PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
133


__ADS_3

Tiga hari perjuangan yang terlalui dengan sangat manis.


Richard nampak enggan saat harus meninggalkan kamar hotel karena jam check out mereka tinggal setengah jam lagi.


Sebenarnya Nawang sudah siap check out sejak dua jam lalu.


Tapi kelakuan tengil Richard membuatnya kembali menyerah dengan senang hati.


"Sayang Non, masih ada dua jam lagi. Ini hari terakhir kita bebas tanpa pengaman. Harus kita manfaatkan sebaik mungkin." kata Richard tadi sambil menariknya kembali ke pusaran hasrat yang tetap meletup- letup dan membakar mereka kembali.


Walau acara ber cin ta mereka berkejaran dengan waktu, nyatanya Richard tetap mampu membawa keduanya mencapai puncak dengan sempurna.


Tanpa bisa berleha- leha lagi keduanya bergegas membersihkan diri.


Nawang cemberut tiap kali Richard menggodanya dengan menowel pipi atau pinggangnya.


"Masih pengen disini?" tanya Richard menebak.


"Enggak. Kan udah mau check out." kata Nawang sambil sibuk memeriksa seisi kamar agar tak ada barang pribadi mereka yang tercecer.


Kan nggak lucu kalau mereka nanti meninggalkan kamar ini dan pegawai hotel bersih- bersih lalu menemukan pakaian dalam mereka nyempil di tempat yang tidak terduga.


Kelakuan Richard selama tiga hari ini benar- benar kayak tarzan saja, nggak pernah lama memakai baju lengkap.


Setiap selesai makan dan sholat, dipastikan dalam hitungan menit dia, tepatnya mereka berdua tak akan lagi berpakaian lengkap. Dan sayangnya acara melucuti baju bisa di mana saja.


Mereka akan berpakaian sempurna hanya dari waktu ashar sampai mereka melaksanakan sholat isya yang pasti selalu mereka lakukan di awal waktu agar bisa segera melaksanakan perjuangan mereka kembali.


"Kita tinggal perpanjang aja kalau kamu masih mau tinggal barang semalam lagi." kata Richard.


"Tidak Mas Richaaaaard.....Kita pulang saja. Aku mau istirahat di rumah. Kalau disini nggak bisa istirahat." kata Nawang masih cemberut dan meninggalkannya.


Richard tertawa.


"Ya udah kita pulang aja." kata Richard berat kemudian meraih tuas koper dan melangkah mengikuti Nawang yang sudah menunggu di dekat pintu keluar.


"Besok kalau positif, kita kesini lagi ya?" pinta Richard sambil meraih pinggang Nawang.


"Mau ngapain lagi? Pemborosan tahu." sergah Nawang.


"Ya anggap saja syukuran. Kita berterimakasih sama tempat ini." kata Richard.


"Kalau mau berterimakasih mending kamu traktir semua karyawan sini makan kek, atau kamu kasih hadiah apa gitu yang bermanfaat." usul Nawang.


"Oke! Siap laksanakan, Bu Boss!" seru Richard senang.


Boleh juga usulnya Bu Boss.


"Tapi tunggu sampai jelas hasilnya. Sekalian syukuran." kata Nawang yang kini sudah mengaitkan tangannya di lengan Richard.


"No problem." sahut Richard sambil tersenyum sebelum mereka memasuki lift.


************


Richard tersenyum sambil melirik Nawang saat di dengarnya rengekan Darren yang minta dijemput dan ingin tidur di rumahnya.


"Besok kan kamu nggak libur sekolah. Memang nya boleh sama Mama?" tanya Richard.


Richard kembali tersenyum saat mendengar penjelasan Darren yang bilang kalau sekolahnya libur tiga hari karena sekolahnya sedang ulang tahun.


"Ya udah, nanti Papa jemput sama Ibu dan Mas Bintang. Kita berempat akan liburan di tempat yang bagus." kata Richard sebelum menutup sambungan telpon lalu mengembalikan ponsel milik Nawang itu.


"Kita jadi ngajak anak- anak ke glamping itu, Mas?" tanya Nawang.


