
Otak Richard seperti tak bisa di ajak berpikir.
Cukup lama dia terpaku mencoba pelan- pelan mencerna kalimat terakhir Nawang yang di dengarnya.
Sebentar....sebentar....
Apakah ini berarti.....?
OH MY GOD!!!
Ditatapnya wajah Nawang lekat- lekat, mencari jawaban dari pertanyaan hatinya barusan.
"Apakah dugaanku nggak keliru kalau ini artinya yes?" bisik Richard dengan merangkum wajah Nawang. Mempertemukan tatapan mata mereka berdua yang kini sudah mulai dihiasi pijar kejora walau masih ada airmata terbit di mata Nawang.
Dan kebahagiaan Richard tak terbendung lagi saat menangkap anggukan kepala Nawang dan airmata yang kembali terbit.
Richard memeluk erat tubuh Nawang yang kini malah semakin sesengukan dilehernya.
"Kenapa malah tambah kenceng nangisnya?" bisik Richard lembut sambil mengelus- elus punggung Nawang agar perempuan itu lebih tenang.
Nawang tak menjawab, hanya kemudian dengan pelan menjauhkan kepalanya dari leher Richard dengan tersenyum malu.
"Kenapa tersipu gitu? Kayak yang belum pernah pelukan aja." ledek Richard dengan menatap lekat wajah Nawang yang hanya berjarak dua jengkal dari wajahnya sendiri.
"Siapa yang tersipu?" rengut Nawang dengan pipi yang memerah.
"Calon istri aku ini, lagi tersipu malu." kata Richard sambil meraih bahu Nawang hingga membuat mereka kini saling berpelukan kembali.
Nawang tersenyum lega di dada Richard. Lega sekali.
Akhirnya salah paham diantara mereka tadi tak berkepanjangan.
"Lepasin, Mas." rengek Nawang setelah cukup lama mereka berpelukan dan Richard malah semakin erat memeluknya.
"Mas!"
"No!" sahut Richard tapi sudah melepaskan tangannya dari bahu Nawang tapi tangannya kini beralih ke wajah Nawang.
Ibu jarinya lembut mengusap pipi Nawang berkali- kali. Lembut dan menenangkan.
Nawang memberanikan diri menatap mata Richard yang mulai nampak sayu.
Aduh!
"Boleh?" tanya Richard dengan nada memohon saat ibu jarinya telah sampai di bibir ranum Nawang.
Nawang menggeleng. Membuat Richard mengangguk walau nampak kecewa.
"Ada luka. Tadi pagi kesodok sikat gigi." jelas Nawang malu- malu.
"Ya." Richard mengangguk penuh pengertian.
Sejak mereka resmi sebagai pasangan Richard selalu mewanti- wanti Nawang agar tak segan- segan menolak keinginannya berciuman bila kondisi rongga mulut Nawang sedang ada luka.
Dengan kondisinya yang ODHA, Richard tak mungkin egois sembrono mempertaruhkan kesehatan Nawang bila tetap memaksakan hasratnya pada Nawang.
Luka di rongga mulut bisa menjadi salah satu media bagus untuk menularnya HIV bila mereka sampai bertukar saliva.
Tapi bukan berarti Richard tak punya destinasi lain di tubuh Nawang bukan? wakakak.....
Meski ciuman bibir hangat yang diinginkannya tak bisa didapatkan, dia yakin masih bisa membuat kebahagiaan untuk mereka.
Banyak jalan menuju kesana bukan? Hihihi.....
Salah satu jalannya adalah seperti yang tengah dimulainya kini.
__ADS_1
Saat ini bibirnya sudah mulai meninggalkan pipi Nawang dan tengah amenyusuri area belakang telinga Nawang.
Menghujani area tersensitif perempuan itu dengan sapuan lembut bibirnya, lalu hisapan- hisapan kecilnya disana mampu membuat nafas Nawang kini terdengar berat dan tersengal.
Sebuah suara yang terdengar seperti suara sorak sorai meriah sebagai sambutan untuk kedatangannya.
Ya. Dia baru saja datang. Dan ingin lebih lama menikmati suasana ini.
Leher jenjang Nawang adalah area ternyaman berikutnya.
Dengan gerakan lembut namun mengintimidasi, Richard membuat Nawang tak berkutik dalam kekuasaannya kali ini.
Bahkan saat wajahnya semakin terbenam di ceruk leher kekasihnya itu, menguasai area tulang selangka, bahkan hisapan- hisapan kecilnya telah meninggalkan jejak nyata, semuanya belum terasa cukup, bahkan membuatnya semakin merasa kehausan.
Nafas tersengal Nawang dan jemari Nawang yang meremas kuat rambut belakangnya seakan jadi sambutan hangat berikutnya.
Hingga tanpa sadar perjalanan bibirnya telah ssemakin menurun.
Bahkan keduanya tak sadar kapan kancing kedua blouse yang dikenakan Nawang sudah terbuka, memudahkan aksesnya menjelajahi bagian atas dada Nawang. Meninggalkan banyak noda merah di sana karena hisapan nakalnya.
"Waaaang.....! Waaaang....! Kamu kok udah pulang." teriakan bude Darmi di depan melenyapkan suasana penuh candu yang tengah mereka nikmati.
