
Wajah Richard menegang saat di dengarnya suara papanya nampak sangat serius memintanya untuk ke Semarang hari ini juga, dan sendiri.
Papanya tak mau menjawab sepatah katapun saat Richard menanyakan alasan orang tuanya mendadak memaksanya harus pulang hari ini juga.
Nggak biasanya mereka seperti ini.
Pasti ada hal besar dan penting yang mau mereka bicarakan. Tapi apa?
Acara pernikahannya dengan Nawang?
Tapi kalau memang itu sepertinya nggak harus setegang itu juga suaranya untuk memintanya pulang.
Masalah kerjaan?
Kayaknya bisnis papanya nggak ada masalah besar. Mereka berdua semalam baru berbincang masalah itu lewat telpon.
Bisnisnya sendiri juga baik- baik saja.
Masalah keluarga?
Memangnya keluarganya ada masalah apa?
Semalam dia habis telponan dengan mbaknya yang di Singapura, dan baik- baik saja keadaannya, nggak ada masalah apapun katanya.
Lalu ada apa?
Richard memilih mencari nomer Nawang dan menelponnya untuk berpamitan sebelum dia berangkat ke Semarang saat ini juga.
"Hallo....." Richard tersenyum menyapa Nawang di ujung telpon.
Perempuan itu masih kurang suka bila dia menelpon berlama- lama di jam- jam kerja seperti ini.
Walaupun tetap diangkat, tapi pasti kaku suaranya. Membuat nggak nyaman ngobrol lama- lama.
"Cuma mau pamit ke Semarang. Disuruh pulang barusan, nggak tahu ada apa." kata Richard.
Nawang menanyakan keadaan mama papanya, apakah sakit atau kenapa.
"Mereka sehat semua, baik- baik aja. Makanya aku juga penasaran kenapa mereka maksa banget aku harus pulang saat ini juga." terang Richard yang dijawab Nawang agar segera pulang tapi harus tetap hati- hati di jalan dan tidak melupakan membawa obatnya kalau seumpama dia akan menginap.
"Tentu saja, Nyonya. Obat selalu ada. Begitu sampai sana aku kabarin kamu. Love you." pamit Richard sebelum menutup panggilan telponnya.
Setelah berpamitan juga dengan Hans lewat VN, juga memberi beberapa tugas dadakan pada Hans, Richard menjalankan mobilnya keluar dari Jogja, pulang ke Semarang demi mencari tahu apa yang sedang menunggunya disana.
********
Richard memeluk mamanya yang tersenyum menyambutnya di depan pintu.
Dirasanya pelukan mamanya sangat lama kali ini.
Ada apa sih?
"Kamu sehat kan?" tanya mamanya masih tetap memeluknya. Di dengarnya suaranya seperti menahan tangis.
Ini ada apa sih?
"Aku sehat, Ma. Seperti yang mama lihat." jawab Richard sambil tersenyum tenang.
"Papa belum pulang, Ma?" tanya Richard begitu mamanya melepaskan pelukan.
"Ada di dalam lagi nonton." jawab mamanya sambil tersenyum.
Tapi entah mengapa Richard melihat senyum itu seperti menyembunyikan tangis.
Keduanya sudah memasuki ruang tengah dan Richard melihat papanya sedang duduk sambil menatap layar tv di depannya dengan wajah serius.
Masih sama sejak dia kecil dulu, papanya selalu melihat acara bisnis saja di tv.
"Pa....." sapa Richard sambil mendekat kemudian memeluk papanya.
__ADS_1
Kali inipun pelukan papanya dirasanya berbeda dari biasanya. Lebih erat dan lama.
Bahkan berkali- kali papanya menepuk- nepuk bahunya seperti sedang menguatkan.
Sebenarnya ada apa sih dengan mereka?
"Sudah makan belum kamu?" tanya papanya saat pelukan lama mereka akhirnya terurai dan Richard duduk santai di samping papanya.
