PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
48


__ADS_3

Richard bergegas masuk ke kamar mandi begitu selesai membaringkan Darren di ranjangnya.


Anak itu tak terjaga sedetikpun sejak tidur di kamar Bintang tadi.


Bergegas di tanggalkannya semua pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu berdiri dengan tegak di bawah guyuran deras shower yang sengaja dia nyalakan dengan kekuatan penuh.


Kepala dan bahunya sampai terasa agak sakit karena tertimpa oleh guyuran air yang mengalir deras, tapi dia tak ingin mengurangi volume air yang mengguyurnya.


Dia harus mampu meredakan gelegak hasrat yang tiba- tiba saja timbul karena tanpa sengaja menubruk Nawang tadi.


Rasa benda kenyal yang menabrak bagian depan tubuhnya tadi masih jelas terasa hingga kini.


"Sialan!!!" teriaknya sambil memukul tembok di depannya dengan tangan terkepal.


Ditatapnya miliknya yang sangat jelas tegak sempurna bahkan hanya karena mengingat rasa sentuhan tadi.


"Ja bi ngaaan!!!!" umpatnya kesal.


Kepalanya kini bahkan sudah dia bentur- benturkan di dinding walau pelan, semata untuk mengalihkan gelombang yang rasanya ingin memecahkan kepalanya.


Tapi nyatanya semuanya nggak ada gunanya.


"Solo lagi deh!" katanya dengan putus asa setelah hampir satu jam air dingin tak juga mampu meredakan hasratnya yang membara.


Dan begitulah.


Apa yang sedari tadi mendesak ingin keluar, akhirnya di tuntunnya keluar dengan bersolo ria di bawah guyuran derasnya shower dan fantasinya bersama Nawang.


Dia tak berusaha menahan desahan panjang penanda berakhirnya kegiatannya bersolo.


Ada kelegaan dari dirinya setelah semua yang harus keluar telah keluar dengan deras dan langsung hanyut terbawa guyuran shower.


"Love you so much. Need you so much....." desah Richard sedih.


Kepalanya di penuhi satu wajah saja. Wajah Nawang yang sedang tersenyum meledeknya.


"Sial!" desisnya sambil meraih wardrobe dan melangkah keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaiannya.


Dia baru saja selesai memakai celana pendeknya saat ponselnya berdering.


Dari Bram


Disampaikannya kaos berwarna dusty pink di pundaknya.


"Belum tidur?" tanya Bram basa- basi.


"Barusan selesai mandi." jawab Richard sambil melangkah ke pantry untuk menuang segelas air putih lalu meminumnya sampai tandas.


Terdengar tawa geli Bram.


"Kenapa?" tanya Richard heran.Di pakainya kaos yang tersampir di pundaknya.


"Anin juga lagi mandi." terdengar lagi tawa kecil Bram.


"Ngapain dia jam segini mandi?" tanya Richard heran.


Tawa Bram tambah meledak.


"Lha itu yang aku lucu. Yang nidurin Anin aku, kok kamu yang mandi." seloroh Bram di sambut bengongan Richard sesaat sebelum dia mengerti apa yang dimaksud Bram.


"Hasyuuuu!!!" umpat Richard akhirnya sambil tertawa keki. Bram semakin tergelak.

__ADS_1


"Jam segini udah olahraga aja." kekeh Richard sambil melirik jam dinding. Hampir jam sebelas.


"Start lebih awal, siapa tahu bisa nambah ronde lagi ntar.Mumpung Darren nggak ada." kata Bram dengan songongnya.


"Anin kan udah mandi..." celetuk Richard.


"Dia mah sangat menjaga kebersihan. Semalem empat ronde ya empat kali dia mandi." kata Bram sambil tertawa.


"Waaaah." kata Richard dengan nada kagum, lalu tertawa.


Walaupun dia mantan suami Anin, tentu saja dia nggak tahu hal itu, secara dulu mereka nggak pernah making love.


Mereka kan cuma sekali ML dan itu pun tanpa kesadaran penuh.


"Kamu ngapain jam segini mandi? Habis nyolo ya?" tembak Bram sambil tertawa meledek.


"Sotoy!" sangkal Richard malu. Untung Bram tidak video call.


Kalau percakapan mereka ini dalam mode video call, pasti Bram akan tahu wajah merah padamnya Richard saat ini.


"Nggak ngaku lagi! Atau jangan- jangan kamu bawa cewek ke apart?" tuduh Bram membuat Richard mendecih.


