
Richard melebarkan senyumnya saat dilayar ponselnya muncul wajah Nawang.
Dia sedang ada di balkon kamar tidurnya di rumah Semarang.
"Bintang udah tidur ya?" tanya Richard basa- basi sekali karena sengaja dia menelpon Nawang setelah jam tidur anak itu.
Sekarang hampir jam setengah sepuluh malam.
"Basa basi." cibir Nawang membuat Richard tertawa.
"Iya. Pencintraan biar dikira perhatian sama calon anak." kata Richard sambil terkekeh.
Nawang mencibirkan bibirnya.
"Gimana urusannya disitu? Beres?" tanya Nawang serius.
"Beres...." jawab Richard singkat, dan terlihat enggan untuk bercerita.
"Alhamdulillah kalau beres.Kamu baik- baik aja kan?" tanya Nawang kemudian.
"Baik doooong.Tetap keceh dan menawan." jawab Richard mulai loss dol.
"Alhamdulillah. Berarti masalah tadi tidak mengganggu pikiranmu. Bisa diartikan itu bukan masalah besar?" tanya Nawang berusaha memancing.
"Iya.Bukan masalah besar. Papa dan mama hanya shock aja karena tahu aku punya HIV." kata Richard akhirnya menjelaskan.
Nawang nampak kaget tapi kemudian tersenyum.
"Alhamdulillah akhirnya nggak ada lagi rahasia yang kamu sembunyikan kepada orang tua. Ini pasti yang terbaik. Setidaknya akan semakin banyak yang menjagamu." kata Nawang sambil tersenyum kepada Richard.
"Tapi mama terlihat terpukul sekali. Nangis terus tadi. Aku nggak tega lihatnya." kata Richard sedih.
"Ya tentu saja orang tua sedih kalau anaknya sakit, apalagi tahunya dari orang lain. Bukan hanya sedih, tapi juga kecewa karena merasa nggak dipercaya. Tapi mereka pasti juga mengerti maksud kamu nggak memberitahu mereka karena kamu nggak ingin jadi beban pikiran mereka. Disini hanya beda cara dalam mengungkapkan rasa sayang. Nggak papa. Nanti akan membaik seiring waktu. Lebih baik mulai sekarang kamu ceritakan semua yang menyangkut sakitmu itu, biar orangtuamu merasa dilibatkan dan merasa kamu butuhkan untuk ikut menjagamu. Mereka pasti akan lebih senang dan tenang." saran Nawang.
"Aku harus jelasin apa ke mereka?" tanya Richard bingung.
"Tunjukkan obatmu, jelaskan soal obat itu. Kamu juga bisa jelaskan kapan jadwal kamu cek. Bisa juga ceritakan efek obat itu ke kamu. Dari situ aja dulu. Nanti pasti akan mengalir sendiri obrolan lebih detailnya." kata Nawang memberi ide.
Richard mengangguk mengerti.
Nawang bisa berpikir sedetail itu di saat dia berpikir semua sudah selesai tadi.
Dia bahkan tak sampai berpikir kalau orang tuanya mungkin akan senang bila dia 'libatkan' dalam menjalani 'sakitnya'.
"Makasih, Sayang." kata Richard setelah keduanya saling diam dan hanya saling menatap dengan tersenyum.
"Makasih buat apa?" tanya Nawang bingung.
"Makasih karena mau bersamaku. Makasih untuk masukannya barusan." jawab Richard tulus.
Nawang tertawa pelan.
"Mau bersamamu kan bukan karena aku menuruti keinginanmu, tapi karena aku sendiri yang mau. Jadi nggak perlu terima kasih gitu. Kayak aku ini apa aja." kata Nawang sambil terkekeh.
"Beneran nih mau karena kesadaran sendiri? Karena cinta atau karena iba?" tanya Richard sambil tersenyum jail.
Tapi pertanyaannya itu membuat Nawang berlari ke pikiran yang lain.
