
"Siap?" tanya Richard sambil tersenyum setelah membantu Nawang melepaskan seat belt.
Nawang mengangguk sambil tersenyum ringan walau hatinya deg- degan juga.
Ini akan jadi langkah awal memulai rencana memiliki buah hati dengan kondisi Richard yang istimewa.
Pasti akan ada beberapa hal istimewa juga yang akan mereka lakukan dan temui nanti.
"Semoga prosesnya dilancarkan ya." gumam Richard sambil menggenggam erat jemari Nawang.
"Aamiin...." jawab Nawang lahir sampai batin.
Dia tahu ini akan sedikit berbeda dari kehamilan pertamanya dulu, saat mengandung Bintang. Tapi dia yakin, mereka berdua akan bisa melewati semua prosesnya dan akan membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan.
"Dokter Pramudya sudah merekomendasikan dokter Melia untuk kita. Beliau dokter obgyn yang sudah biasa menangani pasangan serodiskordan ( pasangan beda status HIV). Semoga kita beruntung dengan bantuan beliau." kata Richard penuh harap.
"Aamiin. Dan sekarang kita akan langsung bertemu dokter Melia?" tanya Nawang sambil menatap Richard.
"Iya. Dokter Pramudya sudah membuatkan janji buat kita, jam sembilan, sebagai pasien pertama beliau hari ini." jawab Richard sambil tersenyum sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Sepuluh menit lagi, Sayang." kata Richard.
Nawang hanya mengangguk dan sedikit keheranan mengikuti langkah Richard yang tetap menggenggam jemarinya menyusuri lorong- lorong rumah sakit.
Richard tak pernah kelihatan bingung harus melangkah ke arah mana tiap kali melewati jalan bercabang di koridor rumah sakit. Seperti yang sudah hafal betul dengan tiap lorong rumah sakit ini.
"Ruangannya di depan itu." kata Richard sambil menatap ke arah depan.
"Kayak hafal banget kamu sama tiap lorong rumah sakit ini." kata Nawang tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Awal- awal tahu aku HIV hampir tiap hari aku kesini." kata Richard sambil tersenyum getir.
"Ketemu dokter Pram?" tanya Nawang menebak.
Richard menghentikan langkahnya sebelum sampai di depan ruangan obgyn. Membawa Nawang menepi dan berdiri di samping tiang besar di dekat pintu masuk.
"Enggak." jawab Richard sambil menggeleng pelan. Wajahnya nampak menyimpan luka.
"Lalu buat apa?" tanya Nawang lagi, masih penasaran.
"Untuk melihat penderitaan orang lain yang lebih sakit dan lebih terlihat dari sakitku. Untuk menguatkan diriku sendiri. Untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku masih lebih beruntung dari mereka." kata Richard sambil menunduk sedih juga malu karena mengingat seperti memanfaatkan penderitaan orang lain untuk memotivasi dirinya sendiri.
Nawang tercenung mendengarnya. Hatinya tiba- tiba merasa pedih membayangkan menderitanya Richard waktu itu harus sendirian menyembunyikan dan menjalani semuanya.
Mencoba menguatkan dirinya sendiri tanpa bantuan orang- orang terdekat yang harusnya bisa ada bersamanya.
"R**eally my greatest man." ucap Nawang sambil mengusap pipi Richard sekilas.
Richard tersenyum sambil menggenggam jemari yang tadi mengusap pipinya.
"Dan aku memang beruntung. Hari ini akan memulai langkah memiliki anak. Big things that I never dared to imagine. Terimakasih, Sayang, sudah menemaniku mewujudkan mimpi indahku." kata Richard kemudian merengkuh Nawang ke pelukannya dengan haru.
"Mas, malu." kata Nawang sambil memukul dadanya pelan.
Richard bergegas melepaskan pelukannya sambil tertawa.
Diedarkannya pandangan ke sekitar lokasi mereka. Untunglah sepi dari lalu lalang orang.
"Kita masuk yuk." ajak Richard kemudian.
Nawang mendudukkan dirinya di kursi tunggu di samping loket pendaftaran sementara Richard nampak berbicara dengan bagian administrasi.
