PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
AKU LAPAR


__ADS_3

"Pak de ndak mau ikut pulang Amanda dan mas Giandra? tinggal di rumah kami?"


Giandra langsung mengernyitkan dahi ketika Amanda mengatakan hal tersebut tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan nya.


"Tidak usah nduk, pak de mau langsung kembali ke Kalimantan, karena ada beberapa hal yang harus pak de selesai kan, sing penting kamu sehat ya."


"Iya pak de."


Dan setelah mengatakan hal tersebut Amanda langsung memeluk erat pak De.


"Amanda berangkat ya pak de."


"Ati - ati."


"Giandra berangkat pak de."


"Jaga Amanda ya nak."


Pak de mengatakan hal tersebut saat memberikan pelukan kepada Giandra.


"Pasti pak de."


Dan setelah mengatakan hal tersebut, Giandra dan Amanda pada akhirnya masuk ke dalam mobil dan melajukan perjalanan untuk kembali ke Ibu kota.


"Pak de Rahmat itu betul kakak kandung Ibu mu Man?"


Di perjalanan Giandra mencoba untuk menanyakan hal tersebut kepada Amanda.


"Ya betul mas Giandra, mas Giandra kan yang jemput pak De kan? mas Giandra tau darimana kalau Manda masih punya pak de Rahmat?"


"Kau lupa aku pengacara Nin?"


"Pengacara memiliki data - data penting klien nya, dan pasti bisa mendapatkan semua data tersebut dengan baik."

__ADS_1


"Oh begitu, jadi mas Giandra menyelidiki semua dari diri Amanda?"


Giandra langsung terdiam dengan semua perkataan Amanda yang tidak perlu untuk di jawabnya lagi.


"Bawel!"


"Isssst mas Giandra"


Dan setelah mengatakan hal tersebut Giandra dan Amanda memilih untuk diam hingga perjalanan tersebut pada akhirnya telah sampai kembali ke kediaman rumah Giandra.


"Mas aku ke kamar aku dulu yah."


"Kamar mu?"


"Ya kan kamar Manda ada di belakang?"


"Jadi kau mau kita ketahuan bapak sama Ibu kalau kita tidak tidur satu kamar?"


Amanda terdiam dengan semua perkataan Giandra.


"Ya sudah pindahkan semua barang mu ke kamar ini."


"Tapi mas."


"Ayo cepat!"


"Bi, pak Giman!"


Giandra memanggil para pelayan di dalam rumah saat itu juga dengan suara yang keras.


"Ya mas Giandra?"


"Bantu dia untuk memindahkan semua barangnya ke dalam kamar ini!"

__ADS_1


Dengan nada memerintah Giandra mengatakan hal tersebut kepada bibi Dan pak Giman.


"Baik mas Giandra, ayo mbak Amanda."


Pak Giman dan bibi yang sudah tau akan situasi yang saat ini sedang terjadi memilih untuk segera menyudahi pembicaraan mereka.


"Mas Giandra selalu mengambil keputusan sepihak."


Hal tersebut dikatakan oleh Amanda saat Amanda membereskan barang - barangnya untuk di pindahkan ke kamar utama.


"Sudah mbak Amanda, nurut saja, sekarang kan mbak Amanda juga sudah menjadi istrinya mas Giandra, memang sudah sepantasnya suami istri itu tidur satu kamar kan mbak?"


Bibi mengatakan hal tersebut sambil membantu Amanda membereskan barang.


Ya bi, tapi mas Giandra tidak pernah mencintai ku di dalam pernikahan ini, jadi untuk apa aku melakukan semua kewajiban ku sebagai istri?"


Hal tersebut yang dikatakan oleh Amanda di dalam hati sambil membersihkan kamarnya.


"Ayo mbak, nanti mas Giandra nunggu mbak Amanda."


Bibi yang masih melihat wajah Amanda yang masih di tekuk memilih untuk diam dan mengikuti bibi keluar dari dalam kamar kembali ke dalam kamar Giandra, Amanda menata semua barang - barangnya di dalam kamar Giandra seorang diri, dan Giandra hanya memperhatikan saja semua hal yang dilakukan oleh Amanda.


"Sudah selesai kan beres - beres nya?"


"Iya mas."


"Bagus sekarang aku minta makan."


Amanda langsung mengernyitkan dahi ketika Giandra mengatakan hal tersebut kepadanya.


"Makan? kenapa mas Giandra tidak beli saja?"


"Masak akan lebih irit."

__ADS_1


"Dasar pelit!"


__ADS_2