PEMILIK RUANG HATI

PEMILIK RUANG HATI
130


__ADS_3

"Lhoh, kok malah kesini?" tanya Nawang saat Richard membelokkan mobilnya ke parkiran Plaza Ambarukmo.


"Aku mau ngasih hadiah buat istriku. Biar dia seneng." jawab Richard sambil tersenyum- senyum.


"Istrimu tiap hari udah seneng, Mas." kata Nawang sambil menatap Richard.


"Begitu?" tanya Richard sambil tetap lincah memposisikan mobil agar terparkir rapi.


"Iya!" jawab Nawang tegas.


"Alhamdulillah kalau begitu. Berarti sekarang kita nyari hadiah biar kamu tambah seneng." kata Richard setelah mobil terparkir dengan manis.


"Mau dikasih hadiah apa?" tanya Nawang penasaran.


"Apa aja yang kamu tunjuk, nanti aku beliin." kata Richard yakin.


Nawang terkekeh kemudian mengikuti Richard keluar mobil.


"Harusnya kita ke seberang jalan, Mas." kata Nawang sambil mengapit lengan Richard.


"Kenapa?" tanya Richard.


"Biar aku bisa nunjuk mall ini. Biar kamu beliin."jawab Nawang sambil terkikik.


"Mubadzir kamu punya mall juga. Orang nggak suka shopping, nggak suka tempat rame. Trus mall nya mau kamu pakai buat apa?" tanya Richard sambil tersenyum.


"Investasi aja. Biar kayak orang- orang tajir itu. Ngobrolinnya invest sana invest sini. Invest ini, invest itu." kata Nawang sambil tertawa geli.


"Kamu investasinya perhiasan aja dulu ya. Suamimu baru kaya, belum jadi konglomerat. Nanti kalau suamimu punya rejeki lebih lagi, bisa deh belajar jadi juragan tanah. Investasi tanah." kata Richard sambil tersenyum.


"Ketinggiaaaan. Sampai jadi juragan tanah segala." sahut Nawang sambil tertawa.


Richard hanya tersenyum kecil.


"Kamu mau beliin aku perhiasan, Mas?" tanya Nawang saat keduanya sampai di depan toko perhiasan yang cukup ramai. Richard hanya mengangguk sambil tersenyum.


Nawang ragu melangkahkan kakinya mengikuti Richard yang menarik tangannya.


"Kamu mau apa? Cincin, gelang, atau kalung, atau semua?" tanya Richard santai. Nawang hanya terpaku.


Dia bingung ditanya seperti itu.


Sepanjang umurnya baru kali ini dia dengar pertanyaan seperti itu buatnya.


Nawarin beli perhiasan kayak nawarin jajan gorengan aja.


"Aku bingung. Aku nggak pengen apa- apa." jawab Nawang akhirnya. Karena memang dia nggak pernah kepikiran untuk beli perhiasan.


Tepatnya dia telah terbiasa untuk tidak boleh memiliki keinginan apa- apa karena keadaannya dulu memaksanya bersikap seperti itu.


Richard tersenyum mendengarnya.


"Tapi sekarang kamu harus bilang mau apa." kata Richard bernada mendesak.


Nawang tetap menggeleng bingung.


"Ya udah, aku aja yang pilih ya? Cincin atau gelang?" tanya Richard mempersempit pilihan.


Katanya dia yang pilih. Masih aja tanya.


"Cincin aja. Yang simple, biar bisa aku pakai tiap hari." jawab Nawang akhirnya.


"Oke!" jawab Richard kemudian mengajak Nawang ke meja display di sudut yang penuh aneka bentuk cincin.


Richard menunjuk beberapa cincin dan membiarkan Nawang yang memutuskan memilih yang mana.



Tadinya Nawang hanya memilih satu, tapi Richard memaksanya untuk memilih satu lagi.


(Bikin aku ngiri aja, hiks 😢).



Keduanya keluar dari toko perhiasan dengan hasil membawa dua buah cincin berbentuk simple tapi manis menurut Nawang.


"Sekarang aku traktir makan." kata Richard yang mendapat acungan jempol dari Nawang.

__ADS_1


Tapi langkah Nawang melambat saat Richard membawanya ke sebuah restoran dengan tampilan restoran China.