"Udah. Tadi habis makan baru jalan kesini. Ada apa sih Pa, Ma? Kayaknya horor banget suasananya dari tadi." tanya Richard sambil terkekeh melihat wajah tegang kedua orang tuanya.
Nggak biasa- biasanya mereka berwajah seperti itu.
Richard kaget saat dilihatnya mamanya tiba- tiba menangis dan menghambur memeluknya.
Tangisnya bahkan semakin menjadi saat Richard memeluknya untuk menenangkan.
Dilihatnya papanya juga menatapnya dengan pandangan yang Richard sendiri tak bisa mengerti.
Dan kini papanya malah memilih tertunduk, tak mau membalas pertanyaan lewat matanya.
"Sudah, Ma. Tenangkan hatimu." kata papa setelah cukup lama mama memeluk Richard.
Tangisnya sudah mereda walau airmatanya masih juga mengalir.
"Kamu nggak tahu rasanya jadi aku. Aku nggak tega liat Eric. Aku nggak rela dia begini." kata mama pada papanya.
Richard semakin dibuat bingung dengan ucapan mamanya.
Papa nampak menghela nafas berat.
"Ada apa sih sebenarnya Ma, Pa?" tanya Richard tak tahan lagi.
Mama beringsut duduk dengan benar di samping Richard.
Mencondongkan badannya menghadap ke Richard, sama seperti yang dilakukan papanya.
Akan sampai kapan kayak gini?
"Sebenarnya ada apa sih? Aku ada salah apa?" tanya Richard akhirnya habis kesabaran.
Papa akhirnya berdehem untuk memulai berbicara.
"Tadi Darto kesini sama istrinya." kata papa pelan.
"Pak Darto? Ngapain?" tanya Richard mulai was- was.
"Mereka minta maaf atas nama putrinya karena telah membuatmu kena HIV." kata papa selanjutnya, sambil menatap sedih padanya dan mama yang terlihat kembali terisak.
Richard terpaku, tak sanggup membalas tatapan papanya.
Apa yang tadinya hendak dia sembunyikan dari orang tuanya selamanya, ternyata malah dibuka oleh orang lain.
"Kenapa kamu sembunyikan keadaan kamu dari kami? Kenapa nggak cerita sama kami, Nak?" tanya mama disela isakannya.
Richard tak sanggup menjawab.
"Apa kamu juga menyembunyikan keadaanmu dari Nawang?" tanya papa kemudian.
"Nawang tahu keadaanku." kata Richard pelan.
Didengarnya tawa sumbang papa dan dilihatnya papanya menggeleng- gelengkan kepala.
"Bahkan kamu lebih percaya pada Nawang daripada pada kami." kata papa dengan suara sedih.
"Bukan begitu, Pa. Dia nggak sengaja nemu obat- obatanku, karena penasaran dia searching di google obat- obatan itu buat apa. Dari situ dia tahunya, bukan aku sengaja cerita ke dia." kata Richard menjelaskan.
"Berarti kamu tadinya juga berniat menyembunyikan ini dari dia juga?" tanya papa nggak habis pikir.
"Iya. Aku tadinya juga nggak berani berharap bisa dekat sama dia lagi karena keadaanku ini. Begitu dia tahu dan ternyata dia bisa menerima keadaanku, baru aku memberanikan diri untuk mengajaknya menikah walaupun nggak yakin juga dia bakalan mau." kata Richard sambil menunduk.
__ADS_1
"Kamu nggak berpikir dia mau sama kamu karena kasihan?" tanya papa membuat dada Richard tiba- tiba seperti terbakar.
Nawang menerimanya karena kasihan? Benarkah?
"Pa!" sergah mama memperingatkan.
"Masih saja kamu berpikiran buruk sama Nawang." kata mama nggak suka.
"Aku rasional, Ma. Bukan berpikiran buruk." sanggah papa tenang.
Richard masih terdiam.
Apa iya Nawang menerimanya karena rasa iba?
"Beneran dia nggak pernah minta apa- apa sama kamu?" tanya papa lagi.
