
Richard dan Nawang melambaikan tangannya pada Bintang yang bergegas masuk ke halaman sekolahnya.
Tampak kemudian anak itu berangkulan dengan tiga anak lelaki sebayanya.
Senyum lebar bocah itu membuat Richard dan Nawang tenang meninggalkanya untuk tiga hari ke depan.
Tadi di jalan sudah ada kesepakatan jam menelpon. Yaitu pagi sebelum Bintang sekolah, siang seusai sepulang sekolah, dan petang seusai magrib. Sehari tiga kali.
Dan Bintang tidak boleh menangis bila menelpon di luar jam kesepakatan dan tidak di angkat.
Anak itu menyetujuinya.
"Saatnya kita menuju medan juang, Sayang." kata Richard sambil mengerling pada Nawang kemudian melajukan mobilnya meninggalkan depan sekolah Bintang.
"Aku kok deg- degan ya." gumam Nawang dengan nada heran.
"Deg- degan kenapa?" tanya Richard kuatir.
"Yang kayak mau honeymoon gitu." jawab Nawang tersipu, membuat Richard tertawa.
"Kita kan memang mau honeymoon. Real honeymoon malah yang sekarang ini kan?" kata Richard.
"Kok bisa gitu?" tanya Nawang tak mengerti.
"Selama ini penyatuan kita selalu dihalangi pengaman. Kita tidak bisa saling menyentuh. Tapi nanti, tiga hari ke depan kita punya kesempatan menyatu. tanpa pengaman. Aku bisa menyentuhmu seutuhnya. Ya Allah, rasanya mimpi akan bisa menikmati moment seperti orang lain pada umumnya." kata Richard girang campur haru.
Nawang tak kalah senangnya.
Walau mereka dari awal juga menyadari kesempatan mereka menikmati seperti yang orang lain nikmati mungkin hanya tiga hari seumur hidup mereka, tapi Richard dan Nawang berusaha terus mensyukurinya.
Setidaknya mereka punya kesempatan bisa menikmati apa yang pasangan lain bisa nikmati. Walau kesempatan mereka hanya tiga hari saja sepanjang usia mereka, mereka berusaha terus ikhlas menerima.
Toh selama ini juga mereka bisa menikmati kebersamaan mereka dengan sangat indah.
"Kita gunakan kesempatan itu sebaik mungkin ya, Mas. Hal manis yang tidak kita duga akan bisa kita nikmati, begitu saja datang. Semoga ini pertanda baik untuk kehidupan kita ke depannya." kata Nawang penuh asa.
"Aamiin ya Allah....." sahut Richard cepat.
Richard berharap semoga ada banyak malaikat di sekitar mereka kemudian ikut meng aamiin kan harapan Nawang.
********
Memasuki kamar hotel yang sama seperti sebelumnya, Nawang dan Richard tertawa begitu menutup pintu.
"Kok bisa kita dapat nomer kamar yang sama seperti sebelumnya." kata Nawang keheranan.
"Aku pas booking kemarin juga kaget. Tanya kamar lain katanya udah di booking duluan. Mungkin kita berjodoh sama kamar ini." kata Richard setelah memarkirkan koper mereka di dekat lemari.
Dia mengikuti Nawang yang merebahkan diri di ranjang.
Mata Nawang terpejam walau pasti nggak tidur. Mungkin sedang menghilangkan penatnya karena perjalanan mereka.
"Mau tidur dulu?" tanya Richard sambil memiringkan badannya menghadap ke Nawang.
"Nggak ngantuk." jawab Nawang.
"Nggak ngantuk tapi meremnya kusyuk bener." olok Richard.
"Sedang menikmati suasana." jawab Nawang masih tetap dengan terpejam.
"Suasana apa?"
"Suasana seperti ini. Tenang, damai, adem. Menenangkan." jawab Nawang tanpa membuka mata.
__ADS_1
Richard tak menyahut. Dia ikut- ikutan Nawang menikmati suasana.
"Kita sholat hajat yuk, Non." ajak Richard tiba- tiba bangkit lalu duduk sambil menatap Nawang yang langsung membuka matanya.
"Iya. Aku ke kamar mandi dulu." kata Nawang kemudian meraih handbag warna cream yang masih teronggok di sampingnya.
"Bawa apa itu?" tanya Richard saat melihat tangan Nawang mengenggam sesuatu menuju kamar mandi.
Nawang membuka genggaman tangannya dan ditunjukkan pada Richard yang kemudian tersenyum sumringah saat melihatnya. Sebuah ovulation test strip dan satu cup plastik kecil.
"Good preparation." puji Richard sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Richard memilih bergegas menyiapkan diri dan tempat untuk melakukan sholat nanti.
"Gimana?" tanya Richard saat dilihatnya Nawang sudah mendekat ke arahnya dengan wajah yang segar sehabis berwudhu.
"Sesuai prediksi. Ready to fight." jawab Nawang sambil mengerling lucu.
"Bismillah......!" seru Richard sambil bergerak gesit untuk berwudhu.
Ada semangat membara yang begitu saja muncul di hatinya.
Bukan hanya karena akan segera menikmati sensasi baru bersama istrinya, tapi lebih dari itu adalah seperti memiliki tujuan hidup baru, memiliki anak yang bukan hanya dia dan Nawang yang mau, tapi Bintang dan Darren juga.
Ya, walaupun belum- belum dua calon kakak itu sudah bersitegang soal jenis kelamin calon adik yang mereka mau.
Darren ngotot mau adik cowok karena sudah punya adik cewek, yaitu Sisil.
Dan Bintang keukeuh mau adik cewek karena sudah merasa punya adik cowok, yaitu Darren.
