PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
91


__ADS_3

"Aku lupa kalau kamu terbiasa makan segala sesuatu yang premium. Sorry." kata Nawang sambil mengerling kemudian membalikkan arah suapannya yang tadi sudah nongkrong di depan mulut Richard ke mulutnya sendiri.


Srrrrrttt.....


Dada Richard berdesir cepat mendengar ucapan itu.


Mungkin benar yang diucapkan Nawang.


Seingatnya dia belum pernah makan makanan yang sudah berganti hari.


Biasanya kalau kasusnya kayak ayam bakar ini - yang kini sedang dimakan dengan lahap oleh Nawang- so pasti akan berakhir di tempat sampah.


Jadi pemandangan paginya kali ini adalah hal aneh banget baginya. Juga membuatnya trenyuh dan dihinggapi rasa bersalah.


Ini pagi pertama Nawang berstatus sebagai istrinya.


Dan dia membiarkan perempuan ini makan nasi yang dibelinya semalam.


Bahkan beberapa jam lalu perempuan ini sudah mengeluh lapar tapi nggak terealisasi makan juga karena keasikan mereka di kamar.


Richard bergegas memeluk tubuh ramping yang kini terlongong keheranan dengan mulut yang masih mengunyah pelan.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Nawang pelan sambil mengelus punggung lebarnya karena Richard tak melakukan apapun dan tak ngomong apapun.


Hanya memeluknya erat.


"Maaf ya, Non." kata Richard akhirnya dibalik kepalanya, setelah dirasanya pria itu menarik nafas panjang.


"Maaf kenapa?" tanya Nawang heran.


"Pagi pertamamu menjadi nyonya Richard malah sarapan nasi kemarin. Suami baik macam apa kalau kayak gini?" kata Richard mengeluhkan dirinya sendiri sambil tersenyum miris.


Nawang terkikik geli.


"Iya, suami macam apa kamu tuh. Udah malem di suruh kerja rodi, paginya dikasih makan nasi kemarin. Payah!" kata Nawang kemudian mencium pipi Richard gemas.


Richard terkekeh lega mendapat perlakuan manis itu.


"Nggak marah sama aku?" tanya Richard penasaran.


"Gara- gara makan ini?" tanya Nawang keheranan.


"Hmm...."jawab Richard mengangguk sambil mencomot secuil ayam bakar di depan Nawang kemudian memakannya dengan tidak yakin.


Hmmm, masih sama rasanya kayak kalau habis beli. Cuma dingin aja.


"Kurang epic temanya kalau marah cuma masalah makanan." kata Nawang sambil tersenyum melihat Richard mencomot ayam bakar lagi, kali ini dengan mencolek sambalnya.


"Enak kan? Masih layak makan kan?" tanya Nawang kembali melanjutkan makannya.


Richard hanya mengangguk- angguk.


"Mau nyoba pakai nasinya nggak?" tanya Nawang meledek.


"Hakkk...." jawab Richard kemudian membuka mulutnya.


Berharap suapan di tangan Nawang mendarat di mulutnya.


Tapi yang dia dapat malah sengatan bibir Nawang di bibir bawahnya, baru kemudian suapan Nawang masuk ke mulutnya.


Richard menatap Nawang sambil menggeleng- gelengkan kepalanya gemas.


Gokil abis ternyata perempuan ini kalau udah jadi istri. Nggak ada malu- malunya jadi penyerang.


Dulu di dekati aja susahnya mbaaaaak.....!!!!


"Mau muntah nggak makan nasi kemarin?" tanya Nawang serius, seolah kejahilannya barusan bukan sebuah dosa pada suaminya.


"Nggak." jawab Richard senang.


"Mas ganteng yang pinter." puji Nawang sambil mencolek dagu Richard genit.


"Tapi sebelum haaaak harus dicium dulu." kata Richard sambil mengerling genit.

__ADS_1


"Dih, maunya!" sungut Nawang sambil mencibirkan bibir polosnya walau pada prakteknya tetap saja keinginan Richard terkabul.


Menang banyak pokoknya, wakakakak......


"Kamu mau aku bikinin teh atau kopi?" tanya Nawang sambil beranjak berdiri setelah makan mereka usai.


