
Richard membalas pelukan Nawang yang merapatkan tubuhnya kembali seusai mereka sholat malam.
Hawa daerah Kaliurang di dini hari cukup membuat mereka kedinginan walau sudah memakai jaket dan selimut tebal.
Penginapan yang mereka pakai memang tak ada penghangat ruangannya.
Pertimbangan ini lolos dari pemikiran mereka kemarin.
Ini satu- satunya hal yang mereka sesali mengajak anak- anak menginap di tempat ini.
Untung tadi Nawang bersikeras membawa beberapa kaos lengan panjang dan celana panjang serta jaket tebal untuk anak- anaknya walau tadi harus menerima ledekan Richard yang mengatakan Nawang membawa bawaan seperti mereka mau piknik seminggu saja.
Dan begitu senja datang, langsung hawa dingin khas pegunungan merengkuh mereka.
Nawang bergegas memakaian dua lapis kaos lengan panjang pada anak- anaknya yang memakainya tanpa protes karena mereka memang merasa agak dingin.
Seusai magrib, suhu semakin dingin. Mereka semua sudah memakai jaket tebal untuk menjaga tubuh mereka agar tetap merasa nyaman dan hangat.
Nawang bahkan memakai masker karena hidungnya sakit karena kedinginan.
Untungnya dua bocil mereka tidak terlihat terganggu keriangannya walau dalam cuaca dingin seperti itu.
"Anak- anak kedinginan nggak ya, Mas? Kita tengok yuk." ajak Nawang dengan nada khawatir.
Richard malah mengeratkan pelukannya.
"Ini jam tiga dini hari. Pintu kamar mereka pasti juga di kunci sama Bude Darmi dari dalam. Lagian tadi sebelum mereka tidur kan kamu sendiri yang makein mereka kaos lengan panjang dobel, jaket , kaos kaki dobel, kupluk nutupin telinga, masih pakai selimut tebal juga. Mereka pasti nyaman. Kalo mereka rewel pasti Bude Darmi udah ngetok pintu itu tuh dari tadi!" kata Richard sambil menunjuk pintu kamar mereka.
Nawang mengiyakan dalam hatinya.
Anak- anak memang tidur dengan bude Darmi di glamping sebelah karena bujukan wanita itu.
Flashback on
**************
"Ayo Bude ditemani bobok yuk. Bude takut bobok sendirian." kata Bude Darmi saat jam tidur mereka sudah tiba.
"Aku mau bobok sama Ibu dan Papa." kata Darren cepat kemudian menghambur ke pelukan Nawang.
"Nggak boleh, Ren! Anak- anak tidur sendiri aja. Nggak boleh tidur sama orang tua." kata Bintang.
"Bude Darmi juga orang tua. Kok kita diajak bobok sama Bude?" kilah Darren.
"Bude kan sendirian, kasihan kalau nggak ditemenin. Kalau Ibu kan udah sama Papa." jawab Bintang.
"Ya udah, Mas Bintang aja yang nemenin Bude. Aku mau sama Papa dan Ibu." kata Darren tak habis akal, membuat Richard, Nawang, dan bude menahan tawa mereka.
"Enakan bobok di kamarnya Bude." kata Bintang sambil tersenyum menang.
"Kenapa?" tanya Darren penasaran.
"Kalau kita bobok sekamar sama Bude, kita berdua bobok bareng, jadi anget deh. Kalau kamu bobok sama Papa dan Ibu, kamu nanti tetap bobok sendirian di tempat tidur, dingiiiin." terang Bintang sambil memeluk dirinya sendiri.
Ketiga orang dewasa hanya saling tersenyum mendengar percakapan kedua bocil itu.
"Tapi ditemenin Ibu dulu sampai bobok." kata Darren akhirnya setelah agak lama berpikir.
"Tentu saja." kata Nawang sambil mengeratkan pelukannya pada Darren.
__ADS_1
"Nanti malam kalau tetap pengen ke kamar Papa minta tolong sama Bude minta diantar ya." kata Richard agar anak- anaknya tidak berasa tersingkir.
