PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
121


__ADS_3

"Kamu tadi ketemu siapa sih sebenarnya,Mas?" tanya Nawang setelah diliriknya ke belakang Bintang nampak tidur- tidur ayam.


"Temen." jawab Richard santai.


"Mana mungkin kamu ketemu temen di pinggir jalan." sanggah Nawang kesal karena merasa Richard berbohong.


"Namanya ketemu nggak sengaja ya bisa dimana aja lah. Kecuali kami janjian. Pasti kuajak ketemuan di tempat makan." kelit Richard lagi.


"Kenapa sih jadi bete gitu? Masih marah karena tadi ku tinggal lama? Maaf ya." kata Richard dengan nada menyesal setelah ditunggu agak lama Nawang tak bereaksi.


"Baru ketemu kawan aja udah lupa kalau ninggal anak istri di pinggir jalan. Apalagi kalau kamu ketemu mantan." sungut Nawang dengan wajah kesal.


Richard hanya mampu meringis salah tingkah.


Pakai mantan segala dibawa juga.


Richard nggak tahu bagaimana cemasnya Nawang saat tahu kelebatan Richard lari mengejar seseorang menjauhi mobil lalu agak lama suaminya itu tak kunjung kembali atau menghubunginya.


Kecemasannya ditambah lagi karena sinyal ponselnya nggak bersahabat hingga sulit menghubungi Richard.


Dia takut Richard kenapa- napa.


Rasa cemas yang menyebalkan sekali.


"Namanya Firman. Dia biasanya kerja sebagai ojol. Tapi seminggu lalu motornya ilang. Padahal baru selesai kredit satu bulan lalu." terang Richard mencoba bercerita agar Nawang mengerti dan tak marah lagi.


"Tiga hari lalu anaknya masuk rumah sakit, usus buntu dan harus segera di operasi." sambung Richard sambil melirik Nawang yang nampak memperhatikan ceritanya.


"Astagfirullah.....gimana sedihnya dia saat ini." gumam Nawang prihatin.


"Dia tadi mau nodong aku...."


"Astagfirullahaladzim! Kamu nggak papa kan, Mas?" teriak Nawang sambil mengamati setiap detail tubuh suaminya dengan wajah panik dan khawatir.


Richard tertawa geli melihatnya.


"Dia nggak jadi nodong. Malah minta maaf trus lari. Makanya aku kan penasaran kenapa dia nggak jadi nodong." lanjut Richard bercerita.


"Memangnya kenapa nggak jadi? Karena dia tahu kamu temennya?" tanya Nawang menebak.


"Gitu deh." jawab Richard.


"Kasihan ya,Mas dia? Tapi untungnya kamu ngejar dia. Amplop tadi buat dia ya?" tanya Nawang lagi.


Kali ini sudah tak ada lagi wajah kesal tersaji di depan Richard. Membuatnya lega luar biasa.


"Iya. Nggak tahu deh cukup apa kurang tadi. Tapi aku kasih nomer telponku juga sih biar kalau dia kurang bisa nelpon." kata Richard lagi.


"Mana mungkin dia mau nelpon walaupun kurang, Mas. Orang kurang mampu kalau orangnya baik, pasti malu lah. Apalagi sebelumnya udah dikasih. Kami juga punya harga diri lah." kata Nawang sambil melirik Richard galak.


"Dih, kami. Dia suamimu?" tanya Richard dengan nada cemburu.


"Kami orang miskin maksudnya." sergah Nawang.


"Kamu miskin?" tanya Richard sengaja meledek Nawang.


"Mas Eric iiiiih! Di ajak ngomong serius malah becanda." rungut Nawang dengan wajah kesal.


"Cie....cie....Mas Eric nya keluar...." ledek Richard semakin menjadi. Membuat Nawang malu.


"Emang kenapa? Namamu kan Eric juga kan?" kata Nawang sambil mencoba menyembunyikan senyum malunya.


"Iya. Tapi biasanya nama itu hanya keluar dari bibirmu di waktu- waktu sakral aja." kata Richard sambil mulai tersenyum nakal.


