
Nawang segera mencari ponselnya yang mengeluarkan nada dering telpon masuk di tottebag putih di pangkuannya.
"Siapa?" tanya Richard.
"Bude Darmi." jawab Nawang sebelum mengangkat telpon.
Wajahnya mendadak resah.
"Bintang panas, Mas." kata Nawang begitu menutup telpon.
"Lhoh? Tadi pagi nggak papa kan dia?" tanya Richard ikut tegang.
"Cuma anget tadi pagi. Udah dikasih minum obat juga sih ini tadi." kata Nawang masih terlihat gusar.
"Ya udah, langsung kita bawa ke klinik aja nanti." kata Richard kemudian menambah kecepatan laju mobilnya.
"Bintang mana, Bude?" tanya Nawang begitu memasuki teras rumahnya dan mendapati bude Darmi sedang menyapu lantai. teras.
"Di dalam lagi tiduran sambil nonton tipi." jawab bude Darmi kalem.
"Dari pagi katanya udah anget. Panasnya barusan apa dari pagi, Bude?" tanya Richard.
Dari pulang sekolah tadi udah lesu tapi belum panas banget kayak sekarang. Makanya aku cepet- cepet nelpon." kata bude Darmi lalu menyusul Nawang ke dalam.
Bintang ternyata sedang tertidur dengan gel penurun panas yang nempel di dahinya.
"Masih panas banget nggak?" tanya bude Darmi.
"Panas sih." jawab Nawang sambil menyentuh leher, pipi, dan lengan Bintang.
"Langsung bawa ke klinik aja, yuk." ajak Richard nggak sabar.
"Tunggu dia bangun aja. Nggak usah buru- buru. Tadi suhunya di cek terakhir berapa, Bude?" tanya Nawang.
"38. Tadi pas aku nelpon kamu suhunya 39. Aku kasih penurun panas, ku suruh minum air putih, sambil ku kompres ini, belum lama ku cek suhu udah turun jadi 38. Nanti kalau dia bangun masih 38, kalian bawa ke klinik aja. Tapi mudah- mudahan udah turun lagi nanti." jawab bude Darmi.
"Kayaknya cuma mau batuk pilek kok ini." gumam Nawang santai.
"Iya kayaknya. Ngeluh hidung sama tenggorokannya nggak nyaman tadi." sahut bude.
Richard bernapas lega.
"Mumpung anaknya masih tidur, kalian kan bisa mandi- mandi dulu." saran bude.
"Nanti aja, Bude. Masih kesiangan kalo mandi sore." tolak Richard sambil tertawa.
Baru juga mau jam tiga. Bahkan belum terdengar adzan ashar.
"Aku rebahan boleh?" tanya Richard pada Nawang.
"Boleh." jawab Nawang sambil tersenyum.
Richard lalu menyingkir masuk kamar.
Tanpa sadar dia tersenyum sambil melepaskan blazer dan melepas hemnya.
Dia membuka lemari dan mengambil satu kaos oblong diantara tumpukan pakaiannya yang memang disediakan Nawang di rumah Bintang untuk berjaga- jaga bila suatu waktu mereka menginap mendadak.
Merebahkan tubuhnya dengan nyaman di ranjang putih, Richard memejamkan mata dengan tenang, namun pikirannya melayang pada ucapan Nawang di malam pertama saat dia pulang dari rumah sakit.
"Jangan mikir aneh- aneh. Ini dulu kamarnya Bintang. Aku tukeran kamar sama Bintang begitu aku cerai dari ayahnya." kata Nawang saat melihat wajah kurang nyaman Richard.
"Beneran?" tanya Richard tanpa sadar.
"Nah kan, bener kan? Kamu pasti mikir ke arah sana kan?" sahut Nawang sambil meliriknya tajam.
Richard tertawa malu.
"Dasar, omes." sungut Nawang.
"Maaf. Bukan maksud gimana- gimana juga. Otomatis aja." kata Richard membela diri.
"Iya. Sekarang udah lega tahu sejarah kamar ini?" tanya Nawang sambil me ngu lum senyumnya.
"Banget!" jawab Richard.
Lamunan Richard terhenti saat di dengarnya suara Nawang dan Bintang dari luar kamar.
Rupanya Bintang sudah bangun.
Richard bergegas keluar kamar.
