
Bintang dengan sangat gembira berpamitan pada pakde dan budenya untuk berangkat sekolah pagi ini dan mau dijemput bude Darmi saat pulang nanti kemudian akan dijemput papanya sore harinya untuk di ajak pulang ke rumah yang akan mereka tempati selanjutnya.
Seperti permintaan Nawang, Richard tetap tak bergeming dari balik kemudi saat sampai di depan sekolah Bintang yang ternyata sangat ramai oleh ibu- ibu yang juga mengantarkan sekolah anaknya.
Nawang turun bersama Bintang setelah Bintang salim pada papanya.
"Sekolah yang pinter ya." kata Richard sambil memeluk anak itu dengan hangat.
"Iya. Assalamualaikum, Pa." pamit Bintang riang sebelum turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam, Nak." jawab Richard dengan dada yang penuh haru.
Bagi orang lain mungkin kegiatan mengantarkan anak sekolah seperti ini adalah hal biasa, bahkan ada yang merasa repot melakukannya.
Tapi bagi Richard kegiatan seperti ini adalah salah satu mimpinya.
Ya,walaupun dia memliki Darren tapi tak bisa dia memonopoli Darren karena harus berbagi peran juga dengan Bram.
Tapi kehadiran Bintang di hari- harinya kelak adalah sebuah jalan untuk mewujudkan mimpi- mimpi sederhananya namun sungguh berharga untuk jiwanya.
Walaupun sepenuhnya Richard juga sadar kalau Bintang juga punya ayah yang harus dia hargai juga eksistensinya nanti, tapi setidaknya dia jelas akan punya porsi lebih banyak waktu dengan Bintang.
"Kita mau kemana setelah ini,Mas?" tanya Nawang yang sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Pulang. Atau kamu pengen kemana dulu,aku anterin." tawar Richard sebelum melajukan mobil meninggalkan halaman sekolah.
Nawang nampak sedikit berpikir sebelum menjawab.
"Nganter ke pasar mau?" tanya Nawang ragu.
"Pasar?" tanya Richard meyakinkan pendengarannya.
"Iya. Tadi Bintang minta di bikinin sayur kuning. Dia paling suka kalau ada tahunya." jawab Nawang.
Richard yang kini nampak berpikir.
Seumur- umur dia belum pernah mendekat ke satu tempat yang di sebut pasar, apalagi masuk.
Boleh juga sih untuk pengalaman baru.
"OK. Kita ke pasar mana?" tanya Richard akhirnya.
Nggak apalah, nyenengin istri juga.
"Nanti aku tunjukin pasar yang searah pulang. Tempat parkirnya juga luas buat mobil. Atau.... kita main ke pasar Prambanan aja yuk, Mas!" tiba- tiba Nawang bersemangat mengutarakan idenya.
"Baiklah.....kita kesana, Nyonya." jawab Richard kemudian menambah laju kecepatan mobilnya.
Tujuan sudah pasti, main ke pasar Prambanan.
Ayyeeeee....!!! đđđ
"Pengantin baru yang lain, hari kedua nikah itu biasanya perginya ke destinasi honeymoon. Tapi istriku ini ngajaknya belanja. Bukan belanja barang branded atau perhiasan, tapi belanja sayuran, ke pasar pula." kata Richard tertawa sambil menggeleng- gelengkan kepalanya heran.
"Karena pengantinmu ini sudah punya anak,Mas ganteng." kata Nawang sambil tersenyum mengerling padanya.
"Ya....ya....ya....Padahal untuk makan sebenarnya tinggal pakai aplikasi aja udah beres." kata Richard sambil tersenyum.
"Di aplikasi nggak ada sayur kuning buatan Bu Nawang, Tuaaaan." sahut Nawang.
Richard tergelak sambil mengangguk- angguk membenarkan.
"Padahal waktu buat belanja dan masak sebenarnya bisa buat berkegiatan yang lebih bisa mengeluarkan keringat." kata Richard seperti gumaman.
"Olah raga?" tanya Nawang dengan polosnya.
__ADS_1
"Smackdown!" jawab Richard sambil mendekatkan mulutnya ke kepala Nawang, lalu menyambar pipinya cepat.
Membuat perempuan itu terkikik geli.
"Maunyaaaa....." sergah Nawang begitu mengerti yang diimaksud Richard.
Richard terkekeh menikmati belaian tangan Nawang di dagunya.
"Kamu pengen makan apa, Mas?" tanya Nawang kemudian.
Richard mengerjap bingung.
Tiba- tiba blank dengan keinginannya. Karena saat ini di otaknya hanya ada satu keinginan, mengulangi petualangan hebat semalam bersama Nawang.
Nggak ada keinginan lain.
"Makan kamu." jawab Richard akhirnya.
"Makan aku aja beneran kenyang?" tanya Nawang menggoda.
"Kenyang. rohaninya." jawab Richard sambil mengerling.
"Aku selain bisa mengenyangkan rohani, juga bisa mengenyangkan jasmani.Beneran!" sahut Nawang dengan keyakinan tinggi.
