PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
46


__ADS_3

Richard tertawa gemas saat dilihatnya Nawang sedang menyuapi Darren sambil duduk lesehan di teras tanpa alas, dan Bintang makan dengan tenang di samping Nawang.


"Kenapa makannya disini? Nggak masuk aja." tanya Richard ikut duduk di samping Bintang.


"Emangnya nggak dikunci?" tanya Nawang.


"Biasanya sih nggak. Kan juru kuncinya Prapto. Dia ngunci pintu biasanya setelah jam sepuluh." jawab Richard sambil beranjak membuka pintu dan langsung terbuka.


"Tadi ku ajak masuk kata Ibu nanti nunggu papa aja." kata Darren membuat Nawang tertawa malu.


"Karena Ibu kira pintunya di kunci." kata Nawang sambil mengulurkan suapan nasi ke mulut Darren yang kemudian dengan lahap mengunyahnya.


"Ya udah, kita makan disini aja nggak papa, sambil lihat langitnya lagi bagus." kata Richard kemudian meraih satu bungkus nasi kucing kemudian melahapnya dengan kepala ayam kegemarannya.


Semua menu yang ada di angkringan Prapto memang enak dan nggak mahal, nggak heran kalau dagangannya selalu laris.


"Wah, lupa nggak ambil gorengan tadi." gumam Nawang.


Richard melirik sekilas kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Prap, tolong aku di kasih gorengan sepuluh ribu aja, komplit ya." kata Richard di sambungan telepon, membuat Nawang membeliakkan matanya kaget.


Kok dia denger sih? bikin malu aja ni orang....


Tak lama Prapto muncul dari balik gerbang dan berjalan cepat menuju teras.


Nawang bergegas berdiri untuk menerima gorengan saat Prapto menyeberangi jembatan di atas kolam.


"Makasih, mas." kata Nawang sambil mengulurkan sepuluh ribuan yang ada di kantong celananya.


"Udah, mbak. Udah dibayar Pak Richard tadi." kata Prapto membuat Nawang tersenyum malu.


"Uangmu nggak laku." ledek Richard sambil tertawa.


"Makasih ya, Prap." kata Richard saat Prapto terlihat bergegas untuk kembali ke angkringannya.


"Nggih, Pak.Mari." pamit Prapto.


Richard mengernyitkan keningnya saat dilihatnya Nawang memakan nasi sisa dari acaranya menyuapi Darren.


Tadi setelah habis satu bungkus, Darren minta tambah, tapi baru tiga suapan dia bilang sudah kenyang.


Nawang kemudian memakan nasi yang masih tersisa tiga suapan lagi.


Perempuan itu tidak tahu kalau Richard sedang menatapnya dengan tatapan trenyuh.


Dia malah asik membuka satu bungkus nasi kemudian memakannya dengan tenang bersama sayap goreng.


Sesekali matanya menatap Darren dan Bintang yang telah asik duduk di sudut teras sambil memegangi es susu jahe dan bermain air kolam sambil mencoba menyentuh ikan dengan kaki mereka yang diceburkan ke kolam yang tak dalam itu.


"My dream come true." kata Richard lirih sambil menatap haru pada dua bocil di sudut teras.


"Ha?" tanya Nawang di sela suapannya.


"Saat seperti ini adalah salah satu mimpi besarku. Menikmati senja di rumah bersama keluarga. Bersama anak- anak dan perempuan yang kucintai." kata Richard sambil menatap Nawang terharu.


Dalam hatinya sedang mengalir deras ucapan terima kasih pada Tuhan karena dia masih diberi waktu untuk menikmati suasana ini.


Nawang terpaku mendengarnya, namun dia tak tahu harus berlaku seperti apa.


Mata Richard yang dilihatnya berkaca- kaca membuatnya sangat tersentuh.


Seberharga itukah suasana saat ini buat lelaki itu?


"Berada di rumah impian bersama keluarga impian. Sungguh sempurna." kata Richard semakin terdengar lirih.


Nawang mengangguk pelan sebagai tanda dia mengerti perasaan Richard saat ini.


"Terimakasih sudah mengajak aku dan Bintang mewujudkan salah satu mimpimu." kata Nawang akhirnya.


Dia beringsut mendekat pada Richard dan menepuk lengannya sekilas sebagai ucapan terimakasih.

__ADS_1


"Karena memang kamu yang berhak menemaniku menikmati ini. Kamu yang aku harapkan menemaniku menikmati suasana ini. Bersama anak- anak. Bila boleh." kata Richard melirih dan terdengar sedih.


Mukanya tertunduk sedih.


Nawang bimbang untuk bertanya.


Bila boleh dia bilang? Apa maksudnya?


"Bila boleh? Maksudmu apa?" tanya Nawang akhirnya.


Ditatapnya Richard yang ternyata sedang menatapnya sendu.


"Bila aku boleh berharap padamu." jawab Richard pelan. Ada keraguan dan harapan yang seperti ingin di sembunyikan di tatapan matanya.


Ah, Nawang sungguh bingung dengan tatapan itu.


Seperti berharap tapi takut.


Seperti ingin tapi ragu.


Kenapa dengan laki- laki ini?


Richard yang dulu dikenalnya bukan manusia yang penuh kebimbangan seperti ini.


Apa yang sudah terjadi dalam kehidupan pria ini selama takdir memisahkan mereka?


"Kamu boleh berharap padaku. Tapi apakah aku boleh berharap juga padamu,Mas?" tanya Nawang akhirnya.


Dan Nawang sudah menduga Richard nggak akan bisa menjawabnya.


Pria itu hanya menatapnya sedih, penuh harap, dan permohonan maaf.