"Iya. Tapi kita berangkatnya besok setelah Bintang pulang sekolah aja ya? Aku paginya juga ada dua meeting sama klien." kata Richard.


Nawang mengangguk.

__ADS_1


"Kita nginep semalam aja nggak papa kan ya?" tanya Richard minta pertimbangan.


"Nggak papa. Anak- anak kan yang penting suasana siangnya. Kita bisa jalan sama mereka kan Sabtu siang sampai sore dan Minggu kita bisa jalan lagi setelah kita check out." kata Nawang.


Keduanya memang bersepakat kalau harus ada waktu mengajak kedua bocil mereka liburan.


Sekedar untuk mengantisipasi siapa tahu promil mereka sukses yang otomatis Nawang akan hamil dan mereka belum tahu apakah masa kehamilan nanti Nawang akan asik- asik aja diajak jalan atau malah akan malas buat keluar rumah.


Untuk mengantisipasi kemungkinan yang kedua itu makanya mereka bersegera harus mengajak dua calon kakak itu liburan.


"Nunggu dua hari lagi rasanya lama banget." keluh Richard sambil beranjak berbaring di pangkuan Nawang yang sedang asik menonton tv di ruang tengah rumah Bintang.


Mereka sedang menunggu jam pulang Bintang TPA.


"Nunggu apa?" tanya Nawang belum mengerti arah pembicaraan Richard.


"Nunggu biar bisa lihat hasil perjuangan kita tempo hari. Kamu mintanya tiga minggu baru mau pakai testpack. Masih dua hari lagi kan tiga minggunya?" tanya Richard sambil menyembunyikan wajahnya di perut Nawang.


"Nggak usah ditunggu. Nggak akan pergi juga kalau udah rejekinya." kata Nawang santai sambil membelai- belai rambut Richard yang kemarin baru di pangkas.


"Kalau kali ini belum berhasil, kita usaha lagi! Enak ini...." kata Richard sambil tertawa mesum.


"Mulai kumat....." dengus Nawang sambil sedikit menjambak rambut depan Richard.


"Apanya yang kumat? Orang beneran enak kan?" tanya Richard tetap ngeyel dengan senyum mesumnya.


"Iya enak! Enak banget malah." kata Nawang membuat Richard tertawa keras.


"Kamu tuh yang kumat. Mana ngakunya vulgar banget gitu. Hadyeeeeh." ledek Richard sambil menepuk keningnya sendiri, membuat Nawang terkikik malu.


"Kamu harus belajar nahan dari sekarang, Mas...."


"Nahan apa?" tanya Richard tak mengerti.


"Nahan pengen makan aku terus. Seminggu berapa kali coba kamu?" tanya Nawang agak sewot.


"Seminggu cuma dua kali lebih dikit." jawab Richard dengan nada lugu.


"Lebih dikitnya berapa?" tanya Nawang gemas.


"Dua atau tiga." jawab Richard sambil tertawa malu.


"Besok kalau aku positif, bisa- bisa kamu puasa sembilan bulan." ledek Nawang.


"Haaaaah?!!! Beneran?!" tanya Richard dengan wajah panik.


Ya kali puasa sembilan bulan. Puasa seminggu kalau nunggu Nawang pas datang bulan aja, ada aja ulah dan triknya biar tersalurkan hasratnya yang terpendam dan sangat sulit disuruh sabar.


"Masak sembilan bulan aku cuma pinjem tangan kamu terus, Non? Emangnya nggak boleh begituan kalau lagi hamil?" tanya Richard sedih.


Nawang terbahak-bahak dalam hati melihat wajah frustasi suaminya.


"Kamu kan pernah punya anak. Pengalaman kamu pas Anin hamil Darren gimana?" tanya Nawang pura- pura lupa.


"Aku kan emang nggak pernah begituan sama dia. Begituan sekali aja pakai mabuk." sungut Richard.


"Nggak pernah tergoda gitu pengen ngapa-ngapain Anin waktu itu?" tanya Nawang dengan penasaran.


"Nggak! Aku juga heran, padahal tiap malem kami tidur seranjang lho. Rasanya kayak tidur sama adik aja gitu. Dia juga nggak pernah yang genit coba- coba merayu gitu." kata Richard dengan nada keheranan.


