
"Lama banget perginya." sungut Richard lirih setelah Nawang kembali menggenggam tangannya.
Nawang hanya tersenyum kemudian duduk di kursi yang ada disebelah ranjangnya.
"Nunggu ruangan di Blessing disiapkan, kita disarankan rontgen dulu disini, biar nggak buang- buang waktu. Sebentar lagi kita ke ruang rontgen. Jadi begitu nanti sampai di Blessing kita sudah punya bekal hasil rontgen dan disana nanti tinggal CT scan." kata Nawang tak memperdulikan keluhan Richard barusan.
"Ngapain juga harus CT scan? Aku nggak sakit kepalanya." masih juga dengan tolakannya.
"Nggak usah ngeyel bisa kan ya, Sayang?" tanya Nawang dengan suara halus nan lembut namun dengan tatapan pembunuh berdarah dingin.
Membuat Richard bergegas mengangguk kecil dengan wajah pilu, ingin mengadu tapi entah pada siapa.
"Semoga hasil rontgen nya nggak mengkhawatirkan." kata Nawang pelan sambil merapikan rambut Richard yang berantakan.
"Sakit semua badanku, Non." keluh Richard dengan suara lirih yang manja. Mendramatisir keadaan.
"Namanya juga kebanting di aspal, Mas. Sabar ya. Katanya nanti mau dikasih anti nyeri." kata Nawang dengan nada membujuk.
"Ending yang keren buat acara honeymoon ya?" lirih Richard sambil terkekeh sedih.
"Sangat epic." timpal Nawang sambil tersenyum.
Atensi keduanya tersita karena kedatangan dua perawat yang langsung mengarah ke tempat mereka berdua.
"Kita lakukan rontgen sekarang ya, Pak." sapa satu perawat berumur sekitar tiga puluhan dengan sopan sambil menatap Nawang.
"Ya." jawab Richard singkat.
Nawang berjalan di sisi ranjang Richard yang di dorong menuju ruang rontgen.
Melewati dua kali belokan lorong dan Nawang langsung berhenti di depan pintu yang bertuliskan SELAIN PETUGAS DAN PASIEN DILARANG MASUK.
Ditatapnya lembut Richard yang tengah tersenyum padanya sebelum menghilang di balik pintu.
Dia baru akan duduk sat ponselnya berdering.
Dari Hans.
"Halo Mas Hans.... Aku lagi nganter rontgen Mas Richard. Kamu nyusul kesini aja ya." kata Nawang cepat.
Tak ada sepuluh menit Nawang menunggu Hans menyusulnya, pemuda kekasih Sasi itu nampak berjalan tegap dan cepat ke arahnya dengan wajah kuatir.
"Pak Richard gimana kondisinya, Bu?" tanya Hans begitu mereka sudah berhadapan.
"Kata dokter sih diagnosa awal tadi tidak mengkhawatirkan. Ada indikasi retak atau patah. Mungkin dua tempat. Setelah ini kami pindah ke Blessing Hospital." tutur Nawang.
Hans nampak lega mendengarnya.
"Alhamdulillah kalau tidak parah." kata Hans seperti gumaman dengan wajah lega.
"Ini kunci mobilnya." kata Nawang setelah merogoh totebag di pundaknya.
"Katanya tadi di parkir di dekat pintu keluar." sambung Nawang.
"Iya. Saya tadi sudah melihat." jawab Hans yang masuk ke rumah sakit lewat parkiran karena diturunkan ojolnya disitu.
Nawang memang sengaja menelpon Hans agar bisa membawa pulang mobil Richard dari rumah sakit nanti.
Pemuda karyawan Richard itu langsung shock saat dikabari kalau Richard terseruduk mobil.
Richard keluar tak lama kemudian.
Menyapa Hans dengan senyum kecutnya.
"Turut prihatin, Pak." salam Hans sungguh- sungguh kemudian ikut berjalan di sisi ranjang Richard.
"Jangan bilang siapa- siapa, termasuk pacarmu,Hans." kata Richard pelan namun cukup jelas terdengar oleh Hans yang mengerutkan keningnya.
"Ya, Pak." jawabnya kemudian.
Sambil menunggu hasil rontgen keluar dan mumpung Richard sedang ditemani Hans, Nawang bergegas ke ruang administrasi untuk membereskan semua biaya perawatan.
