
"Ngelamunin apa?" tanya Nawang sambil beranjak duduk di kursinya semula, di depan Richard dengan mangkok berisi bawang merah dan bawang putih yang akan di kupas.
"Kamu mau ngapain tengah malam gini?" tanya Richard malah balik bertanya saat tahu Nawang mulai mengupas bawang merah.
"Mau bikin bumbu buat bikin bacem ayam. Biar besok tinggal bakar aja." kata Nawang sambil tersenyum.
"Ih Papa bisa aja ngerjain orang. Pakai minta ayam bakar segala." omel Richard.
Nawang hanya tersenyum menatap wajah kesalnya.
"Udah, besok order aja. Kamu istirahat sana." kata Richard masih dengan nada kesal.
"Nggak usah sewot gitu kenapa sih? Lagian aku udah biasa prepare masak tiap malam, biar besok paginya nggak perlu koprol- koprol karena ngejar jam pergi kerja. I multitask you know." kata Nawang sambil terkekeh.
"Nggak akan aku ijinin kamu kayak gitu lagi sebentar lagi. Tunggu aja." kata Richard dengan tatapan kesal.
"Kenapa?" tanya Nawang sambil tetap lincah mengupas bawang- bawangan di depannya.
"Karena bagiku kamu itu ratu, bukan pembantu." kata Richard dengan tatapan tajam padanya.
Tatapan tajam yang melelehkan hati Nawang.
Nawang menunduk. Ingat dengan hari- hari sedihnya saat hidup bersama Dani dulu.
Hari yang penuh dengan rasa lelah lahir batin.
Merana dalam kesedihan dan kekesalan pada perlakuan Dani padanya.
"Kamu berharga, Sayang. Tolong hargai dirimu sendiri juga." kata Richard lembut.
"Iya. Makasih ya." kata Nawang setelah mampu menahan rasa harunya.
Ya Tuhan, ijinkan aku menjadi ratunya.
Ratu dalam hatinya.
Ratu dalam hidupnya.
"Tapi sekarang biarkan aku selesaikan ini ya. Ini nggak akan lama. Tinggal masukin ini ke blender, masukin ke panci sama ayam, direbus bentar. Kamu boleh tidur dulu kalau udah lelah." kata Nawang sambil tersenyum.
Richard baru akan bicara saat alarm arlojinya berbunyi.
Jam sebelas malam.
Nawang yang belum tahu jadwal minum obat bagi Richard agak heran dengan bunyi alarm itu.
"Jam kamu pasang alarm semalam ini mau ngapain?" tanya Nawang serius.
"Jam sebelas. Jadwal take off." kata Richard sambil tersenyum getir.
"Jadwal apa?" tanya Nawang nggak mengerti dengan ucapan Richard.
Take off apaan?
"Jadwal minum obat, lalu mati sebentar." kata Richard.
Nawang mengangguk mengerti lalu beranjak berdiri.
__ADS_1
"Ya udah buruan minum. Kok malah masih disini sih? Kamu nggak lupa bawa obatnya kan?" tanya Nawang panik.
"Nanti aja. Aku masih mau nungguin kamu masak." jawab Richard ikut beranjak dari duduknya dan mendekati Nawang yang sudah membelakanginya.
"Kok gitu? Bukannya harus on time ya minumnya? Aku nggak papa sendirian." kata Nawang yang tahu- tahu sudah memegang blender dengan bumbu yang sudah halus di dalamnya.
Kapan dia ngidupin blendernya? batin Richard heran.
Dilihatnya Nawang sudah berdiri di depan kompor yang menyala dengan panci di depannya, memasukkan bumbu dari blender, ayam, memasukkan garam, gula merah, daun entah apa namanya, lalu entah apa lagi, lalu menutup panci itu.
Nawang kemudian bergegas mencuci tangannya, mengeringkannya dengan kain lap yang ada di atas tempat cuci piring.
"Udah ayo ke kamar. Minum obatmu." ajak Nawang sambil menarik paksa tangan Richard agar cepat meninggalkan dapur.
"Itu masakannya gimana?" tanya Richard bingung.
"Nggak papa ditinggal sebentar. Aku temenin kamu minum obat aja. Habis itu kamu tidur kan? Nanti aku balik ke sini lagi pas ayamnya mateng." kata Nawang yang sudah sengaja mengecilkan api kompor.
Biarlah agak lama sedikit pikirnya. Yang penting Richard cepat meminum obatnya.
Richard menurut lalu melangkah menuju kamarnya.
Dibelakangnya Nawang berjalan membawa segelas air putih untuk Richard meminum obat.
Richard tertawa dalam hati saat menyadari saat ini hatinya deg- degan saat akan meminum obat seumur hidupnya itu.
