
Mau tahu apa yang dirasakan Richard saat ini?
Ingin berteriak sekencang- kencangnya, ingin memaki sebrutal- brutalnya untuk kebodohannya sendiri karena mengijinkan Nawang melahirkan secara normal tadi.
Dia ingin merangsek kembali masuk ke ruangan yang harus dia tinggalkan barusan.
Dia ingin tahu keadaan istrinya saat ini juga.
Dia sangat ingin tahu.
Namun rengkuhan Bram di pundaknya memaksa dia tetap berdiri mematung di depan pintu ruangan dimana dia tahu istrinya kini sedang tidak baik- baik saja.
Apa mungkin ini efek karena Nawang terlalu lelah menjalani proses melahirkan si kembar tadi, hingga dia seperti itu?
Apakah kondisinya sangat berbahaya?
Nawang seperti apa? Richard sendiri tidak tahu bagaimana kondisi Nawang saat ini.
Tapi melihat kepanikan tim dokter tadi, sepertinya kejadian tadi diluar kendali mereka, atau kejadian yang nggak mereka sangka sebelumnya.
"Aku pengen masuk, Bram. Aku harus masuk kesana." kata Richard pilu.
Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.
Melihat Nawang tiba- tiba pingsan, lalu tiba- tiba harus menemani Nawang melahirkan, mendapatkan kejutan indah dengan lahirnya sepasang bayi mereka, lalu kemudian mendapati kondisi istrinya yang tiba- tiba mengkhawatirkan, itu bukan hanya seperti sedang menaiki roller coaster, tapi seperti dilempar ke dasar bumi, di tarik lagi ke langit tertinggi, kemudian dilepaskan dengan paksa agar terjerembab ke dasar dunia paling dalam.
Richard sangat takut saat ini.
Sumpah, ini ketakutan yang belum pernah dia alami sepanjang umurnya.
"Kita berdoa, Ric. Ayo kita doakan Nawang baik- baik saja." kata Bram sambil mengeratkan pelukannya di bahu Richard.
Dia tidak bisa berkata apapun saat ini karena dia mengerti sekhawatir apa sahabatnya ini.
Seumur hidupnya bersahabat dengan Richard, ini ketakutan terhebat yang bisa dia lihat dari seorang Richardo Pambudi.
Richard hanya mampu tergugu di depan pintu ruangan itu dengan menundukkan kepalanya sedalam- dalamnya.
Be strong,,Non.....please......Don't go anywhere.....Please.....
Pintu ruangan yang terbuka membuat wajah Richard seketika memancarkan harapan besar.
Namun dia kembali kecewa karena yang keluar adalah dua suster yang membawa dua anaknya.
"Putra- putrinya kami pindah ke ruang bayi ya, Pak." kata suster itu ramah.
Richard hanya mengangguk tanpa berucap apapun, tanpa ingin bergerak sedikitpun.
"Istriku gimana, Sus?" tanya Richard dengan bibir gemetar.
"Masih ditangani, Pak. Tolong tetap tenang dan berdoa ya, Pak." kata suster itu sebelum pamit pergi.
Tangis Richard kembali pecah.
Berdoa? Dia bilang aku harus berdoa?
Dirumah sakit dalam kondisi yang tidak menentu, dan aku harus berdoa? Apakah.....? Apakah kamu....?
Tangis Richard kembali pecah. Kini dia memeluk Bram dengan sangat erat dan membuat bahu sahabatnya itu basah oleh airmata.
Bram hanya mampu menepuk- nepuk bahu Richard dan mengeratkan pelukannya.
Setidaknya Richard tahu, dia tidak sendiri melewati ini walau Bram tak tahu harus melakukan apa untuk meringankan kegelisahan hati Richard.
Anin datang dengan tergopoh- gopoh dan terpaku di samping mbak Prapti sambil menatap heran dan khawatir pada Bram.
Dari tatapan Bram padanya dia tahu kalau sesuatu yang kurang baik sedang terjadi.
Dengan berbisik dia bertanya pada mbak Prapti.
"Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
Mbak Prapti hanya menggeleng sedih.
