
"Makasih ya." kata Richard lembut bahkan rasanya hampir menangis saat dia kembali mendekap Nawang sebelum keduanya sampai di pintu.
"Iya! Hari ini kamu udah kebanyakan makasihnya." jawab Nawang sambil terkekeh.
"Makasih buat....." kata Richard sambil menyentuh bibirnya dengan wajah sedikit merona.
Nawang tertunduk malu.
"Maaf, mengganggumu tadi. Harusnya aku nggak...."
Richard terkekeh senang walau juga Nawang bisa melihat wajah pria itu terlihat sedikit tersipu.
"My first kiss setelah aku jadi OD....."
"Setelah kamu jadi orang special." potong Nawang sambil tersenyum simpul.
Dia nggak mau Richard berulang- ulang menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ODHA.
Seperti orang yang nyaris mati saja.
Padahal nyatanya selama ini Richard selalu baik- baik saja dan bisa menghandle penyakitnya dengan sangat baik.
"Kita harus secepatnya menikah, Sayang." kata Richard serius.
"Kenapa?" tanya Nawang tak kalah serius.
"Bukannya kita udah terlalu tua ya kalau cuma buat PDKT an aja? Udah punya anak." kata Richard sambil tersenyum geli.
Nawang terkekeh pelan.
"Kalau cuma mau pacaran doang juga percuma , buang- buang waktu. Kita juga udah saling kenal, bahkan udah kelamaan kenalnya.Udah pernah pacaran juga." sambung Richard.
"Lagian aku nggak bisa menjamin kamu akan tetap aman bersamaku dan nggak akan kuterkam kalau pertemuan kita selanjutnya akan lebih sering seperti ini." Richard memasang senyum jailnya. "I'm still a normal guy, just so you know."
"Ih!" Nawang bergegas menjauhkan dirinya dari jangkauan Richard.
"Kenapa?" tanya Richard sambil tertawa heran.
"Menakutkan tahu! Udah, aku mau pulang dulu." pamit Nawang sambil bergegas membuka pintu.
"Tunggu dulu. Sini dulu." cegah Richard sambil setengah memaksa menarik Nawang untuk mendekat ke depan pintu.
"Apalagi?" tanya Nawang sudah mulai kesal.
Richard terlihat mengulik ponselnya sebentar kemudian menarik tangan Nawang ke arah handle pintu.
"Tempelin jempolmu di sini sambil diputar." perintah Richard sambil menunjuk bagian tengah depan handle.
Nawang menurut walau merasa dikerjai.
"Ini ngapain sih begini- begini?" tanya Nawang dengan nada kesal.
"Pintu ini pakai finger print lock door. Mulai sekarang kamu udah bisa masuk ke apartemen ini kapan saja kamu mau karena finger kamu udah terdaftar. Dan ini kunci manualnya, kamu pegang satu.Kunci itu masukinnya disini." terang Richard sambil mencontohkan memasukkan anak kunci di ujung handle pintu.
"Jadi kamu bisa memakai kunci manual, bisa juga pakai finger print. Up to you." kata Richard sambil tersenyum.
Nawang melongo.
Ternyata ada ya handle pintu pakai finger print?
Barang orang kaya emang kadang diluar nalar manusia sebangsa akar rumput gini.
"Nggak usah,Mas." tolak Nawang nggak mau menerima kunci yang diulurkan Richard.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Richard.
"Jangan terlalu percaya sama orang lainlah, Mas." kata Nawang bernada mengingatkan.
"Kamu kan bukan orang lain, Non. Lagian cuma kamu doang yang bisa masuk ke dalam selain aku." kata Richard setengah bersungut.
Kirain setelah yang barusan terjadi antara kita tadi, kamu sudah mau 'menyatu' denganku, ternyata masih aja menganggap aku ini orang lain. Hhhhh.....
"Ya udah kalau nggak mau. Seenggaknya kamu bisa masuk ke dalam dengan finger print." kata Richard dengan nada setengah kecewa.
"Iya. Makasih udah percaya sama aku. Aku pulang dulu ya." pamit Nawang lagi.
"Aku antar kamu pulang. Mana kunci motor kamu?" pinta Richard sambil menengadahkan tangannya.
"Buat apa?" tanya Nawang penasaran.
"Mau aku jual, biar aku bisa antar jemput kamu kerja tiap hari." jawab Richard sambil terkekeh.
"Nggak! Motornya siapa, mau main jual aja." tolak Nawang sengit.
"Motormu biar dianter anak sini. Kamu pulang kuantar." jelas Richard.
"Nggak usah,Mas. Aku pulang sendiri aja.Udah,kamu istirahat aja sana. Atau ngerjain kerjaan kamu atau ngapain kek gitu.
Kurang kerjaan banget sih pake nganter segala!" tolak Nawang.
"Kalau pantas, sumpah ya, aku kurung kamu di apart biar kamu nggak jauh- jauh dariku. Aku cuma pengen nganter kamu, biar kita bisa ngobrol ntar sambil jalan. Kita harus pandai- pandai memanfaatkan moment dong, Non....mumpung pas nggak ada anak- anak."
bujuk Richard belum menyerah juga.
