
"Boleh. Melihat kondisi kesehatan Eric, dilihat dari rekam medisnya, bisa banget promil dengan konsepsi natural." jawab dokter Melia santai.
"Natural.....coi tus gitu, Dok?" tanya Richard ragu- ragu.
"Iya. Mau hamil secara natural kan memang harus coi tus kan?" tanya balik dokter Melia dengan tawa geli melihat wajah linglung Richard.
"Kami boleh melakukannya tanpa pengaman, Dok?" tanya Nawang dengan wajah keheranan dan terkejut.
"Ya kalau mau hamil memang harus tanpa pengaman, biar si gesit bisa ketemu si comel secepatnya di rahimmu." kata dokter Melia santai.
Dia menahan tawa melihat wajah takjub dan tak percaya dua orang di depannya.
Mungkin bisa coi tus tanpa pengaman dalam rumah tangga mereka tadinya tak masuk dalam agenda hidup dua orang ini.
"Beneran?!" tanya keduanya bersamaan.
"Iya! Tapi hanya boleh dilakukan selama masa ovulasi ( masa subur), tiga hari. Makanya harus kita hitung dengan teliti kapan masa subur Nawang agar perjuangan kalian ada hasilnya." kata dokter Melia sambil tersenyum menggoda.
"Apa....itu beneran aman, Dok? Promil secara natural itu." tanya Nawang ragu- ragu.
"Sejauh yang sudah terjadi selama ini, aman- aman saja. Apalagi ini yang positif bapaknya. Ini lebih aman bila dibanding kalau ibunya yang positif. Yang penting selama masa pembuahan yang tiga hari itu, si ibu tidak tertular HiV, maka akan aman bagi si bayi.@." jawab dokter Melia.
Nawang semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Richard bahkan merasakan genggaman itu sedikit gemetar dan berkeringat dingin.
"Status HIV anak HANYA TERPENGARUH dari status HIV ibunya. Selama ibunya tetap negatif maka si anak SUDAH PASTI negatif pula. Status HIV si bapak sama sekali tidak berpengaruh langsung kepada si bayi@." lanjut dokter Melia semakin meyakinkan dan memupus segala kekuatiran Richard dan Nawang.
"Kalau proses inseminasi gimana, Dok?" tanya Richard.
"Proses inseminasi kita lakukan kalau proses secara natural tidak berhasil atau tidak bisa dilakukan. Misalnya fertilitas kurang memadai atau salah satu pihak tidak yakin dengan proses natural, bisa kita lakukan inseminasi dengan cara wash spe rm ( cuci sper ma)." kata dokter Melia.
Nawang dan Richard mengangguk mengerti.
"Kalau saranku, kalian coba dulu yang natural. Kondisi Eric sangat memungkinkan dan sangat aman. Nawang juga sudah ikut cek VL dan CD4 dan tetap negatif. Apalagi yang dicemaskan?" tanya dokter Melia meyakinkan.
"Berani coba natural? Atau mau inseminasi aja?" tanya Richard pada Nawang. Matanya nampak jelas sangat penuh harap.
Bismillah. Bila ini baik untuk kami semua, tolong mudahkan dan lancarkan ya Allah.....
"Ya! Kita coba natural, Mas." jawab Nawang yakin.
Richard tersenyum dengan mata yang tiba- tiba berkaca- kaca. Dia ingin menangis haru saat ini.
Memutuskan promil dengan natural walaupun di bilang sangat aman, tapi tetap saja ada kemungkinan menanggung resiko yang sangat besar.
Dan Nawang dengan tanpa ragu tetap mengambil resiko itu.
"Peluk saja kalau ingin memeluk. Aku nggak akan iri." seloroh dokter Melia saat melihat keduanya saling menahan tangis.
Seperti dikomando, Richard segera memeluk Nawang dan terisak- Isak di bahu istrinya itu.
"Te ri ma ka sih.... te ri ma ka sih....." ucap Richard tersendat- sendat disela- sela isakannya.
Nawang hanya mengangguk- angguk sambil menepuk- nepuk punggung suaminya dengan lembut. Airmatanya juga mengalir deras tanpa dia bisa menahannya.
