PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
81


__ADS_3

Bu Halimah melepas kepergian tamunya dengan lambaian tangan dan senyum yang tak hilang dari wajah teduhnya.


Disampingnya berdiri Dani yang terpaku menatap kepergian mobil yang perlahan menjauh membawa serta anak lelaki dan mantan istrinya.


Tadi Dani pulang ke rumah dengan niat untuk menengok ibunya dan Deka anaknya.


Dan dahinya berkerut keheranan saat dilihatnya ada mobil plat AB dan seperti pernah dilihatnya terparkir di halaman rumah ibunya.


Dengan penasaran yang tinggi Dani bergegas melepas helm dan kemudian mendekat ke pintu depan yang sudah terbuka.


Langkahnya terhenti saat samar- samar di dengarnya suara ibunya tengah bercengkerama dengan suara yang dikenalnya. Suara Nawang.


Benarkah Nawang kesini?


Matanya kemudian beralih ke mobil yang terparkir di halaman. Dia ingat kini,. itu mobil kekasih Nawang.


Kini matanya beralih ke depan pintu, dimana disana ada satu sepatu flat perempuan, satu sandal lelaki dewasa, dan dua sandal anak berbeda ukuran.


Dadanya tiba- tiba berdetak sangat kencang.


Apakah ini sebuah kunjungan resmi atau hanya berkunjung untuk silaturahmi saja?


Sejak perceraiannya dengan Nawang, seingatnya ibunya belum pernah cerita kalau Nawang pernah datang mengunjungi ibunya.


Ah ya, dulu saja Nawang akan sampai di rumah ini kalau datang bersamanya saja.


Dan sekarang perempuan itu datang kesini. Dalam rangka apa kedatangannya ini?


Hanya sekedar mengantar Bintang, pamer kekasih barunya yang bermobil, atau ada hal lain?


Tak lagi bisa menahan rasa penasarannya, Dani bergegas melepas sepatunya dan meletakkan di pinggir agak jauh dari pintu, kemudian mengucapkan salam yang membuat ketiga orang yang sedang berbincang di dalam nampak kaget.


Dengan membalas salamnya ketiganya berdiri menunggunya mendekat.


Dengan wajah ramah diterimanya uluran tangan hangat Richard yang menyapanya dengan senyum manisnya.


"Nggak janjian malah kita bisa ketemu disini ya, Mas." kata Richard masih dengan senyumnya.


"Iya. Udah lama, Mas?" tanya Dani beranjak duduk setelah menyalami ibunya dan Nawang.


"Ayah....!" kepala Dani menoleh cepat ke arah suara Bintang yang setengah berlari mendekat ke arahnya diikuti satu bocah tampan yang kemudian ikut salim padanya.


"Siapa ini namanya?" tanya Dani hangat saat Darren salim padanya.


"Darren." jawab Darren singkat.


"Om siapa?" tanya Darren dengan wajah penasaran.


"Ini ayahku. Namanya Pak Dani." kata Bintang menjawab cepat.


"Oooo, papanya mas Bintang." kata Darren sambil mengangguk- angguk.


"Bukan papa....ayah! Kalau papaku Pak Richard." sahut Bintang sambil menatap dan menunjuk Richard.


Deg!


Susah payah Dani menelan salivanya mendengar penuturan Bintang.


Bahkan Bintang tanpa ragu sudah menyebut pria itu papanya.


Ditangkapnya senyum senang Richard yang menatap Bintang dengan tatapan sayang.


"Jadi kita punya dua dua ya, mas? Aku punya papa Richard dan Daddy Bram, mas Bintang punya ayah Dani dan papa Richard, hihihi...." kata Darren sambil terkikik geli.


Tak disadarinya keempat orang dewasa di depannya tengah membeku dengan pikiran dan perasaan berkecamuk mereka masing- masing.


Bintang dan Darren kemudian kembali ke ruang tengah setelah membawa masing- masing satu susu kotak yang diulurkan Nawang pada mereka.


"Udah lama,Mas sampainya?" tanya Dani membuka percakapan.

__ADS_1


"Belum ada setengah jam." jawab Richard sambil melihat jam tangannya.


"Naik motor berapa jam kalau dari sana, Mas?" tanya Richard kemudian, mencoba tetap menjaga komunikasi walau dengan percakapan receh semacam ini.


"Dua jam tadi. Kalau bawa mobil malah bisa lebih lama ya?" tanya Dani masih mengumpan pertanyaan untuk memperpanjang percakapan.


