
Richard memutar pelan berulang kali ponselnya di atas meja.
Dia gelisah oleh keinginannya sendiri yang dia tahu tak boleh dia lakukan di malam selarut ini.
Jam dinding di tembok depannya sudah menunjuk jam setengah satu dinihari.
Dia ingin sekali menelpon Nawang malam ini.
Bukan untuk apa- apa. Hanya ingin menelpon saja.
Mendengar suara perempuan itu walau sekalipun nanti yang keluar adalah suara pedas sekalipun, dia tak apa- apa.
Dia yakin itu akan mampu membuatnya bisa tertidur nyenyak.
Yang penting dia bisa mendengar suara Nawang walau hanya satu patah kata.
Dengan sebal dia mengacak rambutnya sendiri.
"Kenapa siiiiih kurang ajar banget kamu, Riiic? Dia bini orang!" geramnya pada dirinya sendiri.
Richard sadar sepenuhnya, dia sedang merindukan Nawang.
Namun juga dia tak boleh menutup mata untuk menyadari bahwa perempuan yang setengah mati dia rindukan itu milik orang.
Richard rasanya ingin menangis karena tak tahan dengan perasaan yang tengah melandanya.
Apa iya dia harus menjatuhkan nama baiknya selama ini dengan jadi pebinor?
Ya Tuhan.....
Iseng Richard membuka kontak WA Nawang dan dilihatnya statusnya sedang online.
Sejenak Richard mengerutkan keningnya.
Nggak biasanya Nawang online tengah malam gini.
Jempolnya sudah lincah menari di atas keyboard ponselnya untuk menyapa Nawang.
Namun untungnya dia terpikir kemungkinan saat ini ponsel Nawang sedang di pegang suaminya.
Ada kan suami istri yang membebaskan pasangannya untuk ngubek- ubek ponselnya?
Richard memilih melempar ponselnya ke sofa sampingnya agar tak terjangkau oleh tangannya.
Dia kembali meremas rambutnya kesal.
"Kenapa siiiiih kamu Riiiiiic?! Kamu nggak boleh jatuh cinta lagi, apalagi sama Nawang!" geramnya lagi.
Keresahan Richard langsung teralih saat ponselnya berdering.
Siapa jam segini telpon?
Richard beringsut meraih ponsel yang tadi dilemparnya ke sofa sampingnya.
Ada nama Anin, mantan istrinya menelpon.
Richard keheranan dalam hati.
Anin belum pernah menelponnya selarut ini.
"Hallo, Nin....Tumben...."
"Ric, cepetan kesini! Darren panasnya tinggi banget. Aku takut." potong Anin sambil menangis.
Richard terhenyak.
"Bram kemana?" tanya Richard menanyakan keberadaan suami Anin.
"Dia ke Singapore sore tadi. Cepetan Ric!" pinta Anin.
"Iya....Iya!" sahut Richard sambil bergegas menyambar kunci mobilnya.
Kebetulan tempat tinggal Richard dan Anin memang tidak jauh.
Sengaja begitu agar Darren tidak merasa kehilangan kedua orang tuanya.
Dan hubungan antara Richard dan Bram, suami baru Anin sangat baik sejak awal.
Bram sangat menyayangi Darren walau dia juga sudah memiliki bayi dengan Anin yang baru berumur setahun.
Tidak lebih dari sepuluh menit mobil Richard sudah berhenti di depan rumah Anin yang sudah membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
Richard bergegas menghambur masuk melewati Etik, pengasuh Darren untuk bergegas ke kamar Darren.
Segera dibopongnya tubuh Darren yang nampak lemas dan terasa sangat panas.
"Kamu mau ikut nggak,Nin?" tanya Richard begitu melewati Anin yang masih menangis.
"Ikut!" jawab Anin sambil berlari mengikuti Richard yang membaringkan Darren di kursi belakang.
Anin bergegas masuk ke bangku belakang dan memangku kepala Darren yang masih tetap memejamkan mata.
