PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
147


__ADS_3

Nawang POV


Sedih sekali rasanya mendengar bisikan Mas Eric, juga tangisan Bintang barusan.


Aku selalu ingin bangun, tapi mengapa mataku tak mau ku buka?


Entah sudah berapa lama aku seperti ini. Dan akan berapa lama lagi ya Allah?


Sekuat tenaga ku gerakkan bagian tubuhku tapi sepertinya tak ada hasilnya.


Nyatanya Mas Eric yang selalu ada di sampingku saja sepertinya tak melihatnya.


Aku tentu saja mendengar semua hal yang dia ucapkan kalau aku tidak sedang tidur.


Aku kembali harus berterimakasih di miliki oleh pria itu.


Dalam keadaanku yang tak berdaya sama sekali dia sangat menunjukkan penerimaan dan kasih sayangnya.


Dia memandikanku, mensucikan aku, merapikan jilbabku, setiap beberapa waktu dia juga tak bosan selalu mengubah posisi berbaringku.


Dia sangat mengerti kalau tidur telentang seperti ini akan membuat punggung pegal setengah mati.


Tapi syukurlah dia mengubah- ubah posisi berbaringku tanpa lelah. Dan sungguh, itu sangat membantuku agar tetap merasa nyaman dalam kebisuan ini.


Sebenarnya apa yang terjadi padaku ini? Penyakit apa yang ku derita?


Tapi bila aku mendengarkan beberapa orang yang kuyakin itu adalah dokter atau perawat, tak pernah ada pembicaraan mengenai penyakit yang membuatku seperti ini.


Mereka hanya melakukan pemeriksaan standard padaku dan kemudian akan bilang kalau kondisiku stabil bahkan prima, yang pasti akan di sambung dengan ucapan terimakasih dari mas Eric.


Setelah pemeriksaan rutin itu kemudian selalu hanya akan ada suara Mas Eric yang kadang bercerita apa saja, kadang memutarkan playlist lagu kesayanganku bila dia mulai lelah bicara, kadang kudengar dia membaca Al Qur'an, kadang tak ada suara sama sekali tapi tiba- tiba ada suara keluhan bahkan umpatan lirih yang berarti dia sedang main game di sampingku.


Syukurlah dia masih mau menghibur dirinya sendiri dengan bermain game walau aku tahu hanya dia lakukan beberapa menit saja. Tak selama kalau sedang dirumah dan aku sedang sehat.


Semua dia lakukan tak pernah jauh dari sisiku yang pasti hanya terbujur kaku.


Apa dia tidak bosan seperti itu? Bagaimana dengan pekerjaannya?


Seharusnya dia tidak perlu ada di sampingku sepanjang waktu.


Aku tak akan bisa pergi kemana- mana juga kan? Dan bukankah aku baik- baik saja?


Harusnya dia meminta tolong saja bude Darmi untuk menjagaku agar dia bisa tetap kerja.


Apakah aku masih akan KAU beri kesempatan agar bisa membalas semua kebaikannya ini ya Allah?


Ya Allah, hamba masih ingin ada diantara mereka. Mempersembahkan sisa umur hamba untuk membahagiakan mereka. Anak- anak dan suami serta mertua hamba.


Tolonglah, beri hamba kekuatan untuk kembali bangun dan memeluk anak- anak hamba.


Hamba ingin membesarkan si kembar yang bahkan belum pernah hamba peluk.


Hamba merindukan mereka semua. Hamba rindu, sama seperti kerinduan mereka.


********


Author POV


Richard terbangun dan sedikit kebingungan saat dilihatnya Bintang tak ada disampingnya.


Tadi anak itu ditemaninya tidur di bed penunggu pasien. Tapi sepertinya dia ikut terlelap dan bahkan sampai tak tahu Bintang beringsut pergi dari sisinya.


Ya, mungkin tubuhnya sudah benar- benar lelah karena lima hari ini tak pernah tidur dengan benar.


Mana bisa dia tidur kalau ada yang dinantinya dengan penuh harap sampai hari ini?


Bagaimana kalau saat dia tertidur ternyata Nawang terbangun dan butuh dia?


Richard bergegas bangkit dari ranjang dan menolehkan kepalanya ke arah ranjang Nawang untuk kemudian bermaksud mencari Bintang yang dikiranya mungkin sedang ke kamar kecil.


Namun dia malah terpaku saat dilihatnya anak itu berdiri di samping tubuh Nawang dan nampak sedang mengelus- elus pipi ibunya kemudian ganti menciumi tangan ibunya. Begitu terus berulang kali.


Airmata Richard terbit tanpa permisi.


Perasaannya tak karuan.


Ya Allah.....


Dengan menyusut airmatanya Richard mendekat ke arah ibu dan anak itu.


"Kamu malah nungguin Ibu, Mas? Nggak ngantuk?" tanya Richard sambil mengelus kening Nawang lembut.


