
Richard menekan kuat klakson mobilnya saking kagetnya dengan bentakan Nawang.
Hufff....untung saja mereka sedang berhenti di traffic light karena sedang menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.
Keduanya sama- sama kaget karena bunyi klakson yang cukup keras.
Dan bisa dipastikan kekagetan pasti juga dialami oleh kendaraan di depan dan dibelakang mobil mereka.
Mungkin saat ini mereka sedang di gerutui oleh pengendara lainnya.
"Kamu kenapa menekan klakson sekeras itu?" tanya Nawang masih dengan kekagetannya.
Wajahnya memerah menahan kaget dan jengkel.
"Kamu kenapa juga teriak kenceng gitu? Aku kan kaget." gerutu Richard sambil bersungut malu menutupi kagetnya.
"Maaf deh kalau bikin kaget. Makanya jangan ngledekin terus." kata Nawang sambil menyembunyikan senyum malunya.
"Iya,dimaafkan kok." jawab Richard sambil tersenyum.
Mobil sudah meninggalkan antrian di traffic light dan mengarah menuju rumah Nawang.
"Kita langsung pulang nih?" tanya Richard sambil melirik jam tangannya.
Jam empat sore kurang sepuiuh menit.
"Iyalah. Mau kemana lagi?" tanya balik Nawang.
Haha, sudah kuduga, batin Richard.
"Mampir ke ayam goreng dulu kayaknya nggak apa ya? Buat oleh- oleh Bintang. Masak ibunya tadi makan enak, anaknya mau dilupain." kata Richard.
Nawang tersenyum kecut.
Duh, salah ngomong nih, batin Richard khawatir.
"Kamu tadi masak apa di rumah?" tanya Richard berusaha mencairkan suasana.
"Mangut lele sama goreng mendoan." jawab Nawang.
Glekkk!
Air liur Richard seketika timbul mendengar mangut lele.
"Banyak nggak?" tanya Richard lagi.
Nawang menatap Richard bingung.
"Mangutnya." kata Richard agak malu.
Nawang tersenyum mengerti.
"Masih ada kalau Anda mau." kata Nawang sambil menyembunyikan senyumnya.
"Alhamdulillah.....sepotong juga nggak papa kok." kata Richard senang.
Nawang tak bisa menahan senyumnya lagi.
"Kuahnya aja juga nggak papa." kata Richard lagi.
"Nanti saya kasih dua potong kalau mau." kata Nawang sambil terkekeh kecil.
"Alhamdulillah....bisa buat makan malam sama sarapan besok." kata Richard senang.
Nawang tertawa.
"Kalau buat besok keburu basi. Kecuali anda nanti malam mau manasi sepotong mangut lele." kata Nawang sambil tersenyum mengejek.
Richard terdiam.
Mana dia bisa manasin masakan itu?
Caranya gimana aja dia nggak ngerti.
"Nggak bisa manasin sayur?" tanya Nawang dengan nada meledek.
"Mana aku ngerti kayak gituan." jawab Richard mencoba terlihat tidak malu.
"Ya udah. Nanti dihabisin aja. Kalau masih doyan, bisa order lagi sama saya. Harga khusus." kata Nawang dengan nada serius.
" Dapat diskon atau dapat bonus?" tanya Richard sambil tersenyum.
"Memalukan! Orang kaya minta diskon. Yang ada harganya saya naikkan. Yang harusnya sekilo dua puluh lima ribu, jadi lima puluh ribu." kata Nawang dengan memasang wajah culas.
"Pemerasan nih naga- naganya." kata Richard sambil tertawa.
__ADS_1
"Itu harga special, bukan pemerasan." sangkal Nawang.
"Harga special buat orang kaya?" tanya Richard sambil terkekeh.
"Gitu deh!" jawab Nawang dengan cueknya.
Richard semakin tertawa.
Ada saja perbuatan dan perkataan Nawang yang bisa membuatnya tertawa.
Padahal perempuan itu tak pernah memasang wajah lucu atau sengaja berbuat konyol.
"Baiklah. Nanti nyobain dulu, kalau enak, jangan ngomel kalau aku minta tiap hari dibuatin mangut." kata Richard dengan tatapan mengancam.
"Dih, ya nggak tiap hari juga kali, mas." sambar Nawang khawatir.
Dia kira menggoreng lele nggak lama?
Belum lagi nglenik (telaten dalam persiapan) masaknya.
"Nggak mau tahu." jawab Richard cuek.
"Nyesel banget nawarin Anda." sahut Nawang sebel.
Richard terkekeh.
Nawang celingukan saat Richard menghentikan mobilnya di parkiran sebuah rumah makan bebek goreng.
Kata teman- temannya bebek goreng disini enak dan murah.
Tapi nyatanya Nawang juga belum bisa menyempatkan uang gajinya untuk mampir kesini.
"Kita beli bebek goreng aja ya? Bintang juga suka kan?" tanya Richard sambil melepas seat belt nya.
Nawang hanya mengangguk patuh.
Keduanya beriringan menuju meja order.
Nawang dapat melihat dengan jelas tatapan kagum dan hormat dari para .pemirsa dirinya dan Richard.
Nampak beberapa meja terisi para penikmat hidangan rumah makan ini.
Mereka kenapa sih gitu amat ngeliatinnya?, batin Nawang keki.
Mungkin karena aku dandan gini kali ya? Jadi dikiranya aku horang cantik yang kayah rayah, kekeh batin Nawang agak narsis.