"Tik, jaga rumah sama Lisil ya!" teriak Richard pada Etik sebelum melajukan mobilnya ke klinik yang tak jauh dari rumah Anin.
Dilihatnya Anin yang meneteskan airmata sambil terus menciumi Darren.
"Dia ngeluh sakit apanya?" tanya Richard. berusaha tenang.
"Udah dua hari dia nggak mau makan. Katanya tenggorokannya sakit. Aku kira mau batuk seperti biasanya. Tapi dari jam sepuluh tadi dia panas dan tambah naik." jawab Anin agak gemetar.
Pikirannya sudah nggak karu- karuan.
Belum pernah Darren panas setinggi ini, bahkan sampai mengigau.
"Mungkin dia radang tenggorokan. Udah jangan nangis terus." kata Richard mencoba menenangkan Anin.
"Aku takut dia kenapa- Napa, Ric." kata Anin khawatir.
"Jangan mikir yang aneh- aneh. Kamu itu seorang Ibu, jangan mikir yang jelek soal anak- anak.Ntar jadi doa lho." kata Richard mengingatkan.
Anin mengangguk mengerti.
"Kamu nggak papa ya,Sayang." bisik Anin di telinga Darren.
Tak sampai sepuluh menit, mobil Richard sudah berhenti di depan IGD klinik.
Dia bergegas membuka pintu dan membantu perawat pria yang dengan sigap menggendong Darren untuk di tempatkan di ranjang beroda yang ada tak jauh dari mobil.
Anin mengikuti Darren sementara Richard memarkirkan mobilnya.
Bergegas Richard memasuki ruang IGD dan bisa langsung menemukan Anin yang berdiri gelisah di samping ranjang Darren.
Richard mendekat dan tanpa bersuara berdiri di samping Anin, menunggu dokter selesai memeriksa anaknya dengan sabar.
"Dia dehidrasi lumayan juga ini. Dia nggak mau minum ya?" tanya dokter sambil menatap Anin.
"Iya. Dua hari ini bisa dibilang dia nggak kemasukan apapun." kata Anin lebih tenang.
"Mungkin karena radang di tenggorokannya lumayan parah, jadi buat lewat makanan juga sakit. Jadi kita infus aja ya malam ini, biar dia cepat pulih." kata dokter.
"Dia harus opname, Dok?" tanya Richard.
"Iya, Pak. Kalau besok panasnya sudah stabil, bisa pulang. Kita atasi dehidrasi dia dulu, lalu mengobati radang tenggorokannya." jelas dokter itu.
Richard mengangguk.
"Bapak mau anaknya di rawat di bangsal apa? Silakan mengajukan di bagian administrasi ya, Pak." kata perawat yang sedari tadi mendampingi sang dokter.
Richard bergegas menuju ke bagian administrasi yang tak jauh dari ruang IGD.
Setelah memesan satu kamar VVIP, Richard bergegas menghampiri Darren yang sedari tadi tak bersuara.
Saat kembali dilihatnya selang infus sudah menancap di tangan Darren.
Richard mendekati anaknya dengan tersenyum.
"Nangis nggak tadi dipasangin ini sama mbak suster?" tanya Richard lembut.
Darren menggangguk lemah.
"Sakit ya tenggorokannya? Lagi nggak bisa ngomong?" tanya Richard lagi.
Darren lagi- lagi mengangguk.
Kali ini matanya mulai berkaca- kaca.
"Nggak papa, Nak sakit sebentar. Kalau mau tumbuh besar, kadang kita harus sakit. Nggak papa ya? Nanti kalau sudah sembuh, Darren sudah lebih gede dari sekarang." hibur Richard dengan riang.
Mata sayu Darren nampak berbinar mendengarnya.
Namun dia kembali hendak menangis saat dirasanya tubuhnya dipindahkan ke ranjang berbentuk mobil yang akan membawanya ke ruang inap.
"Nggak papa, Sayang.Kita bobok di kamar yang ada tv dan AC nya ya?" kata Anin sambil membiarkan jari telunjuknya digenggam tangan mungil Darren.
