
Acara di rumah Nawang selesai jam sebelas siang.
Tak terlalu lama memang, karena acara memang digelar sangat sederhana dan simple.
Hanya akad nikah sebagai acara inti, dilanjutkan jamuan makan sebagai ucapan rasa syukur dan terimakasih kepada semua yang datang pada acara itu.
Tak ada pelaminan karena pengantin memang ingin lebih leluasa berbaur dengan kerabat dan tetangga yang hadir di acara mereka.
Namun tetap ada empat spot disediakan untuk semua yang hadir bila ingin berphoto ria sekedar untuk jadi kenangan pernah ada di moment bahagia Richard dan Nawang.
Acara itu hanya dihadiri oleh orang tua bersama beberapa kerabat Richard dari Semarang, dan tetangga Nawang saja.
Selain itu hanya ada beberapa orang teman kerja Nawang dan beberapa orang kantor Richard.
Kini di teras rumah -yang sejak kemarin telah di sulap menjadi ruangan yang cukup mewah dengan deretan kursi dan meja cantik- hanya tersisa orang tua Richard, Bram dan Anin bersama batita perempuan mereka, Bu Halimah dan pakde Parno.
Mereka asik ngobrol bahkan sesekali tergelak dengan obrolan yang temanya random.
Richard menemani mereka semua sementara Nawang tadi langsung meminta ijin untuk melepaskan dandanannya dulu.
"Bintang dan Darren kemana ini tadi?" tanya Pak Pambudi mencari dua jagoan kecilnya.
"Ikut ibunya ke kamar. Mereka kan dari tadi terkagum- kagum sama ibunya. Nggak percaya kalau yang nikah sama papanya itu Bu Nawang. Kata Darren tadi cantiiiiiiik banget." jawab Bu Pambudi disambut tawa yang lain.
"Istriku memang cantik banget kok. Nggak salah sih Darren ngomong gitu " sahut Richard sambil terkekeh congkak.
"Sombongnya keluaaaar." kata Bram sambil mengerling pada Anin.
"Bukan sombong. Fakta ini! Bener nggak, Pa?" tanya Richard menatap papanya mencari dukungan.
"Iyain aja deh biar cepet kelar. Biar nggak kebanyakan sombongnya." jawab papanya sambil melihat Hans dengan mengangkat satu alisnya.
Bram terbahak- bahak merasa punya sekutu kuat untuk mempermalukan Richard kali ini.
Richard hanya melengos kesal.
Anaknya aku apa Bram sih sebenarnya?
"Honeymoon kemana nih rencananya?" tanya Anin penasaran.
"Di pulau pribadi aja. Irit." jawab Richard dengan santainya.
"Wuaaah.....kamu udah punya pulau pribadi sekarang, Mas?" tanya Anin dengan tatapan takjub yang tak dibuat- buat.
Richard menangkap tatapan kekaguman juga dimata yang lainnya.
"Ada...." jawab Richard santai sambil mengulum senyum.
"Dimana?" tanya Pak Pambudi penasaran.
"Dekat sini aja." jawab Richard, kini dia sembari menyomot snack di depannya kemudian melahapnya dengan santai.
"Di pulau Jawa?" tanya Bram kini.
"Iya." jawab Richard kemudian meneguk minumannya.
Dalam hati dia sudah terbahak- bahak melihat wajah- wajah serius di depannya.
Bahkan terlihat wajah papanya sudah menyiratkan kebanggaan, membuat Richard merasa sedikit bersalah.
"Pulau apa namanya?" tanya Anin masih dengan kadar penasaran yang tinggi.
"Pulau kapuk." jawab Richard sambil terkekeh dan mengerling jahat.
"Ba ji lak!" umpat Bram kemudian sambil memukul lengan atas Richard dengan sekuat tenaga.
"Bocah kurang ajar!" sambung papanya sambil menoyor kepala Richard dengan terkekeh gemas.