"Aku udah tidur tadi terus kebangun. Terus aku nungguin ibu aja, gantiin Papa. Kasihan Ibu kalau nanti bangun nggak ada yang nemenin." kata Bintang pelan.


Richard mengangguk sambil tersenyum.


Good boy.....


"Sekarang Papa udah bangun, giliran kamu yang tidur." kata Richard kemudian.


"Tapi aku....." ucapan Bintang terjeda karena anak itu menguap membuat Richard tersenyum geli.

__ADS_1


"Ibu juga pasti sedang tidur. Nggak papa kamu tidur dulu. Papa yang jagain Ibu." kata Richard sambil mengelus kepala Bintang yang kemudian mengangguk dengan berat hati.


Diciumnya pipi ibunya sebelum beranjak ke ranjang penunggu pasien kemudian berbaring menghadap ke arah ibunya terbaring.


Mata tajamnya terus menatap dengan mata yang semakin terasa berat untuk dibuka.


Aku kangeeeeeen banget dipeluk Ibu. Ibu cepat bangun ya....


***********


Nawang merasakan jemari mungil menyusuri pipinya, lalu punggung tangannya diciumi berkali- kali.


Bintang, Sang Panglima hatinya tengah di sampingnya.


Sekuat tenaga dia berusaha menggerakkan tubuhnya. Sungguh sekuat tenaga. Tapi ternyata tubuhnya tak bergeming.


Hanya airmata yang menetes deras dari dua sudut matanya yang kini dihapus dengan lembut oleh jari mungil Bintang.


"Ibu kapan bangun? Aku kangen. Papa juga. Semua kangen. Adik kembar juga mungkin kangen. Tadi aku lihat mereka nangis terus. Kasihan. Ibu cepat bangun ya." kata Bintang pelan kemudian di dengarnya isakan tertahan.


Ah, Nak.....Ibu ingin bangun sekarang juga, bahkan dari kemarin- kemarin Ibu ingin bangun, tapi Ibu nggak bisa......


********


Richard menatap sisi bantal tepat di bawah garis mata Nawang yang basah.


Bahkan dilihatnya airmata masih mengalir dari sudut mata Nawang dengan deras.


Hatinya rasanya diremas dengan sangat keras hingga rasanya ingin mun tah karena nyeri merajam hatinya sedemikian rupa.


Mungkin Nawang juga tengah sangat berusaha untuk bangun.


Dia yakin Nawang sangat ingin bangun.


Dilihatnya jam tangannya. Hampir jam tiga dinihari.Di hapusnya deraian airmata Nawang, di kecupnya kedua kelopak mata Nawang dengan lembut.


"Mari kita ketuk lagi pintu langit sekuat tenaga, Sayang. Kita mohon belas kasih Allah untuk kehidupan kita. Aku sungguh memohon kamu kembali pada kami. Sungguh." bisik Richard dengan suara bergetar dan airmata yang telah deras mengaliri pipinya.


"Aku wudhu dulu ya. Sebentar." kata Richard saat dilihatnya airmata Nawang kembali mengalir.


Rasanya tak terbayangkan pedih dan sesaknya mengalami kondisi yang tengah Nawang jalani.


Tahu betapa dirinya sangat dinanti namun untuk memberi tanda sedikit saja kalau dia mengerti, dia nggak mampu.


Dirasanya juga saat Richard membetulkan kerudungnya.


Menyembunyikan rambutnya yang mungkin ada yang terlihat.


Richard menjaganya agar auratnya tetap terjaga.


"Aku mulai tahajud ya. Mari kita ketuk lebih keras lagi pintu langit malam ini. Semoga akan ada lebih banyak malaikat yang membantu meng aamiin i doa kita agar Allah iba." kata Richard yang hanya mampu dijawab Nawang dengan tetesan airmatanya.


Berkali- kali Richard menarik nafas panjang agar dadanya sedikit lega dari pilu yang menghimpitnya sebelum dia mengangkat kedua tangannya ke sisi telinga untuk takbiratul ikhram.


Mengulang lagi permohonannya agar bisa kembali memeluk belahan jiwanya. Agar bisa bersama lagi mengasuh anak- anak mereka.


Wahai Allah pemilik segala takdir, hamba kembali merayu- Mu dengan segala kelemahan diri dan dosa yang melekat pada hati hamba. Tolong kembalikanlah kesadaran istri hamba, belahan jiwa hamba, pemilik tulang rusuk hamba.


Berilah kesempatan kepada hamba untuk lebih lama lagi menjaga dan menyayanginya di dunia ini dengan segenap hati dan jiwa hamba.


Kasihanilah kami ya Allah......Ibalah pada kami.....


Dan kali ini tangisnya pecah memenuhi keheningan kamar.


Tangisan Bintang saat meratapi ibunya terus berputar di kepala Richard, semakin menderaskan airmatanya.