__ADS_1
Anak itu mengangguk takut saat dirasanya ranjang sudah bergerak dan meninggalkan ruangan IGD.
Untunglah papa dan mamanya selalu ada disampingnya.
"Kita sudah sampai, Sayang." kata perawat begitu ranjang memasuki sebuah ruangan yang luas.
Ada satu ranjang di sisi ranjang pasien, disiapkan untuk istirahat penunggu pasien.
Dinding kamar bergambar Doraemon di satu sisi, satu sisi lagi bergambar Ipin Upin, dan sisi lainnya bergambar kereta Thomas.
"Waaaah,kamarnya keren ya, Nak! Ada Upin Ipin,ada Doraemon, ada Thomas juga." kata Anin dengan nada riang.
Darren tersenyum senang.
Dia menunjuk tv yang sedang menayangkan sebuah film anak yang Richard tidak tahu judulnya namun Darren terlihat senang menontonnya.
Anak itu langsung anteng menatap tv tanpa memperdulikan kedua orang tuanya yang menatapnya iba.
Anak itu terlelap pulas tak lama setelahnya.
"Ayo aku antar kamu pulang." ajak Richard sambil beranjak berdiri mengajak Anin.
"Nanti kalau dia bangun nangis gimana?" tanya Anin resah.
"Kasian Lisil kalau kamu tinggal tidur disini, dia kan masih minum ASI." kata Richard membujuk.
Anin tetap menunjukkan wajah enggan perginya.
Richard mengerti perasaan Anin, tapi dia juga memikirkan bayi Anin yang ditinggalnya di rumah.
"Ya udah, kamu telpon Etik deh. Lisil rewel nggak." akhirnya Richard mengalah.
Anin mengangguk dan bergegas menelpon susternya.
Setelah bercakap- cakap sebentar, Anin segera menutup telponnya lalu mendekat ke arah Richard yang sedang duduk tenang di samping Darren.
"Lisil nggak rewel kok. Dia biasanya kalau malam bangun cuma pas haus aja. Tadi aku minta Etik kasih ASI cadanganku kalau nanti dia bangun." kata Anin.
Richard mengangguk mengerti.
"Ya udah kamu tidur gih." perintah Richard sambil menunjuk tempat tidur dengan dagunya.
Anin cemberut.
"Aku disini tuh mau nungguin anakku yang lagi sakit, bukan mau pindah tidur!" sungut Anin sambil menunjuk Darren.
Richard terkekeh.
"Anaknya kan lagi tidur. Mungkin juga agak lama tidurnya karena pengaruh obat. Makanya mumpung anaknya tidur, kamu bisa ikut tidur, bawel!" kata Richard gemas.
"Kamu aja sana yang tidur. Kamu kan harus ngantor." kata Anin.
"Aku mau libur aja nanti." kata Richard sambil menatap anaknya.
"Kenapa?" tanya Anin heran.
"Anakku sakit, Oneng! Aku mau nungguin dia. Udah, nanti kamu pulang ngurusin Lisil, kasihan dia kalau nggak ditengokin. Darren sama aku aja nggak papa." kata Richard.
Anin mengangguk sambil menguap.
Richard terkekeh meledek.
"Disuruh tidur nggak mau, nguap juga." kata Richard.
Anin menyebikkan bibirnya.
"Udah tidur sana. Ntar kalau Darren bangun aku bangunin kamu." kata Richard sambil mendorong lembut lengan Anin.
"Ya udah, aku tidur. Jangan coba-coba memperkosaku ya!" ancam Anin pura- pura galak.
"Dih, amit- amit. Nggak doyan aku sama sisanya Bram. Pait!" jawab Richard yang kemudian mendapat timpukan sandal dari Anin.
Richard meringis sambil mengelus pahanya yang tertimpuk sandal Anin.
🗝️🗝️🗝️ bersambung 🗝️🗝️🗝️
Welcome to the RiNa world....
Semoga betah disini sampai akhir ya....💕
__ADS_1