__ADS_1
"Udah bangun, Mas?" tanya Richard sambil menutup pintu kamar.
"Udah." jawab Bintang masih dengan wajah lesu.
"Masih panas nggak?" tanya Richard lagi sambil mendekat.
"Udah turun lagi. 37." jawab Nawang.
Alhamdulillah. Mau ke dokter nggak?" tanya Richard lagi.
"Nggak usah lah. Ini nanti diminumin penurun panas juga turun lagi. Anaknya juga masih doyan makan kok. Nggak papa. Paling cuma mau batuk pilek ya,Bin?" tanya Nawang sambil menatap Bintang yang membalas dengan anggukan.
Anak itu sedang menggigit kue galundeng yang tadi dibeli bude Darmi di tukang sayur keliling.
"Pengen makan apa, Mas? Nanti Papa cariin." tanya Richard.
Bintang berpikir sejenak. Bingung mau minta apa. Karena sejak punya Papa dia seolah sudah nggak pernah punya rasa sangat menginginkan sebuah makanan.
Papanya selalu langsung membelikan apa yang dia ingin.
Beda dengan ibunya yang masih selalu bilang 'besok ibu belikan' .
Walau memang sudah tak selama dulu jeda antara dia meminta dan ibunya membelikan, tapi ibunya nyaris nggak pernah langsung membelikan apa yang dia mau. Ya kecuali apa yang dia mau sudah ada di depan mereka.
"Mau pizza." jawab Bintang akhirnya sambil melirik ibunya.
Dia masih khawatir ibunya akan melarangnya.
Tapi nampaknya ketakutannya tak jadi kenyataan.
Ibunya santai- santai saja mendengar permintaan pada papanya.
"OK." jawab Richard mantap.
"Ini pizza mahal apa yang murah, Non?" bisik Richard pada Nawang.
Richard lebih memilih tanya dulu pada Ibu Negara daripada nanti salah dan diomelin kan?
"Yang murah aja, yang dekat." jawab Nawang juga dengan. bisikan.
Richard mengangguk kemudian memesannya lewat aplikasi.
"Kamu pengen apa, Non?" tanya Richard setelah dia berdiskusi dengan Bintang tentang varian pizza.
"Lemon squash? Strawberry squash? Jeruk peras segar?" sebut Richard memberi pilihan.
"Strawberryyyy....." sahut Bintang.
"Yang ditawari Ibu, Bin. Bukan kamu." sergah Nawang. sambil tertawa.
"Trus kamu jadinya pesen yang apa?" tanya Richard kemudian.
"Ya udah, tiba- tiganya aja. Nanti icip-icipan." kata Nawang sambil tersenyum malu.
"Sama apalagi, Mas?" tanya Richard lagi pada Bintang.
"Udah aja. Ntar nggak kemakan lho." potong Nawang.
Bintang dan Richard tak menyahut
"Hot dog mau nggak,Mas?" tawar Richard tak memperdulikan tatapan Nawang.
Bintang mengernyitkan dahinya mendengar istilah asing di telinganya..
"Itu makanan apa?" tanya Bintang bingung.
"Kayak burger, tapi kalau burger kan rotinya bulat. Kalau hot dog rotinya panjang. Kayak gini lho." kata Richard sambil menunjukkan gambar hot dog dari aplikasi layan antar.
"Mau...! mau....!" kata Bintang dengan antusias.
"Kalau ada yang kecil, pesen yang kecil aja, daripada ntar nggak habis." Nawang masih saja menginterupsi dengan isi yang sama, takut makanan nggak habis.
"Iya. Jawab Richard asal mengiyakan.
"Bude kemana ini tadi kok terus ngilang?" tanya Richard baru menyadari ketiadaan bude Darmi.
"Lagi di dapur, Mas. Nggoreng intip ( menggoreng kerak nasi)." sahut bude Darmi terdengar sayup- sayup.
"Waaaah, denger juga dari dapur." kata Richard dengan wajah takjub.
Nawang hanya memonyongkan bibirnya, tahu kalau Richard sedang dalam rangka meledek kalau rumahnya kecil.
__ADS_1
"Nih udah mateng intip nya." kata bude Darmi sambil membawa setoples besar intip goreng wangi dengan rasa manis gurih pedas, hasil dari perpaduan gula merah, garam, bawang putih, ketumbar, dan cabe yang di uleg jadi satu, diberi air sedikit, lalu di luaskan di permukaan intip yang baru saja diangkat dari penggorengan.
