
Sekitar dua jam perjalanan di tempuh sebelum akhirnya mobil memasuki gerbang tinggi dan melewati pekarangan ber conblock yang cukup luas dengan tanaman rapi dikiri kanannya, sebelum menghentikan mobil di depan garasi yang terdapat satu...dua...tiga....delapan mobil terparkir rapi di dalamnya.
Nawang menelan ludahnya kasar saat Richard sudah mematikan mesin mobil.
"Kita sudah sampaiiiii." seru Richard.
Darren bersorak riang.
Sedang Bintang tak jauh berbeda dengan ibunya, terlihat bingung dan tegang.
"Yuk turun yuk....."ajak Richard kemudian turun lalu membukakan pintu untuk Nawang dan anak- anak.
Bintang dan Darren sudah turun, tapi tidak dengan Nawang.
"Yuk turun dulu. Naik mobilnya nanti lagi. Aku pegel nih." bisik Richard sambil terkekeh namun matanya menatap lembut pada Nawang.
Richard tahu Nawang sedang nervous saat ini.
Sebenarnya dia juga agak deg- degan. Tapi dia nggak ingin siapapun tahu soal itu.
"Aku...."
"Nggak apa- apa. Percaya sama aku. Apapun nanti yang terjadi di dalam, kita akan tetap seperti ini." kata Richard sambil menggenggam tangannya lembut.
"Kita harus tetap melewati ini,bukan?" gumam Nawang akhirnya,setelah berkali- kali menarik nafas panjang.
"Yep!" jawab Richard sambil tersenyum meyakinkan.
Nawang kemudian beringsut turun.
Melangkah menuju pintu besar dan tinggi yang terkesan megah dengan tangan yang hangat dalam genggaman kokoh Richard.
Dibelakang mobil samar- samar di dengarnya obrolan seorang pria dan perempuan yang nampaknya sedang menurunkan semua bawaan dari bagasi mobil Richard.
Di depan agak jauh Darren sudah berlari kecil menarik tangan Bintang yang sesekali menoleh padanya dengan sorot mata bertanya.
Nawang hanya tersenyum dan mengangguk pada Bintang.
Pintu besar yang rasanya sangat jauh itu tiba- tiba terbuka dan muncullah dua sosok berkharisma disana.
Papa dan mamanya Richard, yang nampak sangat senang menyambut uluran tangan Darren dan Bintang yang bergiliran mengajak salim.
Nawang membeku sesaat kala dua pasang mata di depan sana kini menatap lurus ke arahnya dan Richard.
Terlambat sudah untuk melepaskan genggaman tangan Richard.
Bahkan kini dia merasa Richard malah semakin mengeratkan genggamannya.
"Everything will be OK, baby." gumam Richard yang masih sangat jelas terdengar di telinganya.
"Akhirnya sampai sini juga. Perjalanannya aman tadi?" kata sambutan hangat dari mama Richard yang kini sedang memeluknya entah mengapa seperti angin surga yang mampu meniup segala kecemasannya.
Setidaknya ada yang menerima kehadirannya disini dengan ramah.
Dengan tangan sedikit gemetar Nawang mencium punggung tangan papa Richard yang tanpa di duganya kini menepuk- nepuk bahunya lembut walau tanpa berucap satu patah katapun.
Tak mengapa.
Tepukan lembut di bahunya tadi sudah sangat cukup untuk menenangkan ketakutannya.
"Ayo masuk yuk. Pasti capek kan di jalan tadi." ajak mama mencairkan suasana melow yang baru saja tercipta.
"Papa mama sehat- sehat kan?" tanya Richard sambil menjatuhkan badannya di sofa panjang.
Dia merebahkan tubuhnya dan menggeliat beberapa kali untuk meregangkan otot punggung dan kakinya.
Sedang Nawang kemudian duduk di depan papa Richard, berjarak meja.
__ADS_1
"Sehat, Alhamdulillah." jawab papanya sambil tersenyum.