" Iya. Dua setengah jam kita tadi ya, Non?" sahut Richard sambil menoleh pada Nawang yang kemudian mengangguk mengiyakan.


Nawang melihat kening Dani mengernyit saat Richard memanggilnya dengan sebutan 'Non'.


Mungkin dia penasaran atau keheranan dengan panggilan itu.


"Kita bicara sekalian sama ayahnya Bintang, nggak papa?" tanya Richard lirih sambil menyentuh lengan Nawang yang terlihat agak kaget.


"Ha?" tanya Nawang nampak bingung.


Bicarain apa?


"Rencana kita tiga minggu lagi." kata Richard seperti bisa membaca pertanyaan lewat mata Nawang.


Nawang nampak berpikir sejenak sebelum kemudian berucap pelan.


"Monggo.( silakan)." kata Nawang pelan.


Dani tentu saja penasaran melihat interaksi Richard dan Nawang itu.


Ada rencana apa mereka berdua, kok perlu ngomong dengannya?


Setelah mengangguk kecil pada Nawang, kemudian menegakkan duduknya agar terlihat lebih formal, Richard kemudian menatap Dani dengan serius.


"Begini, Mas Dani....kedatangan kami kesini hari ini selain untuk mengantar Bintang ketemu simbahnya, juga untuk mengundang dan meminta restu pada Ibu untuk acara pernikahan kami tiga minggu ke depan. Berhubung kita malah ketemu disini, maka sekalian kami berdua, saya dan Nawang mengundang dan menunggu kehadiran Mas Dani besok pada acara pernikahan kami. Rencananya akan dilaksanakan di rumah Nawang dan hanya ijab qobul saja. Untuk detail dan resminya nanti kami antarkan undangannya." kata Richard sangat tenang dan gamblang.


Nawang memilih menundukkan pandangannya.


Tak ingin tahu ekspresi wajah Dani saat ini yang seperti baru saja tercekik dan tak bisa bernafas mendengar penuturan Richard.


Nawang akan segera menikah dengan lelaki tampan dan terlihat sangat mapan ini.


Masih berkubang dalam rasa bersalahnya pada Nawang dan Bintang.


Dan ternyata perempuan yang membuatnya terkepung rasa bersalah itu kini sudah akan menikah lagi.


Secepat itukah melupakannya?


Dani tersenyum miris dalam hati.


Memangnya hal baik apa pada diriku yang bisa membuat Nawang harus terkenang padaku? Aku hanya suami tak berguna dan pecundang yang memang harus segera disingkirkan dari ingatan Nawang agar tak selalu merasa sedih dan pedih.


Dani tersentak dari lamunannya karena ibunya menepuk lengannya pelan.


Dengan tergeragap Dani kemudian memasang senyum di wajahnya.


"Ya...ya....Selamat ya Mas, Wang untuk rencana pernikahannya. Saya pasti datang. Ibu juga pasti datang. Semoga semuanya berjalan lancar." kata Dani dengan suara tergagap.


Richard tersenyum senang.


"Aamiin....aamiin...." sahut Richard kemudian.


"Setelah menikah nanti kami rencananya akan tinggal di daerah Kalasan, besok biar di shareloc kalau Mas mau ketemu dan main sama Bintang." lanjut Richard memutuskan berbicara lebih dalam soal rencananya ke depan yang berhubungan dengan Bintang.


Bagaimanapun Dani adalah ayah Bintang yang berhak tahu dimana dan bagaimana anaknya akan tinggal dan hidup.


"Ya....ya.....makasih, Mas. Terus sekolahnya Bintang bagaimana besok?" tanya Dani ingin tahu.


"Tetap di TK yang sama. Sengaja nggak dipindah, nanggung juga kan, cuma tinggal satu semester lagi. Lagipula biar bude Darmi nggak langsung merasa kehilangan Bintang juga. Besok ngalah ngantar jemput aja nggak papa. Kalau masih pengen main kan bisa pulang ke bude Darmi dulu, dijemput sore. Gimana enaknya saja lah, Mas. Bisa dipikir sambil jalan." jawab Richard bijaksana.


Dani hanya mampu mengangguk.


"Titip anak saya ya, Mas." kata Dani kemudian dengan suara bergetar,. Membuat Nawang tersentak dan menatap Dani.

__ADS_1


Dilihatnya wajah mantan suaminya itu memerah seperti menahan tangis.