"Paling ketemu bantal langsung bablas. Cuaca mendukung banget buat segera tidur. Apalagi perut mereka udah kenyang." gumam bude Darmi sambil tersenyum penuh keyakinan.
Dan memang seperti itu kenyataannya.
Setelah berbaring rapi dengan tubuh terbungkus selimut sampai leher, kedua bocil itu terlelap di kanan dan kiri Nawang yang duduk diantara keduanya.
"Cepet banget." kata Richard keheranan.
"Mestakung." jawab Nawang sambil tersenyum dan ikut duduk di teras kecil kamar yang ditempati oleh bude Darmi dan dua anaknya.
"Itu minummu, Wang." kata bude Darmi sambil menunjuk satu mug berisi sekoteng yang sengaja ditutup agar awet hangatnya.
Nawang bergegas menyeruput jatah minuman miliknya.
Cukup menghangatkan di cuaca pegunungan begini.
"Makasih ya, Bude mau nemenin anak- anak. Nanti kalau mereka rewel ngajak ke kamarku, tolong dianterin ya, Bude." kata Richard.
"Siap, Mas. Aku yang makasih sudah di ajak piknik ke tempat bagus, diajak makan ditempat bagus dan enak, bahkan di ajak nginep di tempat bagus kayak gini." kata bude Darmi penuh terimakasih.
"Sama- sama,Bude. Tapi maaf ya, tetap di repotin ikut ngurusin anak- anak." kata Richard sambil tersenyum malu.
Bude Darmi mengibaskan tangannya tanda tak masalah dia tetap membantu Nawang mengurusi anak- anak. Bahkan sesungguhnya dia senang di tambahi satu anak lagi, yaitu Darren.
"Besok kapan- kapan kita piknik ke tempat yang agak jauh ya, Bude. Tapi Pakde Parno harus ikut biar seru." kata Richard.
"Kalau Pakde harus jauh- jauh hari kalau mau ngajak, biar bisa ambil cuti dan nyari ganti jaga." kata bude Darmi. Richard hanya mengangguk mengerti.
"Masuk yuk, aku udah kedinginan." kata Nawang sambil beranjak berdiri.
"Kami ke kamar dulu, Bude. Titip anak- anak." pamit Richard kemudian menggandeng tangan Nawang.
"Siap, Mas." kata bude Darmi sambil tersenyum menatap Richard dan Nawang yang bergerak menuju glamping sebelah.
Flashback off
**************
"Aku yang kedinginan beneran dari semalem nggak kamu kuatirin." sungut Richard cemburu sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Nawang.
"Kan udah dipeluk terus dari semalam." kata Nawang sambil tersenyum gemas.
"Cuma di peluk doang angetnya nggak bisa ngalahin dinginnya." sergah Richard.
"Ya udah, nggak usah pelukan sekalian aja kalau nggak berguna." tukas Nawang cepat sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan kedua lengan Richard.
"Jangaaan." rengek Richard semakin mengeratkan pelukannya.
"Katanya nggak bisa ngalahin dingin....." ledek Nawang.
"Aku mau yang bisa bikin badan kita panas." kata Richard dengan bibir yang sudah mulai bergerilya di leher Nawang.
"Ingat tempat ya...." kata Nawang sambil berusaha menahan suara in tim nya karena tangan Richard sudah bergerilya di daerah sensitifnya.
"Hmmmm...." jawab Richard lebih memilih sibuk opening daripada menjawab perkataan istrinya.
Dia tidak pernah mau menyia-nyiakan lampu hijau yang telah diberikan Nawang untuk segera menjelajahi keindahan surgawi, yang telah berpuluh bahkan mungkin beratus kali ia nikmati tapi tak pernah bosan bahkan selalu membuatnya selalu rindu dan ingin terus kembali menikmatinya bersama kekasih halalnya, yang selalu saja bisa memanjakannya di sepanjang perjalanan menuju puncak keindahan.
