
Pertempuran nanti malam ya?
Deg!
Jantung Richard seperti jatuh terjun bebas dari gantungannya saat ingat tantangan istri manisnya tadi dan rencana mereka tidur di rumah Bintang malam ini.
Haduh! Salah perhitungan aku, sesal Richard setengah mati.
Harusnya nanti malam adalah buka puasa besar- besarannya, tapi kenapa tadi malah dia menyetujui keinginan Bintang tidur disini sih?
Tanpa sadar Richard menepuk keningnya dengan keras.
"Kenapa,Mas? Ada nyamuk?" tanya Nawang kaget.
"Ng....nggak. Bukan nyamuk. Tapi ada yang nylekit." jawab Richard sambil melirik Nawang sedih.
Nawang menangkupkan bibirnya, sepertinya mengerti apa arti lirikan suaminya,hahaha......
"Aku nanti mau bobok sini,Bude." kata Bintang setelah menelan minumannya.
"Nggak ikut pulang Ibumu?" tanya bude Darmi.
"Ibu sama Papa juga bobok sini kok." kata Bintang kemudian.
Bude Darmi menatap Richard yang mengangguk- angguk sambil memasukkan suapan terakhir spaghettinya.
"Waaah,asik dong!" seru bude Darmi.
"Sesekali kayaknya memang harus nginep disini. Masak rumah cuma di bersihin aja, nggak pernah ditidurin." kata Nawang iseng.
"Dikontrakkan saja kalau nggak kepake, Wang. Lumayan kan. Rumah ada yang ngerawatin, dapat pemasukan. Kan bisa buat tabungannya Bintang." usul bude Darmi.
"Ide bagus juga sih. Gimana, Mas?" tanya Nawang sambil menatap suaminya yang nampak agak melamun.
"Nunggu Bintang selesai TK aja dulu. Nanti kalau Bintang SDnya mau di dekat rumah kita ya, sini disewakan nggak papa. Kita kalau kesini besok moro dayoh ( bertamu) aja ke rumahnya Bude ya, Mas?" tanya Richard pada Bintang.
Bintang hanya mengangguk- angguk.
"Kamu SD nya mau di dekat rumahmu sana ya, Bin?" tanya bude Darmi.
"Iya. Biar nganternya nggak jauh kayak sekarang. Besok kalau sudah kelas empat atau lima bisa berangkat sendiri naik sepeda ya, Bu?" tanya Bintang mengingat percakapannya dengan ibunya beberapa waktu lalu soal calon sekolah SD nya.
"Iya. Di dekat sana ada SDIT bagus, Bude." jawab Nawang.
"Bude nanti bakalan kangen sama Bintang nih." kata bude Darmi sedih.
Nawang dan Richard terpaku sesaat. Merasa nggak tega dengan bude Darmi.
Bagaimanapun bude Darmi ibarat ibu kedua bagi Bintang.
Dia yang ikut merawat Bintang setiap hari dari anak itu masih bayi merah.
"Bude kan bisa main ke rumahku kalau kangen." kata Bintang.
"Pasti. Bude sama Pakde pasti akan sering main ke rumahmu kalau kamu sudah nggak disini. Boleh kan Bude sering main ke rumahmu?" tanya bude Darmi.
"Boleh dong. Boleh ya, Pa?" tanya Bintang meminta persetujuan papanya.
__ADS_1
"Boleh banget dong. Besok gantian Bude dan Pakde yang nginep di rumah kita." kata Richard kemudian.
"Waaah,malah nggak bisa tidur kalau nginep di rumah gedongan nanti. Nggak tahan sama ACnya." seloroh bude Darmi sambil terkikik.
"Ya besok tidurnya di teras aja kalau pas nginep sana." balas Nawang sambil terbahak.
"Boleh juga itu. Atau dia dapurnya aja ya." sahut bude Darmi sambil tertawa.
"Boleh. Di dapur nggak ada AC nya kok." balas Nawang sambil tertawa meledek bude Darmi.
"Wis ( dah), repot kalau mau nginep di rumah bagus tuh. Takut AC." kekeh bude Darmi sambil meraba dahi Bintang.
"Wah, udah nggak panas ini. Diobatin pizza langsung sembuh, Bin?" kata bude Darmi senang.
"Coba cek suhu lagi." kata Richard sambil memerintah Nawang dengan tatapannya.
"Nggih, Pak Boss." kata Nawang sambil meraih termo gun.
"Udah sehat nih. 36,1 kok." kata Richard lega.
"Ya udah, Bude pulang dulu ya. Sebentar lagi Pakde pulang nih." pamit bude Darmi sambil beranjak berdiri dari duduknya di atas karpet.
"Beneran jadi nginep disini?" tanya bude pada Nawang.
"Jadi nginep apa mau pulang, Bin?" tanya Nawang pada anaknya.
"Pulang apa jadi nginep, Pa?" tanya Bintang gantian melempar pertanyaan pada papanya.
"Pulang aja, yuk? Nginepnya kapan- kapan aja kalau ada Darren, biar rame." bujuk Richard.
Hatinya sangat berharap Bintang mau di ajak pulang kali ini.
