PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
24


__ADS_3

"kamu mau atau tidak, aku akan tetap dengan keputusanku, Mas. Aku ingin berpisah denganmu. Jadi ku harap, untuk kebaikan Bintang, untuk ketenangan hidupku, dan demi lancarnya kelanjutan hubungan bahagiamu dengan kekasihmu, tolong ceraikan aku." kata Nawang setelah di tunggunya beberapa saat Dani tak juga menjawab pertanyaannya.


"Kamu nggak bisa dong ngambil keputusan sepihak gitu. Pernikahan ini kita berdua yang menjalani, bukan cuma kamu." kata Dani yang membuat Nawang kembali terkekeh.


"Apa kamu bilang? pernikahan ini kita ber- du- a yang menjalani? Serius kamu ngomong barusan?! Kamu yakin selama 5 tahun menikah denganku kamu melaksanakan kewajibanmu sebagai suami di dalam sebuah pernikahan? Yakin kamu?" tanya Nawang, kali ini dengan nada meninggi.


Wardani membisu.


Dia sadar dia tidak pernah berlaku baik pada istrinya.


Walau tak pernah melakukan kekerasan fisik, tapi dia sering dengan sengaja melukai hati Nawang.


Semua dia lakukan sebagai pelampiasan kekesalan yang dia dapat selama di luar rumah.


Tapi selama ini istrinya itu tak pernah mau membalas kelakuan buruknya itu.


Dia pikir Nawang bisa menerima perlakuan buruknya selama ini dan ikhlas menerima sakit hatinya.


"Sepulang dari sini aku harap kamu segera mengurus perceraian kita. Aku nggak mau ada keributan denganmu. Aku hanya minta kamu biarkan aku hidup tenang dengan Bintang. Aku nggak akan menuntut apapun padamu. Kehidupan Bintang semuanya biar aku yang memikirkannya. Kamu bisa menikmati kebebasanmu secara penuh." kata Nawang kemudian benar- benar berlalu dari tempat itu.


Dia tak perduli lagi pada Wardani, apalagi pada Dewi dan Dimas.


Dia hanya mengelus bahu Halimah sesaat saat dia melewati mertuanya itu.


Dia sudah sangat mengantuk dan hanya ingin segera tidur sambil memeluk Bintang, -satu- satunya harta dan penyangga hatinya selama ini.


********


"Sekarang apa yang akan kalian lakukan dengan hidup kalian ini?" tanya Halimah setelah dilihatnya Nawang telah menghilang di balik pintu.


Tatapannya tertancap pada Dimas, anaknya yang dia anggap sebagai ' korban' juga dalam skandal ini.


Dimas hanya mengurut keningnya sesaat.


Dia tahu dalam hati ibunya pasti sangat bertanya- tanya dengan sikapnya yang seperti tanpa perlawanan menerima skandal ini.


"Nggak ada yang berubah, Bu. Rumah tanggaku akan tetap berjalan seperti biasanya." kata Dimas tenang.


"Dengan tetap membiarkan mereka berdua meneruskan kegilaannya?!" tanya Halimah meninggi sambil menunjuk Dani dan Dewi.


"Sebenarnya ada rahasia apa diantara kalian hingga melakukan kegilaan ini?!" tanya Halimah sedih.


Tak mungkin rasanya bila orang biasa, akan membiarkan pasangannya berbuat tak senonoh di depannya bahkan sekian lama.


Ada apa dengan Dimas ini?


Dewi hanya menundukkan pandangannya cuek.


Dia tidak merasa harus menjelaskan apapun pada siapapun.


Hidup hidup dia, dia yang menjalani kan?


"Dan kamu Dani, kamu nggak ada niat untuk menyudahi perselingkuhanmu yang menjijikkan ini?" tanya Halimah menahan emosi.


Matanya nanar menatap Dani yang memilih kemudian menunduk untuk menghindari tatapan ibunya.

__ADS_1


Dani merasa bukan dia yang seharusnya memberikan penjelasan pada siapapun tentang skandal ini.


Seharusnya Dewi dan Dimas yang melakukan itu.


"Kalian sadar nggak sih apa yang kalian lakukan ini sangat memalukan? Sangat menjijikkan? Ya Allah....." jerit Halimah tertahan.


"Dewi, kamu nggak malu melakukan hal ini? Dua anakku kamu gagahi semua?" tanya Halimah emosi.