Dokter Melia yang melihat pemandangan mengharukan di depannya tak urung ikut terbawa suasana juga.
__ADS_1
Ada setitik airmata terbit di sudut matanya.
Padahal sudah banyak pasangan yang melakukan adegan sama persis seperti yang dilakukan Richard dan Nawang di depannya ini. tapi entah mengapa selalu saja membuatnya ikut baper.
Ia seperti melihat seseorang yang menemukan kembali semangat yang pernah terkubur setiap kali melihat pasangan serodiskordan saling berpelukan haru di seberang meja kerjanya.
Membuatnya merasa berguna karena bisa mengabarkan kebahagiaan kepada orang lain.
"Apa kita bisa menghitung masa subur Saya sekarang, Dok?" suara Nawang mulai mengisi udara ruangan yang sempat hening.
Richard sudah kembali mengembangkan senyumnya.
"Tentu! Mari kita mulai menghitung dan mencari masa suburmu. Kita mulai perjuangan kita dari sini." kata dokter Melia dengan semangat.
Beruntungnya jadwal datang bulan Nawang teratur. Jadi sangat mudah menghitung masa subur untuk Nawang.
Beruntungnya lagi dua hari ke depan adalah hari pertama masa suburnya.
"Karena ini baru hitungan teori, ada baiknya kalian memakai bantuan alat. Namanya ovulation test. Hasilnya sangat bisa dipercaya. Nyaris 100% akurasinya." saran dokter Melia.
"Ovulation test ?" tanya Richard dengan wajah oon.
"Iya. Bentuknya kayak testpack yang buat tes kehamilan juga. Cara pakainya juga sama, dengan media air seni. Tapi waktu test nya yang beda. Kalau tespack kehamilan disarankan dipakai di pagi hari, dengan air seni pertama seusai bangun tidur. Kalau ovulation test dipakainya agak siangan. Kalau aku menyarankan sehari dua kali, berjarak sepuluh jam antara pemakaian pertama dan kedua." papar dokter Melia.
"Dipakainya pagi sama sore gitu ya, Dok?" tanya Nawang.
"Iya. Gitu juga boleh. Misalnya kamu test pertama jam sembilan pagi, nanti test keduanya sepuluh jam kemudian, jam tujuh malam." jawab dokter Melia.
"Rajin....." seloroh Rich sambil nyengir.
"Iya. Kita memang harus rajin mengingat kita berkejaran dengan waktu. Ingat, waktu kalian hanya tiga hari tiap periode. Harus bisa menggunakan moment sebaik mungkin." kata dokter Melia dengan tersenyum.
Nawang dan Richard mengangguk- angguk mengerti.
"Begitu ketahuan hasil test nya kalau lagi masa subur gitu, bisa langsung sikat bleeeeeh." seloroh dokter Melia yang membuat Richard terkikik sambil melirik Nawang yang malu- malu.
"Aku tiga hari mau di rumah aja kalau gitu. Nyikat nya biar siap sedia 24 jam." celetuk Richard. Nawang menepuk paha Richard keki.
Dokter Melia tertawa melihatnya.
"Iya. Aku saranin seperti itu. Bahkan kalau perlu kalian nyari tempat buat honeymoon lagi. Biar all out prosesnya." sahut dokter Melia.
"Good idea, Doc!" seru Richard. Tapi Nawang nampak keberatan dengan ide itu.
"Ada yang mau ditanyakan lagi soal ini?" tanya dokter Melia kemudian.
"Hasil perjuangan kami nanti bisa di test kapan, Dok? Test positif hamilnya." tanya Richard.
"Test kehamilan bisa dilakukan paling cepat dua minggu setelah proses pembuahan. Kalo nyari yakinnya, tiga minggu setelah perjuangan tiga hari itu kalian bisa test mandiri dulu pakai testpack. Semoga berhasil ya! Aku turut mendoakan." kata dokter Melia.
"Terimakasih banyak doanya, Dokter. Kami sangat berharap ini akan membuahkan hasil yang baik." kata Richard.
"Aamiin." sahut Nawang dan dokter Melia bersamaan.
Keduanya pamit kepada dokter Melia dengan wajah penuh pengharapan.
