PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
Obat Rindu


__ADS_3

Nawang menatap hamparan kebun teh dari lantai atas rumah berdesain rumah panggung namun dibuat dua lantai itu.


Sudah tak terlalu terlihat karena sudah malam.


Namun kerlip lampu dari rumah- rumah penduduk di kejauhan, diseberang kebun teh yang luas itu, cukup jadi pemandangan yang bisa memanjakan mata Nawang.


Saat malam seperti ini, dan anak- anak sudah tidur semua, Nawang merasa bisa kembali memiliki dirinya sendiri.


Senyum tak pernah lepas dari bibirnya sejak tadi.


Bangunan lantai dua rumah itu dominan berdinding kaca dan anyaman bambu, hingga dinginnya angin bisa lebih leluasa menjamah kulit di daerah perkebunan teh itu.


Sengaja di desain Nawang seperti itu karena lantai atas tidak di fungsikan sebagai tempat untuk tidur, jadi tidak memerlukan kehangatan dari tebalnya tembok untuk melawan hawa dingin.


Ya, Richard sengaja meminta Nawang memberi banyak ide untuk mendesain rumah itu.


Ruang atas bangunan itu di dalamnya difungsikan sebagai mushola, ruang keluarga dan ruang bermain untuk anak- anak.


Dan bagian luarnya tentu saja berguna sebagai 'gardu pandang' untuk melihat hamparan kebun teh di 360 derajat sejauh mata memandang juga untuk melihat matahari terbit dan terbenam.


Di sudut belakang juga di letakkan alat untuk memanggang dan membakar.


Lantai dua itu bangunannya ada di tengah. Sedang sisi luarnya sengaja dibuat seperti balkon yang mengelilingi rumah dengan pagar setinggi dada orang dewasa terbuat dari besi ulir yang dibuat sedemikian rupa agar rapat namun tetap terlihat cantik. Memadukan keamanan dan keindahan.


Di empat sisi teras ada seperangkat meja dan kursi dengan empat desain berbeda untuk membuat lebih nyaman menikmati udara segar di sana.


Bisa dibayangkan bagaimana senangnya Nawang bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam dari sana di pagi dan senja hari.


Juga menikmati kerlipan lamou- lampu di kejauhan di malam hari seperti ini.


Dia tidak perlu pantai atau gedung tinggi untuk bisa menikmati semua itu.


Cukup seperti ini saja.


"Udah dari tadi disini?" tiba- tiba Richard sudah merengkuh tubuhnya dari belakang lalu sekilas mencium pipinya.


"Belum lama. Kok udah bangun?" tanya Nawang semakin merapatkan tubuhnya ke dada Richard dengan cara mengencangkan kedua lengan Richard di perutnya.


"Kebangun. Haus. Nyariin kamu malah ketemunya bude Darmi sama Pakde." kata Richard dengan wajah bersungut manja.


Setelah sholat isya tadi Richard minta ijin padanya untuk tidur dulu karena merasakan badannya kurang fit dan minta dibangunkan saat jam minum ARV nanti.


"Mereka masih nopi?" tanya Nawang membuat Richard mengangkat dagunya yang tadi diparkirnya di pundak Nawang.


"Nopi apaan?" tanya Richard bingung.


"Nonton tipi, Papaaaa......! Nggak gaul banget sih jadi orang." kata Nawang dengan wajah meledek.


"Ooooh....." kata Richard sambil tertawa malu kemudian menyembunyikan wajahnya di pundak Nawang.

__ADS_1


"Masih." sambungnya kemudian, menjawab pertanyaan Nawang.


Tak ada lagi percakapan di antara keduanya setelah itu.


Hanya semakin saling merapatkan tubuh untuk saling memberi kehangatan.


"Kata teh Wiwi, sekarang kalau pagi ada yang jualan serabi di samping rumah. Besok aku tolong dibeliin ya, Mas?" pinta Nawang manja.


Teh Wiwi adalah orang yang Richard pekerjakan untuk membersihkan rumah ini.


"Baiklah, Nyonya. Serabinya enak kok. Apalagi yang topingnya sambal oncom." kata Richard sambil membayangkan rasa serabi itu.


"Kamu udah pernah beli? Kapan?" tanya Nawang penasaran.


"Pas kesini nengokin rumah ini yang terakhir, aku dapat upeti dari teh Rina, yang jualan serabi itu." kata Richard sambil terkekeh.


Nawang menatap Richard dengan tatapan menyelidik.


"Yang jualan masih muda ya?" tanya Nawang dengan wajah jutek.


"Mungkin sebaya sama kita. Tapi anaknya udah SMP. Suaminya yang minta ijin sama aku buat numpang jualan di bawah. Nyediain orang- orang yang mau ke kebun." terang Richard.