"Ya udah, order minum aja ya sambil nunggu? Baru proses menggoreng katanya." tawar Richard.
Nawang mengangguk asal.
"Lemon tea?" tawar Richard sambil menatapnya sayang.
Eh, menatap sayang?
Beneran tadi Richard menatapnya sayang?
"Boleh." jawab Nawang sambil tersenyum.
Masih melanjutkan sandiwara lagi, sungut Nawang.
Keduanya lalu duduk di bangku depan meja order untuk menunggu pesanan mereka siap.
"Non..." panggil Richard setelah keduanya terjebak kebisuan beberapa saat.
"Ya...?" tanya Nawang setelah ditunggunya Richard tak juga melanjutkan ucapannya.
"Beneran kamu nggak mau cerita tadi ngobrol apa sama mama?" tanya Richard masih dengan penasaran.
"Nggak ada yang serius. Cuma nanya kabarku aja. Apa yang mau diceritakan sama Anda?" tanya Nawang balik.
"Beneran?" tanya Richard masih tak percaya.
"Beneran! Kenapa sih?" tanya Nawang.
"Nggak papa sih. Kirain ditanyain mau jadi mantunya nggak." kata Richard sambil melirik Nawang dengan wajah sedih.
"Apaan sih?" kata Nawang sambil tersipu.
"Ngomongin itu ya?" tanya Richard masih berusaha memancing.
"Nggaklah." jawab Nawang sambil menunduk malu.
"Yang beneeeer?" goda Richard sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nawang yang tertunduk.
"Ih mas!" kata Nawang kaget saat dirasanya hembusan nafas Richard di pipinya.
__ADS_1
Dijauhkannya wajahnya dari wajah tampan Richard yang sedang tersenyum manis padanya.
Ih, bikin deg- degan aja nih orang, batin Nawang kesal.
"Pesanan sudah siap, Pak." suara nyaring kasir mengusik keisengan Richard.
"Ah ya." Richard bergegas berdiri menghampiri kasir dan membayar.
Nawang mendekat saat kasir telah mengulurkan kembalian dan struk pembayaran pada Richard.
"Kita pulang atau masih mau duduk?* tanya Richard pada Nawang.
"Pulang aja." jawab Nawang segera.
Kalau kelamaan jawab, bisa- bisa Richard mengira dia sedang berpikir untuk ke suatu tempat.
"Oke!" kata Richard kemudian melangkah keluar bersama Nawang.
Nawang melirik tiga kardus yang berada didalam tas bening yang di tenteng Richard.
Mungkin satu untuk Bintang, satu untuk Darren,dan satu untuk dibawanya pulang nanti.
"Masih mau mampir beli apa gitu nggak?" tanya Richard setelah mobil berbaur di jalanan dengan kendaraan lain.
"Nggak. Kita langsung pulang aja." jawab Nawang mantap.
Padahal sebenarnya tadi pagi dia berencana mampir ke swalayan seusai pulang kerja karena stock logistik rumahnya habis- habisan.
Bahkan sabun mandinya saja tadi pagi sudah sangat kecil.
Biarlah nanti setelah magrib saja dia ke swalayannya.
Sekalian dia ajak Bintang jalan keluar walaupun hanya sekedar ke swalayan.
"Kita mampir swalayan sebentar ya?" tawar Richard.
"Mau ngapain? Anda mau belanja?" tanya Nawang kaget.
"Iya. sesekali pengen ngerasain belanja logistik rumah ditemani ibu- ibu." seloroh Richard.
Nawang menepuk dahinya kesal.
"Kumat." desis Nawang.
"Mau?" tanya Richard lagi.
"Ya udah, saya temani." jawab Nawang mengalah.
Anggap saja ucapan terimakasih karena Bintang dibeliin bebek goreng.
Sudah bisa dibayangkan bagaimana senangnya Bintang nanti.
"Syiiiip!" seru Richard sambil tersenyum lebar.
Kelihatan sekali wajah bahagianya seperti ABG yang baru pertama kali ajakan kencannya ditanggapi gebetannya.
"Biasa aja nggak bisa ya?"tanya Nawang geli.
"Nggak!" jawab Richard mantap.
Nawang memiringkan bibirnya.
"Kamu belum belanja bulanan juga kan? Nanti sekalian kita beli kebutuhanmu ya?" tawar Richard.
Aduh! Kejebak lagi aku, batin Nawang merasa bodoh.
"Nggak usah. Logistik rumah saya masih aman kok." dusta Nawang.
"Nggak usah gengsi sama aku. Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena kamu mau membolos kerja untuk menemaniku ke acaranya Pak Darto." kata Richard.
"Kan udah dibeliin bebek goreng." kata Nawang dengan lugunya.
Richard terkekeh.
Sesungguhnya pilu hatinya mendengar jawaban itu.
Bahkan beberapa potong bebek goreng saja sudah sangat dihargai oleh Nawang.
"Kamu menghinaku yang kaya raya ini kalau kamu pikir aku hanya akan memberi bebek goreng untuk ucapan terima kasihku padamu untuk kebahagiaanku hari ini." cetus Richard dengan gaya soknya.
"Saya percaya Anda kaya raya. Tapi saya nggak perlu diberi apa- apa juga sebagai ucapan terima kasih." kata Nawang bandel.
"Baiklah." jawab Richard mengalah tanpa perlawanan lagi.
Eh, tumben nggak ada lagi sanggahan, batin Nawang keheranan.
__ADS_1
Ada smirk menghiasi wajah Richard yang sayang sekali tak dilihat oleh Nawang saat ini.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️