PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
98


__ADS_3

Dia indah melepas gundah


Dia yang slama ini ku nanti


Membawa sejuk, memanja rasa


Dia yang slalu ada untukku


Di dekatnya aku lebih tenang


Bersamanya jalan lebih terang


Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milik ku milikmu


Kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


Bila di depan nanti


Banyak cobaan untuk kisah cinta kita


Jangan cepat menyerah


Kau punya 'ku, ku punya kamu


Selamanya kan begitu....


Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milik ku milikmu


Kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


Kau milikku, ku milikmu


Kau jiwa yang slalu aku puja....


💖 Teman Hidup - Tulus 💖


Richard masih menyandarkan bahunya di gawang pintu dapur walau Nawang sudah berhenti menyanyi seiring selesainya lagu itu.


Tangannya yang terlipat di depan dada juga nggak berubah, sama dengan kakinya yang menyilang.


Lagu yang dengan bagus, dinyanyikan dengan bagus oleh Nawang, menimpali suara penyanyi aslinya dari ponsel Nawang yang diletakkan di meja dekat dispenser dan magicom.


Tadi saat menyanyi kepala Nawang bahkan sering ikut bergoyang- goyang mengikuti musiknya, sementara tangannya sibuk mengacau sesuatu di atas kompor.


Sepertinya sangat menghayati sekali lagi itu.


My sweet one.


Dari bau yang tercium sampai di hidung Richard, sepertinya Nawang sedang membuat sayur bersantan.


Mungkin sayur pesanan Bintang kemarin.


Padahal ini jam setengah dua dinihari.


Dan istrinya itu bukannya tidur disampingnya, malah asik konser tengah malam di dapur sendirian.


Seperti orang mau jualan sayur dan lauk pauk aja, jam segini udah di dapur.


Keberadaan Richard yang sedari tadi hanya diam berdiri di arah belakang Nawang akhirnya ketahuan karena tiba- tiba Richard bersin dan mengagetkan istrinya itu.


"Astagfirullah, Mas! Bikin kaget aja! Untung wajanku nggak melompat." sungut Nawang dengan wajah kaget dan kesal.

__ADS_1


Richard nyengir malu.


"Sorry....sorry....nggak maksud ngagetin. Tiba- tiba bersin aja." kata Richard sambil tersenyum malu, seperti baru ketahuan ngintip sesuatu.


Padahal kayaknya Nawang nggak tahu kalau dia sudah jadi pemandangan Richard sejak beberapa menit yang lalu.


"Kamu ngapain jam segini di dapur? Besok mau jualan sayur, jam segini udah masak?" tanya Richard sambil tertawa meledek.


"Iya. Mau bawa meja di samping gerbang. Mau jualan nasi sama bubur. Biar nggak jadi pengangguran." jawab Nawang menimpali candaan suaminya.


"Siapa bilang kamu pengangguran? Kerjaan kamu sekarang lebih berat tahu." kata Richard sambil mendekat kemudian berdiri di samping Nawang yang masih mengacau santan di dalam wajan agar tidak pecah.


Nawang tersenyum saat dirasakannya tangan Richard sudah melingkar di pinggangnya.


"Tugas berat apa?" tanya Nawang sambil menoleh sekilas.


"Bikin aku seneng dan enak terus." bisik Richard sambil mencuri ciuman di pipi Nawang.


Nawang hanya terkekeh sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.


Pasti nggak jauh- jauh dari urusan itu. Dasar omes.


"Beneran berat kan? Buktinya tiap kita selesai, kamu pasti langsung ketiduran. Itu karena kecapekan kan?" kata Richard karena merasa Nawang tak menganggap serius omongannya.


"Itu kan saking buasnya kamu. Bikin aku kecapekan ngimbanginnya. Aku belum bisa membaca peta. Makanya kalah terus." kata Nawang sambil tertawa malu.


Ah, seperti merasa mengakui kekalahan dalam pertempuran saja.


"Pria seumuranku kan emang lagi buas- buasnya. Kalau diturutin maunya 24 jam nonstop." kata Richard sambil tertawa- tawa nggak jelas.


"Ngeriiiii!" kata Nawang dengan wajah berekspresi seperti takut pada sesuatu.


"Ngeri- ngeri sedaaaap." sahut Richard sambil tertawa menggoda.


"Lihat aja kalau aku sudah bisa membaca gayamu. Kamu akan takut ketemu aku!" kata Nawang dengan lagak seperti seorang pendekar yang sedang bicara mengancam dan meremehkan musuh bebuyutannya.


"O yaaaa? Aku nggak sabar banget menunggu kamu bisa pandai membaca gayaku, Sayang." sahut Richard dengan gaya playboy kepagiannya.


Ishhh, kelakuannya minus sekali!


Nawang hanya mencibirkan bibirnya sambil mematikan kompor.


"Udah mateng sayurnya?" tanya Richard tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Nawang walau istrinya itu bergerak ke kanan ke kiri.


"Udah. Besok pagi tinggal dipanasin aja." jawab Nawang.


"Kayaknya enak banget itu. Sayangnya belum ada nasi ya jam segini?" tanya Richard sambil matanya menatap sayur di wajan dengan wajah mupeng.


"Siapa bilang belum punya nasi. Tuh!" jawab Nawang sambil menunjuk magicom yang sudah menyala lampu warm nya.


Richard bertepuk tangan pelan kemudian bergegas mengambil piring dan sendok kemudian mengambil nasi dengan semangat.


"Kamu mau makan jam segini? Sahur?" tanya Nawang meledek.