"Jasmaniku mau kamu kasih apa juga nurut, ngikut aja." kata Richard pasrah.
"Ulu....ulu....ulu....nrimo ne (pasrah menerima) mas gantengkuuuu." kata Nawang sambil mengelus- elus lengan atas suaminya.
"Daripada ntar dihukum nggak boleh minta kelon, kan garing." seloroh Richard yang kemudian mendapat hadiah tabokan di pahanya.
"Kita parkir di atas aja, Mas. Lewat sisi timur." kata Nawang begitu mobil lepas dari traffic light selatan candi Prambanan dan berbelok ke kanan.
"OK." jawab Richard sambil memutar kemudi ke kiri,maju beberapa meter sambil menyalakan sign ke kanan lalu mengarah ke jalan menanjak yang mengarah ke lantai paling atas bangunan pasar.
"Luas juga parkiran mobilnya. Kalau motor di bawah tadi ya parkirnya?" tanya Richard sambil sibuk memeriksa dompet dan ponselnya sudah di saku celana belum.
Bukannya pasarnya beratap ya? Kan nggak bakalan kepanasan....
"Ada. Nih." jawab Richard sambil meraih topi hitam yang ada di kantong belakang joknya.
"Dipakai aja." kata Nawang memerintah.
"Kenapa harus pakai topi?" tanya Richard keheranan walau tetap menuruti keinginan istrinya.
Dipakainya topi itu dengan style dibalik, mancungnya dia taruh dibelakang.
"Kalau kayak gitu makainya, kamu malah tambah keliatan ganteng, Maaas." protes Nawang sambil tertawa gemas, membuat Richard mendadak salah tingkah.
"Oooh, maksudnya aku disuruh pakai topi biar ketutupan gantengku?" tanya Richard sambil tertawa geli.
"Bukaaaan. Buat nutupi wajah kayamu. Aku lupa kalau kamu itu full berpesona uang. Kalau beli- beli di pasar bisa dimahalin harganya, ketauan tajirnya." kekeh Nawang yang tak menolak rangkulan gemas Richard di bahunya.
Keduanya turun ke lantai 3 pasar yang biasanya dijadikan tempat jual beli sayuran dalam partai besar.
"Katanya mau beli sayuran. Kok malah turun?" tanya Richard keheranan sambil tetap mengikuti langkah gesit Nawang menuruni tangga menuju lantai dua.
"Kita belanjanya di lantai dua. Kalau yang diatas buat partai besar.." jelas Nawang.
Dan benar saja. Walau tak ada kegaduhan sama sekali, tapi Nawang bisa langsung menangkap pandangan penuh rumbai- rumbai melambai dari makhluk- makhluk perempuan beraneka rupa dan usia begitu Richard meninggalkan tangga terakhir dan melangkah menyusuri lantai dua pasar itu.
Richard yang jadi pemandangan indah pagi hari hanya kalem saja mengikuti langkah istrinya tanpa mengangkat pandangannya dari ujung jilbab bagian belakang milik istrinya.
Otaknya sedang memutar ulang apa yang ada dibalik jilbab dan gamis itu.
Tentu saja dia sangat ingat; Pinggang yang ramping dan mulus.
__ADS_1
Issssh.....dasar otak nggak ada akhlak!
Richard bergegas mengikuti Nawang yang berjongkok saat matanya kini melihat ke arah sang penjual. Seorang nenek- nenek yang benar- benar tua walau masih terlihat cukup lincah bergerak mencabik- cabik pepaya muda.
"Nyuwun cacahane gantung kalih ewu mawon Mbah ( minta cacahan pepaya mudanya dua ribu aja, Nek)." pinta Nawang sopan sambil tangannya memilih tiga buah terong ungu dan kemudian mengambil dua buah kentang lalu di dekatkan ke arah nenek penjual agar mudah menghitungnya nanti.
"Nggih, Mbak. Kaliyan menopo malih? (ya, mbak. Sama apa lagi?)," tanya nenek itu kali ini sambil tersenyum pada Richard sebelum menimbang terong dan kentang kemudian dimasukkan ke kantong kresek bersama seplastik cacahan pepaya muda.
Halaaah, simbah- simbah aja mau cuci mata segala kalau ada barang bagus âšī¸
"Loncange kalih ewu nggih, Mbah ( daun bawangnya dua ribu ya, Nek)." kata Nawang sambil mengangsurkan satu bulatan kubis ke arah nenek yang semakin lebar tersenyum.
"Simbah le sadean pun dangu, Mbah? ( Nenek jualannya udah lama, Nek?)." akhirnya Richard bersuara penasaran.
"Sampun, Mas. Awit tasih prawan pun ten peken. Alhamdulillah dugi sakniki putu kulo pun wolu.( Sudah, Mas. Sejak gadis udah ke pasar. Alhamdulillah sampai sekarang cucu saya sudah delapan)." jawab sang nenek dengan tersenyum- senyum malu.
