
Richard memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi selepas Bintang yang tiba- tiba memutus telponnya.
Sampai tengah malam Richard masih saja menimang- nimang ponselnya.
Dia ingin sekali bertanya pada Nawang, tapi takutnya malah akan jadi salah paham di keluarga Nawang.
"Menyebalkan sekali." gumam Richard untuk dirinya sendiri.
Lagian kenapa coba dia sekhawatir ini mikirin istri orang?
Tapi untuk tidak perduli dia juga nggak bisa.
Apalagi setelah dia mendengar laporan tentang kehidupan yang Nawang jalani selama ini.
Ya, begitu dia pertama kali bertemu Nawang tempo hari, dia langsung menyuruh 'orang lapangan' andalannya untuk menyelidiki kehidupan Nawang sedetail mungkin.
Dari orang kepercayaannya itulah dia tahu dimana alamat rumah Nawang, suami Nawang bernama Wardani, anaknya bernama Bintang.
Dia juga masih terus menyelidiki lebih dalam tentang keadaan ekonomi Nawang yang jelas dia tahu pasti berada jauh di bawahnya.
Dari penyelidikan yang dilakukannya, suami Nawang adalah seorang karyawan pabrik biasa, tidak ada kerja sambilan apapun.
Bahkan dia sudah tahu berapa gaji Nawang dan suaminya.
Dan gabungan gaji mereka berdua setiap bulannya jelas bukan apa- apanya dibandingkan dengan penghasilannya sebagai seorang pemilik perusahaan property kenamaan di negara ini.
Belum lagi penghasilan yang dia dapat bila dia menjadi arsitek yang mana client yang mendatanginya pasti akan sangat mau membayar mahal desain gambarnya.
Belum lagi income yang dia hasilkan dari dia bermain saham.
Kenapa melihat kehidupanmu membuatku merasa bersalah begini sih, Non?
Richard tertidur menjelang jam dua pagi, masih dengan ponsel di genggaman tangannya.
********
Nawang masuk ruangannya dengan lesu pagi ini.
Tak dipedulikannya tatapan Nayla padanya.
Selain kurang tidur karena semalam Bintang agak rewel, juga karena perasaannya sedang terluka lagi.
Dan penyebab luka hatinya juga masih tetap orang yang sama, suaminya.
"Lesu amat, Mbak. Kenapa?" tanya Nayla lembut dari kursinya.
Dia tahu Nawang pasti akan menjawab sekedarnya.
Dan itu tentu saja tidak memuaskan hatinya.
"Ngantuk. Semalem Bintang agak rewel." jawab Nawang sambil mengangkat kedua tangannya lurus ke atas kepalanya dan menggoyang- goyangkan badannya yang telah duduk manis di singgasananya.
"Pas dijahit dia nangis kejer nggak, Mbak?" tanya Nayla penasaran.
"Enggak. Dari dulu dia nggak pernah nangis kejer. Nangis juga jarang banget dari kecil dulu. Kemarin nangis biasa aja." jawab Nawang kemudian menguap.
Kayaknya dia hari ini harus berkawan dengan kopi dan obat masuk angin cair.
Tatapan Nawang beralih ke ponselnya yang menyala.
Dia lupa tidak menghidupkan volume ponselnya.
Sebuah pesan muncul. Dari Richard.
Jangan lupa motormu nanti siang diambil. Bengkelnya barusan ngabarin kalau sudah siap diambil.
Nawang kaget dan heran dalam hati.
Kok bisa orang bengkel malah ngabarinnya ke Richard?
Kok malah ngabarinnya ke anda, Pak?
Richard terkekeh pelan.
Kemarin kamu sibuk nyari ojol, makanya aku kasih aja nomerku ke bengkelnya. Daripada kelamaan kan?
Nawang menepuk dahinya tanpa sadar.
__ADS_1
"Kenapa, Mbak?" tanya Nayla yang kaget karena Nawang cukup keras menepuk dahinya hingga suaranya terdengar oleh Nayla.
"Aku hampir lupa kalau nanti siang aku harus ngambil motorku di bengkel." jawab Nawang dengan wajah yang diipasang lurus- lurus saja.
Padahal hatinya masih keheranan kapan Richard memberikan nomer ponselnya ke pihak bengkel.
Mungkin benar, kemarin dia terlalu fokus dengan kepentingannya mencari ojol.
Nawang kemudian membalas chat Richard.
Terimakasih.
Belum juga matanya beranjak dari layar ponsel, pesan dari Richard masuk lagi.
Sama- sama.
Dan Nawang tak merasa perlu memperpanjang obrolan lagi.
Diletakkannya ponselnya, kemudian dia memilih memulai memeriksa nota- nota belanja yang kemarin dia tinggalkan di bawah keyboard komputernya.
*********
Nawang memandang tak percaya ke arah motor yang kata pegawai bengkel adalah motornya.
Sekali lagi dia melihat plat nomor polisi motor itu.
Itu memang benar motornya bila dilihat dari nomor polisinya.
Tapi kenapa motornya jadi berubah sebagus ini?
Kenapa bisa kayak baru gini tampilannya?
Hati Nawang mulai deg- degan.
Perutnya serasa diremas- remas karena gelisah.
Diterimanya uluran kunci dari seorang pegawai bengkel.
Diamatinya gantungan kuncinya. Itu memang kunci yang dia ingat adalah miliknya.