Nawang tersenyum saja mendengarnya.


"Tapi kalau sama kamu apa aku mampu nahan puasa, Sayang? Beneran aku harus puasa?" tanya Richard dengan tatapan sedih.


"Semoga enggak. Tapi di trimester awal kita wajib sangat hati- hati melakukannya." kata Nawang yang disambut anggukan mengerti dari Richard.


"Kita akan bermain dengan very smooth. I promise you." janji Richard sungguh- sungguh.

__ADS_1


"Assalamualaikum....!" teriakan Bintang dari teras sontak membuat Richard bangkit dari pangkuan Nawang.


"Wa'alaikumussalam..." jawab keduanya dan langsung menerima salim dari Bintang yang nampak ceria.


""Kayaknya seneng banget nih yang baru pulang ngaji." kata Richard pada Bintang yang sudah ada di pangkuannya.


"Aku tadi dapat bintang paling banyak pas hapalan surat pendek, Pa. Seneng deh!" kata Bintang dengan riangnya.


"Alhamdulillah.....Anak sholeh memang pinter hapalannya. Diberi hadiah nggak sama ustadz?" tanya Richard.


"Dikasih susu kotak sama permen. Yang nggak hapal dikasih permen aja, hihihi..." kata Bintang sambil terkikik geli mengingat teman- temannya yang nggak hafal surat pendek tadi protes karena hanya diberi permen saja.


"Papa juga punya hadiah buat kamu." kata Richard dengan wajah di misterius- misteriuskan.


"Apa? Ayam goreng?" tebak Bintang senang.


"Bukan." sahut Richard.


"Trus apa?" tanya Bintang tak sabar.


"Besok kita liburan mau nggak?" tawar Richard.


"Besok kan aku masih sekolah." kata Bintang bimbang.


"Sepulang kamu sekolah kita langsung berangkat. Gimana?" tanya Richard lagi.


"Iya! Mau!" jawab Bintang cepat.


"Sekarang kita jemput Darren dulu yuk, trus pulang." kata Richard kemudian.


"Kirain mau tidur sini." kata Bintang agak kecewa.


"Atau kita tidur sini aja ya?" tanya Richard kemudian.


"Iya, Pa, tidur sini aja. Trus nanti kita ke pasar malam lagi, mumpung ada Darren." kata Bintang setengah merayu.


"Pasar malemnya ya udah bubar dong, Bin." kata Nawang yang muncul dari dapur dengan membawa secangkir teh jahe untuk Richard.


"Emang iya, Pa?" tanya Bintang pada Richard.


"Papa nggak tau. Nanti kita lewatin aja pas jemput Darren. Kalau masih ada, nanti kita mampir sebentar boleh ya, Bu?" tanya Richard meminta ijin pada Nawang.


"Boleh. Tapi sebelum jam delapan sudah harus sampai rumah." jawab Nawang.


"OK, Bu Boss." jawab Richard sambil memberi hormat pada Nawang.


"OK, Bu Boss." tiru Bintang sambil terkikik ikut- ikutan memberi hormat pada ibunya.


"Ya udah sana buruan berangkat jemput, Darren." usir Nawang.


"Ibu nggak ikut?" tanya Bintang disusul tatapan bertanya yang sama dari Richard.


"Nggak usah deh. Ibu mau istirahat aja." kata Nawang sambil. tersenyum minta pengertian pada Richard.


"Ya udah, kita pergi berdua aja. Nanti kalau pasar malemnya masih, Ibu pasti nyesel deh nggak ikut kita." kata Richard yang disambut anggukan dan tatapan kasihan Bintang pada ibunya.


"Kalau pasar malamnya masih, Ibu nanti dibeliin martabak manis ya, dua sama buat Bude." pinta Nawang sambil menatap Richard.


"Siap!" jawab Richard sambil tersenyum.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Maaf ya kemarin nggak bisa up 🙏😅 Lelah hayati adek.....😌


Diganti hari ini deh walau pun telat juga up nya 🙈


Ini enaknya the end sampai Nawang ketahuan hamil atau sampai baby nongol nih? nanya seriusan ini 😁

__ADS_1


Happy reading yaaaa.....💖


__ADS_2