"Mas Bintang sama Darren udah makan belum tadi di jalan?" tanya Pak Pambudi sambil menoleh pada dua bocil yang sedang duduk di karpet sambil memakan snack yang ada di atas meja di depannya.
Sepertinya sengaja di sediakan untuk anak- anak.
"Belum." jawab Darren.
"Kalau gitu kita makan dulu yuk. Oma udah masak tadi." ajak Pak Pambudi sambil beranjak dari duduknya.
"Kami ganti baju dulu deh,Pa." kata Richard sambil bergegas bangun dari telentangnya.
"Ya. Siiih....Asiiih!" panggil Pak Pambudi memanggil seseorang yang tak lama kemudian muncul dari arah depan.
"Ya, Pak?" tanya perempuan yang berumur sekitar lima puluhan tahun namun terlihat masih segar dan energik.
"Tolong kasih tahu kamarnya mbak Nawang. Biar istirahat dulu." kata Pak Pambudi tenang, seolah- olah sudah mengenal Nawang dengan sangat akrab.
"Injih, Pak. Monggo mbak, saya derekke.( antarkan)" kata Bu Asih dengan sopan pada Nawang yang membalas mengangguk sopan padanya.
"Saya ke kamar dulu....Pak." pamit Nawang canggung kemudian memanggil Bintang dan Darren untuk mengganti baju mereka.
Pak Pambudi hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Udah kayak sama mamanya aja si Darren." gumam Pak Pambudi yang membuat Richard terkekeh.
"Mamanya sampai cemburu." kata Richard sambil tertawa pelan.
"Itu berarti dia perempuan baik." kata Pak Pambudi sambil menatap Richard hangat.
"Dia galak tau, Pa." sungut Richard membuat papanya tertawa.
"Bodo amat kalau galaknya sama kamu mah. Yang penting sayang sama cucuku." sergah Pak Pambudi membuat Richard tertawa tak percaya.
"Tega banget sama anaknya ih!" sungut Richard sambil berlalu ke kamarnya.
Pak Pambudi hanya tergelak. Masih sangat jelas di dengar oleh telinga Richard yang sedang membentangkan senyumnya dari Sabang sampai Merauke....lebaaaaarrrr.
Nawang memasuki kamar tamu yang menurutnya sangat luas dan tentu saja nyaman.
Bu Asih hanya mengantarkan mereka sampai depan pintu kamar saja.
"Semua koper ada di kamar sini,Mbak." kata Bu Asih sopan.
"O ya.Makasih ya Bu." kata Nawang sambil tersenyum.
Bu Asih hanya terkekeh sebentar sebelum pamit untuk ke belakang lagi.
"Kita nanti tidur disini, Bu?" tanya Bintang lirih. Padahal hanya ada Darren diantara mereka.
Anak itu sedang asik guling- gulingan setelah bajunya diganti oleh Nawang.
Nawang mengangguk.
"Semalam saja. Nggak papa ya?" kata Nawang sambil melepas baju Bintang,
Bintang mengangguk.
"Nggak papa. Ini rumahnya opa nya Darren?" tanya Bintang lagi.
"Iya. Yang tadi itu papa dan mamanya Pak Richard." terang Nawang. Bintang kembali mengangguk mengerti sambil memakai celana pendek baru yang di belikan Richard saat mereka jalan ke mall beberapa waktu lalu.
"Rumahnya bagus banget ya,Bu? Lebih bagus dari rumahnya Pak Richard. Kaya banget ya mereka?" tanya Bintang lagi.
Nawang hanya tersenyum, memilih meraih kaos dan memakaikannya pada Bintang.
"Kamu yang sopan ya nanti sama semuanya." pesan Nawang mewanti- wanti.
__ADS_1
Bintang kembali mengangguk.
"Bu, aku nanti bobok sama mas Bintang boleh ya?" pinta Darren sambil menepuk- nepuk lengannya meminta perhatian.