"Kang tipuuuu!" susul Anin sambil melempar tutup gelas ke arah Richard.
__ADS_1
Dan itu belum usai.
Richard menerima cubitan mesraaah dari mamanya di pinggangnya sampai dia meringis kesakitan.
Sementara pakde Parno hanya terbahak- bahak melihat kerusuhan itu.
"Ya Allah, pengantin baru jadi korban amuk massa!" teriak Richard berlari menjauh dari lokasi pembantaiannya.
"Mau kemana hoiiii?!" teriak Bram saat melihat Richard berlari ke dalam rumah.
Semua sudah bisa menduga kalau Richard pasti akan ke istrinya.
"Mau ngaduin kalian ke istriku!" teriak Richard membuat semua yang ditinggalkannya tertawa terbahak- bahak.
"Astagfirullah anakmu, Pa...." kata Bu Pambudi di sela derai tawanya.
"Kenapa jadi konslet gitu ya tuh bocah?" tanya Pak Pambudi seperti gumaman di sela sisa tawanya.
"Kelamaan jadi jones ya gitu hasilnya, Pa." kata Anin sambil terkikik.
"Jones?" tanya Pak Pambudi tak mengerti.
"Jomblo ngenes ...." sahut Bram sambil tersenyum geli.
Pak Pambudi kembali terkekeh.
"Cakep- cakep kok jadi jones." katanya kemudian.
"Sekarang kan udah nggak jadi jones lagi." kata Bu Pambudi sambil tersenyum senang.
"Sudah happy dia, Ma." kata Pak Pambudi dengan wajah lega.
"Tinggal nunggu kabar baik selanjutnya." sambung Bram sambil tersenyum.
"Kabar baik apa?" tanya Anin penasaran.
"Ya baby lah." jawab Bram sambil tersenyum.
"Mudah- mudahan dilancarkan semuanya. Biar Bintang dan Darren punya adik baru." kata Bu Pambudi sambil tersenyum penuh harap.
"Aamiin...." sahut semuanya yang berada disitu.
"Pada ngaminin apa nih?" tiba- tiba Richard muncul dari dalam.
Richard sudah mengganti pakaian nikahnya tadi dengan celana jeans hitam dan kemeja abu- abu muda.
"Ngaminin manten baru." jawab Bram sambil tersenyum meledek.
"Pada pengen jadi manten baru lagi ya?" tanya Richard dengan tatapan meledek.
"Mulutmuuuuu!" teriak Anin dan Bram serentak sambil melotot ke arah Richard yang kemudian terlihat salah tingkah dan kaget.
"Kenapa pada galak gitu sih?" sungut Richard sambil tersenyum salah tingkah.
"Anak- anak pada kemana, Ric? Masih nungguin Nawang?" tanya Bu Pambudi mengalihkan pembicaraan.
"Di belakang sama ayah dan simbahnya Bintang." jawab Richard sambil mengusili kaki mungil adiknya Darren yang terlelap di pangkuan Bram.
Beberapa saat kaki mungil berbalut sepatu mungil cantik itu bergerak kecil.
"Ayahnya dan simbahnya Bintang ada juga?" tanya Anin dengan nada surprise.
"Ada. Kamu nggak ketemu tadi?" tanya Pak Pambudi.
"Enggak." jawab Anin dibarengi gelengan Bram.
"Sebentar saya panggilkan. Biar bisa kenal." kata pakde Parno bergegas berdiri.
" Biar aku aja, Pakde." kata Richard sambil bergegas berdiri, lmengurungkan niat pakde Parno yang sudah akan melangkah masuk.
__ADS_1
"Nggak papa. Biar Richard aja." kata Pak Pambudi menanggapi tatapan tak enak hati pakde Parno yang kemudian memilih kembali duduk.
Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Dani nanti di depan keluarga Richard.
Terus terang dia masih agak sakit hati dengan kelakuan Dani, membuatnya masih agak malas untuk ngobrol seperti dulu.