"Pasti, Mas. Kebetulan Bintang juga sayang sekali sama Darren. Saya janji akan menjaga dan membesarkan Bintang sebaik mungkin." kata Richard sambil menepuk- nepuk lengan atas Dani bersahabat.


"Saya sudah jadi ayah yang buruk buat dia. Saya menyesaaaal sekali. Tapi saya bersyukur karena saya tahu dia akan punya papa yang baik dan menyayanginya. Dia selalu sangat senang menceritakan semua hal yang dia lakukan bersama Anda." kata Dani sambil menunduk dalam.


Ada trenyuh di hati Richard mendengar penuturan Dani barusan.


Seperti sebuah pengakuan kalah seorang lelaki dewasa saat bersaing mendapatkan sebuah pengakuan.


Dani seolah mengakui bahwa Richard lebih baik dari dirinya dalam menyayangi dan disayangi Bintang.


Pasti sakit sekali menyadari hal itu.


"Kita akan membesarkan Bintang bersama- sama, Mas. Saya dan Nawang nggak akan menghalangi kedekatan Mas dan Bintang nantinya. Silakan hubungi saya kapan saja kalau Mas Dani ingin ketemu atau membicarakan masalah Bintang." kata Richard akhirnya.


Menghubungi Richard?


Bukannya harusnya dia berdiskusi dengan Nawang kalau ingin membicarakan Bintang?


Kenapa malah harus sama Richard?


"Saya dan Nawang sudah sepakat soal anak- anak. Dalam pernikahan kami ini masing- masing membawa satu anak dari pernikahan sebelumnya. Untuk menjaga perasaan kami masing- masing, kami berdua membuat kesepakatan kalau masalah Darren yang membicarakan adalah Nawang dan mamanya Darren, dan soal Bintang pun begitu. Nantinya yang akan berkomunikasi adalah kita berdua, bukan Mas dan Nawang. Tentu saja nanti kami saling tahu bagaimana- bagaimananya. Jadi saya mohon pengertiannya." kata Richard seperti tahu apa yang ada dalam pikirannya.


Dani kembali hanya mampu menganggukkan kepalanya mengerti.


Dia semakin tahu garis tegas antara dirinya dan Nawang.


Dia semakin sadar harus berdiri dimana bila berhadapan dengan Nawang.


Ya, harusnya dia sadar, ceritanya dengan Nawang sudah berakhir sejak mereka bercerai.


Bukan....bahkan sejak sebelum itu. Mungkin sejak dia melakukan pengkhianatan dulu.


Dan kini garis itu semakin dipertegas oleh Richard, seseorang yang akan memiliki hak penuh atas Nawang.


Perempuan itu tak akan pernah bisa diraihnya lagi.


Selamanya.


"Ayo masuk dulu." lamunan panjang Dani terpenggal oleh sentuhan tangan ibunya yang mengajaknya masuk ke rumah.


Dengan langkah yang seperti melayang, Dani mengikuti langkah ibunya ke dalam.


Entah mengapa dia sangat ingin menangis saat ini.


Dia merasa semua yang dimiliki telah hilang, pergi meninggalkannya tanpa bisa dicegah.


Nawang.


Dan juga Bintang.


"Doakan saja semoga mereka bahagia. Mereka pantas bahagia." kata ibunya yang seolah mengerti apa yang tengah berkecamuk di hatinya.


"Seharusnya aku yang membahagiakan mereka, bukan Richard." kata Dani seperti tak terima.


"Kamu sudah diberi kesempatan lebih dulu untuk membahagiakan mereka berdua, tapi kamu menyia- nyiakan kesempatan itu." kata ibunya menohok.


"Ikhlaskan, Dan. Kamu nggak kehilangan semuanya. Bintang tetap anakmu. Dan kamu tetap bisa ikut merawatnya. Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin untuk menebus kesalahanmu." kata Bu Halimah lembut.


Dani hanya mampu menganggukkan kepalanya.


Lidahnya kelu. Kerongkongannya tercekat oleh penyesalan yang rasanya ingin meledakkan seisi hatinya.


"Sudah.....sudah.....Nawang berhak mendapatkan laki- laki yang jauh lebih baik dari kamu dalam memperlakukan dia. Ikhlaskan." kata ibunya lagi yang kini membuatnya tak mampu lagi menahan tangisnya.


Dia kini terguguk di pangkuan ibunya.


Sungguh menyesali semua hal buruk yang dia perbuat di masa lalu.

__ADS_1


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2