
Tak terasa gelap pun jatuh
Diujung malam, menuju pagi yang dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang cantik- cantiknya
Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam dia malu kali ini
Bahkan juga ia takut
Tatkala harus berpapasan di tengah pelariannya
Di malam hari menuju pagi
Sedikit cemas, banyak rindunya
...............
💕 Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan - Payung Teduh 💕,
Nawang mengerjapkan matanya berulang kali dengan harapan nyawanya segera kembali dengan cepat dan komplit ke dalam raganya.
Antara sadar dan tidak sadar tadi telinganya mendengar salah satu lagu kesayangannya.
Dan kini saat dia sudah kembali tersadar utuh, ternyata lagu itu masih terdengar tapi agak jauh.
Dia kembali merapatkan selimut menutupi sekujur tubuhnya setelah baru saja dia ingin. bergegas bangun untuk segera mandi.
Udara yang sangat dingin tiba- tiba terasa menerobos dari arah pintu balkon yang kurang tertutup sempurna.
Mungkin Richard yang membukanya tadi, tapi kurang rapat menutupnya.
Nawang meraba- raba sekitarnya mencari pakaiannya yang so pasti berdomisili sesuka hati mereka sejak selesai subuh tadi.
Yeah.....kerusuhan mereka berdua tentu saja tidak memberi tempat yang layak untuk pakaian mereka.
Akhirnya yang pertama dia temukan adalah outer lingerie nya.
Dia bergegas memakainya tanpa ingin memakai yang lain lagi.
Lagian hanya akan ke kamar mandi ini.Hanya beberapa langkah dari ranjang.
Nawang melihat jam dinding yang menempel di atas pintu kamar mendi. Hampir jam enam pagi.
Berarti dia tidur lebih dari limabelas menit. Lumayanlah untuk memulihkan staminanya setelah pertarungan sengit satu lawan satu satu babak sehabis subuh tadi.
Nawang tersenyum sendiri mengingat bagaimana manisnya Richard berusaha mmbalas kebaikannya tadi.
Sungguh honeymoon yang sempurna.
Nawang bergegas masuk ke kamar mandi lalu mandi secepat mungkin agar saat Bintang menelpon nanti, dia sudah selesai mandi.
Guyuran air hangat yang sangat memanjakan tubuhnya sebenarnya ingin dia nikmati lama- lama.
Tapi apa ada, waktu mandinya berkejaran dengan jam Bintang mau menelpon.
"Nanti mandi lagi aja." gumamnya pada dirinya sendiri sambil bergegas keluar dari kamar mandi.
Langkahnya terhenti saat dilihatnya Richard sudah duduk berselonjor manis bersandar head board ranjang sambil memegang ponsel di depan wajahnya.
Pasti Bintang sedang VC.
Nawang bergegas melipir ke samping ranjang, sebisa mungkin tak bersuara untuk mencari jilbab instant di koper.
Bahkan isi koper tak pindah ke lemari saking sibuknya mereka dari semalam.
"Nih Ibu udah selesai mandinya." kata Richard setelah melihat Nawang selesai memakai jilbabnya.
Mereka harus benar- benar berhati- hati berhadapan dengan Bintang yang bermata sangat jeli. Jangan sampai jejak kelakuan mereka semalam terdeteksi oleh pandangan Bintang.
Nawang segera menyusul Richard naik ke ranjang untuk menyapa Bintang yang nampak sudah berseragam.
"Waaah, sudah ganteng aja anak Ibu satu ini. Udah sarapan, Bin?" tanya Nawang begitu melihat senyum Bintang.
"Udah. Beli bubur ayam sama Pakde. Enak deh,Bu." jawab Bintang dengan riang.
"Habis nggak makan buburnya tadi?" tanya Nawang lagi.
"Habis dong! Kan kita nggak boleh mbuang makanan." jawab Bintang lagi.
__ADS_1
Nawang mengacungkan jempolnya.
"Ibu seneng nggak ikut Papa disitu?" tanya Bintang tiba- tiba.
Nawang terpaku. Begitupun Richard.
Keduanya waspada dengan pertanyaan ambigu ini.
Salah jawab, bisa menyakiti hati Bintang.
"Menurut kamu gimana?" tanya balik Nawang akhirnya, mencari jalan aman sekalian meraba yang dipikirkan Bintang saat ini.
Bintang nampak menatap Nawang lekat- lekat lalu tersenyum.