Keluar dari unit obgyn dengan mengenggam erat tangan Nawang, Richard tak pernah berhenti tersenyum.
__ADS_1
"Tolong bibirnya dikondisikan, Kisanak. Aku nggak mau ya banyak cewek ke GR an gara- gara senyum kamu." kata Nawang jengah.
Beberapa kali matanya menangkap beberapa perempuan tersipu malu setelah melihat ke arah Richard yang berwajah sangat ramah.
"Aku seneng bangeeeeet." kata Richard kemudian merengkuh bahu Nawang dan memeluknya gemas.
"Mas! Malu!" bentak Nawang sambil memukuli dada Richard yang cuek saja dengan protesnya.
"Kita besok ke hotel yang dulu lagi mau nggak, Sayang?" tawar Richard setelah mereka keluar dari area parkir rumah sakit dan mulai menyusuri jalan raya.
"Nggak usahlah, Mas. Kita di rumah aja. Aku ingin bikin anaknya di kamar kita aja. Biar monumental." kata Nawang yang membuat Richard tertawa.
"Tapi kalau di rumah, kita nanti nggak bebas dong. Siang ada mbak Parti. Malamnya ada Bintang." kata Richard.
"Ada mereka juga kita ngelakuinnya di kamar yang kedap suara." kata Nawang.
"Aku maunya besok bebas ngelakuin dimana aja, Non, kayak di film- film itu." kata Richard mulai menjurus.
"Film apa?" tanya Nawang pura- pura nggak mengerti.
"Film dewasa lah. Masak film Ipin Upin." sahut Richard.
"Aku belum pernah liat film dewasa. Emang di film dewasa ada adegan apa?" tanya Nawang dengan wajah polos.
"Seriusan belum pernah liat film dewasa?! Kemana aja kamu selama ini?" ledek Richard menghina.
Nawang hanya mencebikkan bibirnya.
"Moment istimewa lhoh! Kita menyatu tanpa pengaman. Mungkin kita hanya memiliki kesempatan tiga hari aja dalam seumur hidup, menyatu tanpa pengaman. Kamu nggak mau something special gitu?" tanya Richard bersemangat.
Nawang terdiam.
Iya juga sih. Dulu sebelum menikah mereka mengira akan selamanya berkawan dengan pengaman dan pelumas setiap kali menjalankan kewajiban suami istri.
Bahkan moment memiliki keturunan pun mereka mengira akan melalui proses washed spe rm dan tidak bisa secara natural.
"Ya udah, kita titipin Bintang lagi sama bude." putus Nawang akhirnya.
Senyum Richard merekah sempurna. Tapi saat mengingat tatapan sedih Bintang, keriangan dihatinya segera menyurut.
Nggak tega rasanya ninggalin Bintang lagi.
"Aku nggak tega kalau inget pas kita ninggal dia yang dulu itu." kata Richard pelan.
"Ya udah, kita ngomong sama Bintang dulu nanti. Kalau dia boleh, kita berangkat. Kalau dia nggak ngasih, ya udah kita di rumah aja. Kita kasih libur mbak Prapti tiga hari biar kalau siang kita merdeka menguasai rumah." usul Nawang tertawa sambil mengerling nakal.
"You're so smart, baby." puji Richard sambil mengusap pipi Nawang lembut.
๐๏ธ๐๏ธ๐๏ธ bersambung ๐๏ธ๐๏ธ๐๏ธ
@ sumber dari sayaberani.org
ยฉservical mucus/ Len dir Serviks (LS) adalah cairan yang yang dihasilkan oleh kelenjar yang berada di dalam dan di sekitar serviks atau leher rahim.
Ciri- ciri LS bisa berubah seiring perubahan jumlah hormon sepanjang siklus datang bulan wanita sehingga dapat digunakan sebagai salah satu penanda masa subur wanita.
Pada masa subur ( ovulasi) LS tampak bening menyerupai putih telur. Jika disentuh dengan dua jari teksturnya bisa melebar sampai 2-5 cm. Kondisi LS yang seperti ini sangat baik untuk mengantarkan sper ma berenang menuju sel telur.
__ADS_1
(Sumber : www.alodokter.com)