
Richard ditemani mamanya sampai alarm di arlojinya berbunyi, membuat mama yang mendengarnya sedikit kaget.
"Jammu ada alarmnya?" tanya mama dengan nada heran yang tak hendak disembunyikan.
Richard terkekeh.
"Alarm minum obat, Ma." kata Richard membuat mamanya sedikit melongo keheranan.
"Biasanya setelah minum obat ini aku langsung kayak mati." kata Richard membuat mamanya membungkam mulutnya sendiri saking kagetnya dengan yang dikatakan Richard.
Mati?
Lalu mata tua itu kembali berkaca- kaca.
Richard yang kemudian menyadari kesalahan pemilihaan kata- katanya kemudian merengkuh bahu mamanya.
"Nggak sengeri itu, Ma. Gini, walaupun obat yang diminum sama, efek ke tiap orang bisa beda- beda. Nah kalau efeknya ke aku dari awal termasuk enak dan nggak menyiksa. Kadang ada yang awal- awal minum obat sampai nggak bisa tidur karena selalu muntah atau mual, sampai nggak bisa makan. Ada juga yang badannya demam, atau sakit semua badannya, atau efek lainnya. Alhamdulillah kalau aku efek dari minum obat ini cuma tidur pulas selama satu sampai tiga jam, nggak bisa bangun. Walau mungkin pas dibangunin denger tapi matanya nggak mau diajak melek." terang Richard sambil tersenyum, berusaha menenangkan wajah tegang mamanya.
Dan sepertinya cukup berhasil. Wajah tegang mamanya nampak mengendur kini.
"Tapi setelah tidur beberapa jam itu kamu kembali normal?" tanya mamanya ingin tahu.
"Iya. Normal kayak biasanya. Nggak ada yang beda." jawab Richard sambil tersenyum.
"Ya udah buruan diminum obatnya. Katanya harus tepat waktu." kata mamanya sambil bergegas meraih gelas berisi air putih di meja kecil disisi ranjang lalu menyerahkan pada Richard.
"Makasih, Ma." kata Richard kemudian meminum obatnya dalam pengawasan tatapan mata mamanya.
Hati perempuan tua itu bergemuruh melihat Richard yang dengan sangat santai meminum obatnya.
Kenapa harus kamu yang mengalami ini, anakku?
Ya Allah, sehatkan dia selalu, panjangkan umurnya.
"Nggak sampai lima menit aku tidur, Ma. Jangan bingung ya." kata Richard kemudian membaringkan tubuhnya.
"Sini kepalanya." kata mamanya memintanya meletakkan kepalanya dipangkuan mamanya.
"Aku udah berat, Ma. Udah tua ini." kata Richard walau tetap menuruti mamanya sambil tertawa.
Menempatkan kepalanya di pangkuan mamanya yang kemudian membelai pelipisnya dan dahinya dengan lembut.
Terasa tenang dan damai, persis seperti masa kecilnya dulu.
Entah sudah berapa belas tahun dia tak seperti ini dengan mamanya.
Seingatnya terakhir kali begini saat dia sunat, kelas lima SD.
Setelah sunat dia sudah nggak mau kalau mamanya mau ngeloni( menemani tidur).
Sudah malu karena merasa sudah besar, sudah sunat.
"Nggak ada yang berat. Setua apapun, kamu kan tetap anak mama." kata mama sambil tersenyum.
"Dah, tidur yang nyenyak" kata mamanya sambil tetap membelai dahinya, seperti saat dia kecil dulu.
Menenangkan, melenakan.
"Nanti kalau aku udah tidur, mama juga tidur ya." kata Richard yang sudah setengah melayang.
"Iya." kata mamanya yang terakhir masih terdengar oleh telinganya.
Setelah itu matanya telah terpejam erat dan nafasnya telah tenang mengalir.
__ADS_1
Tak lagi didengarnya isakan sendu mamanya yang kini membelai wajahnya dengan tangan gemetar.