"Sarapan...." jawab Richard sambil mengulurkan piring agar Nawang mengambilkan sayur.


"Jam segini namanya sahur. Sarapan itu nanti kalau matahari udah nongol." sahut Nawang sambil mulai mengambil dari wajan satu telur ayam, sepotong daging ayam, wortel, buncis, tempe sepotong, dan kuah santan agak cair berwarna kuning.


Hmmmm.....so hot and delicious.....


"Sarapan buat pertandingan dinihari." sahut Richard sambil menaikkan tangannya yang tadi dipinggang menjadi di samping aset depan Nawang lalu me re masnya lembut.


Nawang hanya memelototkan matanya memperingatkan Richard agar tidak kurang ajar, tapi hanya mendapat senyum manis suaminya itu.


Ya ampuuun!!!


"Mau pakai tahu nggak?" tanya Nawang sambil. menatap Richard.


"Nggak usah. Tahunya buat Bintang aja." jawab Richard karena ingat cerita Nawang kalau Bintang sangat menyukai tahu di sayur kuningnya.


"Sebentar aku ambilin sambelnya." kata Nawang sambil menyerahkan piring pada Richard lalu bergerak ke lemari makan dan mengeluarkan satu mangkok kecil berisi sambal yang berwarna merah tua.


"Kamu udah nyambel juga?" tanya Richard keheranan yang disambut senyuman Nawang.

__ADS_1


"Goreng kerupuk juga?" tanya Richard saat dilihatnya Nawang tak hanya membawa sambal tapi juga setoples kerupuk.


"Rajin amat istriku ini." puji Richard sambil menyambar pinggang Nawang kemudian membawanya ke pangkuannya.


"Kalau begini, kamu nggak nyaman makannya,Mas." kata Nawang mencoba melepaskan diri dari lengan Richard yang melingkari pinggangnya.


"Kamu duduk temani aku makan ya?" pinta Richard.


"Iya. Aku ambilin minum dulu." jawab Nawang sambil beranjak menuju dispenser, kemudian menuang dua gelas air minum dan dibawanya ke meja makan.


"Kamu dari nemenin aku tidur tadi belum tidur lagi?" tanya Richard disela kunyahannya.


"Belum." jawab Nawang sambil meraih samping bibir Richard karena ada nasi yang membelot, memilih menyingkir di samping bibir daripada ikut lainnya masuk ke mulut Richard.


Richard tersenyum dalam hati.


"Kenapa?" tanya Richard keheranan.


"Nggak bisa tidur aja. Makanya mending ke dapur aja daripada besok kesiangan malah nggak jadi masakin Bintang." jawab Nawang.


"Kurang capek ya? Jadi nggak bisa tidur?" bisik Richard sambil mengerling nakal.


"Apaan sih?" sahut Nawang sambil tertawa malu.


"Ya udah. Habis makan ini aku buat kamu capek lagi. Biar bisa cepet tidur." putus Richard secara sepihak.


Ada seringai serigala menghiasi bibirnya.


"Hilih, modus!" sungut Nawang dengan senyum terkembang.


"Modus yang dirindukan." sahut Richard sambil terkikik- kikik geli dengan kalimatnya sendiri.


"Katanya tadi, malam ini udah cukup sekali aja...." ledek Nawang sambil menempelkan wajahnya di lengan Richard yang menyambutnya dengan senyuman senang.


"Lha daripada kamu nggak bisa tidur gini kan aku iba padamu." sanggah Richard sambil tertawa dan mengelus rambutnya.


Nawang melihat jam dinding warna coklat tua bergaya shabby yang menempel di atas pintu dapur. Belum jam tiga dinihari.


Hmmm, masih bisa buat satu ronde sih, pikirnya.


Wait.... wait.....kok aku gampang terprovokasi gini sekarang sama ajakan dia?


Waduuuuuh, virus omesnya sangat cepat menular ternyata.


"Gimana? Mau lagi atau ingin lagi?" tanya Richard yang bergaya menawari tapi intinya sama aja. Ngajakin lagi.


Nawang hanya menatapnya tersenyum- senyum.


"Senyum artinya yes." putus Richard, lagi- lagi dengan sepihak.


"Emangnya tadi ada pilihan lain selain yes?" gumam Nawang sambil meraih piring dan gelas kosong yang barusan dipakai Richard, kemudian membawanya ke tempat cuci piring.


"Kamu nggak tahajud dulu , Mas barang dua rakaat?" tanya Nawang sambil menyabuni gelas.


"Kamu udah tahajud?" tanya Richard.


"Udah tadi." jawab Nawang tanpa menoleh.


"Ya udah aku sholat dulu. Kamu siap- siap ya." kata Richard sambil tersenyum simpul.


"Hmmm..." jawab Nawang sambil tersenyum malu dengan posisi yang masih membelakangi Richard.


"Pakai lingerie yang ungu ya." bisik Richard yang tiba- tiba sudah memeluknya dari belakang lalu menelusuri lehernya dengan bibirnya sesaat.


"Iya, Mas gantengku...! Udah sana sholat dulu." usir Nawang sambil mengedikkan bahunya agar Richard melepaskan bibirnya dari lehernya.


"Huuuu....baru mau asik aja di usir- usir. Pelit!" gerutu Richard sambil menjauh darinya.


"Aku denger ya itu!" seru Nawang.


"I love you ,Sayang." seru Richard sambil tertawa-tawa menuju kamar tidur mereka.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️

__ADS_1


__ADS_2