"Nggak tahu pastinya, Mbak. Tadi di rumah mbak Nawang pingsan, terus dibawa kesini karena di jalan ketubannya pecah. Tadi mbak Nawang sudah lahiran. Anak- anaknya sudah dibawa ke ruang bayi tadi. Tapi mbak Nawang kayaknya nggak baik- baik saja...." mbak Prapti tak bisa lagi melanjutkan kata- katanya.
Dia sesenggukan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu di dua pahanya.
Terbayang senyum manis nyonya mudanya itu, juga kehebohan Nawang saat menceritakan sesuatu padanya saat mereka di dapur.
Yang kuat, Mbak Nawang.....Yang kuat...batinnya.
Anin terpaku. Dunia seperti membeku.
Selamatkan dia ya Allah......Jangan renggut kebahagiaan keluarga kecilnya secepat ini.....mereka berhak bahagia bukan?
Airmata Anin tiba- tiba berderai tak terkendali, apalagi saat menatap Richard yang terus memeluk Bram dan terisak- isak.
Ini bukan pemandangan yang wajar.
Si tengil itu nampak sangat tak berdaya dan ketakutan.
Dan ketegangan memuncak saat pintu terbuka dan dua orang suster keluar bersama ranjang rumah sakit yang di dorong dengan Nawang terbaring tenang di atasnya dengan mata terpejam.
Dunia terasa runtuh menimpa Richard melihat pemandangan itu.
Richard membeku. Dan saat ini dia hanya ingin bisa pingsan. Atau mati sekalian saja tak mengapa, asal tak melihat Nawang seperti ini.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Bram mencegat satu dokter lelaki yang pertama kali keluar dari ruang bersalin.
Dokter itu menghela nafas pelan, kemudian mengulas senyum bingung.
"Kami belum bisa mengabarkan apapun, Pak. Kita usahakan yang terbaik untuk Ibu Nawang. Mohon bersabar dulu, njih Pak." kata dokter itu sopan.
Richard mendengar itu. Namun tubuhnya benar-benar membeku.
Matanya nanar menatap Nawang yang semakin jauh dari pandangannya.
Don' t go anywhere....please......jerit hatinya pilu dengan tangan yang tanpa sadar terulur ke arah perginya Nawang, membuat Anin dan mbak Prapti terisak- isak melihatnya.
Tak lama kemudian dokter Melia keluar, dan dia sejenak terpaku menatap Richard yang membeku.
Tangannya menepuk- nepuk lengan Richard, entah untuk menguatkan, atau sebuah ungkapan permintaan maaf.
Richard tak mampu menjawab. Hanya airmata kembali menetes tanpa suara.
"Lakukan yang terbaik untuk saudara kami, Dok. Kami akan bantu dengan doa sekuat tenaga. Tolong bawa dia kembali dengan selamat." kata Bram penuh harap.
"Kami akan berusaha sekuat tenaga, Pak. Sekarang kita akan MRI dan CT scan dulu. Lalu kita akan masukkan Bu Nawang ke ICU. Kita bisa bertemu dan bicara di ICU nanti ya ,Pak. Saya permisi dulu." kata dokter Melia sambil menepuk lembut lengan Richard yang tak bergeming.
"Ya. Silakan, Dok." jawab Bram.
"Dia kenapa?" tanya Richard lemah dengan wajah kaku.
"Kita harus kuat dan sabar, Ric. Kita tunggu hasil pemeriksaan agar tahu secara pasti kondisi Nawang. Kamu jangan seperti ini. Ingat anak- anak. Ada anak- anak yang butuh kamu. Jangan seperti in, OK? Kita lewati ini sama- sama. Jangan putus harapan." kata Bram sambil mengguncang- guncang lengan Richard seolah ingin agar Richard bangun.
Anak- anak.
Bagaimana mereka nanti bila tanpa ibunya? Bagaimana nanti dia akan bicara pada mereka bila mereka bertanya tentang ibunya?
Richard mengacak rambutnya kasar.
Dia menyesal mengijinkan Nawang melahirkan normal.
Dia sangat menyesal !!!
Harusnya dia menolak dengan tegas bahkan kalau perlu dengan marah keinginan Nawang melahirkan normal tadi, pasti Nawang akan nurut karena dia istri yang penurut.
Tapi kenapa dia tadi lemah dan mengijinkan Nawang?
Bo doh !!!!