Richard mengeratkan rahangnya menahan gelegak di dadanya yang tiba- tiba terasa mendidih.
Dia nggak suka mendengar pertanyaan itu. Sangat nggak suka.
"Papa ternyata masih belum berubah memandang Nawang." desis Richard menahan suaranya agar tetap dalam nada yang sopan.
"Dia bahkan meminta acara lamaran dan pernikahan yang sesederhana mungkin nanti. Dia nggak minta harta apapun, kalau itu yang papa khawatirkan. Bahkan kemarin dia minta kami buat perjanjian pranikah agar dia hanya bisa menerima haknya sebagai istri sah saja, tanpa ada hibah atau harta yang akan mengurangi hak Darren sebagai pewarisku nantinya. Dia mau Bintang tak menerima apapun harta dariku. Apalagi?" tanya Richard sinis.
Hatinya terluka saat ini.
Dia kira orang tuanya khawatir pada kondisi kesehatannya, ternyata papanya lebih berat memikirkan penyelamatan aset.
Ya Tuhan, menyakitkan sekali keadaan ini.
"Bukan itu yang papamu maksud, Sayang. Kami hanya ingin meyakinkan diri kami, kamu akan baik- baik saja menjalani pernikahanmu dengan Nawang." kata mamanya mencoba menetralisir suasana.
"Aku rela kalau seandainya Nawang menginginkan semua hartaku, kalau memang dia menginginkan itu. Tapi selama ini yang aku tahu, dia tidak seperti itu. Tentang dia mau menikahiku karena dia iba atau memang karena cinta,biar itu jadi urusan kami berdua saja. Sepanjang dia tetap setia di sampingku, memperlakukan aku dan Darren dengan baik, berlaku baik pada mama dan papa, itu sudah cukup untukku, Pa. Aku sudah bisa bahagia dengan itu." kata Richard akhirnya.
Papa terpaku menatapnya. Mama memeluk lengannya kembali terisak.
"Maaf aku nggak memberitahu keadaanku pada mama papa. Aku hanya tak ingin ada keresahan dan kesedihan di hidup mama dan papa karena aku. Setelah ini doakan saja aku selalu sehat, bisa menjalani hidupku senormal mungkin seperti biasanya." kata Richard pelan.
"Kesehatanmu selalu on control?" tanya papa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Always." jawab Richard meyakinkan.
"Alhamdulillah. Berjanjilah kamu akan selalu baik- baik saja." kata papa sambil menatap Richard dengan tatapan memohon.
"Aku janji, Pa. Apalagi udah ada yang ngawasin hidupku. Dia sangat galak mengawasiku." kata Richard sambil mengerling, mencoba mencairkan suasana.
"Syukurlah kalau dia bisa galak padamu. Setidaknya kami lebih tenang dan yakin kamu akan selalu baik- baik saja." kata papa sambil tersenyum kecil.
"Maafkan kami, selama ini kami sampai nggak tahu kamu punya sakit itu. Kami sungguh teledor menjadi orang tua." kata papa kemudian.
Nada menyesal terdengar dari suaranya.
Lagi- lagi mama terisak di sampingnya.
Richard menggeleng sedih.
Dia nggak suka orangtuanya merasa bersalah seperti ini.
Mereka jelas- jelas nggak bersalah atas keadaannya ini.
Kalau mau mencari siapa yang salah, jelas dia sendirilah yang bersalah karena nggak bisa menjaga dirinya sendiri dari jeratan perempuan itu.
Tapi buat apa semua ini dibicarakan sekarang? Nggak akan mengubah apapun yang telah terjadi bukan?
"Nggak ada yang perlu dimaafkan, Pa, Ma. Nggak ada yang salah. Memang jalanku harus begini. Dan aku udah bisa menerima keadaanku. Doakan saja aku. Itu jauh lebih berharga buatku." kata Richard sambil memeluk papa mamanya dengan kedua lengannya.
"Kami pasti selalu mendoakan mu,Nak. Pasti." kata mama lirih sambil menghambur ke dadanya.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
__ADS_1