Ya, jalan depan dan samping rumah mereka adalah akses utama menuju hamparan kebun teh yang juga milik mereka.


Milik mereka? Milik Nawang tepatnya.


Dan Richard tentu saja sangat mengusahakan mewujudkan mimpi itu.


Sebenarnya akan Richard serahkan kepada Nawang sebagai hadiah kelahiran si kembar begitu Nawang keluar dari kamar bersalin, tapi keburu Nawang mendapat sedikit musibah jadi diurungkan lah niatnya sekalian menunggu kondisi psikis -pasca tidur panjangnya Nawang- mereka semua pulih beberapa bulan kemudian.


Dan akhirnya, disinilah mereka hari ini. Sehari sebelum si kembar berulang tahun yang pertama, mereka bisa menikmati suasana rumah dan perkebunan teh bersama- sama untuk pertama kalinya.


"Baiknyaaaa Papa satu iniiiii...." puji Nawang sambil merapatkan pelukannya.


Richard hanya terkekeh dengan wajah bergaya congkaknya.


"Besok aku aja yang beli sendiri." kata Nawang kemudian.


"Kenapa?" tanya Richard sambil menahan senyumnya.


"Sayang aja kalau suamiku jadi sarapan pagi matanya teh Rina." jawab Nawang dengan bibir manyun.


"Terlalu sayang untuk dilihat orang lain ya?" tanya Richard dengan PD nya.


"Iya. Kamu selalu terlihat keren dalam kondisi dan dandanan gimanapun. Aku kadang takut kamu di curi orang kalau mereka sampai tahu aku nggak sepadan sama kamu." kata Nawang dengan nada merajuk membuat Richard gemas.


"Kamu itu cantik. Bahkan tetap cantik tanpa polesan apapun. Aku yang suka deg- degan kalau kamu mulai dandan. Aku cemburu kalau kamu dilirik orang lain." kata Richard sambil menggoyang- goyangkan pelukannya.


"Aku kalau dandan kan pasti sama kamu perginya."

__ADS_1


"Iya. Aku jadi dilema. Pengen minta kamu polosan, aku nggak tega sama kamu ntar dikira nggak bisa dandan bla....bla....bla......tapi kalau kamu dandan dikit aja keliatan cantik banget." keluh Richard galau.


"Gombalannya keluar.....bahaya nih...." kata Nawang sambil terkekeh.


"Apa?" tanya Richard sambil tersenyum- senyum mengerti maksud perkataan Nawang.


"Kamarnya kedap suara kan ya?" tanya Nawang kemudian.


Hati Richard terlonjak kegirangan.


Yesssss, Nawang bertanya seperti itu berarti sudah mikirin acara malam pertama mereka di rumah baru ini.


"Tentu saja, Nyonya. Mau nyoba kenyamanan kamar kita malam ini?" tanya Richard dengan nada merayu.


"Aku sih nggak pengen." jawab Nawang santai dengan hati yang tertawa- tawa.


"Tapi aku pengen....." rajuk Richard manja.


"Pengen kan nggak harus dituruti, Mas. Kamu masih capek kan nyopir seharian?" tanya Nawang sok care padahal hanya untuk meledek Richard.


"Udah enggak. Kan udah buat tidur tadi. Udah fresh!" kata Richard meyakinkan.


Nawang menatap wajah Richard beberapa saat dengan tersenyum.


"Iya. Sudah fresh kayak sayuran habis dikobokin di kali." kata Nawang yang langsung mendapat serangan gelirikan di pinggangnya.


"Perumpamaannya nggak sopan banget...." kata Richard di sela- sela tawa Nawang yang berderai - derai.


Ada kehangatan dan rasa syukur yang memenuhi benak Richard setiap kali mendengar tawa itu.


Tawa yang akan selalu dia usahakan selalu tercipta dari wanita yang selalu ingin dia bahagiakan lahir batinnya, sampai nanti saat maut memaksa mereka berpisah sementara. Karena nanti, di kehidupan selanjutnya, wanita ini pula yang akan dicarinya untuk dimilikinya kembali dalam keabadian surga-Nya.


Bila Allah mengijinkan.


...sekian dan terimakasih 😊💖...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Hehehe.....anggap saja ini bonus 🙈


Oya.....novel baru akan up perdana tanggal 8 November 2021 ya.......Bila berkenan, silakan cek di tengah hari pada tanggal tersebut.


Saya menungguuuu 😀😀😀😀


Kalau mau ngintipin ig ku juga boleh di @anieksetiyowati20.....nggak ada yang menarik sih di sana 😅🙈 followernya juga cuma berapa biji doang 😂😂😂


Nieza Ali dan Andrean Brima.....Miss youuuuu.....😀😀😀


Sehat selalu dan bahagia selalu semuanya....,💞💕💕

__ADS_1


__ADS_2