"Dih, memanfaatkan moment apa nih maksudnya?" tanya Nawang dengan tersipu malu.
Richard tergelak melihat rona merah di wajah Nawang.
"Waaaah....si ibu galak ini udah berani mikir ngeres aja nih." ledek Richard yang mendapat balasan tabokan di lengannya.
Nawang berpikir sejenak.
"Ya udah." jawab Nawang kemudian menyerahkan kunci motornya pada Richard.
Ada benarnya juga kata Richard, mereka tadi kan belum tuntas ngobrol soal kondisi Richard.
"My obedient girl." kata Richard sambil tersenyum senang.
"I'm not a girl !" sungut Nawang.
"Baiklah...baiklah.You are my woman, not my girl." ralat Richard yang hanya dibalas manyunan Nawang yang bergegas meninggalkannya menuju lift.
Ngeladenin Richard ngomong bisa- bisa baru sampai rumah nanti malam.
*******
Richard agak mengernyit saat mobilnya masuk ke pekarangan rumah Nawang kemudian menangkap seorang pria sedang ngobrol dengan Bintang di teras rumah.
Pintu rumah juga terlihat terbuka lebar.
"Itu siapa sama Bintang?" tanya Richard sambil tangannya tetap lincah memarkirkan mobil diposisi yang dia mau.
"Ayahnya." jawab Nawang santai.
Richard hanya ber o pendek.
"Aku boleh turun nggak nih?" tanya Richard sebelum Nawang turun dari mobil.
__ADS_1
""Why not?" balas Nawang sambil tersenyum tipis.
"OK, baby." jawab Richard senang.
"I'm not a baby." sungut Nawang sebelum turun dari mobil.
Richard tertawa pelan.
"You are my queen."
Richard dengan cepat turun menyusul Nawang agar bisa bareng dengan Nawang menemui ayahnya Bintang.
Cepat atau lambat dia juga harus berkenalan dengan ayahnya Bintang bukan?
*****
Nawang bukannya nggak tahu wajah salah tingkah dan nggak nyaman dari Dani yang melihatnya turun dari mobil bersama Richard, tapi dia memilih bersikap sebiasa mungkin.
Toh mereka bertiga -Dani, Richard, dan dia-mungkin kelak juga akan sering bertemu untuk kepentingan yang berhubungan dengan Bintang.
Mungkin saat ini adalah awal untuk mereka bertiga untuk saling mendekat.
"Ibu kok pulangnya sama Pak Richard? Motornya Ibu kenapa? rusak lagi?" tanya Bintang menyambut kedatangan mereka berdua.
Nawang hanya mengangguk pada Dani, sedang Richard nampak mengulurkan tangannya pada Dani dengan ramah.
"Mas...." sapa Richard dengan suara ramah.
"Anda...." Dani nampak ingin mengatakan sesuatu tapi berusaha di tahan.
"Saya Richard. Calon suaminya Nawang." jawab Richard dengan ramah dan wajah tanpa dosa.
Membuat Nawang yang sudah melangkahkan kakinya untuk masuk bermaksud membuatkan minuman untuk kedua tamunya, sejenak tertegun walaupun akhirnya memilih untuk tetap meninggalkan kedua pria itu.
Lakukan yang kamu pikir baik, Mas. Aku percaya padamu.
"Ayah udah lama disini, Bin?" tanya Nawang pada anaknya yang ternyata mengikutinya ke dapur.
"Udah. Dari siang tadi. Aku tadi diajak jajan ayam goreng sama Ayah." kata Bintang dengan senangnya.
"Waaah, enak dong! Ibu di beliin nggak?" tanya Nawang antusias.
"Dibeliin satu, tapi ayamnya aja, nggak pake nasi. Itu di lemari." kata Bintang sambil menunjuk ke arah lemari tempat biasanya mereka menyimpan makanan mateng.
"Waaah, makasih, Sayang." kata Nawang kemudian memeluk Bintang sesaat.
"Tadi aku juga dibeliin kaos sama Ayah. Gambar Thomas." cerita Bintang lagi tapi dengan nada yang kurang bersemangat.
"Bagus dong." kata Nawang.
"Tapi aku kan nggak suka sama Thomas." kata Bintang dengan nada setengah kesal.
"Ya nggak papa. Mungkin Ayah lagi lupa kalau kamu nggak suka sama gambar Thomas." bujuk Nawang.
Bintang hanya mengangguk pasrah.
"Tapi kamu udah bilang terimakasih kan sama Ayah?" tanya Nawang.
"Udah. Tapi aku nggak mau pakai kaosnya." kata Bintang tetap dengan nada kesal.
Nawang hanya menatapnya sambil tersenyum.
Untuk masalah suka dan nggak suka pada pemberian seseorang, Bintang belum bisa bersikap kukuh pada pendiriannya.
__ADS_1
Nanti, beberapa hari lagi dia pasti mau juga memakai kaos Thomas itu. Nawang yakin itu.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️