"Ibu cantiiiik. Pasti karena sekarang sering senyum. Ibu seneng ya ikut Papa?" tanya Bintang dengan nada riang.
Tapi Nawang menangkap ada kilatan sedih dan kehilangan di mata Bintang.
Apakah Bintang merasa dia abaikan?
"Tapi Ibu kangen sama kamu. Kamu kangen nggak sama Ibu?" tanya Nawang dengan wajah sedih.
"Kangen! Kangeeeen banget." jawab Bintang cepat dengan mata berbinar lega.
Bintang merasa bahagia karena bukan hanya dia saja yang kangen.
Ternyata ibunya juga merindukannya.
Lega sekali rasanya saat tahu dia tak berjuang sendiri menahan rasa rindu.
Benar dugaan Nawang, Bintang sebenarnya sedang menahan perasaannya sendiri.
Perasaan sedih, perasaan rindu padanya.
Ya Allah, maafkan hamba.....
"Tapi Ibu pulangnya masih besok..." sambung Nawang lagi, kali ini dengan suara yang sangat sedih dan mata berkaca- kaca.
"Nggak papa. Kan Ibu disitu sama Papa. Aku sabar kok sampai besok. Kan sekarang harus bagi- bagi sama papa. Sekarang Ibu lagi jadi punyanya Papa. Besok ibu jadi punyaku lagi deeeeh. Sabar ya..." kata Bintang membuat Nawang cemberut tapi sudah hampir menangis.
Richard masih terpaku.
Anak ini istimewa.
Untung Bintang segera berpamitan hingga dia bisa benar- benar meledakkan tangisnya dengan memeluk kedua lututnya.
Richard menarik nafas panjang melihat Nawang yang kini sesengukan dan mengingat kata- kata menyentuh Bintang tadi.
Dia merasa bersalah dan egois sekarang.
"Kamu mau kita pulang sekarang?" tanya Richard lembut sambil membawa tubuh Nawang yang masih terisak ke pelukannya.
Nawang terdiam kemudian menggeleng pelan.
"Tapi kamu sedih gini pisah sama Bintang. Dia juga. Aku jadi merasa bersalah sama kalian. Aku egois ya?" tanya Richard sedih.
"Kamu nggak egois. Kamu hanya ingin menikmati hakmu atas istrimu. Kamu juga sudah minta ijin sama Bintang. Aku cuma terharu aja, dia bisa sedewasa itu bersikap. Mencoba mengerti kalau ibunya bukan hanya miliknya saja. Aku hanya nggak ingin dia merasa kuabaikan. Aku nggak mau dia merasa kehilangan aku." kata Nawang pelan.
Richard mengangguk mengerti.
Walau posisi Bintang dan Darren sama, tapi backing mereka berbeda.
Selama ini Darren hidup dalam keluarga utuh di rumah mamanya.
Dia merasa memiliki orang tua utuh dengan tambahan bonus punya satu papa lagi.
Darren tak kekurangan kasih sayang dari semua orang tuanya.
Sedang Bintang selama ini hanya merasa memiliki Ibu karena ikatan emosional dan interaksi dengan ayah kandungnya tak terjalin sebagaimana seharusnya walaupun mereka.serumah.
Wajar bila Bintang merasa kehilangan saat dia harus berbagi satu- satunya harta yang dia miliki selama ini.
Kasihan sekali anak itu.
Dan Richard merasa telah menjadi seorang perebut.
Bahkan dia merebut dari seorang anak TK.
Oh my God....!
"Trus kita mau gimana?" tanya Richard bingung.
"Kita teruskan rencana semula. Kita harus hargai juga perjuangan Bintang menyabarkan diri menunggu kita tiga hari. Kalau kita tiba- tiba pulang padahal dia sudah sangat berjuang untuk mengerti keadaan, kita kalah skor sama dia." kata Nawang sedih tapi membuat Richard ingin tertawa.
__ADS_1
Kalah skor dia bilang? 😆😆😆
"Skor apa?" tanya Richard dengan menahan tawanya.
"Skor bisa menahan rindu. Skor sabar menunggu. Skor menepati janji. Skor pengertian. Nggak mudah bersikap seperti itu. Apalagi untuk seorang bocah. Kita nggak boleh merusak perjuangannya begitu saja." jawab Nawang serius.