"Mau bobok sama mas Bintang? Nggak sama papa aja?" tanya Nawang seperti dejavu bagi Darren.
"Nggak.Aku bobok sama mas Bintang. Ibu sama papa boboknya." jawab Darren membuat Nawang mengerutkan keningnya.
Apa iya Richard ngajarin ngomong kayak ginian sama Darren?
"Nggak boleh! Ibu sama papamu kan bukan suami istri." sergah Bintang sedikit marah.
"Ya udah. Ibu sama papa jadi suami istri aja." kata Darren nggak kalah ngotot.
Bintang terdiam.
Nawang terpaku.
Tok....tok...tok....
Ketukan di pintu kamar membuat ketiganya menoleh.
"Udah selesai belum? Makan dulu yuk." suara mama Richard terdengar di depan pintu.
Darren bergegas berlari ke pintu lalu menangis sambil memeluk kaki Omanya.
Nawang yang menyusul keluar bengong menatap Darren yang menangis.
Apalagi tatapan penuh tanya dari mamanya Richard padanya, membuat dia semakin salah tingkah.
Duh, Ren...kamu kenapa tiba- tiba nangis gitu?
"Kamu kenapa kok nangis? Ada yang sakit?" tanya Oma lembut.
Darren menggeleng sambil menyusut airmatanya.
"Aku nanti mau bobok sama mas Bintang, huaaaaaaaa....."
"Kamu boleh bobok sama aku. Tapi Ibu nggak boleh bobok sama papamu. Udah dibilangin ibuku sama papamu bukan suami istri." gumam Bintang membuat Nawang tertunduk salah tingkah.
"Nanti kita bobok bertiga ya." kata Nawang membujuk.
"Memangnya ranjangnya muat buat bertiga? Ranjang mama sama Daddy lebih lebar dari itu aja katanya nggak muat kalau aku mau ikut bobok bareng." kata Darren membuat Omanya terkekeh pelan.
"Papa sama ibu jadi suami istri aja biar bisa bobok bareng. Biar ranjangnya buat aku sama mas Bintang aja. Biar muat.Ya, Oma?" tanya Darren sambil mendongak menatap memohon pada Omanya.
"Iya. Nanti kamu bilang sama papamu, biar ibu jadi istrinya papa. Biar boleh bobok barengan sama papa. Mas Bintang mau nggak kalau papanya Darren jadi papamu juga?" tanya Bu Pambudi membuat jantung Nawang yang sedari tadi rasanya bergelantungan pengen jatuh semakin keras bergerak bahkan tak beraturan.
Bintang menatap ibunya bingung lalu menunduk.
"Mau." jawab Bintang pelan.
Menerbitkan senyum lega di wajah Bu Pambudi dan wajah yang linglung bagi ibunya.
"Tapi Pak Richard harus janji...." kalimat Bintang terpotong karena Bintang nampak menahan kesedihan.
Nawang masih terpaku. Matanya sudah mengeluarkan air yang telah luruh di pipinya.
Bu Pambudi menunduk untuk memeluk bahu Bintang.
"Mas Bintang pengen Pak Richard janji apa?" tanyanya lembut.
"Janji nggak akan pernah bikin ibu nangis lagi. Nggak boleh kayak ayah yang suka bikin ibu nangis sendirian di dapur." kata Bintang lirih, namun sangat mampu membuat hati Nawang hancur berkeping- keping.
Ternyata luka batin itu masih tertinggal utuh di hati Bintang, buah hati tercintanya.
"Oma pastikan Pak Richard nggak akan pernah bikin ibu nangis lagi. Kamu bisa laporkan Pak Richard ke Oma kalau Pak Richard sampai bikin ibu nangis." kata Bu Pambudi dengan lembut kemudian memeluk Bintang dengan erat.
__ADS_1
Anak sekecil ini harus punya luka batin tentang kesedihan ibunya.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️