Nawang melirik galak untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Anaknya temenmu itu di rawat dimana?" tanya Nawang mencoba kembali ke topik.

__ADS_1


Ditengoknya Bintang telah terlelap di bangku belakang.


"Di Panti Riwi. Nama anaknya siapa tadi ya....? Her....Herlambang siapa gitu." jawab Richard.


"Bisa dilacak sih." gumam Nawang.


"Dilacak apanya?" tanya Richard.


"Dilacak benar nggak ada pasien itu disana." jawab Nawang.


"Ini dalam rangka nggak percaya sama orang atau dalam rangka mau nambahin bantuan nih?" tanya Richard sambil menatap Nawang sekilas.


"Dalam rangka dua- duanya kalau aku sih. Kadang kita harus bertindak jadi donatur yang cerdas agar bantuan tepat sasaran." kata Nawang beralibi.


"Kalau orang minta bantuan tapi ternyata bohong, padahal mengatasnamakan anaknya atau orangtuanya sakit, apalagi memakai nama anak yatim, biar Allah saja yang langsung membuat perhitungan sama dia. Kita nggak usah repot-repot mikir. Tugas kita hanya berbuat baik saja." kata Richard mencoba berpikir simple.


"Ya nggak gitu juga kali. Kalau kita bisa cegah orang lain berbuat munkar, ya kita wajib cegah. Jangan mau lah di jadikan sapi perah nya penipu." sergah Nawang.


"Ya kalau aku tahu, kalau nalarku mampu menganalisa pasti nggak akan berbuat bodoh juga main kasih uang ke orang. Tapi dalam berbuat baik kita bukannya hanya harus lebih menggunakan hati ya?" tanya Richard lagi.


Iya juga sih.


"Ya.....tujuh puluh tiga puluh lah. Tujuh puluh hati, tiga puluh logika." jawab Nawang.


"Jadi kayak bisnis dong kalau gitu. Pakai prosentase gitu. Bantu ya bantu aja, udah. Jangan kebanyakan mikir dan perhitungan." kata Richard masih dengan prinsipnya.


"Bantu juga perlu pakai perhitungan, bener bermanfaat dan tepat nggak. Mubadzir dong kalau kita bantu tapi nggak berguna buat orang itu. Padahal ada orang lain yang bener- bener butuh." sergah Nawang masih bersikukuh dengan prinsipnya juga.


"Iya...iya....Kamu bener juga. Yang penting kita hanya berusaha berbuat baik." kata Richard memungkasi diskusi yang mulai adu argumentasi itu.


Kalau diterusin bisa jadi perang dunia yang ujung- ujungnya membahayakan acara pertarungan surga nanti nih, pikir Richard.


"Astagfirullah Mas!" pekik Nawang membuat Richard kaget.


"Kenapa?" tanya Richard panik.


"Aku kan nggak punya makanan di rumah. Siang nggak masak kan tadi. Padahal aku udah ngebayangin sampai rumah mau makan." kata Nawang.sambil tersipu malu.


"Syiiiiip. Sangat solutip!" puji Nawang dengan riang.


"Mas Eric gitu loooh." seloroh Richard bangga.


"Dih, gitu aja sombong." ledek Nawang.


"Mas Eric is the beeeeeest!" sahut Richard semakin menjadi.


"Kumat!" lirik Nawang sebel.


"Sekarang sebel nggak papa. Yang penting nanti bisa membahagiakan." kata Richard sambil menowel pinggang Nawang jahil.


"Ada Bintang, Mas!" gumam Nawang sambil menatap galak pada Richard.


"Lupa." sahut Richard sambil terkikik.


*******


Richard sudah keluar dari kamar mandi -setelah memutuskan mandi lagi begitu selesai makan malam- dan Nawang belum nampak masuk kamar mereka.


Sepertinya semesta mendukung karena suhu badan Bintang sudah normal, bahkan anak itu tadi sangat lahap memakan nasi bakar isi terinya.


Suasana juga sangat syahdu karena hujan turun begitu mereka memasuki rumah tadi.


Waktu sempurna yang hakiki.


Setelah meminum obat, Bintang segera minta ditemani tidur.


