PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
115


__ADS_3

Richard keluar dari rumah sakit setelah makan siang.


Dijemput oleh Bram yang hari itu libur.


Darren tentu saja ikut dengan semangat membara karena akan menginap di rumah Mas Bintang.


Sudah terbayang di benak bocah itu semua kegiatan asik yang akan dilakukannya dengan Mas Bintang.


Orang tua Richard hanya menginap semalam karena dapat kabar duka dari sepupu Pak Pambudi yang meninggal dunia di Kediri.


"Sakit gini aja harus pakai kursi roda ya aku? Kayak orang sakit parah." sungut Richard begitu turun dari mobil sudah dihadang kursi roda di depan pintu mobil.


"Nurut aja napa sih? Memangnya dadamu nggak engap buat jalan dari sini ke kamar?" sergah Bram sambil mendorong kursi roda masuk, menyusul langkah Nawang yang sudah mendahului mereka sambil membawa koper berisi pakaian mereka berdua selama di rumah sakit.


"Kamar yang kece nih. Kok rasanya bisa bikin tenang dan plong gini ya?" komentar Bram sambil mengedarkan pandangannya ke seantero kamar yang tak luas itu.


Richard tersenyum bangga sambil menikmati empuknya ranjang baru.


"Tukang desainnya Mrs. Richard. Nggak terlihat murahan kan?" tanya Richard sambil ikut mengedarkan pandangannya.


"Sama sekali! Suruh kuliah aja istrimu. Dia ada passion kayaknya." kata Bram mengompori.


"Besoklah kuobrolin dulu, dia pengen gimana setelah resign kemarin. Nggak mau maksain apa- apa juga sama dia." kata Richard sambil menyamankan posisi duduknya.


Nawang masuk sambil membawa nampan berisi minuman dan dua toples kudapan.


"Minumnya ku taruh sini ya, Mas Bram." kata Nawang sambil meletakkan nampan di atas meja rias yang diposisikan di sisi tempat tidur.


Richard berpikir meja rias itu jelas multifungsi bagi Nawang. Secara ada beberapa rak di kaki meja rias itu.


Cerdas dan cermat.


"Makasih, Bu." jawab Bram sambil tersenyum senang.


Diraihnya air jeruk dingin di gelas besar itu.


"Ahhhh, segaaar!!!" kata Bram setelah memindah sepertiga isi gelas ke perutnya.


"Darren kemana, Non?" tanya Richard pada Nawang yang sedang mengikat gordyn.


"Di depan rumah, main neker ( kelereng) sama Saki." jawab Nawang kemudian menata bantal di sandaran punggung Richard agar suaminya itu lebih nyaman.


"Udah punya teman disini?" tanya Bram keheranan.


"Memangnya dia bisa nekeran ( main kelereng)?" tanya Richard sambil terkekeh.


Darren memang bikin gemes aja.


"Barusan kenalnya. Anak belakang rumah. Tadi Darren mau di ajak main ke rumahnya Saki sama ibunya Saki tapi kuminta main di rumah aja. Nurut dia." kata Nawang sambil tersenyum.


"Pasti nurutlah. Mana berani sama Ibu galak gitu. Papanya aja nurut." seloroh Richard membuat Bram dan Nawang mencibirkan bibir mereka.


"Lhoh bener kan? Aku kan nurut sama kamu, Sayang." kata Richard merasa nggak dipercaya.


"Iyaaaa! Udah ngegombalnya ya, malu sama Mas Bram." kata Nawang kemudian melenggang pergi.


Bram tertawa- tawa mendengarnya.


"Bucin akut pada satu perempuan yang sama." komentar Bram sambil menatap Richard.


"Always and forever." sahut Richard dengan senyuman bahagia di bibirnya.


"Mau langsung proyek selanjutnya nggak nih?" tanya Bram sambil mengerling.


"Kayaknya...." jawab Richard langsung mengerti yang dimaksud Bram sambil terkekeh.


"Rencana nambah berapa? Two? Three?"


"Dia bilang maksimal nambah dua. Dimaksimalkan aja kali ya?" seloroh Richard kemudian tertawa.