"Aku belum gila hei! Mana ada aku bawa perempuan saat ada Darren. Bisa pusing aku di interview bocah itu." kata Richard sambil tersenyum menatap Darren yang tertidur pulas di atas ranjangnya.


Jagoan Papa yang cerdas.


Bram tergelak.


"Berarti kamu suka bawa cewek ke apart kalau Darren nggak ada? Waaah, parah lu!" kata Bram.


"Nggak! Nggak ada cewek- cewekan!" bantah Richard tegas.


"Ibu siapa?" tanya Richard penasaran.


"Ibu yang suka di sebut- sebut Darren. Ibunya mas Bintang....." seloroh Bram.


Richard menunduk malu, entah pada siapa.


"Ibunya mas Bintang itu namanya siapa?" pancing Bram.


"Nawang." jawab Richard tanpa sadar. Dan dia menyesal begitu menyadarinya.


"O ya! Namanya Nawang ya....Dia juga belum kamu gituin?" tanya Bram vulgar dan langsung mendapat umpatan dari Richard.


Bram hanya tergelak, tahu kalau Richard sebal pada candaannya.


"Udah, buruan di lamar aja kenapa sih? Nunggu apa lagi? Anak- anak ACC, ortumu juga udah nggak ngelarang. Apa lagi? Biar kalau malem- malem mandi nggak sendirian." seloroh Bram.


"Mu nyuk!" umpat Richard sengit yang disambut gelak Bram yang semakin kencang.


"Mandi sana! Amismu sampai sini baunya!" usir Richard kesal.


Kalau dibiarkan bisa tambah menggila tuh bocah membantainya.


"Iyaaah.Anin juga barusan selesai. Aku mandi dulu biar suegerrrrr. Titip Darren ya." kata Bram sebelum menutup telponnya.


"Hmmm." jawabnya walau mungkin sudah tak di dengar oleh Bram yang langsung menutup telponnya.


Alarm di pergelangan tangannya berbunyi saat baru saja dia melemparkan ponselnya ke samping.


Richard mendongakkan kepalanya lelah.

__ADS_1


Saatnya minum obat.


Dan bisa dipastikan sejam ke depan dia mati.


*****


Nawang memandang ponselnya dengan putus asa.


Sudah hampir lima puluh kali dia melakukan panggilan ke ponsel Richard dalam kurun waktu satu jam ini. Dan hasilnya zonk.


Panggilan telponnya selalu berakhir tanpa balasan.


Mas...please.....


Dia sadar ini tengah malam, tapi masak Richard nggak kebangun dengan panggilan telpon yang begitu padatnya dia lakukan?


Atau jangan- jangan dia silent lagi.....


Ya Tuhan, please bangunin dia, please.....


Kepalanya spontan menoleh saat di dengarnya pintu di sebelahnya terbuka.


Dan dilihatnya bude Darmi menuju ke arahnya dengan wajah sembab karena kebanyakan menangis.


"Pakde gimana, bude?" tanya Nawang lembut begitu bude Darmi duduk di sebelahnya dengan lemas.


Bude Darmi hanya menggeleng pelan.


"Sedang tidur." jawabnya pelan.


"Sudah bisa menghubungi Pak Richard?" tanya bude Darmi lirih.


Nawang menggeleng lemah.


"HPnya hidup, tapi nggak diangkat. Mungkin di silent sama dia. Aku udah ninggal pesan biar kalau dia bangun nanti bisa langsung menghubungi kita." kata Nawang menenangkan.


Bude Darmi mengangguk.


Waktu mereka nggak banyak.Hanya sampai besok pagi jam tujuh.


Bila Richard membuka ponselnya setelah jam tujuh, sungguh Nawang akan sangat menyesali hidupnya.


"Semoga masih jadi rejekinya bapak, biar bisa ketolong." gumam bude Darmi sedih.


Nawang memeluk bahu bude Darmi dengan erat, mencoba menguatkan.


"Kalau Pak Richard nggak bisa nolong, aku nggak tahu harus nyari dimana uang sebanyak itu dalam waktu singkat." keluh bude Darmi dengan iringan airmata yang mulai menetes.


Nawang terdiam.


Dia bingung harus menghibur dan menenangkan dengan cara apalagi.


Karena mereka berdua tahu pasti apa yang mereka butuhkan saat ini.


Uang.


Yang jumlahnya nggak sedikit.


Ya Tuhan, tolong bangunkan dia......


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2