Hal yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Richard berpikir dia mau bersama Richard karena rasa iba.
__ADS_1
"Aku bukan orang yang sangat baik hati hingga mau rela menyerahkan hati dan hidupku karena sebuah rasa iba. Jangan terlalu memandang tak berharga pada dirimu sendiri seperti itu. Kamu sangat pantas dicintai. Lebih dari sangat pantas bahkan. Bukan hanya sekedar rasa iba. Itu kalau kamu percaya padaku." kata Nawang dengan wajah datar.
Wajah datar yang begitu saja tercipta karena akumulasi dari rasa khawatir Richard berpikir negatif padanya, rasa malu dengan pikirannya sendiri tentang itu, dan rasa sedih karena dia menduga Richard mengira dia tak mencintai Richard.
Ah, perasaan yang menyebalkan sekali.
Sangat sulit dikendalikan dan diekspresikan.
"Aku percaya padamu. Tentu saja aku percaya padamu." kata Richard lembut namun terdengar sangat yakin.
"Terimakasih sudah mencintaiku sejauh ini. Sedalam ini." kata Richard semakin lembut yang malah membuat Nawang terharu.
"Terimakasih juga mau menerimaku yang seperti ini. Terimakasih mau memperjuangkan aku sejauh ini. Terimakasih karena ingin memilikiku. Terimakasih membuatku merasa diinginkan dan berharga." kata Nawang tersendat- sendat karena tercekat rasa haru dan airmata yang begitu saja muncul.
Ah, andai saja mereka ada di tempat yang sama, pasti Richard akan segera memeluk tubuh ramping Nawang dan menangis bersama untuk semua perasaan saat ini.
Perasaan berharga dan diinginkan.
Perasaan bahagia karena merasa diharapkan dengan sepenuh hati.
Perasaan dibutuhkan dan berharga.
Semua ini perasaan tulus dan mahal.
Hanya bisa tercipta dari rasa cinta tanpa syarat.
Cinta tanpa tapi.
"Aku yang terharu kenapa kamu yang mewek gitu?" tanya Richard sambil tertawa meledek, sengaja memecah keharuan diantara mereka.
"Aku juga baper. Nyebelin ih." sungut Nawang malu.
Richard tergelak.
"Kenapa HP nganggur?" tanya Nawang bingung, membuat Richard tergelak.
"Kalo udah sah kan malem- malem kita nggak perlu begini lagi, VC an, WA nan. Kegiatan kita lebih asik, nggak butuh HP lagi." kata Richard sambil tersenyum tengil.
"Bubar! Bubar!" potong Nawang karena mulai ngeh mau kemana arah pembicaraan Richard.
Pasti nggak jauh- jauh ke sekitar begituan.
Dasar omes.
"Kenapa?" tanya Richard nggak terima dengan acara pembubaran secara sepihak yang akan dilakukan oleh Nawang.
"Kamu tuh ya, nggak jauh- jauh ngomongnya kesitu- situ mulu. Kayak nggak ada topik lainnya aja yang dibahas." sungut Nawang kesal.
Richard menggelegas.
Masak sih dia kesitu- situ aja ngomongnya? Kapan? Perasaan baru kali ini, itupun belum tuntas karena Nawang potong.
"Kapan aku kesitu- situnya? Baru kali ini juga kepotong, belum rampung ngomong udah dicegatin." protes Richard.
"Tuh kan malah ngajak ribut gak jelas? Udah ah, aku mau tidur aja. Bye!" kata Nawang langsung mematikan VC nya.
Richard menggelengkan kepalanya gemas.
Kelakuan ya, nggak berubah, seenaknya aja matiin telpon.
Bikin gemes aja.
__ADS_1
Have a sweet dream, baby. Thank you for loving me with your deepest love.ππ
Sebuah pesan yang Richard kirim dan mampu membuat senyum dibibir Nawang terukir dengan sempurna dan mampu memenuhi hatinya dengan kehangatan.