__ADS_1


"Sudah kuduga." sahut Bram sambil tergelak.


"Dua harus kayaknya. Kan punya kakak dua." kata Richard seperti bicara pada diri sendiri.


"Kerja yang rajin lu. Bakal ngidupin anak empat." seloroh Bram. Richard hanya tersenyum- senyum saja.


"Bisalah ya ngasih masa depan cerah buat empat anak." sahut Richard yakin.


"Daddy, aku bobok sini kan?" tiba- tiba Darren sudah muncul di depan pintu kamar bersama Bintang.


"Iya. Kenapa? Nggak jadi pengen bobok sini?" tanya Bram.


"Jadiiii. Aku mau ikut ngaji Mas Bintang ke.....kemana, Mas?" tanya Darren setelah berpikir sejenak.


"Ke mushola." jawab Bintang.


"Ke mushola, Dad...." ulang Darren.


"Sekarang ngajinya?" tanya Richard sambil memandang dua bocil itu.


Darren bingung tak bisa menjawab.


"Nanti jam empat ngajinya. Pulangnya habis sholat magrib." terang Bintang kalem.


"Memangnya boleh, Mas kalau Darren ikut?" tanya Richard ragu.


"Boleh. Temen- temenku banyak yang sama adeknya kalau ngaji." jawab Bintang yakin.


"Ya udah, boleh ikut. Tapi nggak boleh nakal ya? Nurut sama Mas Bintang nanti." kata Bram kemudian.


"Iya." jawab Darren patuh.


"Daddy pulang sekarang ya?" kata Bram sebelum Darren ngilang dari pandangannya lagi.


"Iya." jawab Darren santai.


"Salim dulu dong sama Daddy." perintah Richard.


"Katanya main sama Saki. Udahan mainnya?" tanya Richard.


"Udah. Saki ikut Ibunya pergi. Aku tadi nekeran, Pa. Papa bisa nekeran nggak?" tanya Darren dengan semangat.


"Bisa dong! Kamu dapat neker darimana?" tanya Richard.


"Di kasih Mas Bintang, kan Mas Bintang punya banyak.


"Mas Bintang punya banyak kelereng dari mana, Mas?" tanya Bram ikut berinteraksi.


"Dari menang main." jawab Bintang malu- malu.


"Waaah, jago main kelereng ternyata Mas Bintang." puji Bram yang hanya mendapat senyum malu Bintang.


"Aku main lagi ya, Pa." pamit Darren sambil menarik tangan Bintang keluar kamar.


"Jangan jauh- jauh mainnya, Bin!" terdengar suara Nawang dari arah dapur.


"Yaaaa." jawab Bintang dari arah depan.


"Ternyata enak ya punya rumah kecil. Ngobrol dari dapur ke teras cukup sedikit teriak." kekeh Richard disambut tawa Bram.


"Iya juga ya." kata Bram disela tawanya.


Bagi Richard dan Bram yang sedari kecil terbiasa punya rumah besar, interaksi Nawang dan Bintang barusan tentu sesuatu yang baru.


"Ya udah, aku pulang dulu ya. Cepet sehat lu. Jangan bandel sama suster di rumah. Selamat menjalankan puasa yang panjang, pengantin baru." kata Bram disusul tawa mengejeknya.


"Bang sat lu!" umpat Richard dengan kalimat terakhir yang diucapkan Bram.


"Lhoh, ada yang salah dengan kalimatku? Emangnya kamu bisa olahraga dalam kondisi kayak gitu? Napas aja ngirit gitu...." ledek Bram semakin menjadi.

__ADS_1


"Ja bi ngan! Minggat sana!" usir Richard sambil melempar bantal pada Bram yang dengan mudah berkelit menghindar dan berlari ke pintu.


"Aku pulang dulu, Bu! Pasienmu ngamuk tuh!" pamit Bram dari depan pintu kamar lalu bergegas keluar rumah dengan tawa yang masih bisa di dengar Richard.


Menyebalkan!!!