Tak lama pria itu menghampirinya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kita langsung masuk, Sayang. Dokter Melia sudah siap menerima pasien pertama." kata Richard sambil mengulurkan tangannya pada Nawang yang bergegas berdiri dengan menerima uluran tangan suaminya.
Rasa deg- degan keduanya saat akan memasuki ruang praktek dokter Melia langsung sirna saat melihat senyum ramah dan keibuan dari wanita berusia sekitar limapuluh tahunan itu.
Beliau bahkan langsung berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
"Selamat pagi, Dokter." sapa Richard dengan sopan sambil menerima jabatan tangan dokter Melia dengan hangat.
"Selamat pagi, Bapak Ibu Richard." balas dokter Melia sambil menjabat tangan Nawang yang tersenyum senang.
"Panggil Eric saja, Dok. Ini istri saya, Nawang." kata Richard setelah mereka duduk.
"Baiklah, Pak Eric." kata dokter Melia sambil tersenyum senang.
"Bisa tanpa Pak dan Bu. Kami lebih muda dari Anda." kata Richard sambil tertawa.
Dokter Melia tertawa senang.
"Baiklah. Tapi mohon dimaafkan kalau selanjutnya aku kurang sopan sama kalian ya. Kalian yang minta." kata dokter Melia sambil mengerling jenaka.
"Tapi sepertinya kami yang akan kurang sopan nantinya. Mohon dimaafkan kalau kami akan mulai sering merepotkan Anda nantinya." sergah Richard sambil tertawa pelan.
"No problem....no problem. Aku malah senang kalau pasien aktif bertanya. Berarti mereka care pada kesehatan mereka. Mumpung belum lupa silakan simpan nomer ponselku. Bisa tanya lewat pesan. Walau mungkin nggak fast respon tapi aku usahakan selalu menjawab pertanyaan." kata dokter Melia sambil mengulurkan satu lembar kartu nama yang bergegas diterima oleh Richard.
"Waaah, terimakasih banyak, Dok." kata Richard kemudian menyimpan kartu itu dia saku blazer nya.
"Kita bisa mulai diskusi kita, guys?" tanya dokter Melia sambil tersenyum.
Tangannya sudah mulai membuka file di depannya dan sekilas membaca.
"Aku sudah mempelajari riwayatmu, Ric. Dan OK semuanya. Jadi pada garis besarnya kalian sangat bisa memiliki anak. Sudah memiliki anak sebelumnya?" tanya dokter Melia sambil menatap keduanya.
"Kami sudah punya dua anak, Dok." kata Nawang.
Dokter Melia tersenyum mendengarnya.
"Bisaaaa. Walau Eric dalam kondisi yang istimewa, tapi dari rekam medis terlihat kesehatannya sangat prima." kata dokter Melia sambil mengamati rekam medis di depannya, kiriman dari dokter Pramudya.
Richard tersenyum lega mendengarnya, walau dia sudah tahu kondisinya setiap kali selesai cek ยฉviral load dan CD4โข yang selalu bagus sejak awal.
Dokter Melia tersenyum mengerti saat melihat raut kebingungan di wajah Nawang.
Dia tahu dari dokter Pramudya kalau pasiennya ini pasangan baru. Mungkin Nawang belum mengerti dengan detail soal kondisi suaminya.
"Biar Nawang lebih yakin kalau Eric aman untuk memiliki keturunan, aku jelasin sedikit ya." kata dokter Melia sambil menatap Nawang.
Nawang mengangguk senang. Memang dia butuh tahu lebih detail tentang posisi kesehatan Richard dan keamanan niat mereka memiliki anak.
" Syarat yang harus dilakukan pasangan serodiskordan yang ingin memiliki keturunan adalah sudah konsumsi ARV secara rutin, viral load undetectable ( tidak terdeteksi), melakukan pemeriksaan penyakit infeksi menular seksual, dan melakukan @analisis cairan semen untuk pria HIV." Dokter Melia berhenti sejenak menjelaskan agar Nawang bisa mencerna dengan baik.
"Sebelum kalian berdua sampai di obgyn ini, Eric sudah menjalani tes viral load dan CD4. Hasil viral load Eric dari pemeriksaan kedua dulu sampai terakhir kemarin selalu bagus, selalu undetectable.(tidak terdeteksi). CD4 nya juga selalu bagus. Di kisaran 800- 1200 sel/ mm darah. Padahal untuk ODHA, CD4 di angka 450 itu udah masuk sehat. CD4 normal manusia kan dikisaran 500- 1500 sel/ mm darah." terang dokter Melia.