Pelan dicobanya memasukkan kunci itu ke lubang kunci, dan masuk dengan sukses.
Dia ingat jelas, pemuda ini yang kemarin menerima motor bocornya.
Dia yakin ini nggak cukup sejuta, secara body motor yang tadinya lusuh kini terlihat baru semua.
Gimana nanti dia bayarnya?
Nawang menatap tajam pegawai muda yang nampak takut menatapnya balik.
"Saya cuma disuruh mengganti, Bu." jawab pemuda itu takut- takut.
"Siapa yang nyuruh?" tanya Nawang dengan nada suara lebih pelan karena dilihatnya pemuda itu takut padanya.
"Suami Ibu kemarin yang meminta kami mengganti dan mereparasi semua yang perlu." kata seseorang yang menghampiri Nawang setelah di dengarnya Nawang bersuara agak keras tadi.
Nawang menoleh dengan tatapan bingung.
"Su....suami saya?" tanya Nawang bingung.
Nggak mungkin rasanya suaminya kelayapan sampai sini di jam- jam kerja, secara lokasi tempat kerjanya jauh dari sini.
"Yang menjemput anda kemarin, Mbak. Kemarin dia meminta kami mengganti semuanya." papar lelaki tengah baya dengan wajah ramah itu.
Nawang langsung paham.
Kelakuan Richard ternyata.
Harusnya dia waspada dan tak boleh lupa pada ketengilannya.
Pakai ngaku- ngaku sebagai suaminya segala lagi.
"Tapi uang saya nggak cukup untuk membayar semua ini, Pak." kata Nawang akhirnya dengan wajah memelas dan suara putus asa.
"Sudah dibayar tadi sama suami Anda, tenang saja." kekeh lelaki itu.
Nawang tersenyum kaku dan bernapas lega, walau dalam hatinya sangat malu pada Richard.
__ADS_1
Sudah pasti laki- laki itu sangat iba padanya, dan dia tidak suka itu.
Tiba- tiba ponselnya berdering.
Dari Richard.
"Udah,bnggak usah protes." suara Richard langsung menyerbu sebelum Nawang membuka mulutnya.
"Ngapain juga kamu mencak- mencak sama anak bengkel. Kasian tahu." masih nyerocos Richard.
Nawang mendengus kesal.
Kenapa orang itu tahu kalau dia memarahi anak bengkel barusan.
Nawang langsung bersikap waspada.
Jangan- jangan orang itu ada disini.
Nawang mengedarkan pandangannya keluar bengkel.
Memicingkan matanya sejauh mungkin untuk mendeteksi keberadaan Richard.
"Arah jam empat, Sayang." suara Richard terdengar sambil terkekeh.
Dari gerak tubuh Nawang, Richard tahu kalau Nawang sedang mendeteksi keberadaannya.
Nawang membalikkan badannya dan melihat Richard dengan santainya menatapnya dari sudut ruangan bengkel, di dekat cooler yang penuh dengan soft drink.
Nawang mendengus kesal.
Dia menghentakkan kakinya sebelum memburu ke arah Richard yang duduk tenang menunggunya.
"Suka motor barunya?" tanya Richard tanpa memperdulikan wajah emosi Nawang.
Perempuan itu sudah tidak tahu lagi harus marah dan sebel macam apa pada pria tampan di depannya ini.
Saat ini Nawang malu sekali dan juga sangat jengkel dengan keseenakjidatannya Richard pada motornya.
Ya memang, motornya memang motor tua dan lusuh.
Dan memang Richard pasti sangat mampu merombak motornya itu, bahkan membelikannya motor baru.
Tapi laki- laki itu tidak berpikir bagaimana nanti dia harus menjawab pertanyaan suaminya soal dari mana dia dapat uang untuk meng up grade motornya.
Nggak mungkin kan dia bilang kalau semua dibiayai oleh bossnya atau bilang kalau mantan pacarnya yang membiayai semuanya?
Kelakuan Richard ini akan menyulitkan hidupnya yang memang telah sulit.
Semua kekesalan yang tak mungkin dia curahkan pada Richard, kini terwakili oleh airmata yang begitu saja mengalir deras dipipinya.
Richard yang tak menyangka dengan reaksi melow Nawang itu spontan berdiri dari duduknya dan bergegas memeluk Nawang karena kelakuan mereka telah diperhatikan para penghuni bengkel.
"Surprise dia. Jadi nangis." kata Richard sambil tertawa malu pada para penontonnya.
Nawang bergegas membebaskan dirinya dari pelukan Richard, kemudian menghapus air matanya dengan gerakan kasar.
"Menyebalkan!" rutuknya. Matanya berkilat marah menatap Richard.
Pria itu masih terkekeh.
"Dasar cengeng." kata Richard kemudian membalikkan badan Nawang dan mendorong lembut bahunya agar melangkah mendekati motornya.
"Kamu belum makan siang juga kan? Ayo kita cari makan terus kamu balik kerja." kata Richard.
"Saya langsung balik kerja aja. Terimakasih banyak untuk semua ini. Akan saya kembalikan saat saya gajian." kata Nawang datar.
"Kelamaan!" jawab Richard cepat.
"Apanya yang kelamaan" tanya Nawang bingung.
"Ngembaliinnya......" jawab Richard.
Nawang tertunduk lesu.
Kalau Richard mau uangnya kembali saat ini juga,itu jelas nggak mungkin bisa dia penuhi.
Tuhaaaan, tolong aku......
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️