Dengan tergesa Richard mencoba mengancingkan lagi blouse Nawang, mengusap wajahnya sendiri dengan tergesa untuk mengembalikan kesadarannya secepat mungkin, sebelum dia beranjak ke pintu kamar yang tadi tak ditutup pintunya.
Huffff, untung bude Darmi teriak dari depan rumah.Kalau dia langsung main slonong boy, bisa malu banget mereka berdua ketangkep basah berkelakuan minus tadi.
"Nawang tadi pingsan." kata Richard tanpa ditanya saat dilihatnya kekagetan di wajah bude Darmi karena mendapatinya keluar dari kamar Nawang.
"Lhoh?! Kamu sakit? Kok bisa sampai pingsan?" tanya bude Darmi langsung menghambur ke arah Nawang seolah tak memperdulikan keberadaan Richard.
Padahal dari awal dia menangkap Richard keluar dari kamar Nawang, dia sudah deg- degan.
Jangan- jangan mereka berdua aneh- aneh.
Dan barusan ditangkapnya wajah gugup dan malu yang berusaha ditutupi oleh Nawang dengan tersenyum kikuk padanya.
Dan apa itu?
Kancing kedua Nawang tak sempurna dikancingkan. Hanya separo yang masuk.
Dan saat tangannya menyentuh dahi Nawang, sudut matanya melihat berkas merah di beberapa tempat di area tulang selangka perempuan yang disayanginya seperti adiknya sendiri itu.
Wah....wah....wah.....Bahaya nih.
"Itu kaki kamu kenapa ditambal gitu?" tanya bude Darmi sambil menuding kakinya.
"Sobek." jawab Nawang singkat.
"Ya udah, kamu istirahat aja dulu." kata bude Darmi.
"Bintang kemana, Bude?" tanya Richard karena tak melihat Bintang bersama budenya itu.
"Oh, itu.....barusan berangkat ke masjid mau
ikut lomba wudhu di kalurahan sama ustad TPA." jawab bude Darmi.
"Aku kemarin janji nanti mau jemput dia di kalurahan." kata Nawang.
"Jam berapa jemputnya?" tanya Richard.
"Sekitar setengah lima." jawab Nawang.
"Biar nanti aku yang jemput." kata Richard.
"Memangnya kamu tahu kelurahan dimana?" tanya Nawang meledek.
__ADS_1
"Enggak. Tapi maps pasti tahu dimana kelurahannya." jawab Richard sambil terkekeh.
"Nanti kita jemput bareng. Biar kamu nggak disasarin maps." kata Nawang sambil mengerling.
"Aku buatin minum dulu ya." pamit bude Darmi karena merasa jadi makhluk tak kasat mata dikamar itu.
"Makasih, bude. Tahu aja kalau aku haus." kata Nawang sambil tertawa.
"Kamu haus?" tanya Richard dengan tatapan tak percaya yang dibuat- buat.
"Iya!" jawab Nawang serius.
"Aku juga sih. Kepanasan ya kita tadi?" tanya Richard berbisik sambil mengerling jahil.
"Sinting!" omel Nawang sambil memukul lengan keras Richard
Richard tergelak walau hatinya berdebar kencang karena mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.
Membahagiakan dan melenakan.
Juga membahayakan.
Huffff.....
Dilihatnya tempat penjelajahannya tadi dengan seksama. Semoga saja tak meninggalkan bekas di depan mata.
Tapi dia kaget sendiri saat matanya menangkap beberapa bercah merah di leher bagian bawah Nawang.
"Aduh!" keluhnya spontan sambil menepuk dahinya malu.
"Kenapa?" tanya Nawang heran.
"Ada bekas disini....sini....sini...." kata Richard sambil menatap Nawang dan jarinya menunjuk lehernya sendiri diposisi yang sama dengan noda merah di leher Nawang.
"Aduh!" sontak Nawang merapatkan kancing teratas blouse nya saat menyadari apa yang dimaksud Richard.
Aduuuuuh, bude Darmi ngeliat nggak tadi ya?
"Maaf ya, Sayang." bisik Richard menyesal.
Nawang hanya diam saja.
Ya mau gimana lagi kan? Bukan salah Richard sepenuhnya.
Dia ada andil setengah dari kelakuan mereka tadi.
"Minum di depan aja, bude. Yang punya kamar katanya pengen mandi." kata Richard saat bude Darmi akan memasuki kamar Nawang.
"Kamu mau mandi pake air anget nggak? Aku masakin dulu, Wang?" tawar bude Darmi di depan pintu.
"Nggak usah. Aku tuh nggak papa, bude." kata Nawang sambil terkekeh geli.
"Ya udah." jawab bude Darmi kemudian ke teras untuk meletakkan minuman buatannya.
"Bisa jalan nggak ke kamar mandi?" tanya Richard basa- basi.
"Bisalah. Tumitnya diangkat dikit kan beres." jawab Nawang.
"Mandiri banget ibu ini ya...." kata Richard sambil menatap Nawang dengan sorot mata kekaguman.
"Lebay!" salak Nawang sambil mengangkat bantal untuk dia lempar ke Richard yang sayangnya lebih gesit untuk berlari ke teras.
"Kayak bocah." gumam Nawang sambil tersenyum.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1