"Kopi deh. Kurang tidur aku." jawab Richard santai yang mengundang lirikan menukik dari Nawang.


"Yang kurang tidur bukan situ doang kayaknya." sungut Nawang yang disambut cengiran Richard.


"Nanti kita bobok ciang ya?" tawar Richard sambil mengerling.


Nawang mencibirkan bibirnya.


"Nggak yakin aku kalau bakal bobok beneran." kata Nawang sambil meletakkan secangkir kopi hitam di depan suaminya.


Yang disambut dengan ciuman Richard dipipi mulusnya.


"Ya udah kalau nggak yakin. Kalau aku bobokin, yakin?" ledek Richard dengan senyum mesumnya.


Nawang sudah duduk manis di pangkuannya dan memeluk lehernya dengan sebelah lengannya.


"Buruan diminum kopinya. Ntar kesiangan ke Bintangnya." kata Nawang sambil menempatkan kepalanya di lekukan leher suaminya, menyesap wangi yang membuatnya sangat nyaman.


Dia sebenarnya masih ngantuk banget, jadi pelukan hangat yang Richard berikan saat ini rasanya seperti selimut nyaman pengantar tidur.


"Kita antar Bintang sekolah dulu. Lalu segera pulang dan bobok. Oke?" tawar Richard lembut di telinganya.


"Bobok beneran tapinya." sahut Nawang cepat.


"Itu tergantung kamu. Kalau kamu nggak nyenggol- nyenggol ya aku sih kalem aja. Bobok beneran kita." jawab Richard kini sambil berdiri dan membawa Nawang dalam gendongannya.


Diturunkannya Nawang di depan lemari pakaian.


"Tinggal pakai jilbab instant biar cepet. Kita langsung antar sekolah Bintang." kata Richard yang kini melepas baju koko nya dan menggantinya dengan kaos berwarna biru gelap dan hanya memakai chinos selutut berwarna khaki.


Tampan!


"Aku gini aja nggak papa ya?" tanya Richard sambil menatap Nawang yang belum melepaskan pandangannya dari sosok tampan di depannya.


Richard melarang Nawang merapikan ranjang mereka dengan alasan yang sangat absurd; belum mendokumentasikan bekas medan perang mereka semalam. Ya ampun kan?


Kenapa?" tanya Richard bingung.


Kamu terlalu tampan untuk dikeluarkan." kata Nawang sambil menempelkan kepalanya manja di lengan suaminya.


Richard hanya tertawa geli dengan gaya Nawang menunjukkan kepelitannya berbagi pemandangan.


Tak lebih dari lima belas menit, mobil Richard sudah memasuki halaman rumah Nawang.


Entah mengapa hati Nawang merasa terharu.


Baru semalam meninggalkan rumahnya ini, pagi ini rasanya dia merasakan baru mudik.


Seakan sudah sangat lama dia meninggalkan rumah ini.


"Ibuuuuu.....!" teriakan Bintang dari teras rumah menyambut langkahnya.


Bocah itu nampak sangat ceria dengan baju seragamnya.


"Waaah sudah rapi nih anak Ibu. Udah sarapan belum?" tanya Nawang pada Bintang yang kini sedang memeluk perutnya.


"Udah barusan. Ibu mau kemana,, kok pakai jilbab?" tanya Bintang penasaran.


Nawang tersenyum malu.


Selama ini memang dia berjilbab kalau hanya akan takziah atau kalau mau ke pengajian aja.


"Mulai hari ini Ibu akan seperti ini setiap harinya. Cantik nggak?" sahut Richard dari arah belakang.


"Cantik!" jawab Bintang dengan tatapan kekaguman pada Ibunya.


"Bajunya juga baguuus." kata Bintang lagi sambil meremas lembut bagian bawah gamis.

__ADS_1


"Makasiiiih." kata Nawang sambil mengelus pipi anaknya itu.


Niatnya menanyakan bude Darmi urung saat dilihatnya orang yang hendak ditanyakan melangkah dari dalam rumah dengan membawa segelas air teh.


"Minum dulu Mas Richard." kata bude Darmi sambil meletakkan gelas itu di depan Richard.


"Waaaah, pilih kasih bude ki....aku nggak dibikinin." protes Nawang pura- pura ngambek.