Ini kali pertama ada orang lain yang melihatnya meminum ARV / Antiretroviral ( sebutan untuk jenis obat- obatan HIV).
Nawang dengan seksama melihat Richard meminum masing- masing satu dengan tiga macam obat.
"Tiga obat itu akan jadi teman hidupmu selamanya, Mas?" tanya Nawang sambil mengulurkan gelas kemudian duduk di samping Richard.
"Kapan- kapan aku ikut kamu check boleh nggak?" tanya Nawang antusias.
"Buat apa?" tanya Richard keheranan.
"Ya buat tahu aja. Aku kan bakal jadi teman hidupmu juga, selain obat itu." kata Nawang sambil tertawa.
Richard ikut tertawa.
"Mau jadi teman hidupku nih ceritanya?" ledek Richard.
"Ya gitu deeeh." kata Nawang sambil membuang muka, menutupi rasa malunya.
"Udah buruan minum." kata Nawang sambil beranjak berdiri.
Richard bergegas meminum obatnya lalu beranjak berbaring karena nggak sampai lima menit lagi dia pasti akan mati sejenak.
"Temani aku sampai tidur mau?" tanya Richard sambil menatap Nawang memohon.
"Iya. Aku disini." kata Nawang sambil duduk di sisi Richard.
Richard meraih jemari Nawang, menggenggam erat kemudian membawanya ke atas dadanya sambil tersenyum.
Merasakan kantuk yang mulai datang sambil menatap seraut wajah ayu yang menatapnya penuh cinta, bukan tatapan iba yang memang tak diinginkannya.
Membawa rasa damai dan tenang dihatinya sebelum dia takluk pada rasa kantuk yang begitu cepat menerjang kesadarannya.
__ADS_1
Nawang merasakan genggaman tangan Richard semakin mengendor sebelum akhirnya terlepas.
Richard telah lelap tertidur.
Ada airmata pilu yang tak mampu dia bendung demi melihat wajah tampan yang kini telah terlelap dengan wajah tenang itu.
Kelak aku akan selalu menemanimu menikmati semua ini, Sayang.
Nawang menaikkan selimut hingga menutupi dada Richard kemudian mencium kening kekasihnya itu sebelum dia kembali ke dapur untuk memeriksa ayam bacemnya yang ternyata sudah matang.
Setelah mematikan kompor Nawang segera kembali ke kamar tamu untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Beruntung tadi dia menemukan bantal dan selimut di lemari yang ada di kamar itu.
Ditatapnya Darren dan Bintang yang terlelap dengan saling memunggungi.
Anak- anaknya Ibu yang menyenangkan.....
*******
Richard memicingkan matanya untuk melihat arlojinya. Hampir jam setengah satu malam.
Dia terlonjak bangun begitu teringat Nawang.
Tidur dimana dia kalau ranjang dipakai Bintang dan Darren?
Richard bergegas menuju kamar tamu, mengetuk pintunya beberapa kali namun tak ada sahutan dari dalam.
Bisa dipastikan penghuni kamar terlalu lelap terbuai mimpi.
Dengan hati- hati dibukanya pintu dan langsung tersenyum saat melihat Darren dan Bintang tidur dalam posisi yang rapi.
Matanya kemudian beralih ke sofa panjang yang ada di sudut kamar dimana Nawang telah tertidur dengan posisi meringkuk.
Richard mendekat lalu mengelus pelan bahu Nawang agar perempuan itu terbangun, tapi tak berhasil.
Lalu ditepuknya agak kencang, tak berhasil juga.
Ya ampun susah banget dibanguninnya. Besok kalau aku pengen pas tengah malem gimana coba? pikiran jahil Richard malah nongol.
"Non....Non...." panggil Richard kini dengan mengelus pelan pipi Nawang, tapi tak juga bereaksi.
Ya ampun.... kebo banget siiiih.....! Besok kalau minta jatah berarti sebelum dia tidur aja, mwehehehe.....
Tak sabar lagi, Richard akhirnya memilih nekad menggendong tubuh ramping itu menuju kamarnya.
Kalau nanti kebangun pas digendong dan Nawang ngamuk, ya dia siap nanggung resiko.
Tapi sampai tubuh itu diselimuti Richard dengan rapi, tak ada reaksi sedikitpun.
Nakutin bener nih bocah.....tidur kayak orang mati beneran.
Setelah mengecup kening Nawang, Richard bergegas keluar kamar sebelum godaan syaiton membujuknya untuk melu mat bibir yang tersaji sempurna dan setengah terbuka itu.
Tidur aja tetap keliatan cantik gitu kamu, Non....
batin Richard sebelum menutup pintu kemudian masuk ke kamar tamu untuk berbaring di sofa yang tadi ditempati Nawang.
__ADS_1
*Now the boys' room.
🗝️🗝️🗝️* bersambung 🗝️🗝️🗝️