Richard hanya ikut saja melangkah mengikuti Bram, Anin , dan mbak Prapti meninggalkan depan ruang bersalin dan berjalan ke gedung lain untuk akhirnya berhenti di depan ruang ICU.
__ADS_1
Tak ada pembicaraan selama mereka berjalan.
Semua membeku dengan ketakutan yang sama namun tak berani berucap karena takut melukai hati.
"Kita diminta nunggu disini." kata Bram sambil menarik lengan Richard agar duduk.
Bram mengulurkan minum yang diterimanya dari Anin pada Richard yang kemudian hanya digenggam saja.
"Minum biar sedikit juga." kata Bram sambil menggoyang lengan Richard yang kemudian meminum dengan pelan.
Pikirannya kosong. Tak ada yang bisa dia pikirkan.
"Nawang kemana?" tanya Richard pelan dengan tatapan bingung pada Bram setelah dirasanya sangat lama dia duduk disitu.
Anin yang melihat tatapan dan wajah bingung Richard meneteskan airmata nya lagi.
Dia sungguh tak tega melihat pemandangan ini.
Lelaki tengil itu seakan tanpa jiwa kini. Menyedihkan sekali.
"Dia lagi MRI dan CT scan. Kamu sudah dikasih tahu kan tadi?" jawab Bram pelan.
"Lalu ngapain kita disini?!" seru Richard sambil berdiri penuh emosi membuat semua yang ada disitu terlonjak kaget.
"Aku mau sama dia....." kata Richard lirih saat Bram kembali merengkuh pundaknya menenangkan.
"OK, kita nyari Nawang. Tapi kamu janji harus tenang. OK?" kata Bram membujuk. Richard hanya mengangguk dengan mengusap airmatanya.
"Kalian tunggu disini saja. Beritahu mama dan papa Pambudi untuk langsung kesini aja. Aku temani dia dulu." kata Bram sambil menatap Anin dan mbak Prapti yang mengangguk mengerti.
Dan Bram harus berulangkali menarik lengan Richard yang berjalan tergesa di depannya tanpa tahu arah.
"Kita tunggu di sini." kata Bram sambil menarik lengan Richard agar duduk setelah mereka menemukan ruangan untuk MRI setelah Bram dua kali bertanya pada suster yang ditemuinya di lorong rumah sakit.
Bram mendekat ke arah bagian administrasi untuk menanyakan keberadaan Nawang dan dijawab kalau sedang melakukan proses MRI.
"Nawang lagi di dalam. Kita tunggu dia keluar ya." kata Bram setelah kembali duduk di samping Richard yang hanya mengangguk tak bersuara.
Tak menunggu terlalu lama nampak brankar dengan Nawang di atasnya keluar dari balik pintu es di depan mereka.
Richard tergesa berjalan cepat ke arahnya.
"Dia belum bangun?" tanya Richard sedih pada suster yang mendorong pelan brankar itu.
"Belum, Pak. Kita tunggu ya, Pak. Semoga Ibu lekas bangun." jawab suster itu lembut dengan tersenyum.
Richard hanya mengangguk sedih.
Digenggamnya jemari Nawang yang kini telah dibawa berjalan menuju ruang ICU.
Rasa hangat seketika menyelimuti hati Richard. Ada sebersit senyum tercipta di bibir Richard walau hanya sesaat.
Bram mengikuti langkah sahabatnya dengan hati teriris perih.
Tak terbayangkan bagaimana perasaan Richard saat ini karena dia tahu pasti seberapa dalam dia mencintai istrinya itu.
Bram bahkan tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Richard bila kemungkinan terburuk nanti terjadi pada Nawang.
Apa mungkin Richard akan tetap bisa waras?
Astagfirullahaladzim......
Ya Rabb, tolong balaslah kebaikannya selama ini dengan belas kasih- Mu padanya.
Ibalah padanya ya Allah......
ποΈποΈποΈ b e r s a m b u n g ποΈποΈποΈ*
Bisa- bisa molor nih tamatnya π π
Tapi nggaklah.....sebelum Oktober berakhir, kisah mereka harus berakhir duluan π
__ADS_1
Sad reading semuanya.....#eh ππ
πΌπΊJangan lupa kalau ada stock poin dan vote hibahkanlah pada Mas Eric biar agak bahagia π πΊπΌ