Richard memilih menunggu Nawang kembali ke kamar dengan duduk di sofa. Memeriksa pesan- pesan yang masuk ke ponselnya sambil sesekali menatap rinai hujan dari balik jendela kamar.

__ADS_1


Tangannya mulai membuka beberapa pesan yang masuk ke ponselnya yang kebanyakan dari group dan teman lama.


Ada satu nomer baru yang muncul di antara deretan pesan yang masuk.


Richard memilih membuka pesan itu dulu.


Selamat malam, Pak Richard. Ini bukti pembayaran biaya inap dan operasi anak Saya. Besok siang dia operasi. Saya deposit delapan juta dan katanya nanti itu akan sisa.


Saya sedang mengusahakan mencari surat keterangan tidak mampu juga untuk mengurangi biaya rumah sakit.


Sisa uang enam juta masih utuh dan akan saya antarkan kembali ke rumah Bapak setelah anak Saya keluar dari RS. Sekalian menunggu sisa dari deposit di RS. Mungkin dua atau tiga hari lagi, Pak.


Terimakasih kasih banyak untuk bantuannya. Semoga Allah mengganti berkali- kali lipat semua kebaikan Bapak pada keluarga kami. Firman.


Richard kemudian membuka kiriman tiga photo.


Satu photo kuitansi pembayaran di rumah sakit. Satu photo lagi gambar uang sejumlah enam juta. Dan photo terakhir adalah photo anak lelaki sebesar Bintang yang gambarnya di ambil dari arah kaki hingga nampak juga papan nama penghuni ranjang bernama Herlambang Wisnu Adi.


Richard tersenyum senang.


Alhamdulillah, misinya menitipkan hartanya pada orang yang kurang mampu tak salah sasaran.


Firman jujur dan dia yakin Firman amanah pada apa yang dia titipkan.


Richard merasa perlu membalas pesan itu.


Alhamdulillah..... Semoga operasinya lancar dan Herlambang bisa pulih seperti sediakala.


Untuk uang sisa tidak perlu dikembalikan. Saya titip, tolong Anda gunakan untuk modal mencari nafkah kembali.


Saya ikhlas dan semoga menjadi berkah untuk kita semua. Aamiin.


Wassalamualaikum wr.wb


Firman yang baru saja meletakkan ponselnya bergegas meraih kembali ponselnya saat di dengarnya pesan masuk.


Ya, dari tadi dia menunggu pesannya dibaca oleh Richard dan berharap pria penolongnya itu mau membalas pesannya.


Firman tidak berani menelpon karena takut mengganggu waktu Richard.


Tangannya gemetar membaca baris akhir pesan dari Richard.


"Allahu Akbar.....Barakallah, Pak Richard. Semoga Allah selalu melimpahkan segala kebaikan kepada Anda dan keturunan Anda." kata Firman sambil terisak- Isak.


Rasanya dia ingin berlari dan rela berlutut di depan pria tampan yang jadi dewa penolongnya itu.


"Mas, kenapa?" suara Santi menghentikan isakan Firman.


Pria itu hanya mengulurkan ponselnya pada istrinya dan menunjukkan percakapannya dengan Richard.


"MasyaaAllah, Mas! Ini....ini beneran?!" tanya Santi tak kalah kagetnya dengan Firman.


Firman hanya mampu mengangguk karena masih terisak- Isak.


"Beliau siapa, Mas? Kenapa sebaik ini sama kita? Kamu menanam budi baik apa sama beliau?" tanya Santi sambil terisak- isak dengan hati yang masih linglung.


Benarkah ini?


Bagaimana mungkin ada orang sebaik ini?


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


Pasti ada yang ngarep part ini Richard buka puasa....😀 Hayo ngakuuuuuu 😂😂😂😂


Nanti ya.....Aku mengumpulkan kekuatan dulu nulis acara buka puasanya 🙈 ( Dih, sok yes !!!)


Happy reading yeaaaaa......💖💖💖

__ADS_1


Jangan lupa cap jempolnya ditinggalin dimari yes 🤗


Bunga sekebonnya, kupi segalonnya, atau itu, gambar silet nya juga boleh banget 🙈😂


__ADS_2