
Richard terbangun saat dia kaget dengan tendangan cukup keras mengenai perutnya.
Dan di dapatinya kaki Darren bertengger santuy di atas perutnya.
"Strong boy." gumam Richard sambil terkekeh pelan.
Dirapikannya lagi posisi tidur Darren yang sudah berbalik arah dengan posisinya.
Dia meraih ponsel di nakas sebelahnya untuk mencari tahu jam berapa sekarang saat kemudian matanya terbelalak mendapati 53 panggilan tak terjawab dari My Mrs.
Buru- buru dilakukannya panggilan saat dilihatnya kontak Nawang masih online.
"Hallo Non, ada apa?" tanya Richard khawatir saat sambungan telponnya diangkat oleh Nawang.
"Alhamdulillah ya Allah....." sahut Nawang lega,membuat Richard mengerutkan dahinya.
"Kamu kenapa? Bintang kenapa?" tanya Richard lagi, dengan nggak sabar.
Pasti terjadi sesuatu diluar kendali Nawang bila perempuan itu sampai mau menelponnya di tengah malam.
"Kami berdua nggak papa,Mas. Maaf kalau aku mengganggu tengah malam begini." kata Nawang dengan nada sedikit canggung.
"Nggak papa....nggak papa. Ada apa? Kenapa?" tanya Richard lembut.
"Aku bingung mau minta pertolongan sama siapa selain sama kamu. Ini urgent banget. Aku mohon Mas mau bantu." kata Nawang dengan suara yang jelas terdengar sangat bergetar, mungkin saat ini perempuan itu malah sedang menitikkan airmata.
"Aku akan bantu.Aku pasti akan bantu. Kamu tenang dulu, jangan nangis. Aku pasti bantu." kata Richard dengan suara semeyakinkan mungkin.
Dia mendengar helaan nafas lega dari Nawang, juga sesengukan kecil yang tertahan.
Ah, rasanya dia pingin punya ilmu yang membuatnya tiba- tiba bisa berada di samping Nawang, agar dia bisa menenangkan Nawang dengan pelukannya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" tanya Richard to the point.
"Non....." panggil Richard karena beberapa saat ditunggunya Nawang tak juga menjawab.
Dia hanya mendengar helaan nafas berkali- kali.
"Bude Darmi minta tolong padaku...."
"Ya? Minta tolong untuk?" tanya Richard lagi setelah Nawang kembali terdiam.
"Pinjam uang 80 juta sama, Mas." kata Nawang lirih,dengan nada takut.
"Buat apa?" tanya Richard dengan nada lembut.
80 juta bukan nominal besar buatnya.
"Pakde Parno harus operasi pasang ring jantung. Kata dokter setidaknya butuh pasang dua ring. BPJS hanya bisa mengcover satu ring sekali operasi. Kami harus menyediakan dana setidaknya 80 juta dulu agar bisa segera dilakukan tindakan kalau mau pasang dua ring sekalian. Kami hanya punya waktu maksimal sampai jam tujuh nanti." kata Nawang menjelaskan walau dengan agak terbata- bata.
Richard menatap jam di sudut ponselnya.
Hampir jam tiga.
"Oke, aku kesana sekarang." kata Richard tanpa ragu.
"Jangan!" cegah Nawang mengagetkannya.
"Kenapa?" tanya Richard bingung.
"Darren sendirian nanti. Pasti nangis kalau kamu nggak ada pas dia bangun." kata Nawang.
Richard menepuk dahinya sesaat.
Kebawa aura panik, sampai mau lupa kalau Darren tidur disini.
__ADS_1
"Ya udah. Sebentar aku nelpon Daddy nya dulu biar kesini." kata Richard kemudian memutus telponnya dan bergegas menelpon Bram
Sayangnya ponsel manusia itu nggak aktif.
Richard kemudian menghubungi ponsel Anin, nggak aktif juga.
"Gila! Pasti kuda- kudaan lagi nih sableng nih." sungut Richard.
Dia kemudian menghubungi Hans, dan untungnya di panggilan kedua Hans menerima telponnya.
"Hallo, Pak."
"Hans, tolong kamu ke apart sekarang. Ya?!" pinta setengah memerintah Richard yang membuat Hans melongo.
"Ada apa ya,Pak?" tanya Hans bingung.
"Aku harus nyusul Nawang ke rumah sakit. Darren lagi disini soalnya. Aku nggak bisa ninggal dia sendirian. Tolong kamu temenin Darren ya?" pinta Richard.
"Oke, Pak.Saya segera meluncur." kata Hans yang bergegas meraih jaket dan menyambar kunci motornya.
Dia berpikir akan sholat tahajud nanti di rumah Richard saja. Toh jarak dari rumahnya ke apart Richard nggak sampai dua puluh menit. Masih ada waktu.
"Lama, Pak?" tanya Hans begitu Richard membuka pintu apart untuknya.
"Nggak juga. Sorry ya ngrepotin kamu." kata Richard mengikuti Hans masuk.