"Nanti sepulang kita dari sini kita harus memberinya hadiah sebagai apresiasi untuk pengertian dan kesabarannya. Kita kasih apa ya?" tanya Richard bingung.
"Ucapkan terimakasih saja. Ucapan terimakasih yang tulus jauh lebih berarti dan akan membuatnya semakin percaya diri. Biar dia mengerti dan belajar ikhlas berbuat baik. Jangan biasakan mengapresiasi setiap kebaikan anak dengan hadiah- hadiah, Mas. Takutnya nanti jadi pamrih. Takutnya nanti mereka berbuat baik hanya untuk mendapat reward dari kita." kata Nawang dengan suara tenang dan senyuman.
Ah, kemana perginya mbak kepala logistik yang jutek dan dingin itu?
"Aku cintaaaaaa banget sama kamu." kata Richard sambil memeluk erat Nawang.
Nawang hanya tertawa- tawa geli karena kini Richard menciumi seluruh wajahnya dengan asal.
"Boleh request nggak?" tanya Nawang setelah berhasil menangkap erat wajah Richard.
Kini kedua tangannya sedang menahan kedua sisi rahang Richard.
"Jangan minta pengaman dengan flavour lagi ya! No way!" sergah Richard cepat.
Ah, mengingat efek dari dia memakai pengaman dengan rasa buah itu saja dia langsung nyut- nyutan di area tertentu tubuhnya.
Sial!!!!!
"Bukan itu Tuan omes! Aku mau kamu pelihara bulu yang disini. Kayak gini." kata Nawang sambil menelusuri sepanjang rahang Richard dengan telapak tangannya.
Tiga hari ini memang Richard tak mencukur bulu di area bawah wajahnya.
Tahu sendiri kan bagaimana sibuknya dia selama tiga hari ini, wakakakak.......
Jadilah bulu- bulu halus terasa menggelitik kulit bila diraba.
"Kenapa? Ntar aku nggak cakep lho kalo nggak klimis." ledek Richard.
"Salah! Kamu tambah hiiiiih kalau ada bulu- bulunya gini. Aku suka." kata Nawang masih tetap menempelkan telapak tangannya di rahang Richard.
Richard sejenak menatap Nawang, lalu tersenyum jahil.
"Bikin ser- seran ya kalau kena ini?" goda Richard.
"Tau aja." jawab Nawang tanpa malu.
Richard tergelak.
Fix sudah. Nawang sudah tertular virus omesnya.
"Baiklah....baiklah....Aku boleh bercukur berapa hari sekali?" tanya Richard masih dengan menahan senyumnya.
Nawang nampak berpikir.
"Kita lihat saja nanti. Pokoknya kalau aku suruh cukur, baru boleh kamu cukur." jawab Nawang akhirnya.
"Aku milikmu, Nyonya. Tentu saja aku akan menurut padamu." kata Richard sambil tersenyum menggoda.
"Baguuuuus.Karena kalau nggak nurut, ada hukumannya. Dan kamu tahu apa itu?" tanya Nawang sambil mengerling.
"Jurus andalan perempuan kalau mau menekan suaminya kan? Nggak dikasih jatah?" tebak Richard dengan keyakinan penuh.
"Waaaah, saya tidak sekejam itu, Kisanak. Melayani suami itu wajib hukumnya. Dalam keadaan marah pun nggak boleh nolak kalau suami minta jatah." sahut Nawang.
"Really? Kamu akan tetap ngasih walau kamu lagi marah sama aku?" tanya Richard nggak percaya.
"Iya. Tapi ya mungkin cuma sedia doang, nggak melayani. Ya bersikap kayak manekin aja. Kaku dan dingin." sahut Nawang sambil terkekeh.
Richard memberengut membayangkan dia bercinta dengan manekin. Males banget.
"Mumpung kita rukun gini, gimana kalau kita test bulu- bulu ini?" tanya Richard sambil kembali menyerang wajah Nawang dengan bibirnya.
"Noooooo! Aku lapar, Maaaaaas!" teriak Nawang sambil tertawa dan menyembunyikan wajahnya dari serangan ciuman Richard.
Beruntung bel kamar berbunyi.
"Tuuuuuh makanan datang." kata Richard sambil bergegas menuju pintu.
"Alhamdulillah." sahut Nawang senang.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Sampai sini masih setia main sama mas Richard kan?😃
__ADS_1
Happy reading ya.....💖