PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
110


__ADS_3

Bude Darmi pamit pulang setelah mendapat telpon dari pakde Parno yang menjemputnya di depan rumah sakit.


Pakde Parno belum bisa masuk menjenguk Richard karena sudah lewat dari jam bezuk.


Bintang sudah terlelap di sofa setelah dari tadi menonton film kartun dari tv kabel.


Kemajuan. Anak itu bisa tertidur tanpa dikeloni.


"Bintang nggak kamu bangunin biar tidur di bed?" tanya Richard pada Nawang yang malah mengambil selimut dan kemudian menyelimuti Bintang.


Digesernya meja merapat ke sofa dan di berinya guling agar Bintang nggak jatuh dari sofa nanti.


"Nggak usah lah, Mas. Biar dia disana aja nggak papa. Sudah aman dan nyaman kok posisinya" jawab Nawang yang kini sudah bergerak ke meja makan, membereskan sisa cemilan yang tadi dia nikmati bersama bude Darmi.


"Mau minum anget- anget nggak, Mas? Dibawain sekoteng sama bude tadi." tawar Nawang dari arah pantry.


"Boleh." sahut Richard yang terdengar sangat lirih dari pantry.


Nawang kemudian membuat dua cangkir sekoteng instant dan membawanya ke ranjang Richard yang masih dengan posisi setengah duduk.


"Mau dilurusin duduknya?" tawar Nawang sambil meletakkan cangkir ke side table.


"Nggak usah. Gini aja. Tadi nyoba duduk tegak malah agak sesak nafas." jawab Richard.


"Ya udah,aku siapin aja minumnya. Aku ambil sendok dulu." kata Nawang kembali melangkah ke area pantry.


Enak juga ya kalau rumah cuma segini, pergerakan penghuni seisi rumah terlihat semua, batin Richard mulai dengan otak arsiteknya.


Nawang kembali duduk di samping kanan Richard dengan secangkir sekoteng di tangan kiri dan sendok bebek di tangan kanan.


Dengan telaten dia menyuapkan air dan ampas sekoteng yang sudah tak sepanas saat dia membuatnya tadi.


Tak apa, malah tinggal menyuapkan, nggak perlu nunggu lagi.


Sesekali dia ikut menyuap sekoteng itu hingga dua cangkir itu tak berpenghuni lagi.


"Boleh nih jadi stock di rumah. Kalau aku pulang malem, dibuatin ini sama istriku yang udah ngantuk tapi belum tidur, pasti sedap." kata Richard sambil mengelus pipi Nawang lembut.


"Tahu aja kalau aku ngantuk." kekeh Nawang malu kemudian berlalu menyingkirkan cangkir ke bak cuci piring kemudian sekalian di cucinya.


"Dikunci sekalian pintunya, Non." perintah Richard saat dilihatnya Nawang sudah bergerak keluar dari area dapur.


"Emang boleh dikunci, Mas?" tanya Nawang serius.


"Boleh. Kan aku nggak perlu ada kunjungan malam- malam. Di cek lagi besok pagi." jawab Richard dengan wajah serius pula.


Walau dengan agak ragu, Nawang menuruti juga perintah suaminya untuk mengunci pintu.


Sumpah deh, beneran baru tahu kalau nginep di rumah sakit boleh ngunci pintu kamar.


"Mas, beneran boleh kunci pintu?" tanya Nawang masih dengan nada penasaran yang tak dibuat- buat.


Dia sudah duduk di tepi bed penunggu pasien, di samping bed pasien.


"Beneran. Kalaupun salah, nanti pasti ada telpon masuk minta dibukain pintu. Hihihi...." kikik Richard jahil.


"Aku buka aja deh kuncinya." kata Nawang sambil beranjak berdiri hendak ke pintu lagi.


" Nggak usah! Aku tadi pas di periksa dokter aku tanya sama susternya, katanya nggak akan ada kunjungan cek malam- malam. Aku tanya boleh kunci pintu nggak, dia bilang boleh selama ada yang nungguin pasien. Aku kan ditungguin dua orang. Jadi boleh banget dong dikunci pintunya." jelas Richard meyakinkan.


"Ya udah kalau gitu. Soalnya nggak enak Mas kalau ternyata nanti ada suster mau ngecek kamu tapi tahu- tahu pintu dikunci. Ntar dikirain kita ngapa- ngapain lagi." kata Nawang kembali duduk di bed.

__ADS_1


"Kita ngapa- ngapain juga nggak papa kan? Halalan toyyiban ini." jawab Richard sambil mengerling genit.


"Heh, Pak, Anda itu sedang jadi pasien ya! Jangan kegenitan!" sungut Nawang dengan muka sebel.


Masak iya kondisi kayak gitu omesnya nggak luntur juga.


Richard terkekeh pelan namun sambil meringis.


Huuuuh ,dadanya nggak mau dia ajak becanda barang sebentar juga


Rasanya sakit kalau dipakai tertawa dengan kekuatan perut.


"Nggak usah cengengesan! Sakit kan dadanya?" kata Nawang sambil terkikik mengejek.


Richard manyun.


"Nasib....nasib.....bakal puasa lama nih." gumam Richard sambil menatap Nawang yang pura- pura nggak mendengar ucapan itu.