Perasaan perempuan pemilik surganya itu merasa seolah sedang melepasnya ke medan perang.
Berdoa semoga dia cepat pulang dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa.
"Ma, kamu ngapain?" suara Pak Pambudi dari arah pintu membuat mama Richard mengalihkan pandangannya dari wajah tenang Richard yang tengah terlelap ke arah pintu.
Pak Pambudi mendekat saat melihat Richard tidur dipangkuan mamanya.
"Dia sakit?" tanya Pak Pambudi khawatir sambil meraba dahi Richard yang tentu saja tak panas.
"Nggak panas." kata Pak Pambudi sambil menatap istrinya keheranan.
"Dia habis minum obatnya. Langsung tidur pulas banget. Begini ini sampai nanti beberapa jam, nggak bisa dibangunin katanya." kata Bu Pambudi menjelaskan.
"Hah? Bahaya nggak itu?" tanya Pak Pambudi terlihat panik.
"Nggak papa katanya." kata Bu Pambudi tenang.
"Tahu nggak, kita kayak dejavu waktu anak- anak sakit pas kecil dulu. Seperti sekarang ini, tegang, panik, sedih, was- was." kata Pak Pambudi sambil beringsut duduk di samping tubuh Richard.
Ditepuk- tepuknya sekilas lengan anak lelakinya itu.
"Dia juga lagi sakit. Bahkan sakit dia selamanya." kata Bu Pambudi sedih. Matanya sudah mulai berkaca- kaca lagi.
"Jangan sedih gitu. Dari tahun ke tahun pengobatan buat HIV terus berkembang. Eric akan baik- baik saja. Dia sudah buktikan selama ini kan? Kita hanya harus terus mendoakannya saja, dan ikut menjaga dia agar tetap baik- baik saja." kata Pak Pambudi menguatkan istrinya yang mengangguk mengerti.
"Dia anak istimewa. Aku selalu bangga padanya." kata Pak Pambudi tanpa mau menyembunyikan tatapan dan nada bangganya.
"Makasih sudah memberikan aku anak sebaik dia juga mbaknya." kata Pak Pambudi menatap penuh terima kasih pada istrinya.
"Jangan bikin aku nangis lagi, Pa. Kabar Eric tadi sudah membuatku capek menangis seharian ini." kata Bu Pambudi sambil menyusut airmata harunya sambil tersenyum.
Pak Pambudi terkekeh.
"Sebentar lagi." tolak Bu Pambudi.
"Katanya udah capek nangis seharian. Udah ayo tidur. Anakmu itu udah tidur pulas. Biar dia nyaman tidurnya, nggak usah dipangku gitu." kata Pak Pambudi masih memaksa membujuk istrinya agar beranjak.
"Iya." sahut Bu Pambudi akhirnya.
Dikecupnya dahi anak lelaki semata wayangnya itu sebelum mengikuti suaminya keluar dari kamar Richard.
******
Pak Pambudi beringsut dari ranjang setelah dia yakin istrinya sudah pulas dalam tidurnya.
Wajah cantik yang sudah mulai dihiasi sedikit keriput itu membuatnya tersenyum.
Istri yang begitu baik. Ibu yang sangat baik.
Pak Pambudi menoleh ke arah ranjang sekedar untuk memastikan istrinya tak akan mengetahui kepergiannya dari kamar dan akan menyembunyikan diri barang sejenak di ruang kerjanya.
Dia butuh waktu sendiri dan sunyi untuk menenangkan dirinya sendiri.
Bohong kalau dia tidak terguncang dengan kabar kenyataan yang dialami Richard.
Salah besar bila dia tidak ingin marah pada putri Pak Darto yang membuat Richard harus menjadi begini.
Tapi apa semua itu berguna saat ini?
Kemarahannya tidak akan menyembuhkan anaknya.