Dia melihat seulas senyum kelegaan di wajah Nawang setelah mendengar penjelasannya.
"Eric juga sudah melakukan pemeriksaan penyakit infeksi menular seksual, dan hasilnya negatif." sambung dokter Melia.
Richard mengerling pada Nawang yang sedang menatapnya.
"Eric juga sudah melakukan tes untuk menganalisa fertilitas ( kesuburan). Dan hasilnya bagus. Semuanya OK untuk promil." kata dokter Melia memungkasi keterangannya.
"Lalu kami bisa melakukan promil kapan, Dok?" tanya Richard kemudian.
"Kita hitung dulu masa subur Nawang. Pas masa subur, selama tiga hari itu kalian hajar habis- habisan di ranjang." kata dokter Melia sambil mengerling jenaka, membuat Richard dan Nawang melongo menatapnya.
__ADS_1
Maksudnya gimana nih, hajar di ranjang?
Pikiran Richard dan Nawang auto travelling ( kayak readers ๐๐).
Dokter Melia yang ditatap dengan melongo ikut- ikutan melongo.
"Kenapa?" tanya dokter Melia akhirnya dengan wajah salah tingkah
"Maksudnya gimana tadi, Dok?" tanya Richard agak malu.
Nawang juga menatapnya malu- malu.
"Yang mana yang gimana?" tanya dokter Melia bingung.
"Yang hajar di ranjang tadi....." kata Richard dengan lugasnya. Nawang tersipu- sipu mendengarnya.
"Kalian akan promil secara natural atau inseminasi sih? Kok aku malah ikutan bingung." tanya dokter Melia tertawa geli.
"Memangnya natural boleh, Dok?" tanya Nawang kali ini.
Tanpa sadar Nawang meraih jemari Richard yang sedari tadi bertumpu di sandaran kursi.
๐๏ธ๐๏ธ๐๏ธ bersambung ๐๏ธ๐๏ธ๐๏ธ
ยฉviral load (VL) dilakukan 6-12 bulan sekali.
Ukuran dari viral load adalah TERDETEKSI dan TIDAK TERDETEKSI.
TERDETEKSI artinya masih ada jumlah virus dalam darah yang bisa dihitung oleh alat pendeteksi.
TIDAK TERDETEKSI artinya jumlah virus dalam darah sudah sangat sedikit ( dibawah 339 virus).
(Sumber: guebisa.org)
Tes VL bisa dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
๐๐METODE PCR ( Polymerase Chain Reaction) . Metode ini umum digunakan di Indonesia. PCR memakai suatu enzym untuk menggandakan HIV dalam contoh darah, kemudian reaksi kimia menandai virus. Penanda diukur dan dipakai untuk menghitung jumlah virus.
๐๐METODE bDNA ( branced DNA).
๐๐METODE NASBA (Nucleic Acid Sequence Based Applification).
(Sumber: Spiritia.or.id).
CD4โข (Cluster Differentiation 4) merupakan sel imun yang berperan dalam perlindungan tubuh terhadap penyakit. Ia sel yang diserang oleh HIV.(Sumber: www.sehatq.com).
ODHA dinyatakan sehat bila CD4 nya diatas 350 sel/ ml darah. (Sumber: www.sehatq.com).
Tes hitung CD4 sebaiknya dilakukan tiap 3-6 bulan sekali.
@analisis cairan semen dilakukan untuk memastikan bahwa pria HIV tidak mengalami masalah fertilitas( kesuburan).
Pemeriksaan ini perlu dilakukan karena penelitian menunjukkan bahwa pria dengan HIV memiliki masalah kesuburan lebih banyak dibandingkan pria tanpa HIV.
(Sumber: www.alodokter.com).
๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ
Part ini cukup bikin pusing nggak? ๐
Maaf ya kalau bikin kening panjenengan semua harus berkerut- kerut memahami keadaan Mas Richard yang istimewa โบ๏ธ.
Yuk mariiiii.....yang bunga....yang kopi....yang vote.....๐
__ADS_1