PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
64


__ADS_3

Rasanya baru sekejap Richard memejamkan mata saat dirasanya tubuhnya merasa digoyang- goyang oleh kekuatan kecil.


Dengan memicingkan matanya dia melihat Darren sudah berdiri di sampingnya.


"Eh, nak.Kenapa?" tanya Richard sambil beringsut duduk. Dilihatnya Bintang masih tidur dengan nyenyak.


"Kok papa bobok disini? Ibu kemana?" tanya Darren.


Richard menguap sambil melihat arlojinya


Hampir jam lima rupanya.


"Papa bobok disini, Ibu bobok di kamar papa. Biar kamar ini jadi kamar cowok." kata Richard sambil melipat selimut.


"Sini kan kamarku sama mas Bintang. Kenapa papa nggak bobok sama Ibu aja,kan ranjangnya muat buat berdua?" tanya Darren lagi membuat Richard nyengir.


Masih bahas bobok bareng aja nih bocah.


"Papa sama ibu kan belum jadi suami istri, jadi belum boleh satu kamar apalagi bobok bareng, nanti dosa. Besok ya kalau papa sama ibu sudah menikah baru boleh bobok bareng kaya mama sama Daddy kamu." kata Richard sambil membawa tubuh Darren ke pangkuannya.


"Menikah itu apa sih, Pa? Kok orang- orang kalau udah gede pada menikah?" tanya Darren dengan keponya.


Glek !!!


Help me please....


Richard memijit keningnya untuk mencoba mencari rangkaian kata yang lugas untuk menjawab pertanyaan Darren.


Susah juga ya punya anak cerdas gini....


"Menikah itu cowok dan cewek yang udah gede saling berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu saling menemani dan hidup bersama- sama." jawab Richard agak ragu.


Semoga nggak menimbulkan pertanyaan baru lagi nih.....


"Biar boleh ngapa- ngapain barengan ya, Pa?" tanya Darren lagi.


"Betul!" jawab Richard sambil menowel ujung hidung Darren.


"Aku besok kalau udah gede juga mau menikah." kata Darren dengan semangatnya.


"Iya. Tapi Darren harus sekolah dulu yang pinter, kerja yang bagus biar punya uang banyak. Baru menikah ya. Cari istri yang baik dan cantik ya?" kata Richard mulai error.


Darren mengangguk mengerti.


"Yang kayak mama dan ibu ya,Pa?" tanya Darren.


"Boleh....boleh....kayak Ibu sama mama ya....?"


"Mama sama ibu kan baik dan cantik, Pa. Dan galak juga, hihihi...." kata Darren kemudian menutup mulutnya lucu.


Richard tergelak.


Iya juga sih. Cantik, baik, dan galak, wkwkwk.....

__ADS_1


"Kamu pernah digalakin Bu Nawang? " tanya Richard deg- degan.


"Ibu cemberut karena kami nakal. Nggak bentak- bentak, tapi ngeliatnya serem. Aku takut." kata Darren sambil berbisik.


Richard mengangguk- angguk mengerti.


Jangankan anak- anak, dia aja masih suka jiper kalau Nawang sudah diam dan menatap tajam dengan wajah dan tatapan flat nya.


"Terus kami minta maaf, dan janji nggak nakal lagi, terus nggak cemberut lagi deh." cerita Darren riang.


"Kita sholat subuh dulu yuk. Mas Bintang dibangunin gih." kata Richard sebelum Darren lebih banyak nanya dan dia sendiri malah tambah gokil ngajarin Darrennya


Kalau sampai ketahuan Nawang dia ngobrol ngaco sama anak- anak gini, bisa- bisa diganyang sama Ibu Galak itu.


******


Senyum Nawang terus berkembang di sepanjang jalan menuju mall yang akan mereka datangi pagi ini.


Setelah sarapan dan bermain sebentar sambil menunggu jam buka mall, enam orang keluar dari rumah megah itu dengan dua mobil.


Orang tua Richard dengan satu mobil dan rombongan Richard dengan mobilnya sendiri karena rencananya mereka akan langsung balik ke Jogja setelah nanti puas mengubek- ubek isi mall.


" Kenapa senyum- senyum terus gitu? Bikin takut aja." ledek Richard.


"Siapa yang senyum- senyum? Aku anteng dari tadi kok." sanggah Nawang dengan malu.


"Bocah- bocah di belakang juga tahu kamu berbinar- binar dari kita sarapan tadi. Masih mau ngeles juga. Kenapa? GR dibaikin sama papa?" ledek Richard sambil tertawa, kontan membuat Nawang mencubit lengannya dan sukses membuat Richard mengaduh.


"Kebiasaan banget deh, nyubitnya penuh dendam kesumat gitu." sungut Richard sambil mengelus lengannya berkali- kali.


"Aku nggak nyangka Papa sejatuh cinta itu sama masakanmu...." kata Richard seperti gumaman.


