PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA

PENGACARA AROGAN DAN PUTRI BURUK RUPA
OPERASI GIANDRA


__ADS_3

Deg


Anindita hampir lupa dengan nama Amanda ketika Anindita mendapatkan kabar kecelakaan Giandra.


"Ya mas, aku lupa memberitahukan keadaan mas Giandra kepada mbak Amanda."


"Saran ku tetap beritahukan keadaan Giandra kepadanya Nin, karena bagaimanapun dia adalah istri sah Giandra."


"Iya mas, Anindita ini sedang menghubungi mbak Amanda tapi dari tadi belum di angkat - angkat."


"Ya sudah nanti kita hubungi Amanda lagi setelah mendarat, kita harus segera masuk ke pesawat Nin."


"Iya mas."


Aditya mencoba untuk membuat Anindita agar tetap tenang.


Selama penerbangan mereka ke Semarang tak henti - hentinya Aditya harus berusaha untuk menenangkan Anindita lebih lagi karena sepanjang jalan Anindita menangis.


"Mas ayo mas."


Anindita dan Aditya pada akhirnya telah sampai ke salah satu rumah sakit swasta di Semarang tempat Giandra di larikan sewaktu terjadi kecelakaan, menjelang malam mereka akhir nya tiba di Rumah Sakit tersebut.


"Dokter bagaimana keadaan mas Giandra? saya adiknya mas Giandra."


Anindita yang melihat Dokter keluar dari unit Gawat Darurat segera menghampiri nya.


"Kami membutuhkan persetujuan dari keluarga untuk melakukan amputasi salah satu kakinya."

__ADS_1


Deg


Mendengarkan keputusan dokter Anindita langsung terduduk.


"Mas Aditya tolong mas, aku sudah tidak kuat."


Anindita mengatakan hal tersebut sambil menangis di tempat duduk.


"Bagaimana dokter, prosedur apa yang harus kami tanda tangan?"


Aditya yang seorang dokter tentu sangat mengerti dengan keadaan seperti ini, sehingga dengan tegas Aditya segera mengikuti semua persetujuan Dokter.


"Baik dokter terima kasih, kami akan mengikuti semua tindakan medis yang akan di lakukan."


"Baik mas Aditya, satu hal lagi yang harus kami beritahukan selain dari satu kaki mas Giandra yang harus di amputasi, mas Giandra juga kemungkinan mengalami penglihatan yang terganggu."


Deg


"Maksud dokter Giandra mengalami kebutaan?"


Salah satu tim dokter menganggukan kepalanya ketika mendengarkan pertanyaan Aditya.


"Astaga ya Tuhan berat sekali hal yang kau alami Giandra."


"Apakah kebutaan ini permanent dokter?"


"Kami belum bisa memastikan mas Aditya, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui keadaan mata mas Giandra."

__ADS_1


"Baiklah dokter lakukan yang terbaik, aku akan mencoba memberitahukan kepada Anindita tentang apa saja yang di alami oleh Giandra."


"Baik mas Aditya."


Setelah mengatakan hal tersebut Aditya segera keluar dari ruangan dokter dan menghampiri Anindita yang masih duduk menangis di depan ruang unit Gawat Darurat.


"Mas Aditya, bagaimana keadaan mas Giandra?"


"Nin sebetulnya mas Aditya tidak suka memberitahukan hal ini, namun mas Adit harus tetap memberitahukan kepada mu."


"Katakan saja mas Adit."


Selain satu kaki Giandra yang mengalami amputasi, ke dua mata Giandra juga mengalami kebutaan.


Deg


Anindita hanya terdiam dengan semua hal yang di beritahukan kepada nya.


"Mas, jika mas Giandra buta, berarti karir dia sebagai pengacara bagaimana mas? mas Adit ini bagaimana mas?"


Anindita mengatakan hal tersebut sambil menguncang - guncang bahu Aditya.


"Sssst tenang lah Nin, nanti kita pikirkan ini belakangan, sekarang yang terpenting semua operasi untuk Giandra harus berjalan dengan baik."


"Ya mas, kita doa ya mas Aditya."


Hai, hai terima kasih sudah membaca cerita mas Giandra jangan lupa vote, like yang banyak yah biar authornya tetap semangat untuk menulis. Terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2