"Iya. Malam Minggu kita nginep sini. Nanti Minggu pagi- pagi kita main ke Stadion Maguwo. Disana banyak orang olahraga dan banyak orang jualan katanya." kata Richard masih dalam rangka membujuk.
"Janji ya, Pa?" kata Bintang sambil mengulurkan kelingkingnya ke depan papanya.
"Janji doooong." balas Richard sambil menautkan kelingkingnya ke kelingking Bintang.
Yessss !!!! Yessssss !!!!
Batin Richard bersorak sorai karena pada akhirnya dia nanti malam akan bisa memenuhi tantangan Nawang di kamar rumah mereka.
Bukannya nggak bisa bertempur di rumah ini. Tapi jelas lebih leluasa dan bebas merdeka melakukan huru hara di kamar rumah mereka yang jelas kedap suara.
Kalau di rumah ini, kejadiannya akan seperti kejadian saat mereka di glamping tempo hari. Harus menahan suara ekspresi cinta mereka, wkwkwk.....
Karena posisi kamar yang berdempetan dengan kamar Bintang, Richard jelas yakin nggak mungkin leluasa bersuara. Daripada nanti menanggung resiko ternyata Bintang mendengar kegaduhan edisi tengah malam di kamar orang tuanya dan anak itu akan banyak tanya.
"Ya udah kalau mau pada pulang. Intip nya yang di atas meja dapur jangan lupa nanti dibawa, Wang. Pacarmu ndemenakke ( terlihat menyenangkan) kalau ketemu intip." kata bude Darmi sambill tertawa menatap Richard yang ikut tertawa.
"Aku jatuh cinta sama intip sejak pertama kali ketemu di rumah ini." kata Richard sambil tertawa.
"Menggombal teruuuuus." sahut Nawang diiringi tawa bude Darmi yang melangkah keluar rumah untuk pulang ke rumahnya sendiri.
"Kita pulang sekarang aja yuk. Udah mendung diluar." ajak Nawang.
"Biar hujan juga kita nggak kehujanan, Bu. Kan naik mobil. Ibu lupa?" tanya Bintang lugu.
__ADS_1
Richard hanya menahan senyumnya.
"Bukannya gitu. Kan tetap lebih nyaman kalau nggak hujan jalannya. Papamu lebih jelas liat jalannya." kata Nawang menerangkan.
"Ya udah ayuk kita pulang." kata Bintang setelah mengerti maksud ibunya.
Richard hanya menurut semua keinginan istri dan anaknya dengan tanpa protes.
Hatinya sedang bergembira ria dengan impiannya di malam nanti bersama istrinya.
"Jangan lupa berhenti di apotik sebentar Mas." kata Nawang mengingatkan saat mereka sudah mulai berjalan meninggalkan rumah Bintang.
"Beli Hugafrip ya, Bu?" tanya Bintang dari bangku belakang.
"Iya." jawab Nawang pelan.
"Kamu udah sempet cek kotak P3K di rumah belum?" tanya Richard.
"Udah, masih aman. Beli plester, tetes mata, sama minyak angin sekalian nanti." kata Nawang.
Richard menghentikan mobilnya di samping sebuah apotik besar yang kebetulan terlihat agak sepi.
"Kok nggak berhenti di depan apotik aja sih,Mas. Gelap disini." protes Nawang.
"Nanti ngalangin kalau ada motor mau masuk apotik. Parkirannya kecil gitu. Sebentar doang ini. Dikunci pintunya kalau takut." jawab Richard.
"Ikut turun nggak, Mas?" tawar Richard.
"Enggak." jawab Bintang malah terus membaringkan tubuhnya di bangku belakang.
"Mau titip apa?" tanya Richard kini menatap Nawang.
"Titip salam buat suamiku. Cepet balik." jawab Nawang sambil tersenyum jahil.
"Baiklah." jawab Richard sambil tertawa pelan. Hatinya tiba- tiba tersipu.
Karena tak perlu mengantri, Richard dengan cepat keluar melewati pintu apotik dengan membawa satu kantong kecil tas kresek.
Langkahnya menuju mobil terhenti saat tiba- tiba dari samping tembok apotik yang gelap muncul seorang pria bertopi dengan sebuah pisau lipat berkilat di tangannya mendekati Richard.
Richard yang kaget dengan kemunculan orang itu yang tiba- tiba, hampir jatuh terpeleset batang kayu di samping kakinya.
Untung saja dia masih bisa menguasai keseimbangan dirinya.
Richard segera memasang kuda- kuda untuk mengantisipasi gerakan orang itu.
Besar kemungkinan orang ini akan menjarah harta bendanya.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Alhamdulillah ada pencerahan sedikit dari mam Sera kalau RSK nggak akan mandeg walau mungkin akan istirahat agak lama ya 😁😁😁
Sambil nunggu RSK boleh lah ya nunggunya disini dulu sambil ngajakin temen- temen yang lain ,🙈 (Gaya promo model halusan ya kek gini 😂😂😂😂).
Makasih ya new reader yang langsung baca bab terakhir dulu 😂 Sah- sah aja kok. Yang penting ninggal jejak sama ninggal poin, eh 🙊
Happy reading semuanyaaaa......
__ADS_1
💖💖💖💖