Nawang hanya mengangguk kecil.


Sebenarnya hal itulah yang membuat dia menebar senyum dari tadi.


Dia memang sedang tinggi hati saat ini karena pujian Pak Pambudi pada masakannya tadi.


Bahkan mama Richard juga sangat suka dengan ayam bakar dan baceman tempe juga tahu yang dia masak.


Jadi, untuk sarapan tadi Nawang bukan hanya membuat trancam dan ayam bakar seperti request papanya Richard, tapi juga sekalian membuat bacem tempe dan tahu.


Bahkan mamanya Richard memintanya membuat kuah untuk mangut agar nanti bisa tinggal dimasukin ayam atau ikan walau nanti Nawang sudah balik ke Jogja.


Sungguh sambutan dan penghargaan yang luar biasa bagi Nawang.


"Udah, tiap Sabtu kalian kesini deh. Biar Nawang bisa masakin papa." kata Papa Richard tadi saat mereka sedang makan.


"Idih ! Pa,Nawang itu kerja sampai Sabtu siang. Minggunya buat dia istirahat. Kasian dia lah kalau tiap weekend harus kesini, disuruh masak pula." bantah Richard nggak terima.


"Lhoh, Sabtu masih kerja?" tanya Pak Pambudi sambil menatap Nawang.


"Iya, Pak. Setengah hari." jawab Nawang sambil tersenyum malu.

__ADS_1


"Waaaah, pelanggaran itu namanya Perusahaanku nggak ada yang begitu. Lima hari kerja semua, jadi weekend karyawan bisa sama keluarganya." omel Pak Richard.


BTW perusahaan papanya Richard ada berapa ya?


"Ya udah, sebulan sekali deh. Mau ya, Na?" bujuk Bu Pambudi.


Nawang hanya memandang Richard untuk meminta persetujuan.


Richard balik bertanya padanya lewat tatapannya.


"OK deal! Sebulan lagi kalian harus kesini lagi." putus Pak Pambudi secara sepihak.


"Otoriternya keluar deh...." gumam Richard dengan wajah kesal.


"Ya ampun Ric, kamu yang terlalu posesif. Kamu di Jogja bisa tiap hari minta masakan dia, kami harus nunggu sebulan lagi lhoh buat makan masakan dia." sergah Pak Pambudi membuat istrinya menggeleng tak percaya dan geli.


Sedang Nawang hanya menundukkan wajahnya dalam- dalam menahan tawa dan rasa congkaknya, merasa diperebutkan oleh dua generasi Pambudi.


Gokil ini sih.


Putra mahkota dengan kemanjaannya dan Sang Raja dengan kearoganannya.


"Papa sama Opa kenapa sih berantem terus? Kalau makan itu nggak boleh ngomong terus, nggak sopan." kata Darren membuat dua seniornya malu.


"Oke...oke...Opa minta maaf, Sayang." kata Pak Pambudi sambil tersipu malu.


"Maaf ya, Papa berisik dari tadi." kata Richard sambil tersenyum.


"Ya udah, makan yang benar. Nanti keburu Oma habisin semua nih." kata Bu Pambudi sambil kembali menyendok makanannya.


"Mas Bintang tuh pinter, diem aja kalau makan." kata Bu Pambudi sambil tersenyum menatap Bintang yang juga sedang menatapnya.


"Makasih, Oma." sahut Bintang kemudian kembali menunduk menekuri makanannya.


"Beneran mau tiap bulan kesini? Buat jadi koki?" tanya Richard memutus lamunan Nawang.


Dilihatnya dari spion tengah dua bocil sedang kasak- kusuk dengan serius, entah sedang ngobrolin apa.


"Aku sih ikut kamu aja. Kalau kamu mau ngajak aku ya aku mau- mau aja. Mumpung masih diberi kesempatan untuk menyenangkan orang tua, harus kita usahakan. Apalagi cuma hal beginian. Sama sekali bukan hal sulit kan?" kata Nawang sambil menatap Richard.


"Kamu bikin aku tambah jatuh cinta aja..." kata Richard sambil tersenyum.


Tangannya yang hendak terulur ke pipi Nawang mengambang di udara saat dari belakang terdengar suara lirih Darren mengajukan satu pertanyaan ke Bintang.


"Jatuh cinta itu apa sih,Mas?"


" Nggak tahu." jawab Bintang juga dengan gaya berbisik namun masih bisa terdengar.


"Papa, kalau ngobrol tuh yang aku dan mas Bintang ngerti dong!" kata Darren yang diikuti anggukan Bintang, membuat keduanya tertawa malu.


"Tadi papa liat kalian ngobrol berdua, jadi ya papa ngobrol berdua juga sama ibu. Maaf ya, papa nggak tahu kalau kalian dengerin juga." kata Richard sambil tersenyum.


Bahaya juga ngegombal di depan bocah.

__ADS_1


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2