"Aku suka lupa kalau ada kamu. Ingetnya sama yang ganteng aja." kata bude Darmi sambil terkekeh geli.


"Waaaa....pelanggaran ini. Mbakyu mbebayani iki ( kakak membahayakan ini)." sahut Nawang tertawa kemudian masuk untuk mengambil piring untuk jajan pasar yang sempat dibelinya diperjalanan tadi.


"Libur berapa hari, Mas?" tanya bude Darmi sambil duduk di seberang Richard.


"Seminggu, bude. Paling ya mantau lewat HP aja." jawab Richard sambil tersenyum.


Bude Darmi mengangguk- angguk.


"Maaf sebelumnya kalau kepo.....mau honeymoon kemana rencananya nih?" tanya bude Darmi dengan wajah yang jelas menunjukkan raut kemal alias kepo maksimal.


Richard tertawa malu sampai dalam hatinya.


Dia bahkan lupa kalau ada agenda wajib tak tertulis bagi pengantin baru itu.


"Belum ada bayangan sih, Bude. Rencananya sih nunggu Bintang liburan sekolah trus kita ke Bali aja.Tapi liburan sekolah masih lama ya?" tanya Richard sambil terkekeh.


"Masak libur seminggu pengantin baru cuma mau di rumah aja. Udah, berduaan dulu aja kemana gitu yang dekat. Yang penting berduaan." kata bude Darmi ngomporin.


"Lha Bintang gimana?" tanya Richard bingung.


"Bintang gampaaaang. Semalem sudah di ajak ngobrol sama pakdenya. Intinya nggak papa kalau ditinggal pergi tiga atau empat hari sama ibunya." kata bude Darmi meyakinkan.


Richard tertawa malu.


"Pakde ngomong apa sama Bintang?" tanya Richard penasaran.


"Bilang kalau ibunya sama papanya ngurus kerjaan di luar kota.Sekarang ibunya harus nemenin papanya keluar kota dulu, soalnya papanya lagi kurang enak badan. Hihihi....agak nipu sih ya..." kata bude Darmi sambil terkikik- kikuk geli.


Richard tertawa- tawa mendengar skenario abal- abal itu.


"Nawangnya mau nggak di ajakin sandiwara?" tanya Richard bimbang.


"Bisa dibujukin dia. Pada dasarnya dia kan penurut, apalagi sama suaminya. Pasti mau." kata bude Darmi meyakinkan.


Richard mengangguk- angguk lalu mengkode bude Darmi agar mengganti topik pembicaraan karena dilihatnya Nawang keluar membawa nampan berisi cemilan dan dua gelas teh untuk bude Darmi dan dirinya sendiri.


"Aku tadi udah bikin kopi kok di dapur." kata bude Darmi.


"Udah kuminum karena udah dingin. Ku ganti teh ini." sahut Nawang sambil terkekeh.


Dari dulu Nawang memang suka meminum kopi yang sudah dingin. Dan kopinya yang paling sering diembat Nawang.


"Berangkat jam berapa Bintang?" tanya Richard sambil mencomot kue lumpur di depannya.


"Sepuluh menit lagi. Biasanya jam setengah tujuh berangkatnya." jawab Nawang sambil melihat jam di ponselnya.


"Pakde udah berangkat kerja po, bude?" tanya Nawang.


"Belum.Lagi mandi. Paling sebentar lagi kesini wong aku masak nasinya disini. Bintang nggak mau diajak ke rumah. Lumayan juga nggak usah masak lauk, sisa kemarin masih bisa buat sarapan." kata bude Darmi sambil tersenyum.


Richard hanya diam mendengarkan obrolan dua emak- emak ini.


Sesederhana ini kehidupan mereka.


Apalagi soal makan. Benar- benar apa adanya dan tak mengada- ada.


Apa yang masih bisa dimakan, tetap dimakan selama masih layak dimakan.


Nggak seperti kebiasaannya selama ini dalam bersikap pada makanan.


Ternyata selalu ada yang harus dia perbaiki dalam sikap hidupnya.


Dan bersama orang- orang sederhana ini dalam hidupnya ke depan, semoga pribadinya semakin membaik.

__ADS_1


Semoga.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2