"Waaaah, makasih banyak, Bude. Nanti tak kasih upah hot dog sama minuman kecut- kecut ( asem- asem)" kata Richard dengan nada bergurau.
"Waaaah lumayan arep mangan panganan Londo ( waaah lumayan mau makan makanan barat)" kelakar bude Darmi.
"Masih panas nggak, Bin?" tanya bude Darmi sambil memegang kaki Bintang yang hanya bercelana pendek. Nggak sepanas tadi.
"Udah turun lagi kok. Tinggal anget." kata Nawang.
" Nanti minum obat batuk pilek aja. Biar nggak jadi sakit." kata bude Darmi.
"Iya nanti beli dulu." jawab Nawang.
"Obatnya merk apa? Biar aku carikan." kata Richard sambil mengunyah intip goreng yang menurutnya punya rasa paling sedap itu.
"Hugafrip batuk pilek." jawab Bintang cepat, sebelum ibu atau budenya menjawab.
"Pinter." puji Nawang sambil mengacungkan jempolnya.
"Kita nanti pulang ke rumah kompeni nggak, Pa?" tanya Bintang membuat Richard melongo.
"Rumah apa?" tanya Richard memperjelas.
"Rumah kompeni, hihihi....." jawab Bintang sambil terkikik.
"Rumah kita." sambung Nawang menyurutkan wajah bingung Richard.
Darimana Bintang dapat nama kompeni coba?
"Mas Bintang mau pulang nggak?" tanya Richard.
"Maunya kita bobok sini aja, boleh? Pulangnya besok." jawab Bintang.
"Boleh. Nggak papa kita tidur sini malam ini." jawab Richard santai.
Dia keheranan dengan wajah Nawang yang tersenyum- senyum seperti meledek padanya saat ini.
Kenapa? Ada yang salah kalau mereka tidur disini? Aneh.
Nawang bergegas keluar saat ada seseorang meneriakkan 'dofood!' dari depan rumah.
Tak lama dia masuk dengan membawa dua kresek penuh makanan dan minuman.
"Bangkrut akuuuuu." seloroh Nawang sambil meletakkan bawaannya di atas karpet.
Bude Darmi menggeleng- gelengkan kepalanya melihat jajanan itu sambil tertawa keheranan.
Richard terkekeh malu.
Tentu saja Nawang kaget karena setahunya Richard hanya akan memesan pizza dan hot dog pesanan Bintang, serta minuman. Tapi ternyata Richard juga memesan kentang goreng, spaghetti, takoyaki, juga burger, dan kopi.
"Woaaaaaah , banyak banget belinya. Papa pemborosan ya, Bu?" kata Bintang dengan tatapan menyalahkan papanya.
"Iya. Awas aja ya kalau nggak habis." ancam Nawang sambil melirik Richard dengan tatapan menukik.
"Habiiiis. Nanti kita habisin ya, Mas." kata Richard mencoba mencari dukungan Bintang.
"Aku nggak bisa ngabisinnya, Pa. Banyak banget." sergah Bintang.
Richard nyengir malu.
"Mari, Bude. Kita sikat sampai bersih." ajak Richard kemudian mulai menikmati makanan di depannya.
Bude Darmi tentu saja hanya mengambil satu hot dog seperti janji Richard tadi.
"Spaghetti nya enak nih. Cobain, Bude." tawar Richard kemudian menyuap lagi spaghettinya.
Richard bertekad harus mengenyangkan perut agar tenaganya full untuk pertempuran nanti malam bersama Nawang.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Pada sedih nggak sih dapat pemberitahuan dari mam Sera kalau kita nggak perlu nunggu RSK up? 😭😭😭😭😭
Rasanya aku kayak digantung trus diputusin tanpa punya kuasa untuk klarifikasi dan bertanya apa salah dosaku, huhuhu....
😭😭😭😭
Mari kita doakan beliau selalu dalam keadaan sehat sejahtera dan segera membaik apa- apa yang mungkin saat ini sedang kurang baik. Agar beliau segera punya waktu lagi untuk menulis indah, menebar kebaikan lewat kalimat- kalimat bak mantranya.
Agar RSK up lagi.
__ADS_1
Aamiin.