ibu tadi, ini rumahnya Darren. Kok mamanya nggak tinggal disini, Pak?" tanya Bintang keheranan.
"Darren rumahnya dua. Kalau disini sama Pak Richard aja, kalau mamanya tinggal di rumah satunya lagi sama adeknya Darren dan Daddy nya Darren." terang Richard.
Bintang terlihat bingung dengan penjelasan Richard itu.
"Udah, jangan dipikirin. Yang penting sekarang kita jajan di angkringannya pakde Prapto.Kamu mau jajan angkringan?" tawar Richard.
Bintang melihat ke arah Nawang untuk meminta ijin, dan Nawang mengangguk.
Bintang mengangguk kemudian.
Yang penting ada ibunya, dimanapun itu tak jadi soal buat Bintang.
Sesungguhnya dia penasaran dengan satu anak lelaki dan satu wanita yang bersama Richard saat ini.
Biasanya Richard hanya sesekali tampak bersama Darren saja.
"Laris Mas Prapto?" tanya Richard begitu dia memasuki tenda angkringan diikuti dua bocil dan Nawang.
"Alhamdulillah, Pak. Dikit- dikit tapi habis terus." jawab Prapto dengan mata berbinar.
"Kalian mau maem apa?" tanya Richard sambil menatap Darren dan Bintang yang nampak asik mengamati semua menu yang tersaji.
Richard menangkap Bintang sedang menatap tanya pada ibunya.
"Udaaah,nggak usah nanya Ibu. Ambil aja apa yang Bintang mau. Boleh kan ya, Bu?" kata Richard sambil mengerling jenaka pada Nawang.
Nawang tertawa malu.
"Iya. Ambil aja." jawab Nawang santai.
Bintang segera ikut sibuk menunjuk apa yang dia ingin, lalu Prapto dengan persetujuan Richard atau Nawang akaan memasukkannya ke dalam kantong plastik.
Transaksi jual beli berakhir dengan hasil dua kantong plastik ukuran sedang hampir penuh berisi beberapa tusuk sate telur puyuh dan sate ampela pesanan Darren dan Bintang, tiga kepala ayam bakar pesanan Richard, satu paha bacem pilihan Bintang, satu sayap goreng pilihan Nawang, dan delapan bungkus nasi kucing dengan lauk sambal goreng tempe.
"Kamu mau masuk duluan sama anak- anak atau mau nunggu minum sekalian, Non?" tawar Richard pada Nawang yang sudah ready to go. dengan dua bocil yang sudah nampak gelisah dengan rasa laparnya.
__ADS_1
"Kami masuk dulu nggak papa, ya? Kasian mereka kayaknya udah kelaparan." kata Nawang yang disambut anggukan Richard yang masih menunggu es jahe susu pesanan mereka.
Nawang beriringan bersama Darren dan Bintang memasuki gerbang dan hilang dari pandangan Richard, tapi pria tampan itu belum juga mengalihkan pandangannya dari sana.
Ada keharuan yang rasanya ingin tumpah lewat airmatanya saat ini juga, namun jelas itu nggak akan dia lakukan karena pasti akan membuat Prapto keheranan.
Mimpi semunya baru saja melintas di hadapannya; melihat anak dan istri beriringan memasuki rumah impian mereka dengan tenang.
Ya Tuhaaaaan, indah sekali semua ini.
"Sudah siap, Pak. Masih ada yang dibutuhkan lagi mungkin?" tanya Prapto sambil meletakkan kantong plastik berisi empat plastik es jahe susu di samping lengan Richard yang sedikit tersentak dari lamunannya.
"Udah cukup. Makasih ya." kata Richard sambil kemudian berdiri dan mengulurkan selembar uang seratus ribuan.
"Kurang nggak ini?" tanya Richard nggak yakin.
"Nggak, Pak. Masih sisa enam belas ribu. Mau di genapi apa?" tanya Prapto karena selama ini Richard nggak pernah mau diberi kembalian.
"Udah cukup. Aku masuk dulu ya." pamit Richard kemudian melenggang memasuki gerbang rumahnya.
Prapto tersenyum senang.
Akhirnya dia bisa melihat Richard datang bersama seorang perempuan ke rumah ini.
Walaupun dia nggak tahu pasti siapa perempuan itu, tapi dilihat dari cara Richard memandang sangat jelas terlihat pria itu sangat menyukai perempuan itu.
Berdasarkan cerita dari kakak perempuannya yang bekerja sebagai ART di rumah Richard, dan juga beberapa anak buah Richard yang kadang- kadang nginep di rumah Richard, Prapto tahu kalau Richard adalah seorang duda beranak satu.
Jadi kemungkinan satu- satunya perempuan yang dibawanya kali ini adalah kekasihnya atau bahkan sudah jadi calon istrinya.
Semoga cepat menikah,Pak. Anda orang baik, semoga diberi jodoh orang yang tak kalah baik dari Anda, doa batin Prapto.
Dia nggak akan pernah lupa kebaikan Richard pada kehidupannya.
Richard yang memberinya modal membuka angkringannya, yang kebetulan selalu laris dari awal dibuka dulu.
Dulunya dia hanya diminta untuk menjaga rumah Richard waktu malam saja, tapi kemudian Richard menawarinya untuk mencoba membuka angkringan sebagai pemasukan tambahan untuk dia.
Jadi sambil menyelam minum air. Ya jaga rumah, ya jualan angkringan di depan rumah.
Sebagian dagangan angkringannya yang membuat adalah kakak perempuannya, sebagian lagi titipan dari tetangga kanan kirinya.
Sebenarnya Prapto malu kalau harus menerima uang dari Richard tiap kali lelaki itu jajan di angkringannya.
Tapi Richard selalu marah kalau uangnya di tolak halus olehnya.
"Kamu kalau mau sedekah jangan sama aku, Prap. Aku masih bisa nyari uang lho." pernah Richard berkata seperti itu padanya.
Jadi ya sudahlah, Prapto selalu menerima setiap uang pembayaran Richard yang pasti selalu lebih.
Dia selalu menyedekahkan kembalian itu atas nama Richard.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1
Welcome to the club......