Flashback on
**************
"Ati- ati, Boss. Yang kamu janjikan itu anak orang, bukan boneka ya." sahut Nawang mengingatkan dengan tatapan menghunjamnya. Richard meringis saja membalasnya.
"Papa yang bikin adik? Emang bisa?" tanya Darren keheranan.
"Bisalaaah! Kamu kan Papa yang bikin." jawab Richard bangga.
Nawang sudah waspada saat itu. Pasti akan muncul pertanyaan bombastis sebentar lagi.
"Papa hebat! Caranya bikin adik gimana, Pa?" tanya Darren penasaran.
Nawang tertawa dalam hati saat melihat wajah Richard mendadak panik lalu meminta tolong padanya dengan tatapan matanya.
"Aku juga mau bikin adik sendiri aja." celetuk Bintang yang membuat Richard tersedak minuman yang baru saja diseruputnya dari cangkir.
Nawang semakin tak bisa menahan tawanya melihat kekagetan Richard.
"Nggak boleh, Mas!" sergah Richard sambil mengibas- ngibaskan tangannya panik.
"Kenapa?" tanya Bintang keheranan pada reaksi Papanya.
"Bikin adik itu harus berdua sama istri. Nggak bisa sendirian, apalagi masih kecil kayak kalian." jawab Richard.
"Kenapa harus berdua sama istri? Memang kalau bikin adik bayi susah ya, Pa?" tanya Bintang lagi.
"Ya memang harus berdua, cowok kan butuh cewek buat minta tolong ngejagain adik bayinya sampai kuat dulu. Dijagainnya di dalam perut. Namanya di kandung. Yang punya wadah di dalam perut buat adik bayi cuma cewek." kata Richard berusaha menjelaskan.
"Adik bayinya kok bisa dimasukin ke dalam perut ibu- ibu? Caranya gimana?" tanya Bintang lagi.
"Papa bikinnya adik bayi gimana?" susul Darren.
__ADS_1
MAM PUS !!!!
Pertanyaan yang paling ditakutkan Richard akhirnya keluar juga dari mulut Bintang dan Darren.
"Ada caranya, tapi kalian belum boleh tahu. Itu rahasia orang dewasa. Nanti kalau kalian sudah gede, pasti akan tahu caranya. Yang pasti sekarang kalian harus bantu Papa dan Ibu berdoa biar bisa kasih adik buat kalian. Adik cewek atau cowok nggak papa ya? Allah kan pasti kasih yang paling baik buat kita." bujuk Richard.
Ada ketidakpuasan di wajah Bintang dan Darren walau keduanya mengangguk.
"Kalian tetap boleh berdoa mau minta adik cewek atau cowok kok. Kalau nanti belum dikabulkan berarti kita harus sabar dan ikhlas menerima pemberian Allah." Darren dan Bintang masih menatap Papanya dengan wajah yang kurang lega. Cukup mampu membuat Richard salah tingkah dan merasa bo doh di depan dua bocah itu.
Flashback off
**************
Nawang dan Richard sudah selesai menunaikan sholat hajat mereka. Usaha paling awal yang mereka lakukan agar harapan mereka memiliki keturunan dimudahkan jalannya.
Itulah cara mereka memberitahu dan merayu Sang Maha Pencipta dan Maha Pemberi atas keinginan mereka, sebelum akhirnya mereka berikhtiar sekuat kemampuan mereka, sembari terus berbaik sangka pada segala ketetapan- Nya nanti.
***********
Sepasang tubuh yang saling berpelukan dalam sisa tangis bahagia mereka, terbungkus selimut di atas ranjang yang seperti baru diterpa badai.
Richard berulangkali menghapus linangan airmatanya yang masih saja terus terbit sedari tadi.
Sepanjang penyatuan mereka tadi, Richard tak mampu menahan deraian airmata bahagia disela segala kenikmatan surgawi yang ia rengkuh bersama perempuan tercintanya.
Dan deraian airmatanya pecah menjadi tangis tak tertahan saat dia melepaskan benihnya ke dalam rahim Nawang.
Segala doa kebaikan dan kepasrahan dia lantunkan dalam hati diantara deraian airmatanya.
Segala ucap syukur dia panjatkan dalam hati sambil merengkuh Nawang ke dalam pelukannya.
Memeluk erat perempuan itu dengan segala rasa terimakasih yang tak sanggup lagi dia ucapkan lewat bibirnya.
Hanya berkali- kali kecupan panjang dia sematkan di kening Nawang yang juga tenggelam dalam deraian airmatanya.
Kali ini sungguh percintaan yang mengharu biru untuk mereka berdua.
"Semoga perjalananmu lancar, jagoan." gumam Richard sambil mengelus perut Nawang setelah keduanya cukup lama terdiam dalam helaan nafas panjang dan meredakan haru biru perasaan mereka.
Tak ada yang ingin memulai percakapan. Hati mereka belum tertata sepenuhnya setelah melewati euphoria yang baru saja mereka lewati.
Nawang hanya semakin melekatkan tubuhnya ke tubuh Richard, seakan ingin masuk saja ke dalam tubuh tegap lelaki kesayangannya ini.
"Ku gendong ke kamar mandi ya?" tawar Richard kemudian. Nawang mengangguk di dada Richard.
"Mandiin." pinta Nawang manja.
"Siaaaap, Bu Boss!" jawab Richard dengan semangat.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Maaf ya, jam up nya telat. Ngumpet dulu ngilangin airmata karena ikut mewek- mewek bareng Richard dan Nawang 😅🙈.
Udah mau weekend ya......
Minta tolong vote nya daripada nanti hangus dan mubadzir, dilempar kemari aja ya genks 🙈
Makasiiiih jempol- jempolnya.....💖
Makasiiiih banget bunga dan kopinya.....💖💖
HAppy reading semuanyaaaa.....💕💕💕
__ADS_1