PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
140


__ADS_3

Richard menjadi salah tingkah dibuatnya.


Pengen sombong tapi pasti Nawang akan tambah nyerocos dan bisa- bisa berakhir ngambek dan nangis di kamar.


Pengen ketawa congkak melihat keposesifan Nawang, resikonya juga sama dengan yang di atas.


Pengen pura- pura cuek, nanti dikira nggak perduli istrinya lagi 'perhatian'.


Harus gimana dong nih?


"Seneng tuh yang dapat fans baru." sungut Nawang. Walau suaranya hampir tak terdengar, tapi ekspresinya sangat menakutkan.


Bintang saja langsung memilih anteng begitu Ibunya bersuara tadi.


Nah kan......


" Biasa aja. Kita kan nggak bisa ngatur perasaan orang sama kita, Sayang." kata Richard akhirnya.


Tadinya nggak mau menanggapi omongan Nawang, tapi kalau itu dia lakukan, Nawang bisa semakin meradang karena dianggap dicuekin.


Hhhhhhhh, susah emang ngadepin perempuan yang sedang merasa miliknya dilirik orang lain.


"Seneng juga nggak papa, nggak ada yang ngelarang. Yang dilarang itu kalau kamu seneng sama cewek lain."


"Aku dari dulu sampai besok aku jadi kakek- kakek, cuma suka, sayang, rindu, dan cintaaaa sama satu cewek. Mau tahu namanya nggak?" tanya Richard sambil menatap Nawang dengan tersenyum.


"Nggak usah." jawab Nawang sambil berusaha menahan senyumnya.


Biar dikata sudah emak- emak, digombalin oleh cowok yang sama, dan gombalannya itu- itu juga, tetap saja bisa membuat hidung kembang kempis dan hati berbunga-bunga, seperti yang sedang dinikmati Nawang sekarang ini.


"Tapi aku mau ngasih tahu....."


"Terserah!" sahut Nawang cuek.


"Namanya Nawang. Tapi dia lagi BT sekarang, kayaknya lagi cemburu." kata Richard sambil tersenyum- senyum.


Nawang melengos ke kiri, menyembunyikan senyumnya yang tak dapat ditahannya.


"Cemburu itu apa, Pa?" tanya Bintang mengagetkan keduanya.


Gimana bisa lupa ada bocah itu bersama mereka?


Ah, orang kasmaran memang kadang nggak sadar situasi dan posisi.


"Cemburu itu......"


"Awas aja kalau ngawur jawabnya...." gumam Nawang dengan tatapan milik Superman.


"Cemburu itu pengen jadi yang paling di sayang." jawab Richard setelah berpikir sejenak.


"Bukannya Ibu udah paling disayangi? Aku sayang, Papa sayang, Darren sayang, bude, pakde, Oma, opa, semuanya sayang sama Ibu. Kecuali Ayah." kata Bintang dengan nada pelan di dua kata terakhir, membuat Richard dan Nawang saling pandang karena kaget.


"Ayah juga sayang sama Ibu, tapi......" kalimat Richard terpotong sahutan Bintang yang nampak bernada kesal.


"Sayang kok bikin Ibu nangis terus!"


Richard dan Nawang kembali berpandangan dengan tatapan cemas.


Nawang sekuat tenaga menahan airmatanya agar tak menetes.


Seterluka itu perasaan seorang anak kecil yang melihat Ibunya menangis karena menahan lara.

__ADS_1


Ya Allah, ampuni hamba yang membuat jiwa sekecil itu terluka.


"Ayahmu sudah menyesal, Nak. Sudah minta maaf sama Ibu dan Ibu sudah memaafkan. Tolong kamu maafkan Ayahmu juga ya?" kata Richard lembut.


Ditatapnya Nawang yang kemudian mengangguk padanya, menyetujui ucapannya.


"Kalau anak baik, anak sholeh, nggak boleh marah sama orang tua. Kalau seperti itu bukan anak sholeh lagi dong, nanti doanya nggak di dengar sama Allah lho. Padahal mulai sekarang kita harus banyak berdoa biar Ibu dan adik kecil selalu sehat. Mas Bintang mau doanya dikabulkan Allah kan? Mau bantuin Papa berdoa buat Ibu dan adik kecil kan?" tanya Richard sambil menatap Bintang dari spion tengah.


Anak itu masih nampak berwajah kesal walau kemudian wajahnya sedikit tenang saat papa nya berkata seperti itu.


"Mau." jawab Bintang akhirnya.


"Kalau mau doamu dikabulkan Allah kamu nggak boleh marah lagi sama Ayahmu. Janji berusaha maafin Ayah?" tanya Richard lembut.


"Iya. Tapi aku sayangnya sama Papa. Nggak sayang sama Ayah." kata Bintang sudah berbelok bahan pembicaraan.


"Terimakasih, Nak sudah sayang sama Papa, sama Ibu, sama Darren. Tapi janji ya, tetap doakan ayahmu juga." kata Richard sambil tersenyum.


Sesungguhnya dia sedang menahan tangis haru dengan sedikit mendongakkan wajahnya agar airmatanya tidak bergulir ke bawah.


Anak ini sungguh istimewa. Dan dia bersyukur diberi kesempatan untuk bisa ikut mengasuhnya.