Dasar Tuan Omes!!!


"Kumat." gumam Nawang sambil meliriknya tajam.


"I'll miss you madly." kata Richard dengan wajah memelas yang dibuat- buat sok drama.


Nawang terkekeh malu.


Dasar omes, ngegombal nggak inget waktu.


"Obatmu kamu simpan dimana, Mas?" tanya Nawang lebih memilih mengalihkan pembicaraan daripada meladeni kata- kata melow Tuan Omes itu.


"Di weist bag." jawab Richard sambil mencoba mengingat dimana weist bag nya.


Nawang kemudian menyiapkan obat HIV nya dan kembali memasukkan botol obat ke dalam tas kembali.


"Lima menit lagi." gumam Nawang kemudian kembali beranjak ke dapur dan kembali dengan satu jar berisi air putih, kemudian menuangnya ke gelas Richard yang telah kosong.


Nawang sebenarnya sudah merasa sangat penat dan mengantuk.


Tinggal menunggu beberapa menit lagi sebelum Richard minum obatnya dan dia berharap bisa segera mengistirahatkan raganya.


"Udah, kamu tidur aja." kata Richard menatap iba pada Nawang.


Pasti Nawang capek banget hari ini karena harus ngurusin dia, ditambah lagi sport jantung tadi karena kecelakaannya.


"Iya. Nunggu kamu minum obat dulu." jawab Nawang sambil beringsut duduk di samping Richard.


Niatnya untuk menunggu alarm jam tangan Richard berbunyi.


"Terimakasih sudah mengurusku dengan sangat baik." bisik Richard sambil meraih jemarinya dan mengecupnya sesaat.


Nawang masih saja bisa tersipu- sipu dengan perlakuan manis itu.


"Dih, kayak anak sekolah. Dikecup tangannya aja tersipu- sipu." olok Richard sambil menatapnya jahil.


"Pa'an sih!" sungut Nawang sambil menarik tangannya yang masih di dalam genggaman Richard.


Tentu saja tidak semudah itu menarik kembali tanganmu, Esmeralda.....😆


Keduanya terlibat dalam 'perebutan tangan' dalam beberapa waktu sampai akhirnya alarm jam tangan Richard menjadi pertanda berakhirnya tarik- tarikan tangan itu.


Richard meminum obatnya dengan tenang kemudian menatap Nawang dengan penuh harap.

__ADS_1


Nawang yang mengerti kalau Richard ingin menikmati dot kesayangannya dengan berat hati menggeleng.


"Malu. Ada Bintang." kata Nawang kemudian menggantinya dengan mencium pipi Richard.


"Sebentaaar aja, Non. Please....." pinta Richard memohon.


Nawang masih menunjukkan wajah keberatannya.


"Sebentaaaar aja." bisik Richard masih memohon, membuat Nawang menggeleng bingung namun tetap membiarkan Richard meraih kancing tunik di bagian dadanya lalu dengan sedikit 'memaksa' agar tubuh Nawang condong ke arahnya dan dengan gerakan tangkas sudah berhasil menaikkan bagian bra depan, dan hap, langsung saja bisa menguasai dot idamannya.


Seperti janjinya, hanya beberapa kali se dotan, Richard langsung merapikan lagi baju Nawang walau dengan wajah yang masih masygul.


"Pengen pulang aja." sungut Richard kemudian mendengus.


Nawang tak bisa menahan tawanya.


"Udah. Tidur!" kata Nawang sambil menahan tawanya.


"Mau berbaring atau kayak gini aja tidurnya?" tanya Nawang.


"Gini aja." jawab Richard sudah sambil terpejam.


"sleep tight." bisik Nawang kemudian mencium pipi Richard lembut.


Richard hanya mampu bergumam pelan karena telah kalah oleh terjangan kantuk yang sudah menguasainya.


Nawang memeriksa letak tidur Bintang dulu sebelum dia membaringkan tubuhnya sendiri di bed penunggu di samping bed Richard.


Hari ini sungguh melelahkan.


Tapi baru saja Nawang merasa terlelap, tubuhnya terasa ada yang mengguncang pelan.


Dengan kesadaran yang masih sangat minim, Nawang terlonjak duduk dan mendapati Bintang berdiri di depannya dengan wajah takut- takut.


"Mau bobok sama Ibu, boleh?" tanya Bintang takut- takut.


Dilihatnya papanya tidur nyenyak walau tidak terbaring penuh.


"Boleh. Sini." jawab Nawang kemudian membaringkan kembali tubuhnya dan menepuk sisi kosong disebelahnya.


Bintang bergegas membaringkan tubuhnya dan memeluk ibunya dengan nyaman.


Dia rindu memeluk ibunya seperti ini.


"Kok papa tidurnya sambil duduk, Bu?" tanya Bintang berbisik.


"Dadanya masih sakit kalau tidurnya berbaring. Sudah ngobrolnya besok aja. Ibu ngantuk banget, Bin." kata Nawang sudah setengah sadar.


Dia sungguh hanya ingin tidur lelap malam ini.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Te



Terimakasih banyak sudah menyempatkan waktu dan meninggalkan cap jempolnya untuk novel ini.....🙏🙏🙏


Ditunggu komennya ya.....😊


Happy reading....💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2