Ya ampun, Mbah....
Richard mengangguk- angguk sambil tersenyum kagum.
"Mbah Kakung tasih sugeng, Mbah?( kakek masih hidup, Nek?)" tanya Richard lagi.
"Sampun tilar dangu, Mas. Kolo anak mbajeng kulo mlebet SMP. Ketabrak truk wangsul ndugekke anak kulo sing SMP niku. Ten rumah sakit sedinten langsung tilar. ( Sudah meninggal lama, Mas. Saat anak pertama saya masuk SMP. Ketabrak truk sepulang nganter anak saya yang SMP itu. Dirumah sakit sehari terus meninggal)." jawab nenek itu malah sekalian bercerita.
Nawang ikut memperhatikan cerita nenek itu.
"Lha Simbah kolo mben mboten kromo malih, Mbah? ( lha nenek dulu nggak nikah lagi, nek?)" tanya Richard sambil tersenyum usil.
Si nenek hanya terkekeh- kekeh.
"Oalah, Mas....sinten sing purun ngopeni rondo anak tiga, gek mulai remagat ( Oalah, Mas...siapa juga yang mau sama janda anak 3 yang mulai membutuhkan biaya)" kata nenek tersebut sambil tertawa geli.
"Simbah kereeeen.....putrane pun mentas sedaya nggih Mbah sak niki? ( Nenek kereeeen, anak- anaknya sudah berumah tangga semua sekarang Nek?)" tanya Richard lebih dalam.
" Alhamdulillah sampun, Mas.Nggih sak gesang- gesange, Mas. Sing mbajeng nggih namung ten sabin kalih ten proyek. Sing nomer kalih tumut bojone ten Depok riko, kerjo ten pabrik sareng bojone. Ragile dados guru ten Ungaran, dereng wonten sing momong ( Alhamdulillah sudah, Mas. Ya, hidup seadanya, Mas. Yang sulung ya hanya di sawah sama kerja di proyek. Yang nomer dua ikut suaminya di Depok sana, kerja di pabrik bareng suaminya. Yang bungsu jadi guru di Ungaran, belum ada pendamping)."
Nawang menoleh ke kanan ke kiri khawatir obrolan mereka menghalangi orang yang mau berbelanja di nenek ini.
Tapi untungnya pasar lumayan masih sepi.
"Sampun, Mbah. Sedaya dados pinten, Mbah? (sudah, Nek. Semuanya jadinya berapa?)" tanya Nawang mencoba memotong pembicaraan sejarah nenek.
"Sedoyo dados gangsal welas , mbak ( semuanya jadi lima belas ribu, mbak)." jawab Simbah dengan tersenyum.
Richard bergegas mengulurkan seratus ribuan pada sang nenek yang disambut raut kebingungan di wajah renta itu.
"Aduh, Mas, artane sing alit mawon. Dereng wonten kondure niki ( aduh, Mas, uangnya yang kecil aja Belum ada kembaliannya ini)." kata nenek itu sambil mengulurkan kembali uang itu dengan wajah malu dan gusar.
"Mboten sah diwangsulke, Mbah. Kagem Simbah mawon. Dingge numbaske oleh- oleh wayahe mangke ( nggak usah dikembalikan, Nek. Buat nenek aja. Buat beliin oleh- oleh untuk cucunya nanti)" kata Richard sambil beranjak berdiri dan meraih plastik kresek belanjaan dari tangan Nawang yang tersenyum melihat kelakuan Richard itu.
Richardku yang dulu. Yang sangat dermawan dan lembut hati.
"Mbak, pripun niki? ( mbak, gimana ini?)" tanya nenek itu sambil menatap Nawang khawatir tapi juga tak bisa menyembunyikan raut bahagianya.
"Pun, diasto mawon, Mbah. Dingge penglaris ( udah dibawa aja, Nek. Untuk penglaris)." kata Nawang sambil tersenyum manis dan tulus.
Nampak airmata sudah siap meluncur dari mata senja itu.
Nawang malah trenyuh melihatnya.
"Nggih sampun, kulo tampi nggih, Mas, Mbak. Matur nuwun sanget. Mugi- Mugi dados berkah kangge Kulo sak anak putu. Berkah ugi kagem keluarganipun panjenengan kekalih ( ya sudah, saya terima ya Mas, mbak. Terimakasih banyak. Mudah- mudahan menjadi berkah untuk saya seanak cucu. Berkah juga untuk keluarga anda berdua)" ucap nenek itu tersendat- sendat karena haru.
"Aamiin.....nggih sampun nggih, Mbah. Kulo pamit riyin. Ajeng pados tahu ( aamiin....ya udah ya, Nek. Saya pamit dulu. Mau nyari tahu)" pamit Nawang sambil menarik lembut lengan Richard.
"Sehat- terus nggih, Mbah." pamit Richard sambil tersenyum sebelum mengikuti langkah Nawang.
__ADS_1
đī¸đī¸đī¸ bersambung đī¸đī¸đī¸