"Mas...." bisik Nawang sesampai di depan pintu restoran.


"Kenapa?" tanya Richard sambil tersenyum. Dia tahu Nawang nggak nyaman.


"Ke tempat lain aja lah. Aku takut bikin malu kamu." kata Nawang sambil masih berbisik.


Richard tertawa mendengarnya.


"Kamu berpakaian sopan, kamu cantik, nggak pecicilan, mana bisa aku malu ngajak kamu." kata Richard sambil mengenggam tangannya.


"Aku belum pernah makan di restoran sebagus ini. Nanti kalau cara makanku salah kan bisa bikin kamu malu." sahut Nawang lagi.


"Selama kamu makannya pakai mulut, nggak berisik, tangan pegang alat makan, itu nggak akan bikin malu." kata Richard lagi menenangkan.


"Aku nggak bisa pegang sumpit. Makan mie ayam aja aku pakai garpu." kata Nawang dengan nada malu.


"Ayo. Anggap saja kamu mencoba hal baru. Tenang saja, ada aku. Lagian di tasmu itu ada set alat makan kan?" tanya Richard sambil menunjuk totte bag andalan Nawang yang Richard bilang seperti tasnya Dora, apa- apa ada di dalamnya.


"Ada." jawab Nawang.


"Pakai itu kalau nanti di dalam nggak nemu sendok." bisik Richard kemudian merengkuh bahu Nawang untuk diajaknya masuk.


Suasana hangat namun hening restoran menyambut mereka.


Restoran itu berkesan terang dan hangat.


Nawang melayangkan pandangan ke seantero ruangan.


Tak banyak pengunjung di dalam restoran cukup melegakan Nawang.


Setidaknya bila nanti dia berbuat memalukan tak akan banyak orang yang melihat.


Richard mengajak Nawang duduk di sudut ruangan.


Meja yang menempel di dinding dan posisi duduk yang membelakangi meja lain, memungkinkan Nawang tak terlihat dari sisi lain kecuali dari sisi Richard.


Pilihan posisi yang sangat sempurna bagi Nawang.


Richard sengaja melakukan itu agar Nawang tetap nyaman.


"Kenapa pesennya bebek setengah? Nggak habis gitu. Kan ada yang seperempat tadi." tegur Nawang melihat Richard sudah selesai makan tapi masih menyisakan setengah bebek pesanannya.


Nawang sendiri masih asik menikmati menunya.


"Kan ada kamu yang nanti ngabisin." kata Richard sambil tersenyum manis.


Kebiasaan, karena tahu Nawang nggak akan membiarkan makanan mubadzir, Richard suka memesan menu dengan porsi agak besar. Sekalian mengenalkan menu baru pada Nawang sih niat terselubungnya.


"Haaaak!" pinta Richard sambil membuka mulutnya, meminta makanan Nawang.


"Ih, Mas! Nggak malu apa?" kata Nawang pelan sambil melirik ke sekitarnya. Untungnya nggak ada yang tertangkap basah sedang melihat ke arah mereka.


"Kita dipojokan, nggak ada yang akan perduli juga." kata Richard sambil tertawa kecil.


"Siniin piringmu." pinta Nawang setelah pesanannya yang tinggal beberapa suap akhirnya diembat Richard.


Nawang menghabiskan bebek panggang pesanan Richard sambil sesekali dia selingi makan lumpia kulit tahu goreng.


"Aku pesenin nasi lagi?" tawar Richard setelah menyeruput fruit punch nya.


"Nggak usah. Udah kenyang ngabisin ini juga." tolak Nawang.


"Kapan- kapan kita ajak anak- anak kesini ya, Mas. Enak ini bebeknya. Ayamnya itu juga enak." kata Nawang.


"Oke! Besok kalau kesini lagi kita coba menu sapi dan ikannya." kata Richard.


"Kamu udah pernah nyoba menu sapi dan ikannya?" tanya Nawang.


"Belum. Kalau kesini ya monoton cuma dua menu ini aja yang ku pesan. Hapalan aja. Yang udah jelas ketahuan enaknya." kata Richard sambil terkekeh malu.


"Kirain......." gumam Nawang nggak lega.


"Richard!" Nawang dan Richard serentak menoleh ke arah belakang mereka saat terdengar seseorang memanggil Richard.