__ADS_1
"Kenapa kita ngelakuin disini sih, Mas? Mau mandi kan dingin." sungut Nawang setelah mereka berhasil mengatur nafas pada ritme yang seharusnya begitu petualangan dini hari mereka usai.
"Kan ada air hangatnya, Nyonya." kata Richard sambil mencium pipi Nawang gemas.
"Lepas bajunya tetap aja.dingin." sergah Nawang mulai ngawur nyari alasan.
"Lha kan kamu sendiri yang mau lepas baju. Kok tadi nggak bilang dingin?" ledek Richard.
"Kan dipeluk kamu." kilah Nawang malu- malu.
"Ooooh, mandinya minta dipeluk juga biar tetap anget?" tanya Richard menggoda.
Nawang mengangguk malu, membuat Richard tertawa kegirangan.
Dari pengalaman yang sudah-sudah kalau minta ditemenin mandi gini, biasanya Nawang mau kalau dimintain bonus di tempat tujuannya.
Akhirnya tetap saja kan si Boss yang menang banyak? Ha.....ha....ha.....
***********
Mereka berlima sengaja check out selesai sarapan lalu menuju ke Taman bermain Kaliurang.
Setelah bosan bermain disana, Richard membawa turun rombongannya ke daerah Pakem, menuju ke tempat wisata Bhumi Merapi yang ada di Jalan Kaliurang.
Darren dan Bintang jelas sangat riang bisa bertemu bahkan menaiki kuda poni, melihat beberapa jenis reptil dan juga burung.
Richard bahkan berhasil mengajak dua jagoannya itu berphoto dengan burung hantu.
Mereka juga masuk ke kandang kelinci dan memberi makan juga menggendong kelinci- kelinci lucu itu.
Darren yang tampak sangat ekspresif dengan menjerit- jerit kecil saat berusaha menangkap kelinci yang lari kian kemari.
Sedang Bintang tetap stay cool walau sangat terlihat senang menikmati semuanya.
Namun keduanya tak berani saat Richard mengajak mereka ikut memerah susu kambing.
Saat ketiga lelaki itu lelah dan memilih beristirahat dengan makan dan minum di resto di area itu, Nawang dan Bude Darmi melarikan diri lebih dulu untuk berfoto ria di area rumah Hobbit yang tak jauh dari tempat mereka makan.
Selesai menikmati makanan, mereka kembali melanjutkan menelusuri area wisata yang mana lebih modern tampilannya, ke wahana Langlang Buana.
Area yang biasa di jadikan tempat berphoto karena ada Santorini mini dan lainnya
Ketiga cowok itu nampak malas- malasan mengikuti langkah Nawang dan Nawang tahu itu.
"Kita ambil beberapa photo dulu disini, biar bisa kita kirim ke Oma dan Opa. Kalau udah kalian boleh deh main lagi sama kuda atau sama kambing. Tapi Ibu dan Bude disini" bujuk Nawang yang mampu membuat wajah ketiganya nampak lebih lega.
"Kalau udah selesai kamu photo- photo segera nyusul kami lagi ya." pesan Richard sebelum meninggalkan Nawang dan bude Darmi untuk menuruti kedua anaknya melihat rusa dan memberi makan burung merpati.
"Siap, Boss!" jawab Nawang senang.
Richard berpikir tak mengapa memberi ruang sendiri pada istrinya walau mereka piknik sekeluarga. Toh Nawang selalu mendahulukan mendampinginya dan anak- anak sebelum meminta sedikit waktu untuk dirinya sendiri bersenang- senang.
sumber: Instagram @agrowisatabhumimerapi
Lagi pula ini moment yang bagus untuk Richard yang seorang bapak menikmati bonding dengan kedua anak lelakinya.
Kedua rombongan itu bertemu kembali untuk menyewa Jeep dan mengelilingi area wisata itu sebelum akhirnya pulang dengan wajah riang walau badan terasa lelah.
__ADS_1
🗝️🗝️🗝️ b e r s a m b u n g 🗝️🗝️🗝️