PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
109


__ADS_3

Setelah menunggu sekitar setengah jam, Nawang bisa kembali melihat suaminya.


"Ternyata lumayan lama juga ya?" gumam Nawang sambil tersenyum berdiri di samping ranjang dorong Richard yang terparkir di pinggir pintu.


Digenggamnya tangan Richard yang berusaha meraih jemarinya.


Suster yang mendampinginya tadi berpamitan akan ke bagian administrasi dan mereka diminta menunggu sebentar.


Tak sampai tiga menit, suster tadi sudah mendekat ke arah mereka.


"Mari kita ke kamar, Pak, Mari Bu." kata suster itu ramah kemudian mendorong ranjang dengan sigap.


"Hasil CT scan nya akan keluar besok sore, Bu." kata suster itu saat mereka menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar VVIP yang akan digunakan oleh Richard.


"Berarti kemungkinan kami akan menginap berapa hari, Sus?" tanya Nawang.


"Yang pasti besok masih disini." jawab suster itu sambil tertawa kecil.


"Nanti bisa ditanyakan lebih detailnya sama dokter setelah melihat hasil scan tadi, Bu.Saya doakan hasilnya baik- baik saja. Jadi bisa cepat pulang." kata suster itu sambil tersenyum.


"Terimakasih doanya, Sus." sahut Richard dengan suara lirih namun cukup terdengar oleh kedua perempuan itu.


"Sama- sama, Pak." jawab suster itu sambil tertawa pelan.


"Aku juga dari dulu mendoakanmu lho, Mas. Nggak terimakasih sama aku?" tanya Nawang sengaja membuat suasana lebih cair.


"Terimakasih banyak, Sayang. I love you so much." sahut Richard lirih sambil tersenyum senang.


Suster itu hanya terkikik melihat adegan mesra satu babak di depan matanya.


"Jangan diambil hati ya, Sus." kata Nawang sambil tersenyum malu.


"Nggak papa, Bu. Malah seneng ngeliatnya. Bisa jadi inspirasi." jawab suster itu.


Nawang tertawa mendengar suster itu mengatakan kalau mereka berdua bisa jadi inspirasi.


"Inspirasi apanya, Sus? Kayak gini kok inspirasi." kata Nawang sambil terkekeh malu.


Suster itu hanya tersenyum semakjn lebar.


Richard tersenyum- senyum mendengarnya.


"Nanti, selama Bapak di rawat disini hanya dokter Pramudya yang menangani ya ,Pak." kata suster itu setelah dia dan Nawang membantu Richard berpindah bed di kamar VVIP itu.


"Iya. Makasih ya,Suster.....Aida." kata Richard sambil sekilas menatap nametag suster itu.


"Sama- sama, Pak Richard. Selamat istirahat juga. Saya pamit keluar ya, Bu, Pak." pamit suster Aida dengan sopan.


"Sama yang bening- bening cepet amat, Pak tahu namanya." ledek Nawang sambil mendudukkan dirinya di samping Richard kemudian merapikan rambut suaminya itu.


"Kan ada nametag nya, Bu. Gitu aja cemburu." balas Richard sambil meringis.


Dadanya terasa nyeri.


"Mau ganti posisi nggak, biar nyaman?" tawar Nawang.


"Tolong agak dinaikin dikit bed nya." pinta Richard yang langsung dituruti Nawang.


"Udah enakan. Bisa bernafas lumayan lega." kata Richard pelan.


Nawang mengedarkan pandangannya ke seantero ruangan VVIP itu.


Biasa, sesuai permintaan boss Richard.


Rumah sakit rasa hotel ini mah.


Ada satu set sofa begitu tadi mereka masuk ruangan.

__ADS_1


Di seberang sofa ada TV lebar -pasti lebih dari 40 inch- yang nangkring manis di atas TV stand yang simple namun manis.


Di sebelah sofa tamu ada satu set meja makan yang berdampingan dengan kitchen set di pojok ruangan lengkap dengan kulkas satu pintu dan dispenser.


Di samping bed pasien sendiri ada satu bed lagi dengan ukuran lebar yang sama namun posisinya lebih pendek. Pasti untuk penunggu pasien.


Ada satu side table di sisi lainnya bed pasien, di atasnya ada telpon dan lampu tidur.


Ada juga satu lemari pakaian dua pintu di samping bed penunggu pasien.


Ya ampun......ternyata sakitpun bisa menikmati yang seperti ini kalau kita punya banyak uang.


"Bintang kok belum sampai juga ya?" tanya Richard dengan suara pelan.


"Mungkin sebentar lagi." jawab Nawang sambil menatap pintu yang tiba- tiba terbuka dan muncullah wajah yang dirindukannya beberapa hari ini.


Anak itu berjalan setengah berlari kemudian menubruk perutnya dan langsung terisak- isak.


Nawang tak bersuara dan sengaja membiarkan Bintang melepaskan semua perasaannya lewat tangisannya.


Dia hanya memeluk lembut bahu anak kesayangannya itu.


Bude Darmi dan Hans yang berjalan di belakang Bintang hanya tersenyum kikuk.


"Gimana kondisinya, Mas?" tanya bude Darmi yang langsung berjalan ke arah Richard terbaring kemudian beranjak duduk di kursi penunggu di samping Richard.


"Nggak papa kok, Bude. Cuma retak di tulang rusuk sama linu- linu aja badannya separo, kebanting di aspal tadi." jawab Richard lirih.


Dia tidak bisa bersuara normal seperti biasanya karena dadanya terasa sakit untuk ngotot sedikit saja.