Cowok itu menurunkan tas ransel berisi alat kerjanya dan juga baju ganti untuknya bekerja nanti.
"Bu Nawang kenapa, Pak?" tanya Hans khawatir.
"Dia nggak papa. Saudaranya yang sakit." kata Richard sambil memakai jaketnya.
"Titip Darren ya. Nanti pagi di jemput Daddynya. Kalau dia udah bangun, tolong nanti VC biar dia nggak ngambek." pesan Richard.
"Siap!" jawab Hans sambil melepas jaketnya.
"Salam buat Bu Nawang." kata Hans.
"Nggak akan disampaikan." jawab Richard sambil menatapnya kesal.
Hans menggelegas geli.
"Dih!" sahutnya sambil meledek.
Richard hanya memberinya kepalan tangan sebelum hilang di balik pintu.
"Protektif banget kalo lagi bucin." kekeh Hans sendiri.
*******
Richard menepuk lembut lengan Nawang yang tertidur bertumpukan sebelah lengannya.
Sementara Bintang yang memakai jaket dan celana panjang terlelap meringkuk di bangku sampingnya berbantal tas dan jaket Nawang.
Dielusnya pelan pipi anak itu.
Jagoannya Ibu.
Dielusnya lembut pipi Nawang dengan buku- buku jarinya karena beberapa kali tepukannya di lengan tak membuat Nawang bergerak.
Sepuluh menit lalu padahal Nawang masih menjawab telponnya.
"Non....." panggil Richard lembut karena Nawang belum juga bangun.
Senyumnya mengembang saat dilihatnya Nawang menggerakkan kelopak matanya.
__ADS_1
"Aku udah disini, sayang." bisik Richard,membuat Nawang terlonjak.
"Bikin kaget aja ih!" sungut Nawang sambil beringsut menyempurnakan posisi duduknya.
Richard terkekeh sambil tak melepaskan tatapannya dari wajah bangun tidur Nawang.
Sangat cantik dengan rambut yang agak berantakan dan wajah agak sayu.
"Kamu ternyata cantik banget kalau bangun tidur." kata Richard sambil beranjak duduk di samping Nawang.
Nawang mengusap wajahnya malu.
"Aku ke kamar mandi dulu." pamit Nawang malu.
Heissss.....pakai ketiduran segala siiiih!
Aku tadi ileran nggak ya?
Dia tadi udah lama belum ya sampainya?
Seusai cuci muka dan merasa lebih fresh, Nawang bergegas kembali ke tempat Richard berada.
Namun ternyata hanya ada bude Darmi yang menyambutnya dengan senyuman tipis.
"Pak Richard baru ke administrasi." kata bude Darmi walau Nawang tak bertanya apapun.
Dia hanya mengangguk kecil kemudian ikut duduk di samping bude Darmi.
"Makasih udah nyelamatin nyawanya Bapak. Maaf ya, Wang kalau aku memanfaatkan kamu." kata bude Darmi dengan menundukkan kepala penuh sesal.
"Ngomong opo to bude ki?" sergah Nawang.
( Ngomong apa sih bude nih?)
"Aku tadi sudah ngomong sama Pak Richard,akan ngasih seetifikat tanah yang di barat desa itu besok, nitip sama kamu. Kamu bisa ambil suratnya di lemari kamarku, di bawah....."
"Itu dibahas besok aja kalau pakde sudah ditangani. Pak Richard juga nggak keburu- buru butuh sertifikat itu. Udah." sergah Nawang karena bude Darmi memandangnya dengan nggak enak hati.
"Kalian orang baik. Sungguh kalian orang baik. Semoga takdir baik berpihak pada kalian." kata bude Darmi berkaca- kaca.
Aamiin.....
Keduanya tengah sama- sama terdiam saat Richard nampak berjalan mendekati mereka.
Nawang memilih menunduk menghindari tatapan Richard yang nampak sangat bahagia menatapnya.
Eh, bahagia?
"Bude, aku culik dia ke kantin sebentar boleh?" tanya Richard sambil menunjuk Nawang karena dari kejauhan tadi dilihatnya Nawang berkali- kali melipat tangannya di depan dada.
Nawang nampaknya kedinginan.
"Iya, boleh Pak. Bintang biar sama saya.Bapak juga nggak perlu ditungguin kok katanya suster tadi." kata bude Darmi dengan senang.
Nawang menatap bude Darmi protes.
"Nggak usah,Mas." tolak Nawang segan.
"Udah sana nggak papa. Sebentar ini. Kamu dari semalam juga nggak kemasukan apa- apa kan? Nanti malah kamu masuk angin. Nggak makan, nggak tidur." kata bude.
"Ayo." ajak Richard sambil mengulurkan tangannya.
Nawang menatap uluran tangan itu dengan enggan, lalu memilih berdiri tanpa menerima uluran itu.
"Aku ke kantin sebentar ya, bude." pamitnya kemudian melangkah diikuti Richard yang geleng- geleng kepala mengejar untuk menjajari langkahnya.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️