Tak lama Richard datang bersama Dani dan Bu Halimah disertai dua bocah lelaki yang memakai baju kembar dengan yang dipakai Richard pas akad tadi.
Siapa lagi kalau bukan Bintang dan Darren yang tetap belum mau mengganti bajunya.
"Kenalkan, ini Mas Dani dan Bu Halimah. Ayah dan simbahnya Bintang." kata Richard begitu mereka ada di depan Anin dan Bram.
Keduanya bergegas berdiri menyambut uluran tangan Dani dan Bu Halimah.
"Saya Anin, mamanya Darren." sapa Anin dengan hangat yang disambut senyuman canggung Dani dan senyum hangat Bu Halimah.
"Saya Bram, suaminya Anin. Maaf ya, Mas kalau Darren nakal." kata Bram sambil tersenyum ramah pada Dani dan Bu Halimah.
"Nggak nakal kok Darren. Pinter anaknya, nurut." kata Dani masih agak canggung.
"Alhamdulillah kalau begitu. Pas pulang dari Magelang itu ceritanya sampai nggak berhenti- berhenti." sambung Bram mencoba tetap menjaga pembicaraan.
Bu Halimah tersenyum senang.
"Mumpung Saya bisa bertemu dengan Anda semua disini. Saya dan ibu ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak dan Ibu Pambudi, pada Mas Bram dan Mbak Anin, terutama kepada Mas Richard karena mau menerima anak saya Bintang dengan sangat baik. Saya titip anak saya, semoga tidak menyusahkan." kata Dani dengan suara bergetar dan pandangan yang sekilas menyapu semua yang ada disitu lalu menunduk
Richard yang ada di samping Dani menepuk- nepuk bahunya pelan.
"Dengan tangan terbuka kami sangat menerima Bintang dalam keluarga kami, Mas. Dia bisa jadi kakak yang baik buat adik- adiknya ini." kata Bram sambil tetap tersenyum.
"Kita jadi keluarga besar sekarang. Jangan sungkan." kata Pak Pambudi menyusul sambil tersenyum hangat.
Dani hanya mengangguk sambil tersenyum lega.
Sungguh dia merasa sangat tertampar dengan yang baru dihadapinya saat ini.
Mungkin bila keluarga Richard bersikap angkuh padanya dia malah bisa menerima.
Tapi ini? Semua bersikap hangat dan baik padanya.
Malah membuatnya merasa semakin hina sebagai manusia.
Dani malah semakin merasa dihukum oleh nuraninya sendiri.
"Bapak, Ibu, saya titip Nawang juga. Saya sedikitpun tak pernah menyesal pernah menjadi mertuanya. Sayang saya harus melepaskan dia. Dia menantu yang tulus dan baik. Tolong sayangi dia." kata Bu Halimah sambil menghadapkan tubuhnya pada papa dan mamanya Richard.
Matanya berkaca- kaca menahan perasaannya sendiri.
Dani sungguh merasa tertampar tanpa ampun.
Tapi apa yang diucapkan ibunya barusan adalah suara hati seorang mertua yang terpaksa kehilangan menantunya.
Dan itu terjadi karena kesalahan fatal yang telah dilakukannya.
Dani semakin di dera rasa bersalah.
"Nawang tetap anak ibu. Dia nggak akan hilang kok. Dia kan ibunya Bintang, cucu ibu." kata Richard sambil tersenyum dengan nada penghiburan.
"Kami pasti akan menyayangi Nawang, Bu. Kami janji." kata Pak Pambudi membuat Richard terpaku.
Papanya bahkan telah mengucapkan janji.
Padahal papanya adalah orang yang sangat teguh memegang janji.
Itu berarti papanya benar- benar telah sepenuhnya menerima Nawang.
Dan dadanya terasa sangat lega kini.
Sungguh sangat lega.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️