"Kamu nggak mau salim dulu sama papamu, Bin?" tegur bude saat dilihatnya Richard melihat Bintang yang masih saja nempel di pinggang ibunya.


Sedang Hans tak lama disitu kemudian pamit pulang dan berjanji besok paavi sekali akan datang lagi untuk mengantar bude Darmi dan Bintang pulang.


"Pasti kangen banget dia sama ibunya." gumam Richard pada bude Darmi.


Bintang mendekat ke arah papanya dengan masih tetap menempelkan wajahnya di pinggang ibunya yang membimbingnya ke ranjang Richard.


"Mas Bintang kangennya sama Ibu aja nih? Nggak kangen sama Papa?" tanya Richard sambil tersenyum menatap Bintang.


Bintang tak menjawab. Hanya memandangnya penuh tanya.


Papanya keliatan nggak sakit.


Katanya ketabrak mobil, kok nggak diperban- perban? batin Bintang keheranan.


"Salim dulu sama Papa." kata Nawang pada anaknya.


Bintang beringsut mendekat lalu salim tanpa bersuara kemudian mengamati papanya dengan lebih seksama.


Oh ternyata wajah papanya yang kiri ada plesternya. Sikunya yang kiri juga ada tambalan putih- putih.


"Papa yang sakit yang mana aja?" tanya Bintang akhirnya.


Richard tersenyum lega mendengar pertanyaan itu.


Dia kira Bintang akan ngambek padanya.


""Badan papa yang sebelah kiri banyak lukanya. Nih." kata Richard sambil menunjuk muka, lalu membuka sedikit lengan bajunya untuk menunjukkan luka memanjang yang ditutupin kasa, kemudian menyingkap sedikit selimut yang menutupi kakinya untuk menunjukkan daerah dengkul ke bawah yang juga di tutupi kain kasa.


Bintang melihat semuanya dengan wajah sedih.


Pasti sakit sekali.


"Mobilnya jahat." gumam Bintang dengan wajah kesal.


"Nggaaak. Bukan gitu. Papa ketabrak karena mau nolong adik kecil yang dari dalam rumah langsung lari ke jalan raya. Kalau nggak di tolong Papa, adik itu pasti lebih sakit ketabrak mobil. Kasihan." sergah Richard cepat.

__ADS_1


"Emangnya adik kecilnya nggak dijagain ibunya, Pa?" tanya Bintang penasaran.


Dia kini sudah duduk manis di samping ranjang Papanya.


Sedang Nawang dan bude Darmi menyingkir ke area meja makan dan kasak- kusuk berdua di sana.


"Ibunya lagi ngambilin kembalian buat Papa. Kan tadinya Papa beli minuman di warungnya ibu itu." jawab Richard.


Bintang mengangguk- angguk mengerti.


"Tapi jadi Papa yang sakit...." gumam Bintang lagi.


"Nggak papa. Nggak sakit parah kok. Cuma luka dan sedikit sakit disini." hibur Richard sambil menepuk dadanya sendiri lembut.


"Dada Papa juga di perban?" tanya Bintang penasaran.


"Enggak. Yang sakit tulangnya, jadi nggak bisa diperban. Yang sakit yang sebelah sini, tulangnya retak." jelas Richard sambil menunjuk posisi rusuknya yang sakit.


"Kasihan Papa." gumam Bintang sedih.


"Mas Bintang mau bantuin Ibu ngerawat Papa nggak?" tanya Richard mulai bermanuver meraih hati Bintang lagi.


"Mau." jawab Bintang mantap sambil menganggukkan kepala.


"Papa kan harus nginep disini beberapa hari lagi. Boleh nggak papa pinjam Ibu lagi buat nemenin papa disini dulu? Papa nggak bisa bebas gerak kalau butuh apa- apa. Kalau papa disini sendirian bakalan susah kalau butuh sesuatu." tanya Richard dengan wajah penuh harap.


Bintang tak segera menjawab.


Padahal dia berpikir penantiannya akan berakhir hari ini.


Dia akan memiliki ibunya lagi mulai malam ini.


Ternyata papanya masih ingin 'meminjam' ibunya lagi karena sakit.


"Aku harus bobok sama bude lagi, Pa?" tanya Bintang sedih.


Richard sangat bisa melihat perubahan raut muka Bintang itu.


"Enggak dong. Kamu bisa bobok sama Ibu dong. Disitu, nemenin Papa." jawab Richard sambil menunjuk satu bed yang ada di samping bed pasien.


"Aku boleh bobok disini, Pa?!" tanya Bintang dengan suara yang langsung gembira.


Richard mengangguk- angguk senang.


"Yeeeeee......aku bisa bobok sama Ibu lagi. Jadi kalau malam aku bobok disini sama Ibu, Pa?" tanya Bintang untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Betul. Selama Papa disini, kalau pagi- pagi Mas Bintang dijemput Om Hans kesini buat berangkat sekolah. Nanti sorenya, kalau Om Hans udah selesai kerjanya, Om Hans jemput lagi ke rumah buat diantar kesini lagi. Gimana?" tanya Richard yang langsung di balas anggukan oleh Bintang.


"Anak baik. Makasih ya, mau nemenin Papa disini." kata Richard dengan tulus.


"Darren nggak kesini, Pa?" tanya Bintang.


"Kesininya besok, sama Daddy nya." jawab Richard.


Dan tiba- tiba Richard deg- degan saat memikirkan Darren dan Bintang kalau bertemu.


Bakal rame nih.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️



Ada yang kayak beliau juga nggak nih? Bela- belain baca cerita ini?


Terimakasih banyak ya......💖💕


Aku tersanjung 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2