PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
17


__ADS_3

Saat acara makan mereka belum selesai, Nawang sengaja memesan taksi online.


Sekali- sekali nggak papalah pikirnya, untuk menyenangkan Bintang.


Anak itu sangat jarang naik mobil.


Mobil pesanan Nawang datang tepat saat Nawang selesai membayar jajan mereka.


Bintang dan bude Darmi agak ragu mengikuti langkah Nawang menuju sebuah city car berwarna putih yang berhenti di sebelah warung.


Bintang menahan tangan ibunya saat Nawang membuka pintu mobil bagian belakang.


"Kenapa?" tanya Nawang lembut.


"Kita mau naik mobil ini, Bu?" tanya Bintang sambil berbisik.


"Iya." jawab Nawang ikut berbisik.


"Ini mobil siapa?" tanya Bintang bingung.


"Mobilnya mas nya yang nyopir. Nanti kita bayar mas nya karena kita akan diantar pulang." jelas Nawang.


"Ibu punya uang? Memangnya ini nggak mahal?" bisik Bintang lagi dengan nada khawatir


"Punya. Udah, ayo masuk. Nanti mas nya ngambek kalo nunggu kelamaan." ajak Nawang sambil menuntun Bintang masuk ke mobil.


"Maaf ya, Mas. Harus ngobrol dulu sama bocah." kata bude Darmi yang duduk disebelah sopir yang masih muda.


"Nggak papa, Bu." jawabnya ramah.


"Bisa kita berangkat sekarang, adik ganteng?" tanya sopir sambil menoleh ke belakang, menatap Bintang yang kemudian mengangguk malu- malu.


"Mobilnya wangi ya, Bu." bisik Bintang di telinga Nawang.


Nawang mengangguk sambil terkekeh.


Perjalanan yang hanya sepuluh menit di isi oleh percakapan bude Darmi dengan sang sopir dan bisikan- bisikan Bintang pada ibunya berisi kekagumannya pada mobil yang ditumpanginya.


"Aku langsung pulang ya, Wang." pamit bude Darmi seusai Nawang membayar ongkos taksi.


"Oh iya, Bude. Makasih banyak ya." kata Nawang serak, menahan tangis yang tiba- tiba ingin keluar.


"Iya. Udah, nggak papa. Yang penting Bintang nggak papa." kata bude Darmi sambil menepuk lengan Nawang berkali- kali dengan lembut.


Dia tahu Nawang akan menangis.


Dibalik wajah dinginnya, bude Darmi tahu kalau Nawang sebenarnya cengeng dan rapuh.


Selama ini perempuan itu dipaksa tegar dan kuat oleh keadaan.


"Mau ikut Bude pulang nggak, Bin?" tanya bude Darmi pada Bintang.


"Nggak." jawab Bintang kemudian memegang tangan ibunya.


"Ya udah kalau nggak mau. Bude pulang dulu ya." pamitnya kemudian berlalu setelah melihat anggukan Bintang.


"Bu...." panggil Bintang saat mereka telah duduk di amben teras rumah.


Nawang sedang melepas sepatunya.


"Ya...." jawab Nawang.


"Tadi pas di klinik beneran nggak bayar?" tanya Bintang pelan.


"Enggak, Sayaaaang. Ibu kan nggak pernah bohong." jawab Nawang gemas.


"Tadi pagi katanya uang ibu tinggal sepuluh ribu. Tapi tadi kita bisa jajan, bisa naik taksi. Ibu udah gajian ya?" tanya Bintang.

__ADS_1


"Ibu dapat rejeki tadi. Rejeki buat kamu." jawab Nawang sambil tersenyum senang.


"Rejeki apa?" Uang?" tanya Bintang.


Nawang mengangguk pelan.


Duh, bagaimana cara menjelaskan pada Bintang ya?


"Yang ngasih siapa?" tanya Bintang penasaran.


"Bossnya ibu. Tadi tahu kalau kamu sakit terus dia nitip uang buat kamu jajan." jawab Nawang jujur.


"Baik sekali bossnya ibu ya, Bu? Aku harus berterimakasih sama bossnya ibu karena dia sudah baik banget sama aku. Iya kan Bu? Tapi gimana caranya? Aku kan nggak pernah ketemu." gumam Bintang.


"Kamu mau bilang terimakasih sama Pak Boss?" tanya Nawang pada anaknya.


"Iya. Tapi gimana ngomongnya? Kan aku nggak bisa ketemu." tanya Bintang.


"Bisa lewat HP kan?" tanya Nawang sambil mengerling.


"Ah iyaaaa! Aku bisa telpon pakai HPnya ibu." cetus Bintang senang.


"Kamu kirim pesan suara aja ya? Atau mau ngomong lewat video? Nanti kita kirim ke Pak Boss. Kalau telpon nanti kita malah ganggu kerjanya." usul Nawang.


