
Proses perceraian Nawang dan Dani berjalan tanpa kendala.
Walau sepulang dari rumah orang tuanya Dani masih berusaha membujuk Nawang untuk memperbaiki rumah tangga mereka, Nawang tetap tak bergeming dengan keinginannya bercerai.
Putus asa, Dani dengan berat hati akhirnya menuruti keinginan cerai Nawang.
Dan hari ini adalah sidang putusan.
Nawang berniat datang ke pengadilan untuk mendengar langsung amar putusan hakim agama.
Sidang cerai dijadwalkan jam sebelas siang.
Nawang memutuskan untuk tetap berangkat bekerja dan meminta ijin saja di jam sepuluh sampai jam dua belas.
Dia lakukan itu semata agar tak ada satupun teman kerjanya yang tahu tentang perceraiannya.
Dia tidak ingin jadi bahan gosip di lingkungan kerjanya.
"Ijin kemana nih mbak Nawang?" tanya HRD yang dimintanya tanda tangan surat ijin keluar.
"Mau ke kabupaten sebentar." jawab Nawang sambil menyampirkan senyum tipisnya.
Sang HRD hanya ber- oh ria.
Mungkin Nawang akan mengurus sesuatu di kantor kabupaten pikirnya.
"Makasih ya." ucap Nawang begitu sudah didapatnya surat ijin keluar.
Dia bergegas kembali ke ruangannya untuk bersiap keluar area kerjanya.
Deg- degan menuju sidang akhir perceraian?
Tidak sama sekali.
Yang Nawang rasakan adalah rasa hangat dihatinya yang selama ini tak pernah lagi dia rasakan.
Dia merasa nyaris merasa plong dalam hatinya.
Sebentar lagi, satu beban batinnya akan hilang.
Perceraian ini setidaknya akan mengakhiri luka yang selama ini terlalu sering dibuat Dani untuk hatinya.
Mulai nanti, Dani bukan siapa- siapa lagi dalam hidupnya.
Dan laki-laki itu tak berhak lagi melukai hatinya lagi.
Orang itu tak lebih hanya ayah biologis dari Bintang, anaknya.
Tak lebih.
🗝️🗝️🗝️🗝️🗝️🗝️
Dua puluh menit perjalanan dari tempat kerjanya ke pengadilan agama dengan motornya, Nawang datang tepat di belakang Dani.
Dani menghampiri Nawang yang sedang melepas jaketnya dan meletakkan di atas spedo meter motornya.
"Wang. Kamu dateng?" sapa Dani sedikit surprise.
Nawang mengangguk kecil.
Dilihatnya sekilas penampilan calon mantan suaminya itu.
Sangat lusuh dan lebih kurus dari terakhir mereka bertemu.
__ADS_1
Nawang maklum dengan keadaan Dani sekarang.
Dulu, saat mereka masih serumah, semua hal Nawang yang mengurus tanpa campur tangan Dani secuilpun.
Lelaki itu tak pernah mau tahu semua kesulitan dan kelelahan Nawang mengurus semuanya.
Ritme hidup Dani hanya bangun tidur, mandi, sarapan, kerja, pulang, mandi, makan, tidur.
Selain kegiatan itu adalah main HP.
Tak ada dalam kamus hidupnya membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah atau mengasuh anak.
Tak pernah ada niat sedikitpun dibenaknya.
"Iya. Kebetulan bisa ijin sebentar." jawab Nawang sambil memulai melangkah meninggalkan tempat parkir.
Dani berjalan di sampingnya dengan gelisah.
"Bintang sehat kan? Dia nanyain aku nggak?" tanya Dani setelah sesaat keduanya tanpa obrolan.
"Dia sehat. Nanyain sih." jawab Nawang yang sempat membuat Dani mengembangkan senyumnya.
"Nanya apa dia?" tanya Dani dengan antusias.
"Nanya kamu bisa ngurus dirimu sendiri nggak?" jawab Nawang tanpa dosa.
Itu sengaja Nawang ucapkan agar Dani bisa menyadari bagaimana nggak nyamannya hidup tanpa istri.
Apalagi istri multifungsi semacam Nawang.
Senyum Dani langsung menghilang.
"Dia kan tahu kalau kamu nggak bisa lagi tinggal serumah dengan kami. Dia mengerti kok. Jenguklah dia kalau kamu ada waktu." kata Nawang tenang, untuk sedikit menghibur sedikit sakit yang sengaja Nawang goreskan barusan.
Ya, mungkin bagi Bintang keberadaannya juga tak terlalu berarti di hidup Bintang.