I love you as deep as I can't turn away from your love. Sleep tight, my man.ππ
Richard memeluk ponsel didadanya dengan senyum lebar dari Sabang sampai Merauke nya membaca balasan yang Nawang kirim.
Tapi dilihatnya kemudian ponsel Nawang sudah tidak dalam posisi online.
Pasti perempuan itu sengaja mematikan ponselnya.
Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu.
Senyuman Richard terpenggal saat di dengarnya suara mamanya sudah ada di dalam kamarnya.
"Kirain sudah tidur. Ternyata masih pegangan HP." kata mama di depan pintu balkon.
Richard tersenyum riang.
"Baru VC sebentar sama Nawang. Nunggu jam buat minum obat." kata Richard seketika teringat saran Nawang tadi.
"Minum obatnya pakai jam?" tanya mama langsung terpancing.
"Iya. Minumnya sehari sekali kalau malem. Jam nya harus di jam yang sama dan semaksimal mungkin nggak boleh lupa." terang Richard sambil memeluk bahu mamanya agar ikut meninggalkan balkon.
Udara sudah agak dingin diluar, nggak bagus buat mamanya.
Richard kemudian mendudukkan mamanya di ranjangnya dan dia sendiri kemudian meraih tasnya lalu mengeluarkan botol yang berisi obat- obatannya dan menunjukkan pada mamanya.
"Ini obat yang akan menemani seumur hidup. Cemilan khusus di malam hari." kata Richard ringan sambil melirik mamanya dengan tatapan jenaka.
Dibiarkannya mamanya meraih botol- botol obat itu, melihatnya dengan tangan agak gemetar, menggenggamnya beberapa saat entah mengapa, lalu menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu tetap anak mama yang hebat. Yang selalu menyenangkan dan membahagiakan. Tetaplah sehat walau harus selalu meminum ini. Janji ya?" kata mama sambil meraih wajahnya kemudian mencium keningnya dengan lembut dan lama.
Richard tahu mamanya menitikkan airmata lagi kali ini. Tapi dia yakin airmata itu lebih tenang dan berisi doa- doa terbaik mama untuknya.
"Aku janji. Selama ini aku sudah membuktikannya, aku selalu baik- baik saja, Ma. Jangan khawatir." kata Richard kemudian memeluk hangat mamanya yang kini mengelus lengannya dengan lembut namun bertenaga, seolah ingin memberinya banyak kekuatan.
Aku akan baik- baik saja, Ma. Penyakit ini bukan musuhku, dia akan jadi teman seumur hidupku.
ποΈποΈποΈ bersambung ποΈποΈποΈ
Assalamualaikum wr.wb......
Boleh ya mau ngucapin makasih banyak untuk jempol yang terkirim buat novel ini.....? π Aaaaaaa, aku terharuuu π₯Ίπ
Makasih juga untuk komen- komennya ( yang Alhamdulillah masih dikit jadi sebisa mungkin bisa aku bales semuanya π π).
Melihat peningkatan reader yang cukup signifikan, bau- baunya pasti ada banyak readernya Teh Sephinasera yang pinisirin trus nengok dimari. Kalau benar, makasih banyak yaaaaa.....π Ini berarti bukan hanya author dukung author, tapi juga reader bantu reader, right? ππ.
Apapun itu alasannya sampai mau singgah bahkan ku harap mau menetap juga disini, makasih banyak untuk apresiasinya. π
Jempol dan komen kalian membuat tingkat kepedeanku meningkat drastis, beneran ππ€£
Baiklah.....Mau ya janji tetap jaga kesehatan diri dan sekitar..... Janji tetap selalu jaga prokes, dan janji tetap menemani Richard dan Nawang sampai end nanti π
Happy reading everybody......Much love from my deepest heart β€οΈπβ€οΈ
Salam bahagia selalu.....
__ADS_1
Wassalamu'alaikum wr.wb......