"Kan bukan aku yang mau, Bu. Mereka yang punya ide." jawab Dewi dengan tenangnya.


Halimah terhenyak


Ide?


Ide skandal ini?!


"Ide skandal ini?" tanya Halimah memperjelas.


"Iyalah! Aku sih ngikut aja. Enak ini kan?" jawab Dewi enteng.


Halimah membekap mulutnya sendiri agar tidak keluar umpatan dari sana.


Benarkah perempuan di depannya ini manusia?


Kenapa tak punya hati dan tak punya urat malu begini?


"Ide apa maksud kalian? Ada apa ini sebenarnya?" tanya Halimah mulai gusar .


Ada hal apa yang disembunyikan darinya yang membuat mereka bertindak gila seperti ini?


"Ide siapa ini?" tanya Halimah lagi karena tidak ada juga yang menjawab.


"Idenya Dimas, Bu." jawab Dewi akhirnya.


Halimah menatap Dewi tajam, yang malah dibalas dengan tatapan meremehkan oleh menantunya itu.


"Ya udah kalau nggak percaya." kata Dewi kemudian dengan cueknya.


"Dimas, bisa kamu jelaskan?" tanya Halimah beralih pada anak bungsunya yang sedang menatap kosong halaman di depannya.


"Aku mandul, Bu." jawab Dimas pelan.


"Ap....apa?! Kamu...." Halimah nyaris pingsan mendengarnya.


"Aku mandul. Aku sudah memeriksakan diri ke beberapa dokter dan hasilnya sama; aku mandul." kata Dimas pelan.


"Aku nggak mau saat Dewi minta cerai karena dia ingin punya anak. Aku cinta banget sama dia, Bu." kata Dimas lirih, miris di telinga Halimah.


"Akhirnya aku bilang ke Dewi untuk berhubungan saja sama mas Dani, dan dia setuju." kata Dimas pelan.


"Kamu gila! Kalian semua gila!" umpat Halimah sambil menangis.


"Jadi Deka itu anak Dani?" tanya Halimah gemetar.


"Iya." jawab Dewi tegas.

__ADS_1


Tangis Halimah pecah.


Hatinya remuk oleh kedua anaknya.


"Kenapa kalian lakukan ini?" tanya Halimah di sela- sela tangisnya.


"Nggak akan ada yang tahu, Bu. Hanya kita yang tahu." kata Dani akhirnya.


"Lebih baik Dewi berhubungan sama mas Dani daripada aku kehilangan dia atau membiarkan dia dengan pria lain.Setidaknya Deka masih sedarah denganku." kata Dimas lagi.


Tangis Halimah semakin pilu.


Bagaimana bisa anak- anaknya melakukan hal seperti ini.


Berbagi satu perempuan.


Ya Allah.....


**********


Nawang yang tadi merasakan kantuk malah kehilangan kantuknya begitu dia merebahkan tubuhnya di samping Bintang yang terlelap tenang.


Pikirannya kosong.


Dia tidak merasakan sedih.


Tidak juga merasakan bingung atau gelisah.


Jauh didalam hati dia malah merasa lega.


Perkawinan yang selama ini menjadi beban batinnya akan segera menemui titik akhirnya walau dengan cara yang menyebalkan.


Menangkap basah suaminya bercumbu dengan perempuan yang sedari dulu tak disukainya, sama sekali diluar ekspektasinya.


Tapi sudahlah.


Nawang merasa dia tak perlu memikirkan hal itu.


Mungkin inilah cara Tuhan membuka lembaran hidupnya yang lain.


Ya, tak lama lagi dia akan kehilangan suami.


Dia akan menjalani kehidupan berdua dengan Bintang setelah perceraian nanti.


Dia tak takut tak mampu menjalani hidupnya.


Dia percaya Tuhan memberinya ujian pasti sesuai dengan kapasitasnya.


Yang penting dia harus selalu sehat agar selalu bisa mencari nafkah untuk hidupnya dan Bintang, dan percaya Tuhan akan selalu bersamanya melalui setiap ujian hidupnya.


Nawang berusaha menerbitkan senyum di bibirnya.


Setidaknya dia berharap senyum itu bisa membawa hatinya ke suasana yang lebih baik.


Mulai saat ini dia akan belajar membiasakan diri hidup tanpa Dani di hari- harinya, dan tentu saja di hatinya.

__ADS_1


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2