PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
13


__ADS_3

Nawang membawa tubuh anaknya ke pangkuannya.


Dipeluknya lelaki kecil itu penuh haru.


Biarpun lelaki dan masih kecil, anaknya ini sangat perasa.


"Siapa bilang kamu nakal? Kamu anak ibu yang paling baik dan sabar. Terima kasih ya, Nak, kamu nggak pernah rewel." kata Nawang kemudian mengecup pipi chubby Bintang.


Ada kelegaan di wajah polos itu.


"Tapi Ibu kok suka nangis?" tanya Bintang sambil membelai pipi Nawang.


Hati Nawang tersentak.


Apa Bintang pernah melihatnya menangis?


"Kapan Ibu nangis?" tanya Nawang pura- pura kaget.


"Aku sering liat Ibu nangis kalo lagi sendirian di dapur. Kenapa? Ayah yang nakal ya?" tanya Bintang lagi.


"Ibu kalau di dapur keluar airmata itu bukan nangis sedih, tapi karena matanya kena bawang atau kena asap masakan." dusta Nawang.


"Ibu kan masaknya tiap hari, tapi kok nangisnya nggak tiap hari?" kejar Bintang.


Nawang hampir mati kutu dengan pertanyaan itu.


Dia nggak menyangka Bintang bisa menganalisa secepat itu.


"Kan bumbunya lain- lain kalau masak. Jadi ada yang bisa bikin nangis,ada juga yang nggak." kelit Nawang akhirnya.


"Ibu juga suka nangis kalau liat sinetron." kata Bintang setengah mengolok.


Nawang terkekeh.


"Iya. Suka kasihan sih." kata Nawang sambil tersenyum malu.


"Bu....Ibu punya tabungan nggak?" tanya Bintang kemudian.


Nawang kembali membisu.


Sungguh pertanyaan yang menyakitkan hatinya.


Kenapa nanyain tabungan?" tanya Nawang keheranan.


Jangan- jangan Bintang juga suka mendengar kalau ayahnya sedang membahas tentang dia yang nggak bisa nabung?


"Tadi Dika cerita habis ikut mamanya ke bank buat nabung. Katanya mamanya nabung buat biaya sekolahnya Dika dan adiknya besok. Terus Aldo juga cerita pernah di ajak ayahnya ngambil uang di kotak yang bisa keluar uangnya sendiri kalo kita pencet tombol- tombol. Kata ayahnya Aldo, kita bisa ngambil uang kayak gitu kalau kita punya tabungan di bank. Ibu punya tabungan nggak, Bu?" tanya Bintang lagi.


Nawang rasanya ingin menangis kejer saat itu juga.


Ya Tuhan, kapan aku bisa membuat anakku bangga dengan hidupku ini?


Nawang menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya dan mencari jawaban diplomatis atas pertanyaan Bintang itu.


Kali ini sungguh dia nggak ingin terlihat lemah dan miskin di depan anaknya.

__ADS_1


Dia malu dan merasa sungguh tak berdaya.


"Kita nabungnya nggak di bank. Rejeki kita disimpen sama Tuhan, jadi lebih aman." jawab Nawang akhirnya.


"Memangnya kalau di bank nggak aman ya, Bu?" tanya Bintang.


"Di bank aman juga, tapi masih bisa dicuri. Kalau di simpennya sama Tuhan, jelas nggak ada yang bisa nyuri." jawab Nawang sambil mengurut keningnya pelan.


Sudah bisa dipastikan pembicaraan ini akan panjang ceritanya.


Bintang adalah anak yang sangat suka mencari tahu tentang semua hal.


Dia akan terus bertanya bila dia belum puas dengan sebuah jawaban.


"Kita mintanya ke Tuhan gimana Bu kalau kita butuh?" tanya Bintang bingung.


"Mintanya dengan cara bekerja sungguh- sungguh. Nanti Tuhan minta tolong kepada boss kita buat ngasih rejeki kita." kata Nawang.


"Itukan namanya rejeki, Bu. Itu bukan tabungan." protes Bintang setelah berpikir sejenak.


Nawang gelagapan dalam hati.


Hadyeeeeh, bikin mumet aja bocah ini.


"Tabungan itu rejeki juga, sayaaaang." jawab Nawang gemas.


"Bukaaaan. Tabungan itu rejeki yang kita sisihkan buat kita simpan untuk masa depan." kata Bintang dengan nada gemas.


Nawang tertawa melihat wajah gemas Bintang.


"Pinternyaaa anak ibu ini. Udah yuk masuk rumah." ajak Nawang sengaja lari dari percakapan selanjutnya.


"Udah, kamu nggak usah mikir tabungan. Yang penting kita sehat dan kalau ada keperluan apa- apa kita ada rejeki." jawab Nawang akhirnya.