__ADS_1
Dia tercenung menatap tujuh digit angka di nota yang di serahkan oleh petugas administrasi padanya.
Ternyata mahal benar biaya rumah sakit.'
Untuk tindakan perawatan luka tanpa jahitan, rontgen, dan biaya ambulance nanti saja sudah mencapai angka tujuh digit.
Gimana kalau ini menimpa orang nggak mampu dan nggak punya BPJS?
"Silakan PIN nya, Ibu." suara petugas administrasi di depannya membuyarkan lamunan singkatnya.
Dia berterimakasih sambil menerima kembali debit card dan nota pembayaran kemudian bergegas kembali ke IGD.
"Sudah beres?" tanya Richard sambil tersenyum menatap Nawang yang beranjak duduk di sampingnya.
Ada tatapan bangga dimatanya.
Istrinya itu sangat tegar, cekatan, dan taktis di saat genting dan sendirian.
Mungkin karena sebelumnya sudah terbiasa menghadapi keadaan tertekan dan terbiasa harus menyelesaikan semuanya sendiri.
Dia teliti pada kondisi sekitarnya, dia cekatan harus menghubungi siapa, dia tak lupa berterimakasih dan mengurus para penolongnya tadi, sampai memutuskan harus bagaimana langkah terbaik agar yakin kondisi Richard benar- benar baik- baik saja.
"Sudah. Barusan aku di kasih tahu kamar di Blessing sudah ready dan kita tinggal nunggu sebentar untuk persiapan ambulance dari sini. Nggak sampai lima belas menit katanya kita sudah bisa berangkat." jelas Nawang.
"Bu boss yang kereeen. Cekatan. Ya nggak, Hans?" puji Richard sambil tersenyum bangga walau dengan meringis- ringis menahan nyeri.
"Betul, Boss." sahut Hans sambil tersenyum.
"Udah, ngegombalnya besok aja kalau udah sembuh ya." sahut Nawang sengaja meledek.
Richard tersenyum kecut.
Hans hanya tersenyum- senyum simpul melihat interaksi suami istri itu.
Menurut perasaan Hans, aura bahagia yang terpancar dari keduanya bukan karena mereka masih pengantin baru, tapi karena cinta yang sudah matang dan teruji.
Cinta yang dalam, bukan cinta yang baru mekar bersemi.
Nawang langsung mendelik ke arah keduanya.
Richard terkekeh malu melihat tatapan Nawang itu.
"Timbang bengong aja, Non. Nanyain kerjaan kan nggak papa. Nanya doang buat basa- basi." kilah Richard.
"Terserah." sahut Nawang dengan wajah juteknya.
Richard meringis ngeri melihat wajah jutek Nawang untuk pertama kalinya sejak menyandang status sebagai istrinya.
Kemarin- kemarin kan wajah itu berhias senyum. Atau tersipu- sipu.
"Maaf...." kata Richard pelan sambil menatap wajah Nawang dengan wajah menyesal.
Hans tertawa dalam hati melihatnya.
Heeeeeh, apa benar adanya kalau cowok bucin itu bisa jadi selembek jelly kalau di depan pujaan hatinya?
"Kenapa minta maaf?" tanya Nawang keheranan.
Hans tak sanggup menahan senyum gelinya melihat ekspresi bingung di wajah bossnya.
"Aku yang harusnya minta maaf, kurang pengertian sama dunia lelaki yang nggak bisa berhenti mikirin pekerjaan." kata Nawang datar.
"Maaf..... Nggak akan terulang lagi. Janji." sahut Richard menyadari sindiran Nawang barusan.
Nawang tersenyum.geli.
"Kamu kenapa sih sensi gitu? Aku nggak papa kamu ngurusin kerjaan, asal nggak nekad berangkat kerja aja." kata Nawang sambil mengerling.
Ya. Nawang harus mengerti bukan, bagaimanapun Richard seorang pemimpin.
Mungkin secara naluri saja dia nggak bisa nggak memikirkan pekerjaan dan hal lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Gimana mau nekad? Buat gerak aja dadaku sakit. Belum lagi luka kena aspal ini." sungut Richard keki.