"Iya. Aku doakan ayah juga." kata Bintang pelan terdengar kurang ikhlas.


Waktu.


Nawang yakin, hanya waktu yang bisa menyembuhkan semua luka batin.


Begitupun luka batin Bintang karena perlakuan ayahnya dulu.


Mungkin bukan hanya luka batin yang tengah disimpan Bintang dalam hati polosnya, tapi juga trauma diabaikan.


Walau kini telah ada Richard yang merengkuh dan menyayanginya sepenuh hati, ternyata perhatian dan kelembutan mereka belum bisa menghilangkan 'dendam' Bintang pada perlakuan ayahnya.


Kebetulan tak jauh lagi warung penjual bebek goreng akan mereka lewati.


"Mauuuuu!" jawab Bintang dengan riang gembira.


"Bungkus aja ya?" pinta Nawang.


"OK! Kita bungkus aja ya, Mas?" kata Richard pada Bintang yang mengangguk mengerti kondisi ibunya.


"Aku ikut Papa turun atau nungguin Ibu?" tanya Bintang saat mobil sudah terparkir di depan warung.


"Ikut Papa nggak papa kalau kamu mau ikut turun." jawab Nawang.


"Kamu nggak papa sendirian?" tanya Richard meyakinkan situasi.


"Nggak papa! Aku cuma lemes, nggak sakit. Cuma lemes dan haus." kata Nawang dengan wajah merajuknya.


"Ya udah. Aku cariin minum dulu, nanti aku anterin ke sini. Mau minum apa?" tanya Richard.


"Air putih sama jus alpukat." jawab Nawang cepat.


"Oke, Bu Boss." kata Richard kemudian cepat turun dan menggandeng Bintang untuk mendekat ke tempat pemesanan lalu mengambil air mineral kemudian mengantarkannya kepada Nawang sambil menunggu orderan minuman lainnya disiapkan.


"Masih lemes banget?" tanya Richard sambil membuka tutup botol untuk Nawang kemudian memberikannya setelah tutup mudah dibuka.


"Nggak. Lemes aja, nggak banget kayak tadi." jawab Nawang kemudian meminum setengah botol air mineral dengan cepat.


"Yang sabar ya...." kata Richard lembut sambil sekilas mengelus pelipis Nawang.

__ADS_1


"Sabar kenapa?" tanya Nawang bingung.


"Sabar harus rebahan aja. Biasanya kan kamu suka di dapur, suka ikut bersih- bersih rumah." kata Richard sambil tersenyum.


Sekilas dia menoleh ke arah Bintang yang duduk manis dengan minum susu kotaknya dan snack besar di pangkuannya.


"Kamu yang harus mulai stock sabar nggak terbatas ngadepin emosi labil bumil. Jangan di ambil hati ya kalau nanti aku rewel atau jutek." kata Nawang sambil mengelus pipi Richard sekilas.


"Iya. Pasti." kata Richard sambil tersenyum.


"Udah sana, anaknya malah ditinggal sendirian." usir Nawang sambil menepuk lengan Richard yang bertumpu di jendela mobil.


"Dia ngerti kok kalo Papanya lagi ngerayu Ibunya biar Ibunya bahagia." kata Richard membandel.


"Aku mau minum lagiiiii." kata Nawang sambil mengangkat botol minum ukuran tanggung yang sudah kosong.


Richard tertawa tanpa suara melihatnya.


"Aku ambilin lagi deh. Yang gede sekalian?" tawar Richard.


"Iya." jawab Nawang cepat.


Richard cepat berbalik untuk membeli lagi air mineral pesanan Nawang.


Bintang yang melihat Papanya membawa air mineral dengan botol besar jadi keheranan.


"Itu buat Ibu lagi, Pa?" tanya Bintang sambil menunjuk botol di tangan Richard.


"Iya. Adikmu mungkin kehausan." jawab Richard sambil terkekeh.


Bintang mengangguk- angguk sambil berpikir memangnya adik mainan apa di dalam perut sampai kehausan gitu?


**********


Richard menatap lembut Nawang yang sudah terlelap dengan posisi meringkuk.


Sekarang Nawang selalu berangkat tidur lebih awal. Tak pernah lebih dari jam sembilan.


Dan Richard sangat mengerti itu. Bawaan bayi. Nggak bisa diprotes.


Baru saja dia minum ARV nya dan ingin cepat tidur menyusul Nawang.


Dengan lembut dibawanya tubuh istrinya ke pelukannya.


Nawang nampak sedikit bergerak, rupanya hanya untuk mencari posisi nyamannya di pelukan Richard.


"Sekarang harus nunggu tidur dulu baru bisa peluk kamu." bisik Richard sambil tersenyum.


Ya, selain selalu mendahului tidur Nawang nggak mau kalau saat akan tidur ditemani apalagi dipeluk.


Tapi untungnya kalau sudah tidur dan nanti terjaga mendapati dirinya dipeluk Richard, Nawang tak emosi.


Richard mengelus lembut perut Nawang yang sudah mulai tak rata.


Tiga bulan sudah kandungan Nawang.


"Jadi anak baik dan nurut sama orangtua ya, Nak. Kita jagain dan sayangi Ibu bareng- bareng." gumam Richard lembut.


🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️


Semangat membaca sampai akhir cerita ya......😊💖💕

__ADS_1



__ADS_2