PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
61


__ADS_3

Nawang ikut tersenyum saat dilihatnya mama Richard tertawa memandang empat laki- laki tiga generasi yang sedang asik bermain mobil- mobilan di lantai ruang keluarga.


Keempatnya berkelakuan sama, childish.


"Kemarin pas dikabari kalian mau kesini, udah deh, papa ribut mau bikin aneh- aneh buat anak- anak. Dikiranya kalian mau disini semingguan. Padahal cuma semalam disini, sayang banget." kata mama Richard yang duduk di sampingnya.


Nawang hanya bisa tersenyum.


"Richard baik sama kalian?" tanya Bu Pambudi sambil meraih jemarinya, menggenggam hangat.


Nawang hanya mampu mengangguk karena tiba- tiba tenggorokannya penuh oleh keharuan.


"Baik banget malah." ucapnya setelah berhasil meredakan perasaannya.


"Syukurlah. Kami senang mendengarnya. Maaf kalau mama tanya ini....bukan bermaksud untuk apa- apa...." kalimat Bu Pambudi mengambang.


"Mau tanya apa? Akan saya jawab." kata Nawang sopan.


"Kamu berapa lama berpisah sama papanya Bintang?" tanya Bu Pambudi lirih.


"Baru tujuh bulanan yang lalu." jawab Nawang jujur.


"Richard mendekati kamu lagi saat kamu masih jadi istri orang?" tanya Bu Pambudi gamang.


"Tidak, Bu. Kami baru dekat sekitar tiga bulan lalu, setelah Mas Eric tahu saya sudah bercerai." jawab Nawang.


"Tiga bulan lalu....Berarti pas kita ketemu di acaranya Pak Darto itu ya?" tanya mama Richard yang disambut anggukan Nawang.


"Kalian langsung jadian lagi?" tanya Bu Pambudi lagi.


Nawang menggeleng malu.


"Kalian belum pacaran lagi?" tanya Bu Pambudi keheranan.


"Sudah, empat hari lalu kami baru official." jawab Nawang tak mampu menutupi wajah memerahnya.


Bu Pambudi tertawa mengerti.


"Gercep juga dia, langsung berinisiatif ngajak kalian kesini. " kata Bu Pambudi lebih seperti gumaman.


"Eric sudah pernah ketemu mantan kamu?" tanya Bu Pambudi lagi.


"Sudah. Mereka ketemu di rumah, sempat ngobrol juga, tapi nggak tahu ngobrolin apa." jawab Nawang lagi.


"Nanti setelah anak- anak tidur, kita obrolin semuanya berempat. Biar cepat beres semuanya." kata Bu Pambudi sambil tersenyum.


"Kami senang Eric bisa sama kamu lagi. Dia cinta banget sama kamu. Dan itu nggak perlu diragukan lagi. Mama yang jadi saksinya." kata Bu Pambudi membuat Nawang menunduk malu walau hatinya kini sedang melayang menembus langit ke tujuh.


Obrolan keduanya terhenti saat dua bocil mendekat ke arah mereka duduk.


"Sudah mainnya?" tanya Oma sambil memeluk Darren yang bergelayut manja padanya.


"Sudah jam delapan kata Papa." jawab Darren.


"Ya udah yuk, Kita siap- siap bobok yuk." ajak Nawang sambil beranjak berdiri.

__ADS_1


"Nggak ada yang pengen bobok sama Oma nih?" tanya Bu Pambudi.


"Enggak. Aku mau bobok sama mas Bintang aja." jawab Darren kemudian meraih jemari Nawang.


"Aku jadi kan bobok sama mas Bintang, Bu?" tanya Darren.


"Darren bobok sama papa aja deh." ledek Richard.


"Nggak mau!" jawab Darren kencang.


"Nanti papa bobok sama siapa dong?" tanya Richard pura- pura sedih.


"Sama Ibu, hihihi..." jawab Darren sambil menunjuk Nawang dan melihat Bintang.


"Nggak boleh! Dibilangin nggak boleh juga." gumam Bintang dengan sebal.


"Udah...Yuk kita bobok bertiga." ajak Nawang sambil menggandeng kedua bocil itu.


"Papa ikut..." ledek Richard.


"Nggak boleh!!" jawab Darren,Bintang, dan Nawang bersamaan. Membuat Richard kaget beneran.


"Ih, pelit banget." sungut Richard dengan wajah memelas yang membuat papa dan mamanya tertawa terbahak- bahak.


"Ih teganyaaaa ngetawain penderitaan anaknya sendiri." sungut Richard yang semkin membuat orang tuanya terpingkal- pingkal.


********


Nawang yang baru saja memejamkan mata di sofa di sudut kamar terpaksa membuka matanya lagi saat di dengarnya ketukan di pintu.


"Ya....." sahut Nawang sambil bergegas ke pintu.