"Hai, Ron!" seru Richard bergegas menyambut temannya yang melangkah ke arahnya.

__ADS_1


Keduanya berpelukan sambil berjabat tangan.


"Long time no see. How are you, man?" tanya pria agak tambun yang nampak girang bertemu Richard itu.


"I'm fine. How about you?" tanya balik Richard.


"Ya beginilah. Aku denger kamu stay disini, bener?" tanya pria itu.


"Iya." jawab Richard sambil menatap Nawang yang menatapnya dari tempatnya duduk.


"Itu istrimu?" tanya Ronald saat menangkap tatapan sayang Richard pada Nawang.


"Iya." jawab Richard singkat.


"So sweet. Nggak mau ngenalin sama aku?" tanya Ronald sambil tertawa.


"Sorry, nggak akan aku kenalkan." kata Richard tegas walau dengan sopan dan senyum.


Richard segera memposisikan dirinya agar Nawang terlindung dari tatapan Ronald.


Ronald tertawa mendengarnya. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan penolakan itu.


"Kalian berdua aja, nggak ngajak anak. Anakmu berapa?" tanya Ronald lagi.


"Dua. Cowok semua." jawab Richard dengan nada bangga.


"Masih kerenan aku. Anakku tiga. Yang sulung cewek, yang dua cowok." pamer Ronald.


"Waaaah, ini baru keren!" puji Richard sambil memukul pelan bahu Ronald.


Panggilan seorang wanita bule pada Ronald mengusik acara reuni itu.


"Kamu dapet istri orang luar?" tanya Richard kaget.


"Nggak. Istriku lokal. Dia selir." bisik Ronald sambil terkikik.


"Belum tobat juga kamu." gumam Richard sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Buat hiburan aja. Cintaku aku tinggal di rumah kok. Believe me." kilah Ronald.


"Mulut kadal mana bisa dipercaya." umpat Richard yang malah membuat Ronald tergelak.


Panggilan kedua dari bule selir Ronald memaksa keduanya melakukan salam perpisahan.


"Semoga selalu bahagia ya. Kalian nampak serasi sekali." kata Ronald sambil menjabat tangan Richard dengan erat.


"Aamiin.....Thanks doanya. Kamu juga ya, semoga aman- aman keluargamu." jawab Richard.


Ronald sempat menganggukkan kepalanya dengan simpatik pada Nawang sebelum bergegas menghampiri kekasihnya dan keluar dari restoran.


"Temenmu kuliah atau temen bisnis?" tanya Nawang dengan nada agak dingin. Membuat Richard agak kaget.


Apa Nawang tersinggung karena nggak dia kenalin ya?


"Temen kuliah. Buaya parah dari dulu, makanya aku nggak ngenalin ke kamu. Aku nggak rela dia ngeliatin kamu." kata Richard posesif.


Nawang tersenyum dibuatnya.


"Kirain malu ngenalin istri." kata Nawang.


"Mana ada malu ngenalin istri secakep ini? Yang ada aku takut kamu ditaksir cowok lain." kata Richard dengan wajah bersungut- sungut, membuat Nawang tertawa.


"Lebay!"


"Beneran!" sahut Richard dengan wajah serius.


"Ekspresi wajah kamu yang flat itu bikin cowok penasaran tahu." kata Richard lagi.


"Ya udah, besok- besok aku pasang smiley face biar nggak pada penasaran." kata Nawang.


"Jangan! Yang ada mereka langsung naksir sama kamu kalau kamu ramah." sergah Richard.


"Ih, nyebelin! Gimana- gimana salah." sungut Nawang. Richard meringis keki.


"Maaf ya kalau aku posesif sama kamu. Ma aaaf banget. Tapi aku nggak mau tersiksa cemburu." kata Richard sambil menunduk sedih.


"Aku suka kamu begitu. Aku merasa berharga banget. Terimakasih untuk semua itu. " kata Nawang lembut sambil meraih jemari Richard dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Dulu kamu sangat pandai menjaga dirimu sendiri. Dan sekarang biarkan aku dan kelak anak- anak yang akan menjagamu, dengan jiwa raga kami." kata Richard dengan tatapan nyata penuh cinta yang dalam.


🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️


__ADS_2