"Baiklah. Aku di video aja. Aku pengen bilang terimakasih." putus Bintang yang disambut anggukan Nawang.


Dalam hati dia bangga pada attitude anaknya ini.


Dia tahu berterimakasih.


Semoga akan selalu begitu sampai dia dewasa.


*********


"Hallo Pak Boss....Aku mau bilang terimakasih karena Pak Boss sudah baik sama aku. Terimakasih dulu ngasih aku bebek goreng yang enak banget. Terimakasih tadi ngasih uang buat aku. Semoga Pak Boss selalu sehat dan banyak rejekinya. Dadaaah....."


Ditangkupkannya kedua telapak tangannya ke wajahnya.


Ada setitik airmata haru yang memaksa keluar dari matanya entah mengapa.


Disandarkannya punggungnya ke sandaran sofa dengan tenang.


Entah mengapa dia merasa langsung jatuh cinta pada anak itu.


Bocah yang ternyata memiliki sorot mata sedih seperti mata ibunya.


Tapi ada sorot ketenangan di dalam mata sendunya.


Tidak seperti sorot mata ibunya yang sedih dan terlihat menyembunyikan kesakitan.


Diputarnya berulang- ulang video itu sambil tetap tersenyum dan kadang menggeleng gemas pada suara lucu bocah tampan itu.


Lihat! Kamu bahkan mengajari anakmu memanggilku dengan sebutan Pak Boss. Bukannya Pak Richard, Pak Eric, atau om Richard. Dasar cewek aneh!


Sepertinya pembawaan bocah itu tenang dan tidak nakal.


Tiba- tiba Richard punya keinginan suatu hari akan mengenalkan Darren anaknya pada anak Nawang itu.


Dia yakin mereka berdua bisa berteman baik karena Darren termasuk anak yang supel dan easy going.


Richard kemudian memainkan dua jempolnya di layar ponselnya untuk mengirim pesan pada Nawang.


Boleh nggak aku VC sama anakmu sekarang?


Send.


Tak butuh hitungan banyak menit, Richard bisa melihat dua centang telah berwarna biru. Berarti pesannya telah terbaca.

__ADS_1


Perlu menunggu beberapa saat sebelum pesannya dibalas oleh Nawang.


Silakan.


Richard terkekeh geli.


Pelit amat jawabannya.


Tapi nggak papa, Nawang bukannya begitu dari dulu?


Bergegas Richard memencet gambar kamera di aplikasi WA nya untuk melakukan VC dengan Bintang.


"Hallo Pak Boss..." sapa Bintang sambil melambaikan tangannya.


Wajah lucu Bintang segera memenuhi layar ponsel Richard.


Samar- samar Richard mendengar suara Nawang meminta Bintang agar memundurkan sedikit duduknya.


Dan bocah itu langsung menurut.


"Siapa namamu, Jagoan?" tanya Richard dengan senyumnya.


"Bintang, Pak Boss." jawab Bintang sopan.


Richard mengangguk senang.


"Kamu bisa panggil saya Pak Eric, atau Om Eric. Bukan Pak Boss." kata Richard kemudian.


"Baiklah, Pak Eric." jawab Bintang riang.


"Anak pintar....O ya, katanya tadi kamu ke klinik ya? Memangnya kamu sakit apa?" tanya Richard dengan nada penasaran.


"Punggungku di jahit sama mbak dokter." kata Bintang dengan bersemangat.


"O ya?! Nangis nggak tadi pas di jahit?" tanya Richard lagi.


"Nangis." jawab Bintang dengan wajah malu.


Richard terkekeh.


"Dulu om Eric juga pernah di jahit di kaki. Rasanya sakit ya pas di jahit?" tanya Richard.


"Iya. Dulu om Eric juga nangis pas di jahit?" tanya Bintang.


"Nangis juga, kenceng banget! Kalau kamu kenceng nggak nangisnya tadi?" tanya Richard.


"Enggak. Cuma huhuhu.....gitu." jawab Bintang sambil memperagakan nangisnya tadi.


Richard terkekeh gemas.


"Hebat dong! Berarti kamu kuat nahan sakit. Cowok memang harus kuat nahan sakit." puji Richard membuat Bintang tersenyum bangga.


"Om, udah dulu ya. Dadaaah."


Zleppp!


Layar ponsel langsung berganti gambar.


Richard kaget dibuatnya.


Bintang sepertinya terburu- buru mengakhiri percakapan mereka.


Apakah bapaknya tidak menyukai apa yang mereka lakukan barusan?


Ah, Richard langsung merasa bodoh telah meminta pada Nawang VC dengan Bintang.


Pasti suaminya berpikir aneh- aneh tentangnya.

__ADS_1


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2