Dia sungguh merasa lemah dan tak berarti menghadapi keadaan ini.


Sungguh tak berdaya.


Dan Nawang yang mendengar tangis Richard semakin tak karuan.


Dia mencoba menjerit sekuat mungkin. Berusaha sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya dengan tangis yang sudah tak ada hentinya.


Ya Allah, hamba ingin bangun. Hamba ingin bangun. Sungguh ingin bangun.


Berilah kesempatan lebih lama kepada hamba untuk mendampingiinya. Untuk berbakti padanya. Untuk menjaga buah hati kami.


Kasihanilah kami, ya Rabb......


Ibalah kepada kami......


Setelah melipat sajadahnya, Richard kembali mendekati Nawang.


Dia tertegun menatap bantal yang sangat basah.


Diambilnya bantal itu dan digantinya dengan bantal yang ada di lemari.


Apa Nawang menangis begitu keras hingga airmatanya sebanyak ini?


Richard tersenyum.

__ADS_1


Entah mengapa dia merasa Nawang juga tengah begitu keras berusaha untuk bangun.


Mungkin ini tadi dia juga menangis memohon seperti dirinya.


"Terimakasih kamu terus berjuang untuk bangun, Sayang. Kami akan selalu menunggumu bangun." kata Richard lembut.


Dikecupnya pipi Nawang yang mendapat balasan setitik airmata.


"Miss you so bad." bisiknya sambil menghapus butiran airmata di sudut mata Nawang.


**********


Nawang tersentak saat dirasanya sesuatu yang hangat seperti menjalar dari telapak kakinya, terus perlahan naik ke sekujur tubuhnya.


Di dengarnya suara adzan sangat merdu jelas terdengar di telinganya.


Hatinya mencelos.


Apakah aku sudah di kuburan?


Astagfirullahaladzim ya Allah......


Reflek Nawang menggerakkan tangannya untuk meraba tubuhnya. Apakah tubuhnya sudah terbungkus kain kafan?


Ternyata tidak.


Dia hanya mengangkat selimut yang membungkus tubuhnya.


Alhamdulillah ya Allah......hamba masih hidup.


wait.....wait......Aku bergerak?!


Nawang menggerakkan kakinya. Mengadu telapak kakinya dengan kasur dengan gerakan pelan kemudian lebih cepat dan lebih cepat lagi.


Airmatanya terbit dengan deras sambil menatap sekeliling.


Alhamdulillah ya Allah......


Dikedip- kedipkannya matanya. Diputarnya bola matanya sedemikian rupa.


Alhamdulillah dia sudah bisa membuka matanya.


Dan matanya kini tertumbuk pada kepala yang tersandar di bibir ranjang dengan wajah yang tak terlihat olehnya.


Tapi dia tahu pasti siapa itu.


Dengan lembut dibelainya lembut rambut hitam legam itu.


Terimakasih mencintai dan menginginkan aku sedalam ini.


Richard yang merasakan belaian di kepalanya tersenyum dengan tetap memejamkan matanya.


Menikmati belaian itu dengan senang. Belaian yang rasanya sangat lama telah tak pernah lagi dia rasakan karena yang biasa melakukannya tengah 'bersemedi'.


Richard membelalakkan matanya bulat- bulat.


Bukankah Nawang......?


Richard mengangkat kepalanya dengan cepat.


Dan tubuhnya membeku saat dilihatnya wajah Nawang.


Wajah cantik itu tengah tersenyum padanya. Sedang menatapnya dengan tatapan mata penuh kerinduan.


"Miss you so bad." ucap Nawang dengan airmata yang kembali mengalir.


Richard menubruk tubuh Nawang dengan tangis yang pecah.


"Alhamdulillah ya Allah.....Allahuakbar..... Terimakasih kamu mau bangun." ucap Richard di sela tangisannya.


Dengan cepat di lepaskannya dekapannya lalu memegang kedua bahu Nawang lalu menatap menelisik seluruh badan Nawang.


"Are you Ok? Ada yang sakit?" tanya Richard dengan khawatir yang hanya dibalas gelengan kepala Nawang yang tersenyum walau matanya masih saja menangis.


"Mas! Mas Bintang! Ibu bangun,Mas!" seru Richard dengan gembira dengan terus menatap wajah Nawang.


Tangannya terulur memencet bel yang terhubung ke ruang jaga dokter di depan.


Richard tak ingin meninggalkan Nawang kali ini.


Dia tidak ingin Nawang kembali terpejam. Tak ingin lagi.


🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️


Udah kayak roller coaster belum perasaannya? 😀😅🙈


Alhamdulillah ya, Nawang udah bangun 😍


Itu berarti besok episode terakhir beneran ya....😊


Episode pamitannya Nawang dan Richard yang happy ending 😍💕💖

__ADS_1


__ADS_2