"Ya, Mas. Makasih ya sudah nganter kami pulang tadi." kata Nawang sambil bergegas menyusul Bram ke depan untuk mengantar sampai depan pintu.


Setelah Bram berlalu baru Nawang menghampiri Richard yang masih memasang wajah keruh.


Dahinya mengernyit melihat bantal teronggok di depan pintu.


"Bantalnya kenapa sampai harus di buang segala?" tanya Nawang sambil memungut bantal dan mendekati Richard.


"Mau peluk." kata Richard sambil mengulurkan tangan kanannya dengan wajah memelas.


Nawang mendekatkan dirinya agar bisa memeluk suaminya yang sedang manja itu.


"Kenapa sih? Nanti kalau ketahuan anak- anak, malu lho." kata Nawang sambil mengelus kepala belakang Richard.


"Bram kurang ajar! Masak tadi bilang selamat menjalankan puasa sama aku." adu Richard dengan bersungut- sungut.


Nawang tertawa mendengarnya.


"Kok ya masih bisa mikir yang begituan sih keadaan lagi kayak gitu, Mas?" kata Nawang gemas sambil menahan tawa.


Bisa dia bayangkan bagaimana kekinya Richard dengan ledekan Bram tadi.


"Itu kan @ kebutuhan primer, Non." gumam Richard setelah melepaskan pelukannya.


Nawang tertawa dibuatnya.


"Mana ada itu @kebutuhan primer. Ngadi- adi banget ih! Itu masih jadi ©kebutuhan sekunder. Tapi kalau kondisimu kayak gini nih, jadinya ® kebutuhan tersier." kata Nawang sambil terkikik sengaja meledek suaminya.


"Nggak mungkin lah itu jadi kebutuhan tersier. Enak aja!" protes Richard nggak terima.


"Udah....udah....jangan emosi gitu. Sekarang tiduran sendirian dulu ya. Aku mau masak sebentar. Dadanya masih nyeri nggak?" tanya Nawang sambil menyentuh dada Richard.


"Nggak. Tapi masih agak sesak kalau buat baring telentang." kata Richard sambil menggenggam tangan Nawang.


"Maaf ya, udah ngrepotin kamu aja." kata Richard dengan wajah bersalah.


"Ngomong apa sih? Nyebelin tahu nggak?"


"Maaf ya, nggak bisa nyenengin kamu dulu. Kondisiku kayak gini." kata Richard lagi dengan nada sedih.


"Mulai deeeeh......! Udah ah, aku mau ke dapur dulu. Kamu butuh apa buat temen di kamar? Laptop mungkin?" tawar Nawang.


"Boleh. Makasih ya, Sayang." kata Richard sambil tersenyum.


"Your welcome,Sir." jawab Nawang dengan tersenyum riang sambil mengambil laptop Richard dari tasnya.


"Baik- baik ya sama laptopnya. Jangan nyari film yang aneh- aneh." kata Nawang sambil meninggalkan Richard yang menatapnya gemas.


Untung saja aku lagi kayak gini. Kalau aku sehat, dah habis kamu aku piting- piting, Non.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


@Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang harus dipenuhi manusia untuk bisa bertahan hidup. Kebutuhan ini mendasar dan harus dipenuhi manusia.


Contohnya adalah kebutuhan pangan, sandang, dan papan.


©Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang muncul setelah kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang berkaitan dengan usaha menciptakan atau menambah kebahagiaan hidup manusia.


Contohnya adalah kendaraan, hiburan, fasilitas kesehatan, perlengkapan rumah tangga.


®Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang cenderung berfungsi sebagai pemuasan kebutuhan meningkatkan gengsi atau harga diri manusia.


Contohnya adalah memiliki perhiasan, barang branded, atau berwisata ke luar negeri.

__ADS_1


( Sumber dari www.kompas.com 23 Maret 2020 dan sumber lainnya).


Maaf ya kalau ada yang berasa mengulang pelajaran IPS lagi 😅 Cuma mau mempermudah pemahaman readers yang mungkin lupa atau kurang familiar dengan istilah tersebut aja.☺️


__ADS_2