Sebuah jawaban yang juga doanya.


Jangankan tabungan,untuk bisa makan cukup dan nggak punya hutang tiap bulannya saja dia harus benar- benar- pintar memutar otak.


Mungkin bila gaji suaminya diserahkan padanya dan dikelolanya,pasti dia bisa menabung walau cuma beberapa ratus ribu sebulannya.


Tapi kenyataannya suaminya hanya memberi separuh gajinya bahkan kadang kurang dari separo yang mana sisa gaji lainnya nggak pernah Nawang tahu alamat larinya.


Nawang kembali merasakan sesak didadanya.


Akan sampai kapan dia menjalani rumah tangga menyakitkan seperti ini?


Dia nggak pernah merasakan ketenangan batin sejak menikah dulu.


Suaminya tidak pernah lembut padanya.


Tidak juga memenuhi semua kebutuhannya.


Dia merasa kebaikan suaminya saat pacaran dulu menguap seusai ijab kabul terucap.


Mas Dani suaminya menjadi laki- laki dingin dan tak perduli dengan rumah tangga mereka.

__ADS_1


Berulangkali Nawang mengeluhkan sikap Dani itu, tapi hanya mendapat balasan bentakan yang langsung membuat Nawang lemas tak berdaya dan memilih tak lagi membicarakan hal itu.


Bukannya dia akhirnya menerima, dia hanya tak ingin terluka dengan bentakan yang mungkin akan diberikan lagi padanya.


Untuk di ajak ngobrol baik- baik pun Dani sangat susah.


"Kamu itu nggak ada bersyukurnya jadi orang. Udah punya uang dari gaji kamu sendiri, aku juga udah ngasih, masih kurang segitu? Nggak usah boros- boros jadi perempuan." kata- kata itu selalu muncul tiap Nawang mengajak ngobrol tentang sempitnya ekonomi mereka.


Yang keluar dari mulut suaminya hanya kata- kata semacam itu.


Dan itu sudah cukup untuk mengoyak remuk perasaan wanita Nawang.


Dulu pernah saking jengkelnya dengan kelakuan suaminya, semua uang gaji bahkan slip gajinya sekalian dia serahkan pada suaminya.


"Ini gajiku sebulan dan slipnya. Aku serahkan semua sama kamu, silakan kamu gunakan untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kita selama sebulan. Kalau kamu nombok silakan kamu hitung kamu nombok berapa. Aku hanya minta seratus ribu untuk aku beli bensin sebulan dan buat jaga- jaga kalau ban bocor." kata Nawang sambil sebisa mungkin meredam amarahnya.


Dani nampak terkejut.


Dia meraih slip dan melihat nominal di paling bawah.


"Masak gajimu cuma segini? Kamu kan kepala logistik." kata Dani dengan tatapan tidak percaya.


"Terus kamu kira itu slip palsu? Aku buat sendiri? Itu ada stempel perusahaanya lho. Lagian di tempat kerjaku nggak besar tunjangan jabatannya." kata Nawang mulai tersulut emosi.


Rasanya pengen nonjok laki- laki di depannya ini.


"Ini uang aku yang pegang semua? Kamu kalau mau belanja minta, gitu?" tanya Dani kemudian.


"Aku nggak akan belanja. Aku cuma masak, bersih- bersih rumah, kerja. Dah itu aja. Uang kamu yang pegang semua, kamu yang belanja dong." jawab Nawang enteng.


"Enak aja. Belanja kan tugas perempuan." elak Dani.


"Terus tugas laki- laki apa?" tanya Nawang.


"Kerja." jawab Dani dengan bangga.


"Aku juga kerja." sergah Nawang.


"Kalau aku bisa kerja kayak kamu, kenapa kamu nggak mau belanja kayak aku? Kamu capek kerja, aku juga capek kerja." cecar Nawang.


Wajah Dani sudah mulai berubah keruh.


Dia nggak suka situasi seperti ini.


"Udah, kayak biasanya aja. Nggak usah bikin kebiasaan baru." kata Dani akhirnya dengan suara melunak.


"Aku nggak mau. Kamu coba sebulan, kamu yang belanja dengan uang gajiku itu ditambah uang yang biasanya kamu kasih ke aku. Aku mau tahu kamu bisa nabung berapa ratus ribu." kata Nawang menantang.


Dani membalas tatapan dingin Nawang padanya.


Dia tahu istrinya itu sedang menahan amarah.


Dan dia memilih meninggalkan tempatnya duduk tanpa sepatah katapun.


Meninggalkan uang gaji Nawang di atas meja begitu saja.

__ADS_1


Meninggalkan Nawang kembali dengan rasa sesak di dadanya.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2