Entah mengapa.


Dan Nawang merasa hatinya patah saat ini.


Walau dia sudah menyiapkan hatinya untuk kecewa karena laki- laki ini, namun nyatanya sakit itu masih saja mampu membuat remuk perasaannya saat ini.


"Masuk yuk." ajak Richard sambil bergegas berdiri diikuti Bintang dan Darren yang selalu menjadi buntutnya Bintang.


Nawang menarik napas panjangnya berkali- kali untuk meredakan emosi dan kesedihan yang menguasainya barusan.


Dilangkahkannya kakinya memasuki rumah Richard.


Matanya menyusuri tiap sudut ruangan di rumah yang dominan bercat putih itu.


Semua furniture di setiap ruangan bergaya slmple klasik, di dominasi warna salak brown dan light salak, berkesan berkelas namun bersahaja.


Setelah melintasi satu ruangan setelah ruang tamu, Nawang menemukan tiga lelaki beda generasi sedang ngobrol nggak jelas di depan sebuah pintu yang disinyalir adalah pintu kamar mandi.


"Kalian pada ngapain rapat disitu? Nungguin apa?" tanya Nawang sambil tertawa geli.


"Mereka minta mandi bareng." jawab Richard bingung.


"Ya biar aja kenapa sih?" tanya Nawang heran.


"Barengan lho, Non? Ber- du- a." sergah Richard cemas.


Nawang ngakak melihat wajah cemas Richard.


"Lalu kenapa kalau berdua? Mereka masih bocah, satu jenis. Apa yang salah?" tanya Nawang.


"Nggak punya malu apa?" tanya Richard mencicit.


"Mereka cuma ingin mandi bareng, bukan mau ngapa- ngapain. Pikiran mereka belum seluas pikiranmu." kata Nawang meledek.


"Jadi nggak papa?" tanya Richard bingung.


"Kalau aku nggak papa. Tapi ada baiknya kamu tanya mamanya Darren dulu, boleh nggak Darren mandi bareng sama satu bocah laki- laki lainnya." kata Nawang bijaksana.


Richard mengangguk kemudian bergegas menelpon Anin untuk bertanya persis seperti yang dikatakan Nawang.

__ADS_1


Anin tentu saja ngakak mendengar pertanyaan itu.


"Heh, aku nanya serius ini. Malah ketawa." sungut Richard kesal.


Para perempuan ini kenapa sih?!


"What do you think of the two children shower together? " tanya Anin di sela tawanya.


"Boleh nggak? Tinggal jawab aja!" gertak Richard sebel.


Dia menoleh kemudian nyengir saat Nawang menepuk bahunya karena gertakannya pada Anin.


"Boleh! Sama di kasih tahu, nggak boleh pegang ti**t teman mandinya. Nggak sopan." kata Anin.


Richard mengangguk- angguk mengerti dan tanpa sadar tersenyum malu sendiri sebelum menutup telponnya.


Pemikiran perempuan kadang suka out of the box untuk anak- anaknya.


"Kalian boleh mandi bareng....."


"Yeeeey....yey.....!" sorakan Darren dan Bintang memenuhi ruangan itu.


"Tapiiiii......dengerin papa dulu...."


" Tapi apa, Pa?" tanya Darren nggak sabaran.


"Kalian harus tetap pakai ****** ***** dan nggak boleh saling pegang dan nggak boleh liat ti**t ya! Mas Bintang nggak boleh pegang dan liat ti**rnya Darren, Darren juga nggak boleh liat dan pegang ti**t nya mas Bintang." kata Richard serius.


Bintang langsung mengangguk mengerti.


"Kenapa?" tanya Darren bingung.


"Nggak sopan kalau liat atau pegang ti**tnya teman." jelas Bintang.


"Betul yang dibilang mas Bintang." kata Richard.


Darren mengangguk mengerti.


"Mas Bintang siapa yang ngasih tahu?" tanya Richard penasaran.


"Ibu. Kata Ibu, kita nggak boleh pegang dan liat alat vital orang lain, apalagi sama temen cewek. Itu nggak sopan dan dosa. Cuma dokter dan orang tua kita saja yang boleh ngeliat kalau keadaan sakit atau darurat. Kalau kita sudah menikah, istri kita juga boleh." jawab Bintang dengan lantang.


Nawang tersenyum salah tingkah.


"Alat vital itu apa, Mas?" tanya Darren penasaran.


Richard menepuk dahinya kaget dan bingung.


"Alat vital itu ini sama ini..." kata Bintang sambil menunjuk area kelaminnya dan dadanya.


"Sini juga?" tanya Darren nggak percaya sambil memegang kedua belah dadanya.


"Iya. Kalau cewek situ juga." jawab Bintang kalem.


Richard sudah menutup mukanya hampir nggak tahan dengan kemungkinan penjelasan Bintang selanjutnya.


"Kenapa?" tanya Darren masih penasaran.


"Karena itu milik berharganya anak cewek, jadi harus dihormati juga sama cowok. Kita anak cowok lebih baik menundukkan pandangan kalau ketemu cewek, biar sopan. Kita nggak boleh ngeliatin cewek lama- lama, nanti dosa." terang Bintang yang sangat diperhatikan oleh Darren.


Richard menatap Nawang dengan tatapan tak percaya.


"Are you serious about teaching sex education from an early age?" bisik Richard takjub.


Nawang mengangguk sambil tersenyum.


"Baru sebatas itu aja. Sejak dia mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, aku ajarkan soal adab itu." kata Nawang.


"I'm proud of you, honey." bisik Richard yang disambut cubitan Nawang di lengannya.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2