__ADS_1
Rasa sedihnya juga tidak akan bisa memutar waktu dan membuat semuanya tidak terjadi.
Saat ini yang dia butuhkan hanya memiliki akal sehat dan keikhlasan menerima semuanya.
Yang paling perlu dia lakukan kini adalah kemampuan untuk terus bisa menjaga Richard, putra mahkota kesayangannya.
Tetap berprasangka baik atas semua takdir yang tengah terjadi juga butuh energi dan keluasan hati.
Dia juga harus bisa selalu terlihat tenang dan tegar di depan istrinya agar istrinya tertular energi positifnya.
Hanya hal- hal baik yang harus dia pikirkan dan lakukan sekarang.
Demi Richard, demi istrinya, demi kebaikan mereka semua.
Pikirannya kini beralih kepada rencana pernikahan Richard dan Nawang.
Bagaimanapun keduanya masih muda. Pasti masih memiliki hasrat kuat untuk menyatukan diri mereka.
Dengan keadaan Richard yang sekarang ini apakah tidak akan jadi masalah nantinya?
Bagaimana nanti kehidupan ranjang mereka?
Apakah mereka akan bisa memiliki keturunan?
Apakah benar Nawang sudi menghabiskan sisa umurnya bersama Richard dengan rela hati?
Bagaimana nanti Richard akan memuaskan kebutuhan batin istrinya bila keadaannya seperti ini?
Dia yang selama ini buta sama sekali tentang HIV dan tak pernah punya keinginan untuk tahu tentang semua hal yang berhubungan dengan HIV kini mulai mencari tahu lewat Simbah paling tahu sedunia, Mbah G.
Jemarinya sesekali menari di atas keyboard laptopnya lalu cukup lama dia terpaku membaca semua hal yang ingin dia tahu tentang penyakit anaknya.
Tentang semua hal yang menjadi pertanyaan di benaknya.
Setidaknya dia punya sedikit modal untuk bahan pertanyaan dan pembicaraan dengan Richard besok.
Bagaimanapun dia harus memastikan kehidupan Richard ke depannya tetap on track.
Sebagai orang tua dia harus yakin bahwa kehidupan Richard ke depannya akan baik- baik saja.
Mau tidak mau dia harus mencari tahu jalan terbaik apa saja yang bisa ditempuh oleh Richard.
Dia tidak akan mendikte karena dia yakin Richard sudah tahu harus melangkah seperti apa dan melalui jalan mana.
Tapi sebagai orang tua setidaknya dia harus bisa meraba jalan apa yang kemungkinan akan dilalui oleh Richard agar anaknya tetap berada dalam keadaan baik- baik saja.
Bagaimanapun dia tetaplah orang tua, yang tetap akan berlaku sebagai orang tua yang selalu menginginkan dan mendoakan anak- anaknya selalu dalam keadaan baik- baik saja, sekalipun anak- anaknya tak meminta tolong dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Setidaknya dia harus tahu dan yakin anak- anaknya selalu akan baik- baik saja.
Ya Allah terimakasih kami masih punya kesempatan untuk tahu kondisi keadaan anak kami. Kuatkan dan selalu sehatkan dia, panjangkan lah umurnya.
Kuatkan dan panjangkan lah usia kami agar kami bisa selalu menemaninya menjalani semua ini.
Ampunilah hamba yang lalai menjaga titipanmu hingga dia harus menerima sakit ini sepanjang umurnya ya Allah....
Ampunilah hamba ya Rabb.....
Doa itu kini terlantun penuh harap di sela tangannya yang menengadah seusai sujud panjangnya di sepertiga malam di atas hamparan sajadah, bersama tetes airmata yang tak mampu lagi di bendungnya.
Airmata tanpa daya dan lemah dihadapan Rabb nya.
Airmata penuh harap atas belas kasih dari Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
__ADS_1
Airmata tanpa ragu dan malu untuk sang buah hati.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️