
Richard menggeleng pasrah melihat kelakuan dua anak lelakinya berebut tempat duduk di kedua sisi perut Nawang.
"Adikku nendang!" seru Darren sangat senang saat tangannya yang berada di atas perut Nawang mendapatkan tendangan cukup keras dari dalam.
"Adikku juga!" seru Bintang tak mau kalah senangnya saat dia menempelkan pipinya diperut Nawang dan langsung mendapat tendangan lembut di sisi lain perut ibunya.
"Jangan ditekan- tekan ya perutnya Ibu, nanti adiknya sakit. Dielus aja biar adik tahu kalau Mas Bintang dan kakak Darren sayang." kata Richard yang kini duduk di sofa di depan mereka karena posisi awalnya yang tadi disebelah Nawang sekarang dikuasai anak- anaknya.
"Iya." sahut kedua bocah itu kemudian duduk manis namun tetap menempelkan masing- masing satu telapak tangannya di 'daerah kekuasaan' masing- masing di area perut Ibunya.
Sebuah kebahagiaan yang tak dapat ternilai dengan apapun melihat pemandangan yang tengah tersaji di depannya ini.
Nawang yang terlihat semakin shining and dazzling dengan perut yang sudah besar di usia kandungannya yang ke tujuh bulan karena ada dua bayi di dalamnya.
Ya, ada dua calon bayi di dalam perut Nawang dan itu membuat dua kakaknya senang bukan kepalang karena merasa masing- masing memiliki satu adik bayi tanpa harus berebut atau gantian 'memilikinya'.
Seperti saat ini, kedua kakak itu sudah otomatis menempati posisinya masing- masing untuk menyapa adik 'milik' mereka. Bintang di perut sebelah kanan, dan Darren di sebelah kiri.
"Kita lihat adik lagi kapan,Bu?" tanya Darren sambil menatap Nawang.
"Besok sore ya, Pa?" tanya Nawang pada Richard yang kemudian mengangguk.
Ya, beberapa bulan ini Nawang sudah mulai memanggil Richard dengan sebutan PAPA bila ada anak- anak karena Darren dan Bintang berulang kali protes karena suka salah tangkap saat Nawang memanggil MAS pada Richard.
Bintang dan Darren suka merasa MAS adalah panggilan untuk Bintang, bukan untuk papanya.
Jadi beginilah sekarang. Panggilan MAS pada Richard hanya akan ada bila anak- anak tak ada di sekitar mereka.
"Mengalah lagi sama anak. Mas nya sudah di sandang sama Bintang." kekeh Richard waktu itu dengan pasrah.
Nawang tertawa dibuatnya.
"Pada akhirnya semua yang ada di kita akan turun ke anak ya?." gumam Nawang sambil mengelus- elus lengan Richard seolah memberi semangat.
"Iya. Aku juga nunggu kamu menurunkan kemanisan dan kegalakanmu pada adik ini." kata Richard sambil mengelus lembut perut Nawang.
Beberapa kali USG untuk mengetahui jenis ke la min kedua calon anaknya belum berhasil.
Keduanya selalu kompak menyembunyikan gender mereka.
"Mau ngasih surprise sama mama papanya kali nih." kata dokter Melia yang kembali menggeleng- gelengkan kepalanya keheranan karena kembali tak bisa mengintip gender si kembar.
"Aku mau ikut lihat adik lagi boleh,Pa?" tanya Darren pada papanya.
"Boleh. Kata Daddy kamu pulangnya ke mama lusa." kata Richard sambil tersenyum.
"Yeye....yeye......!" sahut Darren kegirangan karena punya waktu lebih lama dengan adik bayinya.
"Si mama ada acara apa, Pa?" tanya Nawang penasaran.
"Ke Jakarta katanya. Ada temen bisnisnya Bram nikahan." jawab Richard.
Nawang mengangguk mengerti.
Memang biasanya seperti ini.
__ADS_1
Darren akan berada di rumah papanya kalau akan ditinggal pergi ke luar kota oleh kedua orang tuanya kalau anak itu sedang tidak libur sekolah.
Dan Nawang akan dengan senang hati ditemani oleh anak ganteng titisan papanya itu.
"Katanya Anin tadi WA kamu juga." kata Richard membuat Nawang teringat kalau hampir seharian ini dia nggak menyentuh ponselnya.
"Dari pagi aku nggak mainan ponsel." kata Nawang sambil meringis malu.
"Adikku beneran cowok kan,Bu?" tanya Darren kembali menatap penuh harap pada Nawang.
"Adikku cewek kan,Bu?" tanya Bintang ikut- ikutan.
"Kita belum tahu adik kalian cewek apa cowok. Belum bisa ketahuan. Jadi kalian harus terus berdoa biar adik kalian seperti yang kalian mau." kata Nawang sambil tersenyum.
Jauh di dalam hatinya sendiri Nawang menginginkan kembarnya ini adalah kembar identik dampit ( kembar cowok cewek) agar komplit.
Tapi apapun nanti yang ada, jauh diatas keinginan itu adalah doanya agar kedua anak dalam kandungannya akan selalu sehat dan bahagia.