"Itulah kenapa aku biarin kamu tetap kerja, tapi cuma pakai mulut aja ya." kata Nawang sambil terkekeh.
Wajah Richard semakin bertekuk saja karenanya.
Lalu akan berapa lama dia nanti akan tak berdaya begini?
"Udah, Pak, dinikmati aja. Hitung- hitung libur panjang honeymoon." timpal Hans sambil terkikik.
"Honeymoon gundulmu!!! Honeymoon apaan terkapar gini." sungut Richard semakin menjadi- jadi.
Sepertinya Nawang dan Hans berkolaborasi meledeknya.
Untung saja kondisinya saat ini sedang tak sanggup bergerak dan bicara lantang.
Kalau saja dia sehat, sudah pasti dikemplangnya kepala Hans yang berani kurang ajar meledeknya dan akan dia ciumi wajah Nawang habis- habisan sampai perempuan itu minta ampun.
Ah, akan jadi hal yang sulit untuk menciumi wajah Nawang dengan kondisinya yang seperti ini.
Dia pasti akan sangat rindu acara menciumi wajah Nawang. Juga menciumi lainnya.....Payah!
Lamunan menjurus Richard harus terpenggal tiba- tiba saat seorang dokter dan dua perawat mendekat ke ranjangnya.
Dokter itu membawa satu sampul besar yang kemungkinan hasil rontgen tadi.
"Selamat sore, Pak,Bu." sapa dokter itu sopan yang dijawab sopan juga oleh ketiganya.
"Hasil rontgen sudah bisa kita lihat. Dan hasilnya adalah ada retakan di dua tulang rusuk sebelah kanan atas. Sedang untuk siku kanan yang tadi kita khawatirkan retak, alhamdulillah tidak ada keretakan, hanya memar saja. Mungkin karena untuk bertumpu di aspal pas jatuh tadi." terang dokter itu sambil menunjukkan letak retakan di photo hasil rontgen yang dia tunjukkan pada Richard, Nawang, dan Hans.
"Perlu operasi nggak, Dok?" tanya Richard khawatir.
"Nggak perlu ada operasi. Untuk kasus tulang rusuk retak seperti ini hanya diperlukan istirahat saja. Jangan mengangkat beban dulu, lalu terapi pernafasan agar terhindar dari @pneumonia." jawab dokter itu cukup membuat Richard lega.
"Berapa lama waktu untuk pemulihan tulang rusuk ini, Dok?" tanya Nawang penuh atensi.
"Satu sampai dua bulan." jawab dokter itu yang lalu tersenyum saat melihat wajah Richard yang terlihat langsung frustasi.
"Lama amat, Dok." keluh Richard sedih.
Dokter itu tertawa pelan.
"Anggap saja liburan panjang, Pak. Biar bisa menikmati waktu bersama keluarga lebih banyak." hibur dokter itu.
"Long honeymoon, Boss." seloroh Hans berbisik, yang disambut pelototan Richard padanya.
Hans langsung mengkerut.
"Oya, ambulance sudah siap. Bapak bisa pindah ke Blessing sekarang kalau sudah siap." kabar dokter itu kemudian lalu menyerahkan hasil rontgen dan dokumen penyerta lainnya pada suster di belakangnya.
"Nanti suster Nina yang akan menyertai Anda dan menguruskan dokumen di Blessing ya, Bu." lanjut dokter itu sambil menatap Nawang ramah.
"Ya, Dok. Terimakasih banyak." sahut Nawang kemudian.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
@pneumonia adalah
peradangan paru- paru yang disebabkan oleh infeksi atau penumpukan lendir di paru- paru.
Karena itu bagi penderita tulang rusuk yang retak, pada masa pemulihan disarankan untuk terapi pernapasan dan terapi berjalan sambil menggerak- gerakkan bahu untuk menghindari tumpukan lendir di paru- paru.
Biasa juga di sebut paru- paru basah.
Gejala umumnya adalah batuk berdahak,demam, dan sesak nafas.
Betewe....betewe nih.....😃
Ada yang mau nggak nih Bintang sama Darren punya adek? 😅
Yuuuk rekues di komen yuuuuuk.......Biar jadi PR papa Richard alias mas Eric bin Pak Boss 🙈
__ADS_1
Tulis sekalian mau rekues berapa adek 😆😆😆