Selama ini hubungannya dengan anaknya itu tidak sehangat ayah dan anak lainnya.
Selama ini dia tak pernah meluangkan waktu untuk sekedar bermain dengan Bintang.
Waktu luangnya habis untuk bercengkerama dengan Dewi dan anaknya lewat ponsel.
Ya, kini Dani mulai merasakan sedikit merasa merana tanpa kehadiran Nawang dan Bintang di hari- harinya.
Terlebih kehadiran Nawang.
Sejak dia kembali menjadi anak kost, otomatis semua hal harus dia urus sendiri.
Semua kebutuhannya harus dia usahakan sendiri.
Tak seperti saat dia masih memiliki Nawang yang semua hal telah disediakan Nawang tanpa dia perlu memikirkannya.
Nawang selalu bisa mengatasi semuanya.
Dan sekarang, dia kehilangan semua pelayanan itu.
Dia harus mengurus semua kebutuhannya sendiri dari A sampai Z.
Dan dia merasa sangat kesulitan menjalaninya.
Dan Dani mulai mengakui betapa tangguhnya Nawang selama ini.
Dia rampungkan semua masalah kebutuhan hidup tanpa mengeluh padanya.
__ADS_1
Tanpa mengeluh atau dia yang tak pernah mau mendengar keluh kesah Nawang?
Entahlah.
Yang pasti dia harus mengakui, tak mudah menjadi perempuan seperti Nawang.
🗝️🗝️🗝️🗝️🗝️
Dani menyambut uluran tangan Nawang dengan enggan saat mereka akan berpisah di parkiran.
Sidang tadi telah mengabulkan permohonan perceraian mereka.
Otomatis mulai hari ini mereka kembali menjadi orang lain untuk satu sama lain.
Dan Nawang mengulurkan tangannya sebagai tanda sampai jumpa kepada Dani sebagai kawan.
"Kita akan tetap berhubungan baik kan, Wang?" tanya Dani dengan nada penuh harap.
"Tentu saja. Bagaimanapun kamu ayahnya Bintang. Jadi kita harus berupaya tetap berhubungan baik demi dia." jawab Nawang santai.
"Aku bisa main ke rumah kapan saja kan?" tanya Dani lagi.
"Kapan saja asal siang hari. Aku nggak akan menerima kamu bertamu malam- malam. Aku nggak mau jadi bahan gunjingan kanan kiri." kata Nawang tegas.
Dani mengangguk mengerti.
Nawang memang selalu sangat menjaga kelakuannya agar tak mendapat sorotan buruk dari sekitarnya.
"Ya udah ya, Mas. Aku pamit dulu. Aku harus kerja lagi." pamit Nawang.
"Wang!" panggil Dani setelah Nawang berlalu beberapa langkah darinya.
Nawang menoleh dan menghentikan langkahnya, menunggu Dani yang sedang melangkah mendekat ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Nawang datar.
"Maafkan aku selama jadi suamimu ya."kata Dani penuh sesal.
Nawang tersenyum tipis.
"Iya. Terimakasih juga sudah membuatku jadi perempuan sekuat ini. Semoga setelah ini kamu akan dapat istri yang lebih baik dan lebih sabar dari aku." kata Nawang tulus.
Dani tertawa sumbang.
"Sepertinya sulit untuk dapat lagi wanita sehebat kamu." kata Dani.
"Hebat dari mana? Kalau aku hebat, aku. pasti dicintai dan tidak ditinggalkan. Aku hanya perempuan lemah dan bodoh." kata Nawang menusuk hati Dani, wajahnya datar tak beriak.
Ada nyeri dihati Nawang saat mengucapkan itu.
Dia benar- benar merasa bodoh selama ini menyia- nyiakan hidupnya untuk laki- laki yang tak tahu bagaimana cara mencintai wanitanya.
"Maafkan aku yang buta selama ini. Aku tak menyadari memiliki bidadari baik setegar karang seperti kamu." lirih Dani
penuh sesal.
Ya, tak butuh waktu lama bagi Dani untuk menyadari kesalahannya selama menjadi suami Nawang.
Sayangnya penyesalannya tidak mampu mengubah apapun kini.
Yang tersisa hanya penyesalan dan kebingungannya sendiri menghadapi hari depannya yang akan sendirian.
"Sudahlah, Mas. Kita saling mendoakan saja. Semoga siapapun jodoh kita kelak, adalah orang yang akan membuat kita bahagia juga merasa dicintai dan dihargai." pungkas Nawang sebelum Dani nanti semakin melow.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️