"Dah yuk, siap- siap tidur yuk....." kata Richard sambil beranjak berdiri.
"Sayang dulu sama adik." kata Darren kemudian mencium perut Nawang yang diikuti Bintang yang bukan hanya mencium perut ibunya tapi juga memeluk lembut perut ibunya yang mendapat protes dari Darren karena melewati ' 'batas kekuasaan'.
"Mereka berdua kan tetap adikku. Harus di sayang semua. Ya, Pa?" tanya Bintang mencari dukungan Papanya.
"Iya. Darren juga harus gitu. Harus sayang sama dua adik kecilnya." kata Richard sambil meraih kepala anaknya itu dan mengelusnya lembut.
"Aku sayang dulu sama yang satunya." kata Darren kemudian bergegas mencium satu sisi perut Nawang yang lain.
"Makasih kakak ganteng." kata Nawang sambil tersenyum senang.
"Papa dan Darren memang ganteng. Tapi Mas Bintang sangat tampan." kata Richard sambil tertawa.
"Tampan itu apa?" tanya Darren sambil mengikuti langkah papa dan kakaknya menuju kamar mereka.
"Tampan itu ganteng juga artinya, sama." jawab Richard sambil tertawa senang.
"Jadi kita cowok- cowok ganteng." sahut Darren senang.
"Tentu saja.!" sahut Richard dengan bangganya.
Ah, sudah terbayang bagaimana dua anak lelaki ini kelak beranjak besar dan suatu hari akan membawa pulang seorang gadis dan mengenalkannya sebagai kekasih mereka atau bahkan sebagai calon istri mereka.
"Papa kenapa senyum- senyum gitu?" tanya Bintang curiga.
"Papa lagi senang." jawab Richard sambil mengambilkan baju tidur untuk kedua anaknya setelah keduanya tadi gosok gigi dan mengambil wudhu sebelum tidur.
"Senang kenapa?" tanya Bintang masih penasaran.
"Senang karena kalian jadi anak baik, sayang sama adik kembar, sayang sama Ibu, sayang sama Papa. Terimakasih ya...." ucap Richard terharu.
Kedua bocah lelaki itu hanya mengangguk senang.
Bagi jiwa- jiwa mungil mereka senang rasanya mendengar ucapan terimakasih dari seorang dewasa seperti ini. Merasa sangat dihargai dan berarti.
Sedari tadi sesungguhnya hati Richard sudah melow melihat hangatnya keluarganya.
__ADS_1
Dia hanya ingin selalu bersujud penuh syukur kepada Rabb nya.
Melihat Nawang yang seperti Ibu ratu yang harus di sayang dan dilindungi.
Melihat dua jagoan yang menyenangkan.
Dan sebentar lagi, dua bulan lagi, akan ada dua malaikat kecil yang akan menambah semarak rumah mereka nantinya.
"Mau di dongengin apa?" tanya Richard sambil mulai membuka ponselnya untuk mencari cerita pesanan anak- anak.
"Cerita nabi- nabi aja." jawab Darren.
"Nabi siapa?" tanya Bintang.
"Nabi yang punya tongkat yang bisa berubah jadi ular." jawab Darren.
"Nabi siapa itu?" tanya Richard pura- pura bingung.
"Nabi Musa bukan ya?" gumam Bintang ragu.
"Oke.....mari kita dengarkan dongeng nabi Musa." kata Richard kemudian mengeraskan speaker ponselnya agar kedua bocah itu mendengar.
" Nabi yang pakai tongkat, Pa." pinta Darren.
"Ya itu namanya nabi Musa. Yang punya tongkat jadi ular, bisa belah laut juga." jawab Bintang.
"Emang iya, Pa?" tanya Darren takjub.
"Iya. Makanya mari kita dengerin ceritanya biar lebih jelas." kata Richard dengan agak nggak sabar.
"Kalo sama Papa cuma disuruh dengerin HP. Kalau sama Ibu di bacain ya, Mas?" kata Darren setengah protes. Bintang mengangguk setuju.
Richard tertawa malu dalam hati.
Tahu aja nih bocah kalau diakalin.
"Ya kan biar ada bedanya. Biar tahu yang nemenin bobok kalian Papa atau Ibu." kata Richard dengan jurus ngelesnya.
Kedua bocah itu hanya mengangguk saja.
Mereka tahu semakin 'protes' sama papanya, akan semakin nggak ngerti dengan jawaban ajaib yang akan dilontarkan oleh papanya.
Kedua bocah itu akhirnya terlelap setelah mendengar tiga kali putaran cerita nabi Musa.
Richard menutup pintu kamar anak- anak dengan lega dan dengan gagahnya bergegas menuju ke kamarnya dimana ratunya telah terlelap dengan posisi yang bikin iba.
Tidur miring dengan perut besar yang dialasi bantal. Punggungnya di tempel ketat oleh guling yang nanti akan diganti kedudukannya oleh Richard.
Dibawah kaki yang setengah meringkuk itu juga terdapat satu bantal.
Richard menatap tubuh membengkak namun terlihat menggemaskan itu dengan sayang.
Tiga nyawa belahan jiwanya.
🗝️🗝️🗝️ b e r. s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1