"Udah pada tidur kan?" tanya Richard sambil melongok ke dalam.


Senyumnya terkembang saat dilihatnya Darren dan Bintang sudah lelap tertidur dengan masing- masing memeluk guling.


"Udah." jawab Nawang sambil bersandar pada pintu yang sengaja di buka mentok.


Sayang seribu sayang, aksi bersandar santuy di pintu justru mengundang kejahilan Richard.


Tanpa sempat berkelit, kedua lengan Richard mengepung dua sisi tubuhnya. Lalu cup!


Nawang melotot demi protes atas kelakuan Richard mengecup pipinya.


"Ada anak- anak,Mas!" seru Nawang tertahan, masih dengan melotot.


Richard kemudian menjauhkan tubuhnya dari dekat Nawang tanpa menjawab.


Bener- bener nyebelin!


"Kita di tunggu mama papa.Yuk!" kata Richard sambil meraih jemari tangan Nawang dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menarik handle pintu unruk menutupnya.


"Eh Mbak....." panggilan Bu Asih menghentikan langkah keduanya.


"Ya?" jawab Richard.

__ADS_1


"Mas Richard ini lho, yang saya panggil kan Mbak Nawang, kenapa Mas yang jawab." ledek Bu Asih.


"Alah, sama aja." sungut Richard malu, membuat Bu Asih dan Nawang menahan tawa.


"Tadi katanya Ibu saya harus nanya Mbak Nawang untuk belanja besok." kata Bu Asih.


"O iya. Nanti saya catat dulu ya. Bu Asih bisa istirahat aja dulu. Nanti catatannya saya tempel di kulkas." kata Nawang menuruti anjuran mama Richard tadi.


"O njih, Mbak. Kalau begitu saya permisi." kata Bu Asih sambil mengangguk hormat pada Richard.


"Udah jadi nyonya muda aja nih." ledek Richard sambil menowel lengan Nawang yang langsung mendapat balasan cubitan ringan di lengannya.


"AWWWWWW!!!!!" teriak Richard kencang, membuat Nawang melotot.


"Nggak usah lebay deh!" sungut Nawang sambil menabok bahunya keki.


Nggak lucu kan kalau orang tua Richard denger teriakan itu dan mengira anak lelakinya jadi korban KDRT di rumahnya sendiri?


"Kamu deg- degan nggak?" tanya Richard.


"Deg- degan kenapa?" tanya Nawang bingung.


"Kita dipanggil sama mama papa." jawab Richard.


"Lumayan " jawab Nawang pelan.


Sebenarnya dia deg- degan banget sih. Tapi mau bagaimana lagi.


Semua lebih baik dihadapi di awal sekalian.


Kalau memang mereka harus berpisah (lagi?!), akan lebih mudah bila sedari awal hubungan mereka ini.


"Bagus deh. Tapi apapun yang terjadi nanti, jangan minta aku untuk ninggalin kamu lagi. Please..." pinta Richard dengan suara sangat memohon sambil menggenggam kedua tangannya.


Nawang terdiam.


"Jangan seperti ini, Mas. Aku jadi serba salah nanti." pinta Nawang tak kalah memohon.


"Kita sudah pernah berkorban, Sayang. Itu sudah cukup! Kamu sudah cukup menderita selama ini, Bintang juga. Aku nggak bakalan rela kamu seperti itu lagi. Aku juga kesepian selama ini. Aku nggak mungkin bisa sama yang lain. Cuma kamu yang mau nerima keadaanku yang seperti ini." Richard masih tetap memohon.


"Kamu akan baik- baik saja, dengan atau tanpa aku. Seperti selama ini. Jangan seperti ini,aku nggak suka." kata Nawang sambil berusaha tersenyum dengan tatapan mata penuh menatap mata Richard.


Richard meraih tangan Nawang yang masih berada di kedua sisi rahangnya.


"Selama ini aku selalu berusaha agar tetap baik- baik saja karena aku masih punya satu impian besar, kita akan hidup bersama dengan anak- anak. Kalau nanti kamu memilih menyerah, aku nggak tahu, apa aku masih ingin baik- baik saja atau memilih ikut menyerah." kata Richard getir.


Nawang terdiam.


Richard sampai begitu memohon padanya. Padahal siapa dia sampai harus membuat seorang Richardo Pambudi begitu menggantungkan kebahagiaan hidupnya seutuhnya pada kesanggupannya?


"Ayo, jangan kelamaan disini. Nggak enak ditungguin mama papamu." kata Nawang akhirnya.


Diraihnya tangan Richard agar kembali melangkah.


Richard mendesah putus asa walau tetap menyeret langkahnya menuju halaman samping kolam renang, dimana mama papanya telah menunggu mereka..

__ADS_1


🗝️🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️🗝️


__ADS_2